Wejangan Anand Krishna: Mencapai Kesempurnaan Lewat Kejernihan Pikiran atau Berkarya Tanpa Pamrih

Arjuna bertanya: “Janardana (Krsna, Penggerak Setiap Makhluk), jika kau menganggap buddhi atau inteligensia – lebih baik dari karma atau perbuatan apa pun, lalu mengapa Engkau mendesakku untuk berbuat sesuatu, untuk berperang?” Bhagavad Gita 3:1

https://bhagavadgita.or.id/

 

Selama ini Krishna banyak menjelaskan tentang apa itu atma, apa ini, apa itu, sekarang Krishna mengatakan bahwa kau harus mengangkat senjata dan berperang. Arjuna bingung yang mana yang lebih penting. Kalau saya memahami perang itu tidak benar, ya sudah nggak usah perang. Saya sudah menggunakan inteligensia.

Kata inteligensia ini kita buat sendiri. Tidak berarti intelek. Kita pergi ke sekolah kita mendapatkan pelajaran. Kita menjadi intelektual. Ini bukan intelektual. Inteligensia ini adalah suatu kesadaran yang ada dalam diri kita sejak kita lahir. Belum diberi nama, belum dikasih tahu kamu siapa, kamu Bagus atau tidak Bagus. Belum ada pengetahuan apa pun tapi, anak ini sudah lahir. Dan anak ini sudah punya inteligensia, sudah punya kesadaran. Dia tahu kalau lapar harus nangis, dia tahu harus belajar jalan, dia melihat. Dia sudah punya inteligensia. Itulah buddhi, dan buddhi ini yang harus dikembangkan. Bukan hanya intelektual. Banyak orang menjadi inteletual, mereka belajar di sekolah di universitas, tapi kesadarannya nol.

Krishna tidak bicara tentang intelektualitas itu, tapi inteligensia yang kita peroleh dari pengalaman hidup. Bagaimana menjalani hidup ini dengan penuh kesadaran. Arjuna bertanya yang mana lebih baik, menjadi orang berinteligensia, atau menjalankan usaha membuka warung atau menjadi cendekiawan saja bicara yang baik-baik dan kita anggap sudah hebat, apakah cukup seperti itu?

Banyak di antara kita, kalau menghadapi suatu guncangan dalam hidup, tidak bisa bertahan dengan guncangan itu cepat-cepat kita melarikan diri. Ada yang melarikan diri cari narkotika, ada yang melarikan diri menjadi pendeta. Dua-duanya pelarian. Kelihatannya lain kan? Wah orang jadi pendeta ini, padahal persoalannya dia tidak bisa menghadapi kenyataan hidup. Dia sulit sekali menghadapi kenyataan hidup, cari jalan pintas. Ya sudah jadi pendeta saja.

Saya tidak hanya bicara di Bali, di mana-mana begitu. Banyak orang punya masalah dalam kehidupan, pelariannya bisa berbentuk macam-macam. Ini adalah orang-orang yang intelektual, bukan berkesadaran. Mereka cendekiawan, punya gelar. Doktor, Ph.D. tapi pelarian.

Arjuna juga bingung ini, dia belum bisa memahami kalau buddhi itu adalah kesadaran, bukan intelektualitas. Saya tahu banyak hal kemudian saya memberikan ceramah tentang Bhagavad Gita, tentang Dharma, saya menjadi Dharma Duta, saya meninggalkan Dharma Tula. Tidak bisa begitu, tidak bisa karena saya baca buku, terus saya sudah bisa memberikan ceramah, sudah oke. Tidak. Punya pengalaman sendiri nggak apa yang tertulis dalam Bhagavad Gita ini? Apakah kita mengalaminya? Apakah kita sudah mencobanya? Bisa kita hidup nggak, sesuai dengan ajaran ini. Jadi Arjuna, “gimana ini pakai otak saja jadi seorang cendekiawan, atau bagaimana bekerja?”

 

“Apa yang Kau sampaikan sungguh membingungkan pikiranku karena banyak mengandung pendapat yang berlawanan. Tolonglah, tunjukkan  satu jalan yang perlu kutempuh untuk mencapai Sreya – kemuliaan dalam hidup.” Bhagavad Gita 3:2

https://bhagavadgita.or.id/

 

Di sini Arjuna jelas sekali, dia tidak mencari kenikmatan duniawi, dia tidak mencari sesuatu yang hanya membuat dia senang untuk sementara. Tidak. Dia sedang mencari Sreya, apa yangmulia dalam hidup ini.

Kita sekarang harus bertanya pada diri sendiri, lagi cari apa yang mulia atau cuma senang-senang. Kalau cuma senang-senang, cari uang dengan cara apa pun juga bisa senang, tapi belum tentu mulia. Orang yang mengejar kemuliaan, hidupnya tenang. Dia, mungkin tidak banyak uang, tapi dia bisa tidur dengan tenang. Walaupun dia tidurnya hanya beberapa jam dia bisa tidur dengan tenang. Dia tidak memikirkan banyak hal, kalau dia sedang mencari kemuliaan. Tapi kalau cuma kesenangan, ceritanya lain.

