Wejangan Anand Krishna: Sathyam Shivam Sundaram, Kebenaran, Kesucian dan Keindahan

“Berlakulah terhadap para dewa, malaikat, atau kekuatan-kekuatan alam dengan semangat manembah; sehingga mereka pun berlaku terhadapmu dengan semangat yang sama. Demikian dengan saling menunjang tanpa pamrih, kau akan meraih yang terbaik.” Bhagavad Gita 3:11

“Demikian, dengan melestarikan para dewa, atau kekuatan-kekuatan alam dengan semangat manembah – karya tanpa pamrih – kau memperoleh segala kenikmatan dari mereka, sekalipun tanpa meminta. Sesungguhnya, ia yang menikmati segala pemberian alam tanpa merawat dan melestarikannya kembali dengan semangat manembah yang sama, adalah seorang maling.” Bhagavad Gita 3:12

https://bhagavadgita.or.id/

 

Para dewa bukan saja apa yang kita sebut dewa sekarang, tapi alam semesta ini. Yang kita sebut dewa itu apa? Deva Varuna, air, laut, sungai. Kemudian juga Agni, api, energi adalah api. Jadi kita merawat sungai, merawat laut. Laut kita kotor, sekarang saya mendengar bahwa sekian banyak orang yang tinggal dekat-dekat pantai menderita kanker. cancer skin, kulit. Karena laut kita tercemar.

Air kita tercemar. Tadi saya dikirimi suatu video viral ke mana-mana, seorang asing sedang mengambil video persis depan Pura, saya nggak tahu pura di mana? Persis di depan Pura itu ada kali, kali itu penuh dengan sampah, dan ada seorang ibu-ibu yang datang membuang sampah lagi, persis depan Pura.

Jadi kita ke Pura juga tidak merawat kebersihan. Tidak melestarikan kebersihan, apa yang kita harapkan? Kita harus merawat alam. Dewa tidak berarti Bathara, cuma kita sembahyang sudah selesai. Tapi merawat panca mahabhuta ini. Panca mahabhuta itu apa, api, angin, air tanah dan angkasa (ether, udara). Ini adalah dewa. Jadi bukan kita ke Pura terus sembahyang selesai tidak. Melestarikan alam itulah yang disebut sebagai pemujaan. Melestarikan alam, menjaga merawat, jangan sampai udara tercemar.

Setidaknya kalau kita di depan umum, sekarang ada peraturan kan, di depan umum tidak boleh merokok. Di tempat public place tidak boleh merokok. Begitu juga di Pura. Pura itu juga public place kan, jangan merokok, di situ. Kalau ada yang merokok, “dengan segala hormat mohon maaf, tapi  kita saling menjaga, menjaga kesehatan.” Karena orang yang merokok, dan orang yang tidak merokok tapi kena asapnya, sama. Celakanya sama.

Jadi kalau kita melihat, ada seorang di tempat umum atau di Pura, kalau dia sedang meokok, kita berkewajiban, untuk mendatangai dengan segala sopan. Nggak usah marah-marah. “Maaf Pak tapi tempat ini adalah tempat suci, dan juga tempat umum, tolong Pak jangan merokok.” Minta rokoknya, dimatikan langsung buang ke sampah.

Saya beberapa waktu lalu ke Flores. Di sana ada Pura, cuma satu Pura. Dan sehari atau dua hari sebelumnya, sedang ada Odalan di situ. Saya pergi ke sana dan saya melihat begitu kotor. Dimana-mana sampah, bekas air minum, bekas aqua. Saya tanya kepada yang menjaga Pura waktu itu, di sini keluarga Hindu ini berapa ya kira-kira? Oh ada 100 KK. 100 KK dan tidak bisa bagi tugas untuk membersihkan Pura. Bukan cuma sembahyang terus dibuang ke mana-mana, kita membiasakan diri.

Saya sering melihat pagi-pagi. Ada yang datang ke sini. Mau ikut chanting di atas. Dan saya sangat mengapresiasi melihat daun kering atau apa, mereka ambil daun kering itu, mereka kumpulkan, ibu-ibu. Ini yang harus terjadi, di Pura-Pura kita juga. Kita menjaga kebersihan, merawat kesucian. Begitu ada orang ke Pura, ke tempat ibadah mana pun, ke sini, ke ashram, jiwa mereka harus tenang. Dan jiwa akan menjadi tenang bila ada 3 hal:

Kalau di tempat itu ada kebenaran, Sathyam. Tempat itu dibuat untuk sesuatu yang benar. Tujuan ashram ini apa, benar, tujuan Ashram ini adalah untuk membuat orang bahagia. Dengan pelatihan yoga pelatihan meditasi, membuat orang sembuh, sehat, itu benar.

Kedua Shivam, harus ada kesucian. Jangan ada kotoran di mana-mana.

Dan, ketiga penting sekali adalah Sundaram, harus indah kelihatannya. Begitu orang masuk ke Ashram, ke Pura, dia harus melihat keindahan di mana-mana, dia harus tenggelam dalam keindahan itu.

