Wejangan Anand Krishna: Bhagavad Gita Sudah Ada Sejak Sebelum Ada Kehidupan Manusia?

Hari ini kita masuki Bab ke IV Percakapan Ke IV, judulnya adalah Gyaan Karma Sanyas Yoga. Gyaan adalah Pengetahuan Sejati, Karma adalah Perbuatan, Sanyas adalah Pelepasan, banyak orang mengira bahwa percakapan ini, membuat kita melepaskan karma, melepaskan perbuatan, melepaskan pengetahuan. Tidak demikian.

Pengetahuan Sejati justru membuat kita, berkarma bertindak, berbuat tanpa keterikatan. Ini sudah kita bahas sebelumnya. Krishna sudah menjelaskan secara garis besar.dalam percakapan ke III, di sini Beliau menjelaskan lebih lanjut lagi, bagaimana mempraktekkan semuanya itu.

 

Sri Bhagavan (Krsna Hyang Maha Berkah bersabda: “(Ajaran Tentang) Yoga ini pernah kuungkapkan kepada Vivasvan, Penguasa Matahari; Vivasvan menyampaikan kepada Manu, leluhur manusia di bumi; dan Manu mengajarkannya kepada Iksvaku.“ Bhagavad Gita 4:1

https://bhagavadgita.or.id/

 

 

“Demikian disampaikan secara turun-temurun, para Rajarsi – Para Penguasa Berkesadaran, pun Para Bijak yang membantu dalam ketatanegaraan, mengetahui dan melakoni (ajaran) Yoga ini. Namun seiring waktu cukup panjang yang telah berlalu, aturan ini telah lenyap, hilang tidak diketahui lagi.” Bhagavad Gita 4:2

https://bhagavadgita.or.id/

 

 

“(Ajaran) Yoga kuno yang dirahasiakan ini pula yang telah Ku-sampaikan kepadamu saat ini, karena engkau adalah seorang sahabat berjiwa panembah.” Bhagavad Gita 4:3

https://bhagavadgita.or.id/

 

Krishna menjelaskan apa yang Dia sampaikan ini bukan sesutu yang baru, sudah ada sejak turun-temurun. Oleh karena itu ajaran istilah Hindu baru muncul 1.000 tahun yang lalu. Hindu Dharma, disebut Sanatana Dharma. Istilah Hindu itu baru muncul 1.000 – 1.200 tahun yang lalu. Sebelumnya selalu disebut Sanatana Dharma. Dharma yang bersifat langgeng dan abadi.

Coba lihat diIndonesia sendiri misalnya. PHDI, Parisada Hindhu Dharma Indonesia. Parisada Hindu Dharma yang ada di Indonesia. Parisada berarti kumpulan, kumpulan organisasi Hindu Dharma yang berada di Indonesia.

Pikirkan, belum jauh sekali tapi leluhur kita pada waktu itu, ada Pak Oka Puniatmaja, Pak Gede Puja, yang kemudian menjadi Dirjen. Bimas Hindu Buddha.

Pak Oka Puniatmaja juga pernah menduduki jabatan ketua PHDI, semuanya ini termasuk Pak Ida Bagus Mantra, Gubernur Bali, kemudian jadi Duta Besar di India. Orang-orang awal ini, tokoh-tokoh awal ini, di zaman jelang pemerintahan Soekarno, dan pemerintahan Soeharto, pada waktu itu memutuskan bahwa kelompok kita ini akan disebut Parisada Hindu Dharma Indonesia. Bukan Parisada Agama Hindu Indonesia.

Perhatikan, mereka ini sangat sangat memahami Dharma itu apa? Oleh karena itu tidak menggunakan istilah agama, tapi menggunakan istilah Dharma. Ini penting sekali nanti kapan-kapan, kita bahas soal ini. Sekarang bukan waktunya,

Krishna mengatakan bahwa Dharma ini ada sejak dulu. Sebelum adanya bumi. Sebelum adanya apa-apa, matahari kekuasaan, kekuatan matahari. Kekuatan matahari berarti kekuatan cahaya, Dharma ini berasal dari sana. Dari suatu sumber yang sudah ada sebelum adanya bumi kita. Dan yang sudah ada sebelum bumi kita apa.

Adalah hukum alam yang abadi. Hukum alam yang tidak bisa dinafikan oleh siapapun juga. Siapa yang mengatur bumi kita berputar. Siapa yang mengatur, matahari terbit pada waktu yang tertentu, terbenam pada waktu yang tertentu. Emangnya ini siapa pun yang mengatur, kita menyebutnya Sang Hyang Widhi Wasa. Ada yang menyebutnya Tuhan, ada yang menyebutnya  Gusti, begitu banyak sebutan dari setiap kepercayaan.

Hindu menerima setiap sebutan itu, Dharma menerima semua sebutan itu, karena Dharma tahu sumbernya adalah satu. Kalau kita persoalkan sebutan, kita belum yakin bahwa semuanya bersumber dari satu.

Kita betengkar kenapa, karena sapi saya berwarna coklat, sapimu berwarna putih. Sapi orang lain barangkali berwarna merah. Hijau, nggak tahu, nggak ada sapi merah hidjau ya. Coklat, krem atau apa. Atau berbintik-bintik dan saya mengatakan sapimu tidak bagus lihat sapi saya bagus.

Kenapa kita bertengkar, karena kita tidak memperhatikan susu sapi. Susunya sama, kualitasnya sama. Dharma melihat susunya, maka dariitu Dharma tidak bertengkar. Dharma tidak mempersoalkan kalau ada yang beribadah di tempat yang lain, ada yang beribadah di Pura, ada yang di Mandir, ada yang di mana. Dharma tidak melihat bentuknya, Dharma melhat ibadahnya. Yang sedang diagungkan adalah Tuhan yang satu dan sama. Oleh karena itu kalau terjadi persolan di mana sekarang sudah terjadi.

Pasti Anda sudah kita tidak melakukan hal yang sama, ada yang membatui Pura, kita tidak membatui tempat ibadah lain. Karena kita tahu yang dijadikan objek dari pemujaan adalah Tuhan yang sama. Bentuk sapinya saja yang berbeda-beda. Ini Dharma, jadi Dharma itu lain dengan lepercayaan, kepercayaan yang melihat warna sama. Dharma melihat susu, susu sapi, itu sama satu, manfaatnya sama. Kita tidak mempersoalkan warna kulitya.

Tapi kita juga tidak kita tidak menjual sapi kita kemudian membeli sapi yang lain. Tidak perlu pindah kepercayaan. Kalau susunya sama, kenapa harus pindah, kenapa harus jual sapi kita beli sapi lain. Tidak perlu, inilah Dharma. Krishna mengatakan, ajaran ini sudah ada sejak dulu. Dan Arjuna bertanya,

 

“Kelahiran Vivasvan yang Engkau sebut adalah jauh sebelum kelahiran-Mu sendiri. Bagaimana Engkau dapat mengajarkan kepadanya, bagaimana aku bisa memahami hal ini?” Bhagavad Gita 4:4

https://bhagavadgita.or.id/

 

Bingung kan? Kau mengatakan sejak dulu ada, darimana kamu tahu. Kamu baru lahir kemarin dulu. Waktu sedang perang ini, usia Arjuna dan Krishna kurang lebih 75 tahunan. Jadi kalau lihat sinetron Arjuna masih muda, nggak. Sudah tua mereka. Dan kakek mereka Bhisma, sudah hampir 100-an tahun. Usianya jauh lebih tua dari usianya mereka. Krshna dan Arjuna kurang lebih usianya hampir sama. Jadi sudah berusia75 tahunan. Arjuna tahu kapan lahirnya Krishna, Krishna tahu kapan lahirnya Arjuna. Dan sekarang Krishna mengatakan Aku sudah tahu sejak dulu. Arjuna bertanya bagaimana kau tahu?

