Wejangan Anand Krishna: Orang Berjiwa Dagang, Masuk Politik, Kedokteran, Hukum?

“Seseorang tidak dapat melampaui (Hukum) Karma dengan cara tidak bertindak; ia tidak dapat meraih kesempurnaan lewat pelepasan diri dari tindakan.” Bhagavad Gita 3:4

https://bhagavadgita.or.id/

 

Bisa nggak, kita nggak berbuat apa-apa, duduk diam sepanjang hidup. Nggak bisa. Duduk diam malas-malasan bengong, duduk di Balai Bengong. Duduk di Balai Bengong seharian pun, itu juga pekerjaan. Malas-malasan itu juga pekerjaan. Pekerjaannya malas-malasan. Pekerjaannya bengong-bengongan. Itu juga pekerjaan. Jadi kita nggak bisa duduk tanpa pekerjaan, itu nggak bisa. Sama sekali nggak bisa.

Krishna berkata kepada Arjuna, nggak bisa menarik diri dari kegiatan. Cuma karena takut menghadapi musuh yang lebih kuat, kamu mau melarikan diri. Nanti kalau sudah melarikan diri, masuk ke hutan kerja juga. Petik daun, mau memakan daun, itu kan juga harus petik, harus kumpulkan masukin ke mulut. Itu juga pekerjaan. Tidak bisa kau membebaskan dari tindakan. Jadi kenapa harus melarikan diri dari pekerjaanmu. Kenapa harus melarikan diri dari tokomu, dari usahamu. Lakukan. Tetap melakukan dengan cara berpikir yang lain. Sekarang, lakukan sebagai persembahan.

 

“Tak seorang pun bisa hidup tanpa berbuat sesuatu. Setiap orang senantiasa terdorong  untuk berbuat berdasarkan sifat dan kodrat alaminya.” Bhagavad Gita 3:5

https://bhagavadgita.or.id/

 

Kita akan selalu berbuat sesuai dengan potensi dan kodrat kita. Misalnya seorang pedagang, sekarang dia masuk politik, apa yang akan dia lakukan? Politik pun akan didagangkan. Itu yang terjadi. Karena sesungguhnya dia seorang pedagang. Nah sebaliknya begitu juga seorang pedagang jadi dokter. Potensinya sebagai pedagang cari uang melulu. Pasien nggak dipikirkan. Untung ada dr. Suartika di sini yang ngg-ak begitu. Tapi banyak dokter di kota-kota besar nggak peduli pasien. Cuma cari uang. Hukum juga begitu banyak, orang yang jiwanya jiwa-dagang, kebanyakan di antara kita, kebanyakan manusia itu lebih banyak orang yang jiwanya jiwa dagang.

Saya selalu mengatakan sampai saya datang ke sini, di Bali tahun 70-an. Usia saya baru limabelas, duapuluh tahun kurang lebih. Pertama sekali saya datang ke Bali, lebih bnyak pengusaha itu orang Bali asli. Ibu-ibu juga selalu jualan. Saya selalu mengatakan, Teuku Umar itu saya masih bisa melihat, banyak orang Bali punya toko. Sekarang berapa banyak orang Bali punya toko di Teuku Umar. Hampir nggak ada.

Nggak tahu waktu zaman itu namanya jalannya sudah Teuku Umar atau apa? Saya lupa, tapi di jalan itu banyak sekali. Bahkan sekarang banyak sekali warung-warung juga bukan orang Bali di sana. Orang Bali bekerja. Kita tidak menjadi rasis, tapi coba pikirkan kita semua ini, kebanyakan orang Bali itu, jiwanya jiwa dagang atau jiwa tani. Ya kita melupakan pertanian. Sawah pun nggak ada dijual sekarang. Dijual sawah itu. Sekarang semua beras kita harus beli dari luar. Datangkan dari luar. Ini kita sudah tidak sesuai dengan kodrat kita. Makanya kemarin-kemarin bom misalnya, atau meletus Gunung Agung, turis nggak datang, kita semua merana kan? Karena kita bergantung pada turis. Kalau nggak ada turis kita mau makan apa? Tapi kalau masih punya sawah, setidaknya kita nggak akan memikirkan makanan. Masih punya padi, masih bisa punya beras, masih ada penggilingan. Masih ada buah-buahan, masih ada sayuran, sekarang nggak, nah coba kodrat kita apa?  Jangan kita lari dari kodrat kita. Kita melupakan kodrat kita. Kita bergantung pada faktor-faktor di luar. Pariwisata turun, turis berkurang, semuanya kena dampak. Kita tidak bekerja sesuai kodrat kita.

