Wejangan Anand Krishna: Jangan Terikat Pada Kenikmatan Indrawi Saja

“Mereka, para dungu, yang terikat pada kenikmatan indrawi dan kekuasaan duniawi; terbawa oleh janji-janji tentang surga dan sebagainya; sebab itu mereka tidak bisa meraih kesadaran-diri yang dapat mengantar mereka pada keadaan Samādhi, keseimbangan, pencerahan.” Bhagavad Gita 2:44

https://bhagavadgita.or.id/

 

Baru-baru ini saya mendengar tentang seseorang. Saya kenal dia, dulu dia jadi pejabat, waktu kerja di pemerintahan dia bekerja selama bertahun-tahun. Ada korupsi, hampir mau ditangkap, hampir kena KPK dia berjanji, “Nah sekarang sudah mau pensiun saya lebih baik pensiun dini tidak diperpanjang, biar saya aman.”

Baik, Tuhan mungkin dalam mood yang enak, bagus. Sampai akhir pekerjaannya, sudah pensiun tidak kena apa-apa. Aman. Setelah pensiun, dapat tawaran lagi kerja di tempat lain, dia tergiur padahal sudah janji, “Saya tidak mau kerja saya tidak mau apa-apa. Tolong amankan saya!”

Dapat pekerjaan, seorang pegawai negeri sudah pensiun, terus dapat pekerjaan yang lebih tinggi lagi. Ditawarkan, tergiur dia kerja. Kemarin saya dengar dia lagi diperiksa oleh…….

Saya tanya pada dia saat dia telepon, saya tanya, “Kan kamu sudah janji, tidak akan lagi kerja. Katanya mau pulang kampung. Mau bertani mau ngurusin anak cucu segala. Kenapa kerja lagi?”

“Wah sudah tejadi kesalahan, sekarang bagaimana?”

Bagaimana-bagaimana, saya tidak bisa berbuat apa-apa, saya cuma akan berdoa itu saja. Setiap orang harus menjalani karmanya. Inilah yang dikatakan oleh Krishna, orang-orang dungu yang hanya memikirkan kenikmatan duniawi. Hanya karena itu saja berdoa, hanya karena itu saja beragama. Karena itu saja dia melakukan segala sesuatu.

 

“Veda, kitab-kitab suci bicara tentang tiga sifat utama alam benda. Lampauilah ketiga sifat itu, wahai Arjuna. Bebaskan dirimu dari perangkap dan pengaruh dualitas yang tercipta dari ketiga sifat itu. Berpegang teguhlah pada Kebenaran Hakiki tentang Jiwa; bebas dari pikiran-pikiran yang mengejar kenikmatan serta kekuasaan, beradalah senantiasa dalam Kesadaran Jiwa.” Bhagavad Gita 2:45

https://bhagavadgita.or.id/

 

Tiga sifat utama ini adalah sattva, rajas, tamas. Sattva yang membuat kita tenang, tapi kita akan bicara panjang lebar di percakapan yang lain. Sepintas saja.

Sattva membuat kita tenang, rajas membuat kita dinamis penuh dengan semangat bekerja dan sebagainya, tamas membuat kita malas. Dan ketiga sifat ini ada dalam diri setiap orang, cuma proporsinya beda-beda.

Kalau tamas-nya lebih banyak dia menjadi pemalas. Kalau rajas-nya lebih banyak dia menjadi hiperaktif, workaholic dia mau kerja, kerja. Terus, ngejar terus, nggak punya waktu untuk apa-apa, ngejar terus. Kalau sattvanya lebih banyak, dia akan kalem tidak bisa bekerja banyak. Berdasarkan kondisi kita, setiap orang beda-beda proporsinya. Kalau seorang pendeta, brahmana dia memang sattvanya harus lebih banyak. Dia nggak boleh kejar kenikmatan duniawi.

Sekarang banyak sekali orang-orang, sudah jadi pendeta saya lihat masih di showroom kadang-kadang lagi cari mobil mewah.

Saya lihat sendiri. Begitu lihat saya dia malu, “Pak bukan untuk saya untuk anak saya.”

Nggak papa bisa begitu kalau jadi pendeta, jadi brahmana, makanya saya nggak mau jadi pendeta, karena saya masih punya mobil kecil Datsun yang setiap kali duduk kaki saya sakit. Kalau jadi pendeta ya damai tenang jangan mengurus yang lain-lain.

Kalau mau bekerja harus ada rajas, harus ada semangat, jangan malas-malasan. Tapi sifat malas, tamas pun dibutuhkan. Setiap malam kita mau tidur, sifat tamasnya harus ada, jika tidak nggak bisa tidur. Tidur pun pikiran bisa jalan terus.