Silakan ikuti Penjelasan lanjutan berikutnya:

 

Sumber: Video Youtube Bersama Anand Krishna Bhagavad Gita Sehari-Hari Ayat 04:1-10 Dharma dan Reinkarnasi

https://www.youtube.com/watch?v=oqd6j5aQ3_0

https://www.akcjoglosemar.org/wp/

https://www.anandkrishna.org/

Advertisements

Wejangan Anand Krishna: Kendalikan Indra dan Taklukkan Hawa Nafsu Baru Spiritual Mantap

“Sebab itu, Bharatarsabha (Arjuna, Banteng Dinasti Bharat), terlebih dahulu kendalikanlah indra-indramu. Kemudian, dengan sekuat tenaga, taklukkan hawa nafsu, yang merupakan penghalang utama bagi perolehan Pengetahuan Sejati Jnana dan Vijnana. Yaitu pengetahuan tentang Nirguna Brahma – Hyang Melampaui Wujud; dan tentang Saguna Brahma – Hyang Mewujud.” Bhagavad Gita 3:41

https://bhagavadgita.or.id/

 

Kendalikan dulu indraindramu, ada orang di tradisi China, kalau Anda sedang duduk, dan Anda menggoyangkan kaki terus, katanya pamali, rejekinya akan hilang. Bukan soal rejeki hilang akan tetapi kita tidak bisa mengendalikan badan kita. Kenapa ketika meditasi dibilangi kamu harus tegak lurus. Cuma untuk mengendalikan. Pengertiannya tegaklurus agar energinya lebih leluasa, tetapi mengendalikan badan duduk dalam satu posisi, selama 15 menit. Mulai dari 3 menit 5 menit sepuluh menit 15 menit. Mengendalikan diri duduk diam. Tujuannya itu mengendalikan indra, salah satu ashram culture, di salah satu ashram, yang pernah saya kunjungi, dan di sana zaman dulu kalau mau datang ke ashram itu, kalau nggak salah harus tinggl dua bulan. Nggak boleh kurang dari itu. Dua atau 3 bulan. Saya kebetulan di ajak orang, saya tidak tinggal di sana. Saya mungkin tinggal seminggu, tapi saya dapat khusus, perlakuan khusus karena saya bilang saya masih kerja. Di Rishikesh.

Salah satu ashram culture nya adalah selagi masih di sini, kamumtidak boleh berjalanjalan tanpa tujuan. Mau jalanjalan tanpa tujuan tidak boleh. Kalau mau beli barang kalau di tempat, di koperasi ashram nggak ada, you harus pergi ke luar boleh. Tulis di logbook. Mau beli deterjen yang kebetulan tidak ada misalnya ini. Kebanyakan sih ada. Dan setelah beli itu langsung pulang. Diberi petunjuk barangbarang yang kamubeli itu adanya di sinisisnisisni. Dan kamucuma butuh 15 menit. Tetapi itu bekerja baik. Ketika 3 bulan dia melewati itu dia datang lagi ke rumah, kembali ke rumah, ke negerinya, ke tempat asalnya, dia sudah tidak punya kebiasaan untuk jalanjalan tanpa tujuan. Karena jalanjalan tanpa tujuan, ini pun menurut Guruitu itupun adalah salah satu penyebabnya adalah indra yang tidak terkendali.

Dan sekarang kita melihat ini terjadi di dunia maya. Kadangkadang di google kita mau cari sesuatu, kita sudah tahu tujuan mau cari satu hal di google. Tetapi begitu kita mulai google, entah apa pun kita cari. Karena indra kita tidak terkendali. Dan ini berlaku untuk semuanya mulut tidak terkendali, pencecapan tidak terkendali, pendengaran tidak terkendali, penglihatan tidak terkendali. Dan apalagi selama beberapa puluh tahun terakhir kita dibikin bingung oleh sistem pendidikan yang salah.

Apalagi sekarang yang disebut the milenial generation. Anakanak harus dilepaskan, kita akan menghadapi kehancuran. Suatu peradaban kalau anakanak dari kecil tidak disiplinkan. Kalau anakanak dibiarkan begitu, sifat kebinatangannya masih ada. Dia akan menyebabkan kekacaauan di masyarakat. Tapi banyak Guru banyak sekolah mengatakan sampai sekarang, dan sekarang lebih lagi. Anakanak itu tidak boleh stress, dibiarkan saja mau apapun juga silakan. Lihat sepuluh tahun kemudian. Anakanak ini akan berlangganan pada psikiater, karena dia tidak akan bisa, berlanjut seperti itu di masyarakat. Di masyarakat setiap saat ada disiplin walaupun, kita kira nggak ada disiplin. Mau kerja di mana ada disiplin.

Saya melihat beberapa waktu lau, saya lagi jalan ke tempat mana, di Bali. Seorang anak kecil, bisa pukul orangtuanya. Anak kecil bisa pukul dan orangtuanya anggap itu oke. Lucu anaknya. Tidak tidak lucu sekali. Sama sekali tidak lucu. Hari ini dia pukul orangtua besok kalau dia pukul orang lain, penyebabnya adalah orangtua yang membiarkan dirinya dipukul oleh anaknya. Orang lain tidak akan memaafkan. Anak itu. Siapapun tidak akan memaafkan.

Pilih sekolah yang baik, kalau tidak ada sekolah yang baik, home schooling. Lebih baik seorang perempuan, karena bapak nggak bisa. Ini adalah pekerjan seorang ibu. Yang punya naluri insting untuk mengajar. Itu adalah ibu. Lebih baik seorang ibu tidak bekerja, dari jam 9 sampai jam 5. Lebih baik dia mengajar anaknya, home schooling. Kalau dibutuhkan kalau memang itu dibutuhkan. Dan kalau tidak kita harus bisa memberikan, option itu.

Setidaknya kepada anakanak kita atau orang yang masih muda. Yang sebentar lagi akan berkeluaraga. Kita harus mampu memberikan option yang lain. Sekolah yang sesuai dengan kemanusiaan. Yang bisa membuat mereka menjadi manusia yang baik. Apalagi kalau anakanak pergi ke sekolah internasonal nggakada cerita tentang uncle adi dan sebagainya. Semuanya pakai nama. Orang tua jauh lebih tua pun dipanggil dengannamanya. Kita sedang menuju bencana.

Bencana total bencana peradaban. Bukan nggak perlu clash lagi. Orang bicara tentang clash of civilazation. Tidak perlu clash. Pendidikan yang salah akan menghancurkan suatu peradaban.

 

“Sebab itu, Bharatarsabha (Arjuna, Banteng Dinasti Bharat), terlebih dahulu kendalikanlah indra-indramu. Kemudian, dengan sekuat tenaga, taklukkan hawa nafsu, yang merupakan penghalang utama bagi perolehan Pengetahuan Sejati Jnana dan Vijnana. Yaitu pengetahuan tentang Nirguna Brahman – Hyang Melampaui Wujud; dan tentang Saguna Brahman – Hyang Maha Mewujud.” Bhagavad Gita 3:41

https://bhagavadgita.or.id/

 

Di sini penting sekali. Melihat perbedaan antara konsep bagavad Gita ini. Dengan konsepkonsep kita barangkali, selama ini kita anggap benar. Krishna tidak membedakan antara Nirguna Brahman, Tuhan yang abstrak, dan semuanya ini. Bagi Krishna Tuhan yang abstrak itu adalah Nirguna Brahman. Itu adalah yang disebyt Gyaana Pengetahuan tentang Nirguna Brahman. Tentang yang abstrak. Dan pengetahuan tentang kita semua kita semua ini adalah bentukbentuk dari Tuhan yang mewujud. Karena pemahamannya adalah tuhan dan dunia ini seperti labalaba dan sarangnya.

Bagaimana seekor labalaba ini membuat sarang dari liurnya kan, dalam badannya. Dia mengeluarkan itu dan membuat sarang. Dan sarang itu bisa besar sekali. Dan juga kita sekarang tahu, seekor labalaba itu dapat membuat sarang dalam hitungan menit. Kadangkadang kita melihat sarang labalaba ini sbegitu tebal pasti membuatnya sudah lama. Dia dalam hitungan menit bisa membuat sarang. Dan setelah itu dalam hitngan menit pula dia bisa mengambil menarik kembali semuanya.

Pemahaman Krishna tentang Tuhan dan tentang dunia kita seperti itu. Jadi kita semua ini adalah sarangnya yang dibat oleh labalaba. Dan kita ngak bisa dipisahkan dari labalaba itu. Dia bisa menarik kita kembali kapan saja.