Krishna mengatakan, kamu seorang kesatria, kodratmu adalah melawan musuh,.membela negara. Kalau kamu melarikan diri menjadi pendeta, menjadi petapa, itu bukan kodratmu. Di sana pun kamu akan tetap memikirkan medan perang. Jadi coba pikirkan Arjuna, kodratmu apa? Berkaryalah sesuai dengan kodratmu.

 

“Seseorang yang duduk diam seolah telah berhasil mengendalikan indranya, padahal berpikir terus tentang kenikmatan indrawi; adalah orang bingung, munafik, dan tengah menipu dirinya sendiri.” Bhagavad Gita 3:6

https://bhagavadgita.or.id/

 

Oh saya sudah menjadi pendeta, saya sudah membaca bhagavad Gita, sudah habis Bhagavad Gita. Tapi pengendalian diri belum terjadi. Menjadi petapa, menjadi pendeta pun yang dipikirkan masih mobil mewah. Kapan ganti mobil. Begitu lihat tivi ada gadget baru memikirkan gadget, baru. Mau kawinkan anak, kawinkan di hotel yang mewah. Seorang pendeta mengawinkan anaknya di hotel yang mewah. Saya melihat di Jakarta. Di Bali moga-moga tidak terjadi. Saya belum lihat di Bali resepsi, karena saya jarang sekali diundang untuk perkawinan. Tetapi coba pikirkan, kalau sudah menjadi pendeta, perkawinan nggak bisa resepsi di hotel-hotel mewah. Jangan ikuti jejak orang Jakarta. Simple. Kalau pengusaha silakan hotel mewah. Kodratnya lain. Lain-lain kodratnya. Kalau mau jadi seorang pegawai negeri silakan apa. Tapi kalau ma jadi pendeta, pengendalian diri.

Oleh karena itu zaman dulu, sanyas. Seorang yang sudah mencapai tingkat pelepasan diri itu, dia sudah tidak punya hubungan keluarga sehingga tidak direcokin oleh keluarga juga. Sekarang seorang jadi pendeta direcokin sama anaknya, “papi kamu jadi pendeta kan nggak tanya sama saya. Cuma taya sama istri. Istrinya ikut jadi pendeta. Kamu kan nggak tanya sama saya? Saya mau kawin di hotel boleh kok.”

Susah serba susah, karena kita tidak menjalankan kodrat kita. Anak mau ke sini, kita mau ke sana. Persiapkan anak, saa mau jadi pendeta sekarang hubungan saya dengan kamu, selesai. Saya sudah siapkan rumah. Sudah siapkan apa untuk kamu, kamu urus dirimu, saya mau urus masyarakat. Sehingga tidak ada tarik menarik. Urusi melayani masyarakat. Tidak lagi mengurusi keluarga melulu.

Seseorang yang duduk diam seolah telah mengendalikan diri, tapi pikirannya msih kacau. Pakai baju, putih saya boleh menipu, orang lain nggak bisa menipu diri. Karena saya sendiri bingung. Memperlihatkan pakai baju putih pakai atribut-atribut pendeta, tapi diri saya belum terkendali, saya menipu diri sendiri.

 

“Sebaliknya Arjuna, ia yang berkehendak kuat dan telah berhasil mengendalikan seluruh indra; kemudian menggunakan indra-indra yang sama sebagai alat, dan berkarya dengan semangat Yoga tanpa keterikatan (pada hasil, atau berkarya tanpa pamrih) adalah manusia yang sungguh sangat terpuji.” Bhagavad Gita 3:7

https://bhagavadgita.or.id/

 

Gunakan indra yang sama. Tetap menggunakan mata, tapi menggunakan mata jangan untuk mnonton film-film yang nggak benar. Menggunakan mata untuk membaca sesuatu yang baik. Tetap menggunakan mulut, jangan makan sesuatu yang tidak benar. Makanlah sesuatu yang cukup baik untuk kesehatan.

Saya sedang pelajari tentang makanan kembali, karena makanan ini penting sekali. Dia adalah kesadaran pertama anamayakosha. Kalau makanan tidak baik, tidak tepat, pikiran tidak akan tepat. Ada petuah dalam bahasa Hindi. Apa yang kau maka,n itu yang akan menentukan pikiranmu.

