Wejangan Anand Krishna: Kerja Maksimal Jangan Pikikirkan Hasil, Banyak Faktor Luar Berpengaruh

“Seorang bijak yang tidak lagi terpengaruh, tidak lagi tergoda oleh berbagai keinginan; bebas dari hawa-nafsu dan tidak mengejar, mendambakan, mengharap-harapkan sesuatu; tidak pula terjebak dalam rasa kepemilikan dan permainan ego, ke-‘aku’-an yang ilusif – meraih kedamaian sejati.” Bhagavad Gita 2:71

https://bhagavadgita.or.id/

 

Tidak terjebak oleh keinginan, tidak berarti berhenti bekerja. Orang baca kalau begitu tidak usah bekerja tidak usah apa-apa. Tidak. Dari awal justru Krishna berkata pada Arjuna berkaryalah. Bertempurlah. Kita lupa kadang-kadang baca buku ini dari awal, Arjuna mau bertapa, sudah deh saya nggak mau berperang. Dia pikir kalau saya kalah, lawan saya di sana orang-orang berat, klas berat, kalau saya kalah mati di medan perang, sementara kalau saya tidak mendapatkan kerajaan, masih ada mertua, Drupada masih kaya-raya. Masih ada keluarga yang kaya-raya masa mereka tega membiarkan saya mengemis.

Dia cuma pura-pura saja, saya tidak mau bertempur, kasihanlah ada rasa iba, kaki saya lagi gemetar. Kalau kasihan kok kakinya gemetar. Krshna melihat bibirnya gemetar. Kalau kamu kasihan nggak ada orang kasihan bibirnya gemetar. Jadi Krshna diam saja. Sudah Arjuna selesai bicara baru Krishna senyum, karena dia tahu dia pengecut dia lagi takut. Menghadapi tantangan hidup. Maka dia jelaskan berkaryalah tapi jangan memikirkan hasil macam-macam. Kalau nggak tenagamu, energimu bercabang, setengahnya dalam karya, setengahnya memikirkan hasil.

Jangan kau memikirkan hasil, kalau kau berkarya dengan baik, pasti hasilnya baik. Ada hukum alam. Ada aksi ada reaksi yang setimpal. 5.000 tahun sebelum Newton, Dia sudah mengatakan ada konsekuensi, ada law of consequences. Apa pun yang kita buat ada konsekuensinya. Kita harus menghadapi itu. Berbuat baik ada kebaikan. Berbuat jahat ada kejahatan. Jadi energi kita harus seluruhnya pada apa yang sedang kita kerjakan.

Saya sekarang tidak bisa tulis buku lagi. Saya lihat buku-buku saya, dulu saya secara bebas bisa menulis. Apa pun yang muncul di pikiran saya saya tulis. Saya melihat kanan, kiri, sebelah, dan tanpa kekuatiran saya menulis. Begitu kemudian mulai diserang kanan kiri, macam-macam, sekarang mau tulis apa? Mau tulis ya harus berpikir seratus kali. Mau nulis apa?

Itu sebabnya antara buku dan apa yang saya ucapkan, di sini pasti ada perbedaan, sedikit. Buku adalah untuk umum, sekarang saya sedang bicara dengan satu audien yang saya anggap sudah siap karena, sudah meditasi berapa lama. Jadi seorang bijak ini adalah tuntutan dari kebijaksanaan kita masing-masing. How and how to do when. Berbuat apa, seperti apa kapan? Nggak semua bisa dipukul rata demikian. Kita harus tahu bagaimanan tindakan kita, bagaimana apa yang kita bilang, dan tidak terjebak dalam rasa kepemilikan.

Kita hari ini bekerja mendapatkan uang sekian. Tidak bisa dijamin bulan depan pun Anda akan mendapatkan penghasilan yang sama. Kecuali Anda bekerja di suatu kantor. Kalau bekerja di kantor tahu gajinya sekian digaji sekian. Tapi coba kalau Anda seorang marketing, atau seorang salesman saja, yang gajinya ditambah dengan insentif, apa dengan komisi. Tidak ada suatu jaminan bahwa apa yang Anda peroleh bulan ini bulan depan juga persis sama. Tidak ada.

Tapi kalau kita ngotot, harus begini, harus mengejar omzet, sampai membuat apa pun juga untuk mengejar omzet, kita sendiri akan kena getahnya. Kita harus bisa menerima kondisi. Hari ini saya dapat sekian oke. Minggu depan saya tetap bekerja, dengan sekuat tenaga. Minggu depan, bulan depan penghasilannya kurang oke juga, tapi tidak ada penyesalan. Saya belum berbuat optimal. Saya sudah berbuat maksimal. Sekarang hasilnya begini oke. Bulan depan hasilnya kurang, oke. Lebih tinggi, juga oke. Jadi berbuat semaksimal mungkin tapi menyerahkan hasil kepada yang berkuasa, karena banyak faktor di luar.