 

“Indra konon lebih berkuasa daripada badan; gugusan pikiran serta perasaan lebih berkuasa daripada indra; inteligensia lebih berkuasa daripada gugusan pikiran serta perasaan; dan, yang lebih tinggi, lebih berkuasa dari inteligensia adalah Jiwa, Hakikat Diri.” Bhagavad Gita 3:42

https://bhagavadgita.or.id/

 

Indra ;ebih berkuasa daripada badan. Satu indra mulut, dia makan sesuatu yang ngak benar, seluruh badan bisa menanggung resikonya. Sebaliknya juga, makan sesuatu yang benar manfaatnya diperoleh oleh seluruh badan. Bicara kasar sama orang Cuma mulut yang bicara, konsekuensinya harus diderita oleh seluruh badan oleh manusia seutuhnya. Dan sebaliknya. Jadi yang lebih berkuasa daripada badan adalah indra. Lebih berkuasa dari indra adalah pikiran. Mind. Pikiran atau perasaan. Dia bisa mengendalikan indra.

Saya pernah bicara dalam salah satu pertemuan. Barangkali ada juga di youtube. Kita sudah diajarkan oleh semesta. Secara teori orang kalau mau kencing mau buang air, kita nggak punya klep. Seharusnya langsung buang. Seperti anak kecil. Ngompol kan, semestinya orang dewasa pun demikian. Tapi kita diajarkan, oleh orangtua oleh guru oleh masyarakat, bahwa nggak boleh ngompol dimana pun. Harus tunggu sampai, ketemu wc ketemu toilet. Ketemu restroom.

Jadi kita diajarkan dan kita bisa. Jadi indra bisa dikuasai oleh pikiran. Tapi pikiran pun kacau. Untuk menguasai pikiran adlah inteligensia. Yang sudah kita bicarakan di berbagai kesempatan, ada di bukubuku kita seja awal, sudah bicara. Makanya kembangkan inteligensia kembangkan buddhi. Tapi di atas buddhi adalah Jiwa.

Dan Jiwa ini kalu kita bisa mengakses, mengembangkan kembali pengetahuan kitatentang Jiwa. Kita bisa mengendalikan inteligensia. Kita.

 

“Demikian Mahabaho (Arjuna Berlengan Perkasa), dengan mengenal Ia Hyang lebih berkuasa daripada inteligensia; dan memberdayakan diri dengan Pengetahuan Sejati tentang Hakikat Diri, taklukkanlah musuh berupa hawa nafsu, yang memang sulit ditaklukkan.” Bhagavad Gita 3:43

https://bhagavadgita.or.id/

 

Sulit ditaklukan tapi bisa ditaklukkan, begitu kita kenal Jiwa kita. Begitu kita tahu siapa diri kita sebenarnya. Dan apa pun yang kita lakukan di sini, meditasi dan sebagainya, untuk itu tujuannya adalah itu. Bagaimana kita bisa mengenal jatidiri kita yang sesungguhnya dan kita tahu, bahwa indra, badan pikiran, buddhi, inteligensia, semuanya ini adalah alat bukan saya. Saya bisa menggunakan indra ketika saya butuh makan, saya butuh indra mau bekerja dan sebagainya. Saya butuh badan saya menggunakan badan, tapi saya bukan indra, saya bukan badan, saya bukan pikiran, bukan mind. Saya juga bukan buddhi, saya adalah pembawa mobil ini. Kendaraan ini mempunyai sekian banyak fakultas, indra segalanya, pikiran segalanya, saya adalah pembawa mobil kalau mobil ini rusak, saya bisa turun dari mobil, saya bisa cari hahaha Terima kasih.

 

Sumber: Video Youtube Bersama Anand Krishna Bhagavad Gita Sehari-Hari Ayat 03:36-43 Musuh Utama Manusia Nafsu Keinginan dan Amarah

https://www.youtube.com/watch?v=dUR_k0fmwdc

https://www.akcjoglosemar.org/wp/

https://www.anandkrishna.org/

 

Wejangan Anand Krishna: Bertindak Khilaf Karena Dorongan Kekuatan Nafsu dan Amarah

Arjuna bertanya: “Tetapi (setelah mengetahui semua itu), apa yang membuat seseorang bertindak salah/khilaf (tidak selaras dengan nurani dan svadharmanya) – seolah ia terdorong oleh kekuatan lain dan dipaksa untuk berbuat demikian?” Bhagavad Gita 3:36

https://bhagavadgita.or.id/

 

Pertanyaan yang sangat valid. Kita sudah tahu, sering sekali kita tahu ini bagus bagi saya. Ini tidak bagus. Tetap saja kita seperti terdorong oleh suatu kekuatan lain, tapi Arjuna jujur dia tidak mengatakan ada setan yang mendorong saya nggak. Dia tidak mengatakan ada setan. Dia mengatakan sepertinya ada sesuatu, yang mendorong saya untuk berbuat tidak benar.

 

Krishna menjawab:

“(Dorongan itu) adalah keinginan dan amarah, bersumber dari sifat rajas, penuh nafsu, penuh gairah. Keduanya tidak pernah puas dan tidak terselesaikan. Pembawa bencana, mereka musuh utama manusia (sebab, menjadi penghalang bagi hidup berkesadaran.” Bhagavad Gita 3:37

https://bhagavadgita.or.id/

 

2 hal keinginan dan amarah. Dan ini bersumber dari sifat rajas. Setiap orang memiliki sifat rajas. Rajas ini yang membuat kita aktif. Kalau kita tidak mempunyai sifat rajas kita akan inactive. Energi kita itu karena sifat rajas. Setiap orang punya sifat rajas. Berarti setiap orang juga punya keinginan, dan bisa juga marah.

Kalau ada orang yang mengatakan, Oh saya tidak akan marah lagi. Nonsens. Mau disulut sedikit saja langsung terbakar. Apalagi orang yang mengatakan saya tidak bia marah. Gampang sekali bikinnya. Orang yang mengatakan saya tidak pernah stress, langsung ditolak pernyataannya saja langsung dia stress. Saya tidak pernah ini, tidak pernah apa pun yang dia katakan, kalau ditantang dia sebentar akan langsung kehilangan keseimbangannya.

Jadi 2 hal ini memang ada dalam diri kita semua. Harus dikendalikan.

 

“Sebagaimana api tertutup oleh asap; cermin oleh debu; dan janin oleh kandungan – pun demikian Kesadaran Diri atau Pengetahuan Sejati tentang Hakikat Diri sebagai jiwa, percikan Jiwa Agung, tertutup oleh nafsu keinginan dan amarah.” Bhagavad Gita 3:38

https://bhagavadgita.or.id/

 

Nafsu keinginan dan amarah, ini menutup identitas diri kita yang sebenarnya. Identitas diri kita ada bukan tidak pernah hilang. Tapi nafsu keinginan dan amarah karena tidak dapat sesuatu kita marah. Ini yang menutup identitas diri kita, kenapa. Dikatakan demikian? Karena ketika saya menginginkan sesuatu, saya mengidentitaskan diri saya dengan sesuatu itu.

Siang malam yang terpikir sesuatu itu. Mau kawin dengan seseorang. Seolaholah tanpa orang itu kamu tidak punya kepribadian lagi. Mau memiliki mobil yang mewah. Seolaholah tanpa mobil itu kamu tidak punya jati diri. Tidak punya kepribadian. Jadi apa pun yang kita hendaki, kita mengidentitaskan diri kita dengan barang itu benda itu, orang itu. Kalau nggak dapat kita marah. Kita lupa bahwa sejak lahir kita tidak punya benda itu.

Sejak lahir kita tidak kenal orang itu. Kok tibatiba tanpa orang itu hidup akan menjadi hitam putih. Ini yang dikatakan oleh Krishna bahwa, api tertutup oleh asap cermin oleh debu. Janin oleh kandungan. Begitu juga nafsu amarah dan keinginan menutupi diri kita.

 

“Wahai Kaunteya (Arjuna, Putra Kunti), Pengetahuan Sejati tentang Hakikat Diri tertutup oleh nafsu keinginan yang oleh para bijak disebut musuh manusia sejak dahulu kala; berhubung nafsu keinginan bagaikan kobaran api yang berkobar terus, tidak pernah puas.” Bhagavad Gita 3:39

https://bhagavadgita.or.id/

 

Beberapa orang datang ke nabi dan kita baru selesai perang dan kita mendapatkan kemenangan. Dan nabi mengatakan, perang yang sesungguhnya adalahmelawan nafsnafs, itulah perang yang sesungguhnya yang terjadi setiap saat. Apa yang dikatakan oleh Krishna 5.000 tahun yang lalu, sekarang psikologi pun akar membenarkan bahwakeinginan kita dorongan dari nafsu apalagi ada pemicunya di luar. Kalau duaduanya ketemu, saya punya nafsu untuk minum alkohol, di luar ada alkohol saya punya uang semuanya ketemu.