Saya lagi baca, oleh medis pun diakui jam 11 malam sampai jam 3 pagi itu jam istirahat untuk ginjal dan liver. Jadi kalau kita nggak bisa tidur antara jam itu, ginjal dan liver kita tidak mendapatkan istirahat. Jadi kita butuh sifat malas pada malam hari. Siang kita butuh sifat rajas, kalau masih bekerja. Entah ibu rumah tanga juga harus bekerja, di situ butuh sifat rajas. Tapi kalau ibu rumah tangga pun sudah menjadi nenek, ngga usah sifat rajas, nggak usah terlalu terikat, “wah masih ada cucu, nanti kalau cucu sudah besar lagi.” Itu uruan anak kalian. Berikan kesempatan pada anak kalian. Untuk menjalani dharmanya. Jadi cucu itu bukan urusan kalian. Kalau sudah berusia 60 tahun vanaprastha, ingat Tuhan, sebentar lagi sudah mau mati. Nggak usah ngurusin cucu, tidak berarti meninggalkan cucu. Cucu itu suruh anak, kalau sudah melahirkan, kau urusi. Kalau nggak bisa urusi cari baby sitter, cari pembantu. Jangan Anda menjadi baby sitter.

Banyak sekali orang tidak tahu bahwa hidup ini sesaat saja. Dan kita harus menggunakan waktu kita, seefisien sebaik mungkin. Di dalam tradisi Hindu, usia setelah 48 tahun itu semstinya sudah vanaprastha. sudah persiapan untuk meninggalkan duniawi. Kenapa 48 tahun? Karena usia perkawinan dianggap usia 24 tahun. Setelah usia 24 tahun sudah punya anak satu, dua orang, dan  pada saat Anda usia 48 tahun, 50 tahun anak sudah mandiri, sudah kuliah sudah selesai sudah kerja. Anda persiapkan untuk meninggalkan duniawi. Setelah usia 48, 50 cari ksibukan. Yang pegawai negeri, setelah pensiun cari kesibukan bukan mengurusi anak cucu saja, mengurusi lebih banyak orang.

Semestinya guru di sekolah itu berusia kira kira 50 an tahun. Bukan belajar di perguruan tinggi, keluar dari situ langsung jadi guru, tidak baik. Guru guru seperti itu hanya pekerja sebetulnya, bukan guru. Masih ingat zaman-zaman saya, masih ingat guru TK saya itu berusia 50an tahun keatas. Saya nggak punya guru yang muda. Saya nggak ingat wajahnya. Semuanya sudah agak setengah baya.

Itu yang penting, karena kalian sudah memiliki kasih yang secara otomatis keluar dari pikiran, perasaan, tubuh. Kalau masih muda, pikirannya bukan untuk mengajar tapi untuk cari gaji. Tapi kalau sudah suia 55 tahun, sudah pensiun sudah apa, tujuannya adalah mengabdi atau sekedar menghabiskan waktu. Dan menghabiskan waktu dengan cara yang baik dengan melayani.

Jangan tejebak oleh seorang, 2 orang, 4 orang cucu di rumah, layani 100-200 siswa di sekolah. Coba bayangkan ada nggak, di Bali Rumah Sakit Hindu? Atau Sekolah Hindu? Universitas ada. Sekolah sekolah swasta ada. Tapi sekolah Hindu ada nggak? Nggak ada. Apakah kita tidak punya uang? Punya. Tidak punya kemauan. Ini hal-hal yang perlu kita pikirkan. Perlu kita renungkan. Jangan cuma mengikuti upacara saja. Persembahan terbaik menurut Sara Samuccaya, Bhagavadn Vararuci, berdana punya yang terbaik adalah memberikan pengetahauan kepada orang. Luar biasa ini. Coba kita renungkan. Jangan cuma mengejar kenikmatan duniawi.

 

“Bagi seorang bijak yang telah meraih Kesadaran Hakiki tentang dirinya, pengetahuan dari Veda, kitab-kitab suci, ibarat kolam di daerah banjir, di mana tiada kekurangan air.” Bhagavad Gita 2:46

https://bhagavadgita.or.id/

 

Kalau sudah muncul kesadaran kitab-kitab suci ini petunjuk. Di dalam Hindu kitab-kitab suci itu petunjuk, seperti map, seperti peta. Kalau sudah sampai di tujuan peta harus ditinggalkan. Kitab-kitab suci mengantar pada kesucian. Jadi jangan berhenti pada kitab suci. Jangan berhenti pada membaca bhagavad Gita. Bagaimana kita menerapkan ajaran bhagavad gita itu dalam kehidupan sehari-hari. Bukan berhenti pada kitab suci saja.

Saya pernah cerita, saya pernah menulis Bhagavad Gita yang tebal itu 1800 halaman. Saya melihat di tempat orang diletakan di atas pelangkiran, sampai bolong-bolong kena dupa. Saya bilang dibaca nggak? Nggak pernah dibaca tapi ditaruh di atas pelangkiran. Kita tidak punya tradisi seperti itu. Buku-buku ini jangan bolong-bolong kena abu dupa. Lebih baik rusak-rusak karena dibaca.

 

Sumber: Video Youtube Bersama Anand Krishna Bhagavad Gita Sehari Hari Percakapan 02:42-49 Kitab Suci Adalah Peta Jalan Menuju Kesucian

https://www.youtube.com/watch?v=_jOkWxoobi8

https://www.akcjoglosemar.org/wp/

https://www.anandkrishna.org/

 

Advertisements