Seorang petani menanam sesuatu benihnya sudah bagus, lahannya bagus subur, tapi cuaca tidak dalam kendali dia. Kalau cuaca berubah sedikit, sudah mau panen tiba-tiba turun hujan lebat, ada banyak faktor di luar yang nggak bia dikendalikan. Kejadian belakanagn ini, pesawat jatuh faktor di luar. Mungkin bukan salah pilot bukan siapa-siapa tapiada banyak faktor di luar, yang tak terkendali si pilot. Saya perhatikan sekarang sekarang ini, sesuatu yang perlu kita perhatikan, karena rasa kepemilikan. Saya mau menghasilkan uang sebanyak mungkin.

Saya masih ingat tahun 70-an. Saya mulai travelling dengan pesawat. Pesawat itu bisa tunggu bisa 2-3 jam. Sebelum berangkat lagi. Jadi pesawat datang dari mana, itu tunggu 2-3 jam diperiksa lagi. Sekarang apa yang terjadi, khususnya budget airline, paeswat itu datang Anda bisa melhat, penumpangnya baru turun, dan di sini sudah ada pengumuman, untuk siap-siap kita masuk ke dalam pesawat. Pikirkan.

Alasanya apa? Supaya parkirnya tidak lama, uang yang dikeluarkan untuk parkir, dan tidak ada waktu dibuang, langsung pesawt terbang lagi. Mau diperiksa bagaimana? Apakah dalam waktu menitan bisa diperiksa? Lucu sekali. Saya masih ingat dalam zaman-zaman itu kebanyakan airport setelah jam sepuluh, jam sebelas malam nggak ada pesawat lagi. Sekarang di airport-airport yang ramai sepanjang malam ada pesawat. Kebanyakan pesawat jarak jauh basanya malam.

Karena kejar-mengejar kepemilikan. Mau mendapatkan keuntungan yang maksimal. Kita mengabaikan begitu banyak hal lho. Saya tidak menuduh siapa-siapa, tapi yang kehilangan ketika ada kecelakaan seperti itu, yang Kenilangan siapa? Keluarga. Yang lain tidak kehilangan. Ada asuransui. Pesawat yang jatuh itu juga ada asuransi, perusahaan ada asuransinya, semuanya ada asuransi. Tapi keluarga yang kehilangan, keluarganya dalam kejadian itu, walaupun diberikan uang apa pun istilahnya, dan mungkin ada asuransi jiwa juga. Apakah kehadiran anggota keluarga ini tidak akan dikenang sepanjang masa. Sampai akahir hayat pun Anda akan tetap ingat, ada keluarga saya yang mati dalam kecelakaan.

Dan segala apa yang terjadi itu karena, kejar-mengejar. Mau mencari keuntungan yang lebih besar-lebih besar lagi. Dulu tahun 80-an sampai 90-an, seat di pesawat itu besar. Sekarang badan pesawatnya masih sama, kurang lebih, tapi jumlah seat-nya, dimepet-meetkan. Hanya untuk mengejar target dan setoran. Jadi segala apa yang tidak menjadi kepentingan, tidak dipentingkan asal setorannya lebih banyak. Kondisi ini yang menyebabkan banyak hal, kita harus mulai berpikir. Apakah itu benar.

Keakuan yang ilusif seolah-olah uang yang kumiliki itu akan kubawa ke dalam liang kubur. Seperti firaun-firaun yang dikuburkan di Mesir. Di China juga begitu bahkan harta selir-selir dikuburkan bersama hidup-hidup. Untuk supaya bisa dibawa ke sana, termasuk ang, uang dibakar. Tidak akan terbawa apa-apa. Coba pikirkan keluarga apa, Anda akan sedih lho, ini kadang-kadang bisa sedih. Semua orang yang Anda cintai, cuma mengantar Anda melayat, sampai tempat perabuan. Nggak ada yang masuk ke sana kan?

Seandainya, roh Anda masih gentayangan, pulang ke rumah. Lihat kondisi rumah. Orang-orang yang Anda tinggalkan, anak saudara, lihat kondisi mereka. Mereka oke-oke. Apalagi (jangan sampai terjadi), Anda sakit selama berlama-lama, selama berbulan-bulan sakit, atau bertahun-tahun sakit. Setelah mati Anda masih ada penyesalan pasti, saya meninggalkan badan. Roh pulang ke rumah lihat orang yang Anda sayangi itu, sedang bersyukur akhirnya Anda mati. Banyak kejadian seperti itu. Saya melihat sendiri. Baru meninggal keluarganya oke-oke saja. Makan minum tidur seperti biasa. Rohnya saja yang gentayangan. Ini jadinya. Tapi sadarnya terlambat. Maka mulai sekarang cintailah keluarga, tanpa keterikatan. Tidak terikat.