Resources kita, keinginan kita nafsu kita dan pemicu di luar. Tigatiganya ketemu, menyebabkan kecelakaan. Oleh karena itu, Wahai Arjuna, pengetahuan sejati tentang hakikat tertutup oleh nafsu keinginan, yang oleh para bijak disebut musuh manusia. Sejak dahulu kala. Berkobar terus tidak pernah puas. Mau dikasih apa pun juga nafsu kita itu nggak pernah puas. Hari ini perlu mobil kecil. Besok dapat mobil kecil, perlu mobil besar, hari ini pacaran kalau nggak dapat, kita akan mati. Nggak mati juga. Sudah dapat nggak bahagia juga. Selalu begitu. Yang nggak kawin terakhir dia pikir, kalau tadinya saya kawin betapa bahagianya. Yang kawin, dia berpikir kalau saya nggak kawin betapa bahagianya. Duaduanyansedang merana. Nggak pernahselesai. Diberikan umpan apa pun, dia tidak pernah puas.

 

“Indra, gugusan pikiran serta perasaan (mind) dan buddhi atau intelegensia adalah lapisan-lapisan tempat hawa nafsu atau keinginan dan amarah bersarang,. Dengan menggunakan semuanya itu, ia menutupi Kebenaran Sejati, Hakikat Diri, sehingga membingungkan Jiwa yang bersemayam di dalam badan.” Bhagavad Gita 3:40

https://bhagavadgita.or.id/

 

Inteligensia pun buddhi pun, di situ pun orang sudah mencapai buddhi pun masih bisa marah. Masih bisa punya keinginan. Dan barangkali keinginannya jauh lebih hebat daripada kita. Kalau tidak terpenuhi dia bisa juga marahmarah.

Buddhi pun sudah melewati mind, itu yang kemarin lagi bahas, the spirital materalism, ego spiritual. Sudah mencapai buddhi pun, kita masih bisa punya ego, kita masih bisa marah. Jadi pekerjaan ini adalah pekerjaan purna waktu. Sampai akhir hayat. Nggak ada satu jaminan bahwa kalau sudah meditasi sekian jam per hari sudah vegetarian, sudah datang ke ashram sekian kali per minggu. Semua persoalan, kita akan selesai. Saya akan menjadi baik. Tidak.

Selama masih ada nafsu, ada keinginan, ada amarah kita masih harus bekerja terus.

 

Sumber: Video Youtube Bersama Anand Krishna Bhagavad Gita Sehari-Hari Ayat 03:36-43 Musuh Utama Manusia Nafsu Keinginan dan Amarah

https://www.youtube.com/watch?v=dUR_k0fmwdc

https://www.akcjoglosemar.org/wp/

https://www.anandkrishna.org/

 

Wejangan Anand Krishna: Jangan Melakukan Sesuatu yang Tidak Sesuai Dengan Potensi Diri

“Lebih baik melaksanakan svadharma – tugas-kewajiban sesuai dengan potensi diri, walau tidak sempurna, daripada mengerjakan paradharma – sesuatu yang tidak tepat, tidak sesuai dengan potensi diri.” Bhagavad Gita 3:35

https://bhagavadgita.or.id/

 

Kita melihat seseorang, dia buka warung apa, dia jualan apa, dan dia bisa mendapatkan uang penghasilannya bagus. Dan kita pikir, “Wah, kalau dia hasilnya bagus, saya pun harus memiliki usaha yang sama, dan penghasilan kita pasti bagus.” Tidak bisa.

Kita punya skill nggak? Apakah di skill kita mampu berbuat seperti apa yang dibuat oleh orang lain? Ini penting sekali. Kalau tidak punya skill, apakah kita bersedia untuk meningkatkan kemampuan kita, atau cuma berharap saja, “Karena orang lain bisa sukses buka usaha ini, saya juga harus sukses. Orang lain juga pasti sukses.” Tidak bisa. Banyak orang yang gulung tikar karena begini. Ikut-ikutan. Ikutan trend padahal dia nggak ngerti tentang trend.

Saya nggak tahu di Jakarta, kadang-kadang saya ke Bali pergi ke suatu mall atau apa, kebetulan ada urusan, mau beli sesuatu. Setelah 6 bulan, 7 bulan saya pergi lagi, sekian banyak toko sudah tutup. Toko baru. Dan a war di mall itu luar biasa. Karena orang ikut-ikutan. Dia jual apa saja, jualan, kita cuma melihat keuntungan di atas kertas. Saya beli ini harganya di Mangga Dua sekian, kalau saya beli di grosir, harganya 2 juta per lusin dan saya bisa jual satu piece 500 ribu. Satu lusin 6 juta, tiga kali lipat. Buka toko dan beli 100 lusin, bisa jual nggak?

Saya baru-baru ini baca satu artikel, menarik sekali. Bagaimana seorang pedagang Sindhi. Kebetulan, penulis bukan orang Sindhi. Dia terkagum-kagum oleh cara jualan orang Sindhi. Dan di sini pun juga demikian. Dulu, saya nggak tahu sekarang.

Pergi ke toko yang dimiliki oleh orang Sindhi. Di Pasar Baru dulu banyak sekarang sudah kurang. Belum apa-apa sudah diberikan minuman dulu. Dia nggak tanya kamu mau beli apa. Diberikan minuman dulu. Di situ kita sudah luluh sedikit. Langsung saya belum mau apa, belum ditanya diberi minuman. Dan kemudia ada bilang sama dia, Pak, saya cuma mau lihat. “Nggak apa-apa, silakan minum dulu.

Kalau di India mau beli Sari dan perempuan kalau beli Sari, mau beli 1 sari harus pergi ke 10 toko. Tapi kalau kebetulan dia masuk ke toko orang Sindhi. Mau beli sari, dia langsung bukakan 50 Sari. Ini nggak suka itu nggak suka, “oh nggak apa-apa saya masih punya 1 stok lagi di dalam.” Dia keluarkan barangkali sdah stok lama sekali. Di dalam taruhnya, sudah stok lama sekali barangkali. Dia kasih lihat, akhirnya beli.

Kalau pun nggak beli dia ngak akan cemberut, “oh ya sayang sekali stok kita memang kurang cocok bagi ibu, tapi coba minggu depan kalau punya waktu mampir. Lagi jalan-jalan mampir ke sini, saya akan ada stok baru minggu depan.” Dan minggu depan, kalau dia pergi ke toko itu, mungkin dia nggak punya stok baru, tapi dia akan buka lagi stok-stok lama, dikasih lihat lagi.

Dan seorang Sindhi, di show-case nya, ini orang lain yang bilang. Setiap beberapa hari saya lewat, show-case itu selalu barang nya baru ganti. Manekin selalu diganti bajunya. Seolah-olah dia istrinya. Harus pakai baju baru. Jewellery nya juga baru. Semuanya baru. Harus.

Dulu saya suka bantu di Ayur, bilang teman-teman di sana harus diganti. Suasana harus diganti. Harus ganti suasana. Dan apa pun yang Anda jual, jangan anggap itu sebagai benda mati.  Berikan kehormatan, kepada setiap barang yang Anda jual. Itu benda hidup dan ketika mau dijual itu seperti kita pamitan begitu juga harus pamit dengan itu. Saya sekarang pamit. Selama ini kamu berada di rumah saya, di toko saya. Sekarang kamu akan pergi ke tempat lain.

Di dalam tradisi kuno, ketika seorang perempuan kawin, dia biasanya dibawa boyong ke rumah suaminya. Biasanya, ada juga yang terbalik. Tapi biasanya suami membawa istrinya ke rumahnya. Dan seorang ibu dari perempuan ini, bapak dari perempuan ini ada upacara perpisahan. Ada uoacara perpisahan, jadi anak ini diberi petunjuk. “Kamu di sini sudah tinggal selama 20 tahun, sekarang bawalah nama baik keluargamu ke rumah mertuamu.”

Begitu juga sama barang dagangan, “kau telah menemani saya selama beberapa tahun, berapa bulan, berapa hari. Dan sebagaimana di sini, kau menemani saya sekarang temanilah orang yang membeli ini. Jadilah berkah bagi dia.”

This, orang yang menulis ini artikel, dia bilang saya tidak pernah melihat orang dari suku lain yang men-treat, memperlakukan barang dagangannya seperti benda hidup. Kalau mau jadi pedagang, mau jadi pengusaha mau buka toko, toko retail khususnya, harus begitu.

