Wejangan Anand Krishna: Tidak Bisa Mengendalikan Semua Yang Di Luar Diri, Kendalikan Dirimu!

“Amarah membingungkan, pandangan dan pikiran seorang menjadi berkabut; dalam keadaan bingung, terlupakanlah segala nilai-nilai luhur, dan lenyap pula kemampuan untuk memilah antara yang tepat dan yang tidak tepat, sesuatu yang mulia dan sesuatu yang sekedar menyenangkan. Demikian, seorang tersesatkan oleh ulahnya sendiri.”Bhagavad Gita 2:63

https://bhagavadgita.or.id/

 

Ketika sudah timbul amarah kenapa saya tidak dapat ini, kenapa saya tidak mendapat itu, dia menjadi bingung, dia tidak bisa melihat mana yang baik mana yang buruk bagi saya. Mana yang tepat bagi saya, mana yang tidak tepat bagi saya. Cuma intinya mengejar, harus mendapatkan kemudian membenarkan segala cara dan di situlah persoalan yang sedang kita hadapi secara global.

Dalam tataran yang paling rendah kita-kita, yang kita sebut awam ini sampai orang-orang yang tinggi, yang menduduki jabatan-jabatan tinggi bingung. Dan, dalam keadaan yang bingung itu, mengambil keputusan yang salah untuk segala sesuatu.

Kadang-kadang kala masih muda belum kawin, menggebu-gebu. Ketika berpacaran itu, Anda boleh setuju atau tidak setuju, tapi seluruh kesadaran itu tertuju pada seks. Saya ini platonic love, saya mencintai jiwanya. Kalau begitu ya jangan mengharapkan ketemu setiap hari. Telepon mendengarkan jiwa? Jangan mendengarkan suara. Jangan w/a-w/a-nan. Tidak ada orang yang pacaran, karena jiwa atau karena atma, atau karena apa pun sebutannya. Ujung-ujungnya adalah seks. Dan ketika seks tidak terima, oke saya harus kawin sekarang. Jadi kawin bukan karena cinta. Karena maunya seks.

Khususnya cewek-cewek harus pikir ulang. Banyak sekali kejadian, yang kita boleh setuju atau tidak setuju. Tetapi sudah menjadi rahasia umum. Bahwa anak-anak di SMA pun sudah mengadakan hubungan seks. Dan gonta-ganti pacar itu terjadi karena itu. Kalau sudah melakukan hubungan seks sebelum kawin, tidak ada adventure lagi setelah kawin. Biasanya akan putus hubungan, ada seks terus dengan pacar Anda? Tidak akan jadi kawin.

Dan sudah ada nilai=nilai yang sudah masuk dalam masyarakat kita. Saya masih ingat di Solo dulu masih kecil tapi saya tidak pernah mendengar, ada kasus perceraian. Istilah janda itu ketika suami sudah meninggal. Tidak pernah ada janda ungu, biru, merah itu. Janda itu istilah di Solo zaman saya masih kecil saya masih ingat. Orang yang mengungkapkan saya janda. Itu adalah suatu kehormatan. Saya tidak menikah lagi setelah saya ditinggal oleh suami saya. Bukan suatu aib. Sekarang memperkenalkan saya janda dalam tanda kutip “i am available”. Boleh dipinang.

Nilai-nilai kita sudah berubah. Ujung-ujungnya kita lihat, persahabatan kita, hubungan kita tidak betul-betul untuk sesuatu yang lebih mulia, lebih berharga. Ujung-ujungnya adalah soal 3 chakra yang awal, makan, minum, tidur, seks. Kenyamanan. Orang mengejar kenyamanan menghalalkan segala cara, cari uang dengan cara apa pun. Asal dapat kenyamanan asal dapat uang.

Bingung kita tidak dapat menentukan mana yang tepat bagi saya, mana yang tidak tepat. Seorang dokter juga mengejar uang tidak perlu di pasien. Seorang ahli hukum juga mengejar uang padahal sumpah jabatannya untuk melayani. Juga yang lain-lain. Guru lupa sumpah jabatan lupa segala-galanya hanya untuk mendapatkan kenyamaman. Chakara 3 seks chakra 2 makan minum tidur. Jadi sifat-sifat insting hewani ini masih sangat dominan, kalau tidak dapat kita marah. Dan kita mengejar dengan segala macam cara.

 

“Namun, seorang yang bebas dari ketertarikan dan keterikatan, suka dan tak-suka; kendati berada di tengah objek-objek duniawi, penggoda indra – tetaplah dapat mengendalikan dirinya. Demikian, dengan pengendalian diri, ia meraih ketenangan, ketenteraman batin.”Bhagavad Gita 2:64

https://bhagavadgita.or.id/

 

Tidak terganggu karena kita tidak bisa mengubah dunia. Tidak mungkin. Disetiap pak rokok sudah ditulis bahwa rokok itu tidak baik untuk kesehatan. Seorang perokok dia baca, dia tidak peduli, tetap saja dia merokok. Kita tidak bisa melarang rokok, mau melarang pornografi. Dulu masih bisa import film segala. Sekarang internet. Ada beberapa negara yang mengharamkan internet. Nggak bisa sepenuhnya. Karena ada saja hacker yang bisa membuka apa pun yang dilarang. Apa pun yang di band tetap saja bisa.

Jadi hal-hal diluar tidak bisa diubah. Apalagi sekarang dengan zaman internet. Dulu dalam zaman tahun-tahun 70-an, 80-an waktu baru mulai telpon genggam. Teknologinya masih terbatas. Tapi zaman 90-an sudah ada telpon yang langsung menggunakan satelite. Dan, apa pun Anda bisa mendapatkan dari belahan dunia mana pun. Punya uang sedikit bisa apa pun.