Sathyam Shivam Sundaram. Kita tahu slogannya tapi maksudnya apa? Slogannya berangkali kita pernah dengar, begitu kita ke suatu tempat itu harus ada 3 hal ini. Setiap Ashram, setiap Pura, bahkan setiap rumah, harus ada 3 hal ini.

Dalam rumah tangga Sathyam apa? Kejujuran. Antara keluarga, kejujuran, tidak bohong-bohong. Kemudian kesucian, dan keindahan. Jaga rawat kebersihan di rumah masing-masing. Rumah ini juga Mandir. Itu adalah juga Kuil, jadi Kuil bukan cuma pura, tapi rumah kita masing-masing pun adalah Kuil. Dimana kita tinggal di sana, dan atma bersemayam dalam diri kita. Jadi semua tempat adalah Kuil, kita rawat.

Ini adalah yang dikatakan oleh Krishna. Kau merawat mereka, kau melestarikan alam, maka mereka pun akan merawatmu. Coba kita potong semua pohon disini, kita akan susah bernapas. Kita tebang semua pohon, kadang-kadang kita lihat tempat indah sekali, tapi pohonnya kurang, menjadi gerah sekali tempat itu.

Begitu orang datang ke rimah, ke ashram, walaupun di luar gerah, begitu dia masuk, dia harus merasa sejuk. Kalau di luar gerah, di sini pun gerah, berarti kita belum memakai konsep seperti Sathyam Shivam Sundaram.

Segerah apa pun di luar, segera masuk harus sejuk, harus lebih enak, orang harus lebih tenang. Ini harus berlaku untuk semua tempat. Baru kita akan melakukan apa yang dimaksud oleh Krishna di sini.

Kalau kita tidak merawat,  menikmati tidak merawat kita adalah seorang maling. Kita mengambil begitu banyak dari alam, kalau kita tidak melestarikan kembali, kita maling.

Saya lagi baca dan saya dari dulu juga, bilang. Kita harus hati-hati dengan dupa kita. Karena untuk bisa mendapatkan keuntungan yang banyak, saya baca tapi saya cari tahu, ada bahan bahan kimia yang dimasukkan ke dalam dupa itu, dan karena bahan-bahan kimia itu banyak sekali Pemangku kita, Pedande kita yang gangguan napas. Kita sudah kehilangan 2 Pedande Besar. Yang dua-duanya pernah ke sini. Dua-duanya meninggal karena gangguan napas.

Kita harus jaga. Bukan cuma mencari keuntungan, saja. Makanya saya bilang bahwa di banjar-banjar itu nggak usah pakai mesin sebetulnya, bikin dupa itu. Tentu ada teknologi sedikit dan coba gunakan kotoran sapi. Itu adalah paling bagus. Kotoran sapi itu sedikit dikeringkan, dan kemudian dicelupkan dalam essence. Cari essence yang pure yang betul-betul essence, bukan kimia. Cendana ya esssensiial oil, ada essensial cendana yang seratus persen murni. Jangan yang campuran. Campur sendiri alkohol. Saya memberikan teknologi. Campur sendiri alkohol supaya bisa bertahan sedikit wanginya. Kenapa dengan alkohol dia bisa bertahan. Kalau Cuma essensial oil, dia akan menguap.

Begitu buka taruh sebentar, dupanya sudah nggak ada wanginya. Kalau ingin mempertahankan wanginya, kasih sedikit alkohol. Bikin, coba cari tahu bagaimana bikinnya. Daripada ngrumpi-ngrumpi saja. Banyak ngrumpi kan pekerjaan kita sekarang. Coba bikin dupa untuk supply ke banjar masing-masing. Nggak usah bikin toko nggak usah bikin macam-macam. Setiap banjar kalau buat dupa untuk banjarnya sendiri. Udah cukup itu. Malah pasti sudah ada uang untuk kas banjar lagi.

Kalau di banjar memang ada orang yang ekonominya memang lemah kasih dia kerjaan biar dia juga ada keuntungan. Kita setiap hari perlu dupa kan, sehingga kita nggak usah cari dari pabrik-pabrik besar, yang nggak tahu bahan kimia apa yang mereka masukkan. Bhagavad Gita bukan cuma dibaca gini. Bukan cuma berfilsafat tapi kerja nyatanya apa?

Kembalikan kepada alam apa yang kau peroleh. Bikin janji dengan diri sendiri. Setiap tahun saya akan menamam sekian banyak pohon. Cari tempat dimana kurang pohon. Entah di pura, entah di Banjar, tanam pohon. Kita sudah ambil banyak sekali dari alam semesta. Mulai tanam pohon. Kalau punya tanah sedikit, yang agak lahan yang sedikit besar, muai tanam sayur-sayuran. Kalau nggak pohon apa pun juga. Jadi kembalikan apa yang kita peroleh.

Sumber: Video Youtube Besama Anand Krishna Bhagavad Gita Sehari Hari Percakapan 03 ayat 11-16 Jagalah Alam dan Alam Akan Menjagamu

https://www.youtube.com/watch?v=gIDqlt9Y1ug

https://www.akcjoglosemar.org/wp/

https://www.anandkrishna.org/

Advertisements