Toko whole sale barangkali tidak berhubungan langsung dengan konsumen, tetap juga kita punya potensi nggak sebagai pengusaha atau pedagang. Saya berikan contoh perusahaan Sindhi pertama di zaman modern ini di buka di Surabaya tahun 1875. Tahun 1975 mereka merayakan 100 tahun.

Di situ anak dari Boss, tidak langsung serta merta menjadi boss. Tidak boleh. Minimum dia harus kerja 6 tahun dari bawah. Dia boleh berpendidikan S1, boleh punya bachelor degree dari Sindh. Dia datang dari Sindh anak orang kaya punya bachelor degree. Dia harus bekerja di bawah seorang manager, yang tidak punya degree. Zaman itu kan nggak punya fax. Nggak ada foto-fotoan macam-macam. Kadang-kadang si Boss in mengirimkan anaknya tanpa menjelaskan kepada managernya bahwa ini anak saya.

“Ini ada anak muda dari Sindh baru lulus sekolah kepalanya agak gendeng banyak angin di kepalanya”, begitu dia kirim surat, surat itu masih tersimpan. Dalam archieve keluarga. “Saya kirim anak Sindh baru lulus dan dia pikir dia sudah hebat, tolong anginnya dikeluarkan sedikit.”

Digemblengin sama manajer. Digemblengin, akhirnya dia merasa ini anak juga bagus. Akhirnya ketahuan ini adalah anak Boss. Dia takut sekali. Dan anak Boss yang sudah digembleng ini, ini kisah nyata. Anak Boss yang sudah digembleng ini panggil managernya. Manager sudah stress berat. Saya dipanggil. Si Boss, si Manager sudah ketakutan, sekarang saya mau diapakan, dan si Manager tulis dalam catatannya, saya begitu dipanggail sudah stress. Da begitu saya dipersilakan duduk, duduk ujuga saya mau dudk gimana. Dan si anak muda ini Boss saya sekarang, dulu saya boss dia. Anak muda ini mengatakan, “Dada, big brother, Dada mulai sekarang sorry but usiamu sudah cukup tua”, dia lebih stress lagi.

Dia bilang, “saya pikir kamu nggak bisa jadi manager di sini.” Wah saya sudah pasti, saya tidak punya harapan. “Kamu sekarang nggak usah jadi manager di sini, karena usiamu juga sudah tua.”

“Ya sudah”, dia bilang, “Apa pun yang kau tentukan pada saya saya terima.”

“Mulai sekarang kamu pulang ke Sindh.” Lebih-lebih lagi. “Dulu kamu jadi manager itu mendapatkan working partnership, patnership berapa?” Dapat 10 %.

“10% juga gimana ya, begini deh karena kamu akan ke Sindh saya akan kasih 2.5 %.” Lebih-lebih lagi dari 10% ke 2.5 %.

“Sekarang pekerjaanmu Dada, mengawasi seluruh perusahaan dari seluruh dunia. Di Hong Kong di Singapura di sana, setiap sebulan dua bulan kamu keliling dunia, dan kamu medapatkan 2.5 % dari semua perusahaan.”

Dulu Cuma 10% di Surabaya, sekarang mendapatkan 2.5 % dari seluruh dunia dia punya kantor di Jepang ada 3-4 kantor di Indonesia ada Surabaya. Di Hong Kong ada kantor. Singapura belum masuk perhitungan waktu itu. Singapura masih Glodok waktu itu. Malaya masih malaya. Dapat 2.5 % dari seluruh dunia.

Kalau mau dagang belajar dulu, dan harus belajar dari bawah. Walaupun anak Boss, harus belajar dari bawah. Jangan karena anak Boss tiba-tiba…..

Ini juga pesan saya. Boss-boss, kalau besok punya anak Zeembry, Dian sudah punya anak, kalaupun punya perusahaan, sebesar apa pun anak, jangan langsung diberikan kekuasaan. Tidak boleh. Biar digemblengin dulu. Biar kerja dulu. Di situ dia baru bia menilai, nilai uang itu seberapa, dia bisa menilai. Jangan ikut-ikutan. Orang lain kerja ini saya juga ikut. Kamu kalau tidak punya potensi jangan ikut.

 

Sumber: Video Youtube Bersama Anand Krishna Bhagavad Gita Sehari-Hari Ayat 03:31-35 Kerja Keras Kerja Cerdas Sesuai Potensi Diri

https://www.youtube.com/watch?v=KNSvZos9nHk&feature=youtu.be

https://www.akcjoglosemar.org/wp/

https://www.anandkrishna.org/

Wejangan Anand Krishna: Maunya Kita, Tuhan Mendengar dan Memenuhi Segala Permintaan Kita

“Mereka yang senantiasa bertindak sesuai dengan pendapat yang Ku-sampaikan ini, dengan penuh keyakinan dan tanpa sedikit pun keraguan, niscayalah terbebaskan dari belenggu-belenggu karma – dari segala konsekuensi dari perbuatannya.” Bhagavad Gita 3:31

https://bhagavadgita.or.id/

 

Apa yang telah disampaikan selama ini adalah berkarya tanpa pamrih, tanpa keterikatan. Pamrih juga masih kedua, yang pertama itu adalah keterikatan. Ini penting sekali. Kita berkarya karena terikat dengan keluarga, terikat dengan siapa, sehingga kita tidak bisa berkarya untuk apa yang Krishna akan mengatakan, demi kolektivitas, demi kebaikan semua.

Kalau ada timbangan, di satu sebelah adalah keluarga, di sebelah yang lain adalah kepentingan orang lain, kepentingan masyarakat umum, maka kita akan lebih mementingkan kepentingan keluarga.  Inilah persoalan yang kita hadapi, dan inilah yang menyebabkan berbagai penyakit sosial. Dari korupsi segala macam. Kalau timbangannya lebih berat ke keluargaku, temanku, sahabatku, maka kita bisa lupa semuanya. Yang lain menjadi tidak penting. Dan ini yang menyebabkan kekacauan. Ini yang menyebabkan berbagai penyakit sosial.

Jadi kalau kau bekerja, sesuai dengan pendapat-Ku. Di sini kita lihat, Krishna pun hanya mengatakan, pendapat. Kalau tidak mau mengikuti ya no problem. Konsekuensinya ada. Seorang dokter tidak akan, menakut-nakuti kita, dia memberikan obat, obat itu harus kita minum. Kalau kita tidak minum obat itu, that ‘s it. Kita akan menanggung juga konsekuensinya. Tidak akan sembuh. Kalau kita minum obatnya kita sembuh. Tapi dia tidak menakut-nakuti, kalau kamu tidak minum begini-begitu, dia akan menjelaskan beginilah kondisinya, inilah kondisimu dan sekarang saya berikan obat ini sesuai dengan pendapat saya, sesuai dengan apa yang saya pikir akan berguna bagi, dirimu, tidak ada paksaan. Tidak ada paksaan kalau kamu tidak mengikuti akan terjadi begini begitu dan sebagainya. No. Tidak.

 

“Namun, mereka yang hanya mencari kesalahan dari apa yang telah Ku-sampaikan ini dan tidak mengikuti karena keangkuhannya, maka ketahuilah mereka telah kehilangan akal sehat; mereka bingung, dan tersesat oleh karenanya.” Bhagavad Gita 3:32

https://bhagavadgita.or.id/

 

Sudah sakit, sudah diberi obat tetap juga dia tidak mau minum dan dia mencari-cari. Banyak di antara kita begitu. Kita sudah diberitahu, ini konsekuensinya seperti ini, hindarilah, tapi tetap kita ngotot.

Kita berguru pun begitu, kadang-kadang kita tetap ngotot, maunya si Guru ini maunya mendengarkan dan memenuhi segala permintaan saya. Dan, dia harus mengikuti saya. Kita mengikuti Guru, tapi kita sudah punya pandangan kita, cuma ingin mendengarkan konfirmasi dari Guru. Kita tidak ingin mendengarkan pendapat dari Guru.

Oleh karena itu nama-nama yang kita berikan, pada Tuhan pun Yang Senantiasa Maha Mendengar, tidak ada nama Yang Senantiasa Maha Berbicara. Karena kita tidak mau Tuhan berbicara, kita maunya Tuhan mendengarkan kita. Saya minta apa dipenuhi. Kalau Tuhan mulai berbicara, kita repot, dan oleh karena itu kita tidak mau menyebut Dia, sebagai Maha Berbicara. Maha Menyampaikan Sesuatu. Gampang sekali kita mengatakan, Krishna sudah menyampaikan lewat Bhagavad Gita, tutup sekarang bukunya. Tutup sekarang apa yang telah Dia bicarakan, sudah cukup bagi saya.