Jadi Arjuna bertanya kepada Krishna apa yang harus kubuat? Supaya hidupku mulia. Di sini pertanyaan Arjuna sangat-sangat cerdas sekali. Kita tidak selalu tanya tentang kemuliaan. Kita maunya kesenangan. Cari Guru cari Balian, cari dukun, cari apa pun, “anakku belum dapat pekerjaan kapan dapat pekerjaan, suamiku lagi selingkuh, gimana caranya? Istriku konyol bagaimana mengatasi istri, yang konyol ini.”

Kita sedang mencari kesenangan-kesenangan yang sementara. Tidak berarti, tidak boleh mencari semuanya. Silakan. Tapi kita harus sadar, bahwa semunya itu belum tentu membahagiakan. Coba saya selalu memberikan contoh ini, waktu pacaran kan semuanya mengharapkan hidup saya kan nanti berbunga-bunga, penuh dengan bunga-bunga. Begitu selesai pacaran kawin setahun, dua tahun setiap bunga akan layu. Tidak ada bunga yang tidak akan layu. Kecuali bunganya bunga plastik. Kalau bunga plastik tidak layu. Nah itulah kehidupan, dan dalam semua kenikmatan, itu tidak ada kemuliaan. Cuma ada kesenangan sesaat. Silakan senang sesaat, tapi kejar juga kemuliaan.

 

Sri Bhagavan (Krsna Hyang Maha Berkah) bersabda:

“Anagha (Arjuna yang Tiada Cela), konon di dunia ini tersedia dua pilihan untuk menuju kesempurnaan atau Yoga. Jalur Jnana – meneliti sifat kebendaan dengan logika Samkhya. Dan  jalur Karma – berkegiatan tanpa pamrih.” Bhagavad Gita 3:3

https://bhagavadgita.or.id/

 

Yoga itu adalah kesempurnaan daam hidup, bukan cuma kepala di bawah, kaki di atas. Itu hanya masalah satu cara untuk mencapai. Tapi istilah Yoga sendiri berarti kesempurnaan.

Ada orang-orang yang betul memang menjadi seorang sanyasi, bukan pendeta. Sanyasi adalah orang yang tidak terikat dengan duniawi. Kalau pendeta masih bisa punya istri, punya anak, mengurus anak. Seorang sanyasi dalam tradisi Hindu, berarti dia tidak mau lagi punya kepentingan dengan dunia benda. Kalau sudah begitu, maka dia tidak perlu menjalankan hidup seperti kita. Tidak perlu buka warung, tidak perlu buka toko. Dia bisa menggunakan otaknya, menggunakan pikirannya yang sudah cerah, untuk memahami hidup ini, oke sekarang saya mau jadi sanyasi, mau jadi petapa, atau tetap berada di tegah masyarakat, tapi tidak lagi melakukan sesuatu untuk keluarga. Dia melayani masyarakat. Itu sanyasi. Mau jadi itu, jalurnya adalah lewat Gyana Yoga. Menggunakan buddhi menggunakan kesadaran, dan mencapai kesempurnaan hidup lewat situ.

Ada jalan lain, yaitu jalur karma. Berkegiatan tanpa pamrih. Kita semua di sini, saya melihat, tidak ada satu pun di antara kita yang siap untuk jalur pertama. Dan jalur pertama itu sanyasi, bisa dilakukan kapan saja. Nggak harus usah kawin dulu, vanaprastha, masuk hutan dulu baru jadi sanyasi. Tidak. Banyak Guru-Guru besar kita, Vivekananda, Sathya Sai Baba, banyak sekali Guru-Guru lain. Dari usia muda mereka sudah menjadi sanyasi. Karena di masa-masa kelahiran sebelumnya, (tidak seperti kita punya anak punya istri), sudah selesai dengan hidup seperti itu. Jadi mereka lahir sudah dengan kesadaran, bahwa saya tidak perlu mengulangi semuanya itu.

Kalau Anda sedang membaca buku malam-malam, kadang-kadang sambil baca buku ketiduran. Pernah mengalami? Dan buku jatuh, kita lupa, biasanya kita lipat sedikit. Kasih tanda jangan merusak buku. Taruh bookmark. Oke kita lupa besok pagi kita bangun, apa yang kita lakukan? Barangkali kita lupa halaman mana, kita buka-buka sediki,t ini saya sudah baca, ini saya sudah baca, di sini. Kita nggak usah baca dari awal lagi. Jadi Guru-Guru Bsar kita, sudah menjalani hidup seperti ini, di masa kelahiran sebelumnya. Jadi lahir lagi, mereka sudah nggak melewati semuanya lagi, harus, kawin dulu punya anak dulu, tidak. Harus brahmachari dulu, kemudian grahasta, tidak. Dari kecil mereka sudah ingat ini semua sudah saya lewati, langsung masuk sanyas.

Kita di sini belum. Kita sudah punya anak sudah punya keluarga, sudah punya apa. Yang masih belum punya keluarga, masih harus mencari jodoh. Kita semua berada di jalur karma, bekerja tanpa pamrih. Itulah jalur kita. Jalur karma yoga.

Sumber: Video Youtube Besama Anand Krishna Bhagavad Gita Sehari Hari Percakapan 03 ayat 01-10 Temukan Potensi Diri, Berkaryalah Sesuai Kodratmu

https://www.youtube.com/watch?v=qzcs2mcrpAs

https://www.akcjoglosemar.org/wp/

https://www.anandkrishna.org/

 

Advertisements