Pertama tama adalah mengikuti petuah-petuah kuno dari Veda. Setelah matahari terbenam, jangan makan khususnya, jangan makan sayur dan grain, beras, terigu. Roti jangan. Kalau masih lapar jam 8, jam 9 makanlah buahbuahan. Atau minum susu 1 gelas. Hangat jangan dingin. Jangan susu dari susu kental dikasih air. Susu segar. Karena di situ ada semua mineral. Semua vitamin. Kalau masih lapar.

Kalau nggak, setelah matahari terbenam setelah jam enam, jangan makan dan pagi-pagi sedapat mungkin makan buah-buahan, makan yang ringan sekali. Kecuali Anda bisa olah raga. Misal di sini kita ada yoga. Pagi jam 7-an ada yoga. Kemudian baru makan jam 8. Harus menggerakkan tubuh dulu. Zaman dulu leluhur kita, kebiasaannya apa? Bangun pagi nggak langsung makan, nggak punya kulkas kan, mau taruh makanan di mana. Leluhur kita zaman dulu bangun pagi itu nggak makan, langsung ke ladang. Masih ingat nggak punya kakek atau apa. Kan nggak makan paling minum sedikit ke ladang. Baru di sana, disediakan makan. Ibu-ibunya yang datang bawa makanan ke sawah, ke ladang.

Jadi makan pagi itu walaupun bagus, tapi nggak benar karena kita baru tidur. Baru tidur baru istirahat jangan langsung diberikan kegiatan yang seperti bawa mobil. Baru dijalankan langsung AC dinyalakan dan langsung tancap gas. Akan merusak mobil. Walaupun mobil sekarang lebih bagus, tapi dulu kita ingat kalau punya mobil, nggak boleh langsung start langsung bawa. Harus dipanaskan dulu. Sekarang kataya nggak usah. Bisa langsung, katanya. Tapi mobil yang sudah dingin itu diberikan waktu sedikit untk pemanansan.

Nah sudah tidur selama berjam-jam, katakan dari jam 9, 10 tidur. Bangun pagi sudah 9 jam tidur. Jangan langsung diberikan kegiatan, makanan untuk kegiatan yang luar biasa harus dicerna kan. Jadi harus jalan sedikit, yoga, harus ada kegiatan sedikit. Baru makan. Untuk menjaga kesehatan. Nanti besok-besok saya akan memberikan tip lagi tapi ini penting. Kalau bisa kita lakukan begitu, hampir semua masalah kesehatan Anda akan beres.

Pagi-pagi bangun tidur minum air. Kalau bisa 2, 3 gelas. Kalau nggak 1 gelas. Bukan air yang telalu hangat, bukan air yang dingin, air biasa. Dulu zaman saya masih kecil. Namanya air kendi. Masih ingat punya kendi yang dari tanah liat itu ya. Taruh air semalaman di sana, minum bagus sekali. Atau kalau punya gelas dari tembaga, malam ditaruh air, diisi air, pagi-pagi minum, bagus ada khasiat detoks nya bisa melarutkan racun0racun dari tubuh kita.

Kembali kepada kita. Manusia yang tepat itu adalah manusia yang menggunakan indra-indranya secara tepat. Tetap menggunakan mulut untuk makan tetapi makannya diatur. Tetap menggunakan tangan untuk bekerja, tapi bekerjanya untuk kebaikan. Bukan untuk membunuh orang. Tetap menggunakan kaki untuk berjalan, tapi jalan ke tempat yang baik. Bukan ke sembarangan tempat. Banyak orang yang pekerjaannya adalah jalan-jalan, saja. Nggak punya kerjaan jalan, ke pasar jalan dari satu ujung ke ujung lain. Kalau tujuannya mau olah raga, oke, fine. Tapi kalu Cuma lihat toko-toko, badan sih sehat, pikirannya kacau. Pulang ke rumah bilang,  “Pak itu istri tetangga itu bisa beli beli baju baru.” Kalau bapak-bapak yang jalan lebih parah lagi. Bukan baju yang dilihat, siapa yang jaga toko yang dilihat.

Sumber: Video Youtube Besama Anand Krishna Bhagavad Gita Sehari Hari Percakapan 03 ayat 01-10 Temukan Potensi Diri, Berkaryalah Sesuai Kodratmu

https://www.youtube.com/watch?v=qzcs2mcrpAs

https://www.akcjoglosemar.org/wp/

https://www.anandkrishna.org/

 

Advertisements