Tapi Krishna tidak berhenti di situ. Dia pun mengatakan. Kau pun adalah Aku wahai Arjuna. Keraguan yang ada dalam dirimu, itu pun disebabkan oleh-Ku. Dan, jawaban yang kau terima dari dalam dirimu, itu pun Aku. Sekarang kita harus memilih, harus memilah, dan ini menjadi sulit bagi kita.

Kita maunya diberi daftar, lakukan begini, jangan lakukan begitu. Kemudian kalau saya bisa melakukan 5 hal, tidak bisa melakukan 3 hal, saya sudah bisa menepuk pundak saya sendiri, toh dari sekian banyak hal, saya sudah melakukan sekian. Saya sudah melakukan sekian, it is OK. Masih oke saya.

Kita tidak mau ditegor, dan kalau kita tidak mau ditegor, kita belum siap untuk Krishna. Kita baru siap dengan buku. Karena Krishna senantiasa menegur. Katakan, Wahai Arjuna, Aku berada dalam dirimu, Aku sedang memberikan petunjuk kepadamu. Sekarang tergantung kepada dirimu. Kalau kamu tidak mau ikuti, akal sehatmu sudah hilang. Sudah tahu ada penyakit tidak boleh makan ini tidak boleh makan itu tapi tetap ngotot. Ya sudah nggak apaapalah sedikit saja,

 

“Sesungguhnya setiap makhluk bertindak sesuai dengan sifat alaminya sendiri. Seorang bijak bertindak sesuai dengan kebijaksanaannya. Apa yang dapat diperoleh dengan memaka diri?” Bhagavad Gita 3:33

https://bhagavadgita.or.id/

 

Luar biasa ini. Tidak ada paksaan. Setiap orang bertindak sesuai dengan sifat alaminya. Seorang yang kurang ajar, bertindak sesuai dengan kekurangajarannya. Seorang yang bijak sesuai dengan kebijakannya. Setiap orang bertindak sesuai dengan kodratnya. Sulit sekali.

Di dalam rumah ada dua anak, lahir dari satu ibu yang sama, bapak yang sama, yang satu punya sifat yang lain, satu lagi punya sifat yang lain lagi. Sifat alaminya demikian. Setiap orang memiliki potensi, memiliki kodratnya sifatnya sesuai dengan (kalau kita percaya pada reinkarnasi), sesuai dengan karma-karmanya dia di masa lalu. Sekarang dia sedang menikmati hasilnya atau sedang membayar hutangnya. Dia bertindak sesuai dengan itu.

Kita tidak bisa memaksa seseorang kamu harus begini. Tidak bisa. Tidak bisa kita paksakan kehendak kita. Sebaik-baiknya petunjuk kita, kalau orang tidak mau dengarkan mau diapakan? Tidak bisa dipaksa.

 

“Raga dan Dvesa — ketertarikan dan ketidaktertarikan, kesukaan dan ketidaksukaan, muncul dari interaksi antara indra dan pemicu-pemicu di luar diri. Seorang (bijak) hendaknya tidak terombang-ambing, karena dualitas suka dan tak-suka itu adalah penghalang utama dalam perjalanan menuju kesadaran diri atau pencerahan.” Bhagavad Gita 3:34

https://bhagavadgita.or.id/

 

Suka dengan satu keadaan, satu kondisi, tidak suka dengan kondisi lain. Kemudian kita terikat pada suatu, kondisi tertentu. Kalau tidak dapat itu kita berduka.

Kita tidak suka dengan sesuatu, kalau dapat yang tidak kita sukai itu kita berduka juga. Guru saya mengatakan, mengingatkan bahwa duka adalah interval antara dua kejadian, dua hal dimana kau bersuka, dan suka adalah interval intermezzo diantara dua hal dimana kau berduka.

Silih berganti. Kita terikat dengan suatu keadaan, terikat dengan sesuatu, kalau tidak dapat sedih. Tidak suka sesuatu dapat, sedih juga. Dan oleh karena itu kalau kita menghitung-hitung yang terhitung selalu dukanya. Banyak sekali pengalaman-pengalaman sukacita yang tidak pernah kita hitung. Yang terhitung adalah apa yang saya tidak suka dan dapat, dan apa yang saya suka dan tidak dapat. Begitu banyak pengalaman lain yang bisa terlupakan sama sekali. Fokus kita adalah pada raga dvesa. Apa yang saya tidak suka ternyata saya dapat, apa yang saya suka dan tidak dapat.

 

Sumber: Video Youtube Bersama Anand Krishna Bhagavad Gita Sehari-Hari Ayat 03:31-35 Kerja Keras Kerja Cerdas Sesuai Potensi Diri

https://www.youtube.com/watch?v=KNSvZos9nHk&feature=youtu.be

https://www.akcjoglosemar.org/wp/

https://www.anandkrishna.org/

Wejangan Anand Krishna: Menjadi Manusia Tapi Belum Berperilaku Sebagai Manusia?

“Mahabaho (Arjuna Berlengan Perkasa), seseorang yang mengetahui tentang sifat-sifat alami kebendaan dan perbuatan atau karma yang terjadi karena dorongannya, terbebaskan dari keterikatan dan akibat segala karma. Sebab, ia sadar bahwa, sesungguhnya sifat-sifat alami kebendaan itulah yang mengejar segala kenikmatan di alam benda sesuai dengan sifat kebendaannya.” Bhagavad Gita 3:28

https://bhagavadgita.or.id/

 

Sifat kebendaan apa? Mulut kita, lidah kita ingin makan masakan yang enak, ini adalah sifat dari mulut. Sifat dari mata ingin lihat yang bagus. Sifat dari tangan, perabaan, kita ingin memegang sesuatu yang bagus. Semua sifat itu, setiap indra punya sifat maunya apa. Mata tidak mau makan, mata mau melihat. Mata makan, mulut melihat, tidak bisa. Mata mau makan tidak bisa. Mata cuma melihat. Mulut makan, tangan bekerja. Semua sifat kebendaan ini, sudah sesuai dengan tugasnya. Tangan tidak bisa disuruh makan. Dia bisa menjadi sendok tapi tetap mulut yang bekerja. Semuanya, mengikuti apa yang sudah ditakdirkan. Sudah ditugaskan. Tetapi kita, semestinya kita bisa menjadi bijaksana. Mulut mau makan sesuatu yang enak, tapi enak itu sehat bagi saya atau tidak.

Mata mau melihat film, setiap saat mau buka youtube terus. Saya lihat ada orang-orang yang sehari bisa 18 jam, jadi kapan dia tidurnya, bangun tidur tengah malam juga lihat hp dulu. Ada urusan apa. Banyak orang seperti itu. Dan begitu bangun tidur lihat hp, mata kita sudah tertutup. Mata sudah tertutup selama sejam atau satu setengah jam atau setengah jam. Begitu melihat hp kena radiasi, kita merusak retina kita. Kita merusak mata kita. Jadi keinginan yang membara, mau periksa hp tengah malam juga. Kita tidak peduli itu berbahaya untuk mata. Makan makanan yang salah, berbahaya.

Sekarang di Amerika. Kemarin-kemarin, kita punya tamu. Dia seorang ahli kesehatan. Jadi di sana ada jurusan-jurusan dalam bidang kesehatan. Bukan dokter, tapi dia ngerti semua tentang kedokteran. Dia ahli kesehatan. Dan dia mengurusi satu rumah sakit. Dia tahu apa itu kesehatan apa, dia tahu segala-galanya.

Tapi dia sendiri mengaku, dia menderita bipolar. Bipolar itu apa? Kita kadang-kadang di sini menganggap itu sesuatu yang natural. Tibat-iba bisa marah atau depresif berat. Atau tiba-tiba dia bisa tenang, ini adalah penyakit. Dan dia tahu kalau penykit itu kalau minum obat, obatnya akan kena ke thyroid. Menimbulkan penyakit baru. Tapi dia nggak bisa menghindari obat itu. Kalau dia hindari obat itu, dia bilang kumat lagi dan dia bilang saya seperti orang gila. Sedikit-sedikit bisa marah. Sedikit-sedikit bisa depresi. Jadi saya minum obat terus.