 

“Wahai Pārtha (Putra Pṛthā – sebutan lain bagi Kuntī, Ibu Arjuna), inilah tingkat kemuliaan tertinggi, inilah Kesadaran Brahman yang suci; setelah berada dalam kesadaran ini, seseorang tidak pernah bingung lagi. Tetap berada dalam kesadaran ini saat ajal tiba – ia mencapai Kebahagiaan Sejati, Kasunyatan Abadi atau Brahmanirvāṇa.” Bhagavad Gita 2:72

https://bhagavadgita.or.id/

 

Meninggalkan badan, dengan penuh kesadaran bahwa segala apa ini cuma permainan. Seorang bintang, di mana-mana terjadi, Hollywood, Bollywood, wood semuanya. Bintang-bintang film yang sekarang selebritui, kalau sudah nggak laku, perhatikan hidup mereka. Sengsara.

Saya masih ingat nama-nama bintang yang saya gemari. Mau cari mereka cari alamatnya nggak bisa. Nggak ada yang kenal. Dulu lagu-lagunya begitu ngetop, main di film ngetop, sekarang nggak ada yang kenal. Nggak ada yang kenal dan mereka merusak hidup mereka. Alkoholic, banyak yang kemudian, menjalanan hidup yang tidak baik. Hanya untuk mempertahankan kemewahan kadang-kadang. Tapi sampai kapan?

Mau tetap kelihatan cantik, surgery dulu sekarang baikan sedikit. Tapi surgery -urgery itu, plastic surgery, hidung kenapa pesek harus dimancungkan. Kalau mau dimancungkan. Ini hidung mancung ini bukan begitu saja mancung lho. Ini rekayasa kecil. Waktu Anda masih bayi. Puji Tuhan Anda tidak lahir di keluarga India. Kalau Anda lahir di keluarga India, begitu lahir, anak ini masih orok, hidungnya ditarik-tarik.

Itu anak atau bayi bingung, hidung ditarik mata dimasukin celak, mercury, mata kita, mata orang-orang India itu dimasukin mercury, kecil baby. Dalam jumlah yang sedikit, kecil. Dimasukin mercury, celak ada seperti silver-silver di massage. Sampai anaknya teriak-teriak, ibunya nggak tega; neneknya bilang kau diam. Ini urusan saya. Baru hidungnya mancung begini.

Kalau sekarang sudah nggak mancung ya terimalah. Nggak kita mau diplastic surgery, payudara mau di-plasticsurgey. Apa di plastic surgery. Dan, plastic surgery ini, sampai sekarang sebetulnya belum sempurna. Kenapa, karena matrix yang dipakai itu matrix Barat. Bukan matrix tropis. Dari negara tropis kita tidak punya penelitian, penelitian kita ambil dari Barat. Jadi kalau sudah plastic surgery begini, ketemu matahari yangterik, 48 derajat, itu sudah amburadul. Tapi karena amburadulnya sedikit-sedikit, Anda lihat cermin nggak terasa. Hari ini mau pergi kemana kena matahari. Kalau mau begitu, hidung plastic surgery jangan kena matahari, harus di AC terus. Tapi penyakit lain yang muncul. Yang serius.

Ini adalah mati tanpa kesadaran. Bayangkan orang yang berusia 30 tahun, juga mau plastic surgery, yang usia tua juga mau plastic surgery. Akhirnya gimana? Tahu sendiri kan, terimalah hidup ini. Matilah dengan anggun. Menualah dengan anggun. Kalau sudah tua ya sudah tua. Nggak usah disemir lagi. Botak ya botak. Oke kok jadi botak. Kenapa kalau jadi botak? Nggak apa-qpa juga. Coba Anda pernah melihat orang yang menanam rambut. Kelihatan sekali kok, kaya tanaman itu, tanaman berduri yang tidak bisa diapa-apakan.

Sumber: Video Youtube Besama Anand Krishna Bhagavad Gita Sehari Hari Percakapan 02 ayat 69-72 Berkaryalah dengan Penuh Semangat dan Tanpa Pamrih

https://www.youtube.com/watch?v=atVjhTcfZnk

https://www.akcjoglosemar.org/wp/

https://www.anandkrishna.org/

Advertisements