Jadi hal-hal di luar kita tidak bisa menghapus semuanya. Oh ini nggak baik, tidak boleh ada. Tidak boleh ada di sini, tetap ada di tempat lain. Tidak boleh di tempat lain, tetap ada di sini. Jadi kuncinya adalah pengendalian diri sendiri kita sendiri. Kita yang tidak boleh tergoda oleh semuanya itu. Bukannya ha-hal di luar yang di-band di-apa. Nggak bisa. Mau di-apa pun tidak bisa.

Coba sekarang hukuman mati diberikan pada pengedar ganja, narkoba dan sebagainya, tetap saja bisnis as usual. Tetap saja ada di luar. Tetap saja orang masih mendapatkan. Yang mengedar masih mengedar, yang membeli masih membeli, yang konsumsi masih mengkonsumsi. Persoalannya di mana? Sudah diberikan hukuman yang paling tinggi. Supaya ada efek jera. Koruptor juga begitu diberikan hukuman yang paling tinggi supaya ada efek jera. Tetap saja ada saja yang melakukan hal-hal seperti itu. Jadi persoalannya bukan di luar. Persoalannya di dalam diri kita.

Harus ada pendidikan dimana orang-orang ini dididik dari kecil, anak-anak kita bagaimana mengendalikan diri. Hal yang kecil, setiap anak, pkirannya masih liar. Dia melihat apa pun tidak pikir bahwa orangtua saya punya uang atau apa. Dia suka dengan sesuatu dia mulai menangis. Dia minta. Kalau langsung dibeikan, Anda telah merusak dia. Jangan langsung dibelikan. Anak minta sesuatu diberikan, jangan. Dia harus earn, dia harus menghasilkan itu dari jerih payahnya. Oke kamu mau beli itu kalau orangtua mampu,” ya akan saya berikan tapi kamu harus begini-begini.”

Kamu harus buktikan dulu baru dibelikan. Dari kecil kita membiasakan dia, untuk bias menarik diri. Jangan cepat-cepat dibeikan. Diberikan hand-phone diberikan apa. Jangan. Saya selalu mengkritik anak-anak yang belum bekerja dan merokok. Saya tidak setuju dengan merokok. Siapa pun juga. Tapi kalau orang sudah kerja sudah punya uang, dia mau bunuh diri dengan cara merokok, apa boleh buat. Tapi kalau dia masih siswa, belum punya uang belum punya penghasilan sendiri dan dia merokok.

Hati-hati perempun yang belum kawin, kalau ada seorang laki-laki pacar Anda adalah seorang perokok, padahal dia masih siswa. Dia tidak pernah bisa membahagiakan. Kalau dia tidak bisa membahagiakan orang tuanya. Hasil dari jerih payah orang tua di bakar untuk merokok, dia tidak bisa menghargai Anda. Pikirkan hal-hal yang kelihatannya aneh tapi itulah hidup kita. Karena aneh-aneh ini tidak kita perhatikan, maka menjadi tumor.

 

“Dalam keadaan tenang, tenteram – berakhirlah segala duka, segala derita. Ketika gugusan pikiran dan perasaan tenang, buddhi atau intelegensia berkembang, maka tercapailah kesempurnaan, dan kebahagiaan dalam hidup berkesadaran.” Bhagavad Gita 2:65

https://bhagavadgita.or.id/

 

Dalam keadaan tenang setelah indra terkendali. Setelah indra terkendali dengan sendirinya kita menjadi tenang. Tidak berarti Anda harus mengekang. Tidak berarti Anda harus mematikan segala keinginan tidak. Tapi kita harus bisa menarik diri.

Kemarin-kemarin diberikan contoh kalau nggak salah sudah kita bahas ya seperti penyu. Begitu melihat kondii di luar tidak menguntungkan, dia menarik kepalanya ke dalam cangkang itu. Dan dia selamat. Kalau dia masih kecil belum tahu bagaimana caranya dia melihat bahaya di luar dia tidak menarik kepalanya  ke dalam. Kemarin di kolam kita di Bali, dimakan oleh kucing. Langsung.

Dia harus tahu ada bahaya di luar, dia harus bisa menarik diri. Kalau dia menarik, kucing atau apa pun juga tidak bisa. Cangkang itu lebih kuat dari kucing. Dia malah akan sakit gigi. Dan tidak bisa mengeluh bahwa dia sakit gigi. Dia tidak melakukan apa apa. Tapi karena tortoise ini masih kecil, kura-kura ini masih kecil. Dia belum tahu bagaimana menarik diri, dia termakan, bunuh diri sendiri.

Itu yang terjadi pada kita. Kalau kita tidak bisa menarik diri pada waktu ada bahaya. Kalau nggak ada bahaya silakan. Keluarkan kepala. Tapi banyak sekali bahaya di luar. Kita harus tahu sifat bahaya itu. Jangan langsung positif thinking, oh nggak ada bahaya di luar. Seperti kura-kura kecil itu lihat ikan-ikan kecil nggak ada apa-apa. Nggak tahu diluar ada kucing. Jadi inteligensia ini yang harus berjalan mementukan mana yang tepat dan tidak tepat.

 

Sumber Video Youtube Bersama Anand Krishna Bhagavad Gita Sehari Hari Ayat 2:61-68 Kendalikan Pikiran Kembangkan Kebijaksanaan

https://www.youtube.com/watch?v=2eyFvmuHHeI

https://www.akcjoglosemar.org/wp/

https://www.anandkrishna.org/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s