Saya tanya kepada dia karena dia juga melakukan yoga segala. Saya tanya bagaimana makananmu? Masih makan daging. Di sini kita juga belum dikasih tahu bahwa daging itu nggak dibutuhkan oleh badan kita. Kalau di Bali apalagi, leluhur kita memberikan satu upacara kepada kita. Upacara potong gigi.

Apa bahasa Balinya. Tatah. Potong gigi itu apa, nilainya signifikasinya apa? Binatang-binatang yang makan daging, semuanya bertaring. Ada giginya tajam. Seperti segitiga. Kita coba lihat, kita periksa. Gigi yang tajam tinggal berapa biji. Depan sudah rata sebetulnya. Walaupun demikian leluhur kita, memberikan suatu upacara untuk mengingatkan, bahwa sekarang sifat keraksasaanmu, sudah selesai. Kamu sekarang jadi manusia. Kamu bukan binatang lagi. Maka sisa taring pun ditatah. Sekarang cuma dikerok sedikit. Di tok-tok-tok sedikit. Dulu kan zaman kalian melakukan itu, betul-betul dikikis kan.

Sekarang nggak dikikis seperti itu. Karena orang kesakitan. Tetapi maknanya apa? Jadilah manusia. Berperilakulah sebagai manusia. Sekarang kau tidak punya taring. Sekarang kamu harus makan sayur-sayuran.

Coba baca teks-teks kuno yang didapatkan di Bali. Vrihaspati tattva, Ganapati tattva. Itu didapatkan di Bali bukan teks dibawa dari India. Bukan. Semua teks itu lokal. Saya menerjemahkan ulang jadi 3 buku besar. Itu kitab-kitab suci lokal. Dan di situ baca, nggak boleh makan daging ini, nggak boleh ini, nggak boleh ini. Hampir semua daging nggak boleh. Tapi kita nggak pernah diajarkan. Kita nggak pernah diberitahu di sekolah. Kita nggak pernah diberitahu setelah selesai sekolah. Daging membuat kesehatan kita menurun. Apalagi kalau sedang sakit. Lebih turun lagi.

Dan seperti beberapa hari yang lalu saya bicarakan, saya harus mengingatkan lagi, segala seuatu yang di-refine. Sudah diproses, kadar gulanya akan meningkat. Tepung yang sudah diproses, gula yang putih sekali sudah diproses, garam yang putih sekali sudah diproses. Semuanya membebani tubuh kita. Karena dia langsung masuk ke perut kita. Dan membutuhkan waktu yang tidak lama lagi untuk mencerna. Sudah diproses. Jadi gulanya langsung masuk ke darah. Garamnya langsung masuk ke darah. Berbagai macam penyakit dimulai dari tekanan darah tinggi dan dari diabetes. Lain-lainnya kemudian ikutan, penyakit jantung penyakit apa.

Makan harus dicerna dan harus punya waktu untuk gulanya terurai, masuk ke darah masuk jadi energi. Kalau cepat sekali masuknya, akan meningkatkan kadar gula. Kembali saya mengingatlan kembali, kembalilah ke gula yang masih kotor. Gula dari pasar gula aren itu. Jangan pakai gula putih yang dibeli dari supermarket. Berbahaya sekali. Gunakan garam yang masih bisa beli di pasar, garam yang biasa. Garam Bali yang biasa digunakan, gunakan garam yang masih belum diproses.

Dan di sini kebanyakan tidak makan gandum. Tidak ada gandum di sini. Kalau ada gandum kalau bikin roti bikin dari gandum. Bikin dari casava, dari singkong. Tepung singkong bisa bikin sendiri, maka banjar-banjar diaktifkan, menyebarluaskan nilai kesehatan. Kalau kita tidak sehat tidak bisa melakukan apa-apa. Jadi kalau sudah sakit pun tetap makan yang seperti itu, kita tidak bisa menjadi sehat.

Kebendaan, mulut memang maunya manis. Tapi kalau sudah tahu kalau manis itu akan merusak kesehatan saya, saya harus bisa menjaga. Makan sebatas apa yang dibutuhkan, nggak usah masak apa pun dikasih gula. Saya nggak tahu di Bali tapi di Jawa, di mana ada kebiasaan masak apa pun dikasih gula, untuk rasa. Nggak butuh rasa seperti itu. Pedas ya pedas, asem ya asem. Nggak usah ditambah gula. Ini akanmerusak seluruh makanan Anda. Makanan harus dimakan begitu saja. Itu ada gulanya, buah-buahan sudah ada gula, sayuran sudah ada gula natural. Jadi nggak perlu lagi ditambah gula dari luar. Masukin bumbu-bumbu yang dibutuhkan tidak perlu gula sebagai penyedap.

 

“Mereka yang bodoh terpengaruh dan tertipu oleh sifat-sifat alami indra dan alam benda; mereka mengikat diri dengan pemicu-pemicu di luar diri; dan bertindak dalam kebodohannya. Memahami hal ini, hendaknya seorang bijak tidak menambah kebingungannya.” Bhagavad Gita 3:29

https://bhagavadgita.or.id/

 

Jangan bikin orang bingung, tapi kasih tahu sama mereka. Kasih tahu bahwa dalam kebodohan kita kita melakukan hal yang bodoh. Seberapa sih uang yang kita butuhkan, ya kita butuh uang, kita butuh hidup. Tapi sampai menimbun harta, sampai trilyunan, dan akhirnya kena dampak, masuk penjara, apakah enak. Sudah tua ingin menikmati hidup sekarang di penjara. Apakah kita butuh uang. Punya uang nikmati hidup, lakukan sesuatu yang berguna, dari uang itu. Tapi jangan sampai mengejar mati-matian. Jangan sampai mengejar.

Ada orang, kadang-kadang mau cari makan, dia bisa dari Ubud ke Denpasar cuma mau makan satu macam makanan. Makan terus dia pulang ke Ubud lagi. Hanya mau untuk satu macam makanan. Ini nggak benar. Berati kita begiti mementingkan perut kita, tidak mementingkan hal-hal lain. Waktu yang dibuang sampai ke Denpasar, hanya untuk makan dan kembali lagi. Berikan penjelasan seperti itu, kita tentu tidak bisa paksa.

 

“Dengan mempersembahkan segala tindakanmu pada-Ku; seluruh kesadaran terpusatkan pada Jiwa Agung Hyang meliputi semua makhluk; bebas dari ‘penyakit’ keterikatan, ke-‘aku’-an, dan kegelisahan – bertempurlah!” Bhagavad Gita 3:30

https://bhagavadgita.or.id/

 

Bertempurlah menghadapi hidup ini. Jalani hidup ini dengan mempersembahkan segala tindakanmu pada-Ku. Apa pun yang sedang kita lakukan, anggaplah sebagai persembahan. Kepada-Ku Yang Maha Kuasa. Kepada Sang Hyang Widhi, kepada Tuhan, kepada Gusti. Apa pun sebutan kita tentang Yang Maha Kuasa. Lakukan sebagai persembahan. Sedang memasak untuk suami, untuk istri, laki-laki juga boleh masak. Nggak ada suatu larangan kalau laki-laki nggak boleh masuk dapur, nggak ada kan larangan. Boleh, ada laki-laki yang suka masak, nggak ada larangan.

Ketika memasak, ketika melayani anak-anak, ke sekolah memakaikan baju. Kepada mereka, anggaplah semuanya sebagai persembahan. Membiasakan diri, membiasakan diri melihat Tuhan, Sang Hyang Widhi, Gusti, apa pun sebutan kita untuk Tuhan, melihat Dia berada dalam diri setiap orang. Dalam diri setiap hewan. Dalam diri segala sesuatu dimana Tuhan ada. Tuhan meliputi segala-galanya kata Veda.

Segala-galanya diliputi Tuhan, ada kekuatan-Nya di mana-mana. Dengan pemahaman seperti itu, apa pun yang kita lakukan, lakukan sebagai persembahan. Masak, saya lagi masak untuk Tuhan. Yang saya makan ini adalah lungsuran-Nya, prasadam. Kita setiap kali mau makan kita membacakan dua sloka dari Bhagavad Gita, Brahmapanam brahma havir brhamagnau brahmana hutam, brahmaiva tena gantavyam brahma-karma-samadhina

Apa pun yang saya makan ini adalah persembahan bagi-Nya. Makan ini sendiri pun adalah wujud dari Dia. Dan pencernaan dalam diri saya, diri kita, api yang mencerna, zat asam yang mencerna, dalam diri kita, dia pun adalah wujud dari Tuhan. Segala-galanya adalah Tuhan. Setiap hari kita mengingatkan diri kita seperti itu, hidup akan menjadi lebih enak. Lebih bahagia, lebih tenang lebih damai. Terima kasih.

Sumber: Video Youtube Bersama Anand Krishna Bhagavad Gita Sehari-Hari Ayat 03:25-30 Bekerja Tanpa Keterikatan dengan Semangat Persembahan

https://www.youtube.com/watch?v=Jza5Jn-wHVU&feature=youtu.be

https://www.akcjoglosemar.org/wp/

https://www.anandkrishna.org/

 

Wejangan Anand Krishna: Melayani Keluarga Tanpa Keterikatan, Mungkinkah?

“Wahai Bharata (Arjuna, keturunan Raja Bharat), sebagaimana mereka yang tidak bijak bertindak atas dasar keterikatan, pun demikian, hendaknya para bijak bertindak tanpa keterikatan, dan semata untuk  menjaga keteraturan tatanan dunia.” Bhagavad Gita 3:25

https://bhagavadgita.or.id/

 

Mereka yang tidak bijak, mereka yang bekerja untuk keluarga, untuk anak, untuk cucu, dan mereka pikir itu sudah cukup, inilah yang disebut keterikatan. Seluruh waktu kita habis hanya untuk urusan keluarga. Kita tidak melihat kanan, tidak melihat kiri, tidak melihat depan,- tidak melihat belakang, seluruh waktu kita hanya tersita untuk urusan-urusan, yang mengikat diri kita.

Tidak berarti kita tidak boleh mengurusi keluarga. Boleh, harus. Tapi karena keterikatan itu, kita telah meyebabkan banyak sekali orang tua yang menyebabkan anak-anaknya menjadi pemalas. Dari kecil sampai dewasa, sampai punya anak, masih kakek dan nenek yang menggung biayanya. Ini tidak benar. Ini akan membuat anak-anak kita tidak memiliki energi untuk berbuat sesuatu, dan bergantung sepenuhnya pada orang tua. Jadi kalau terjadi sesuatu pada orang tua, anak-anak seperti ini akan tercerai-berai. Mereka tidak tahu bagaimana hidup.

Layani anak, layani keluarga tapi sebatas dimana dia juga harus memiliki kemampuan, digenjot kemampuannya untuk bekerja. Tapi kalau kita terikat terus, ini anak saya, ini cucu saya, saya harus menangung semuanya, kita akan membuat mereka jadi malas. Mereka tidak bisa bekerja tanpa kita.

Ini yang dimaksudkan oleh Krishna, dan lihatlah di kanan, di kiri, masih juga banyak orang yang juga butuh bantuan kita. Kalau kita punya uang lebih, kita punya makanan lebih, bantu orang yang tidak punya makanan, bantu orang yang tidak punya uang. Tetapi juga membantu dalam pengertian, kita juga memberikan semangat mereka untuk bekerja. Inilah yang dikatakan oleh Krishna bekerja tanpa keterikatan dengan semangat melayani.

 

“Seorang bijak berkesadaran Jiwa, hendaknya tidak membingungkan gugusan pikiran serta perasaan (mind) mereka yang masih belum menyadari hakikat dirinya; mereka yang masih terikat pada karya (dan hasilnya). Hendaknya mereka malah didukung untuk bertindak sesuai dengan tugas kewajibannya, dan ia (sang bijak) sendiri pun berkarya sesuai dengan kesadarannya.” Bhagavad Gita 3:26

https://bhagavadgita.or.id/

 

Kalau ada orang lain yang tidak bisa memahami hal ini, kita juga tidak bisa memaksa, kamu harus paham hal ini, kamu harus berkarya tanpa keterikatan. Kita yang paham kita melakukan. Tapi kalau ada orang lain yang masih terikat sekali dengan keluarga mereka, juga harus diberikan penjelasan, sebagai orang tua tujuanmu membesarkan anak, itu apa? Membesarkan anak supaya dia mandiri. Bukan membesarkan anak supaya dia bergantung pada kamu terus-menerus. Berikan penjelasan tapi tidak boleh dipaksa. Kalau nggak mau apa boleh buat.

Kita yang mengerti harus melakukan. Yang tidak mengerti diberikan penjelasan. Tidak bisa dipaksa. Tetap mereka akan melakukan apa yang akan mereka lakukan, cuma diberikan penjelasan apa yang mesti dilakukan. Tidak membuat anak cucu bergantung pada kita tapi bisa mandiri.

 

“Sesungguhnya setiap tindakan terjadi karena sifat-sifat alami dari kebendaan atau Prakrti, namun mereka yang bodoh menganggap dirinya sebagai pelaku. Dalam keangkuhannya, mereka beranggapan, ‘Akulah yang berbuat!’” Bhagavad Gita 3:27

https://bhagavadgita.or.id/

 

Inilah kesombongan kita. Kita melakukan sesuatu, ini aku yang buat, ini aku yang bikin. Kalau berhasil kita langsung cepat-cepat mengatakan tanpa saya, tanpa saya melakukan tidak akan terjadi. Tapi kalau gagal, kita cepat-cepat mengekerut, wah ini kan Kehendak Tuhan, ada di atas yang menetapkan segala-galanya. Lihat ini adalah kemunafikan kita.

Kalau gagal Tuhan yang salah, kalau gagal karma yang salah. Tapi kalau berhasil aku yang berbuat. Inilah yang dikatakan oleh Krishna, ini adalah sifat orang yang tidak sadar. Karena segala sesuatu itu mengikuti hukum alam. Bukan saya yang berbuat, cuma alat aja. Tiba-tiba ada orang sepintar apa pun juga, dia mengalami dimentia, dia mengalami alzheimer. Lupa segala-galanya. Jadi bertahun-tahun dia bekerja, dia belajar jadi profesor, kena penyakit segala-galanya lupa.

Siapa yang menentukan, bukan aku yang berbuat. Aku bisa berbuat, tapi segala-galanya terjadi berdasarkan karma kita juga. Mau belajar seperti apa pun juga, mau jadi orang suci, mau jadi apa, kalau perbuatannya tidak baik, tetap dia harus menderita, tetap memikul segala akibat dari perbuatannya. Tidak bisa bebas karena dia orang suci, dia sembahyang tiga kali setiap hari, dia sembahyang berapa kali setiap hari, dia dimaafkan kesalahan kesalahannya. Nggak bisa juga,

Semuanya terjadi berdasarkan hukum karma. Ada hukum alam. Kita cuma melakukan sebatas apa yang menjadi kewajiban kita. Kewajiban kita apa? Kita mengambil sayur-sayuran dari pohon, apa yang kita lakukan, apakah kita mengembalikan kehidupan itu? Tanam pohon setiap tahun bikin resolusi mau tanam berapa pohon. Nggak punya pekarangan di rumah, jangan kuatir cari jalan raya, banyak jalan raya yang gundul sekarang. Nggak punya pohon minta izin kepada banjar, kepada kepala desa, saya mau tanam pohon di sini. Masa dilarang. Nggak bakal dilarang.

Punya pekarangan di rumah, tanam pohon. Bikin resolusi, mau satu pohon setahun mau dua tahun, dua pohon setahun, tiga pohon setahun, setiap bulan satu pohon. Kasih kembali, berikan kembali, kita cuma bicara Trihita Karana. Trihita Karana, hubungan dengan Tuhan, hubungan dengan alam hubungan engan manusia. Pintar sekali kita bicara, tapi apakah kita betul-betul melakukan hubungan dengan alam. Hubungan dengan pohon, hubungan dengan sungai, kali. Di luar apakah bersih kalinya, begitu banyak sampah di jalan-jalan. Kadang-kadang apakah kita peduli tentang itu?

Alam bukan cuma dibicarakan, tapi harus dilayani. Dan hubungan dengan alam, juga hubungan dengan bentuk-bentuk lain kehidupan, dengan binatang, dengan hewan melayani mereka. Menyayangi mereka, melindungi mereka.

 

Sumber: Video Youtube Bersama Anand Krishna Bhagavad Gita Sehari-Hari Ayat 03:25-30 Bekerja Tanpa Keterikatan dengan Semangat Persembahan

https://www.youtube.com/watch?v=Jza5Jn-wHVU&feature=youtu.be

https://www.akcjoglosemar.org/wp/

https://www.anandkrishna.org/