Wejangan Anand Krishna: Peroleh Berkah dengan Persembahkan Semua Tindakan Pada Tuhan

“Demikian, apa yang telah kau dengarkan, adalah kebijaksanaan, ajaran luhur dari sudut pandang Samkhya, yaitu Buddhi Yoga, pandangan berdasarkan pertimbangan dan analisis yang matang. Sekarang dengarkan ajaran dari sudut pandang Karma Yoga. Jika kau berketetapan hati untuk menerima dan menjalaninya, maka kau dapat berkarya secara bebas tanpa kekhawatiran; dan, bebas pula dari rasa takut akan dosa-kekhilafan. Demikian, tiada lagi akibat karma atau perbuatan, yang dapat membelenggumu.” Bhagavad Gita 2:39

https://bhagavadgita.or.id/

 

Ada 2 cara, ini juga dilakukan di psikologi. Apa yang Krishna memberikan selama ini, sudah 39 sloka, itu adalah Samkhya Yoga. Samkhya Yoga adalah pakai otak. Kalau mau melakukan sesuatu pakai otak, pakai akal sehat. Pikirkan, kemudian lakukan. Tapi tidak semua orang bisa pakai otak. Seperti yang cerita tadi, ibu ini yang mau beli baju, mau pakai baju pun, dia perlu otak orang lain. Nah ini kalau mau pinjam otak mau berapa otak dipinjamkan. Kalau pinjam satu otak masih oke. Kalau pinjam otak se banjar? Jadi nggak bisa kalau nggak pakai otak.

Kalau nggak bisa pakai otak, pakai Buddhi Yoga, kalau nggak bisa dengan cara itu maka, pakailah dengan Karma Yoga. Krishna akan menjelaskan Karma Yoga.

 

Berkarya demikian, tiada upaya yang tersia-sia; pun tiada tantangan yang tidak teratasi. Dengan menjalankan dharma, berkarya dengan tujuan luhur; niscayalah seseorang terbebaskan dari rasa takut, khawatir, dan cemas.” Bhagavad Gita 2:40

https://bhagavadgita.or.id/

 

Kalau tidak bisa pakai otak, lakukan dengan meyerahkan semua pada Tuhan, kepada Sang Hyang Widhi. Saya melakukan apa yang saya pikir sudah melakukan terbaik dan sekarang saya serahkan kepada-Mu hasilnya bagaimana.

Di dalam tradisi kita, tradisi budaya kita, dalam budaya Hindu, makanan itu adalah lungsuran. Dalam bahsa sanskrit prasad. Setiap makanan adalah lungsuran. Jadi bukan saja yang kita sajen. Apa yang kita persembahkan kepada-Nya di atas altar. Di sini, di Bali lungsuran kan, kemudian dimakan lagi kan, tapi setiap kali kita makan, bukan cuma sembahyang. Setiap kali kita makan, makanan itu bisa menjadi lungsuran. Makanya kita diajarkan doa:

Brahmapanam brahma havir brhamagnau brahmana hutam, brahmaiva tena gantavyam brahma-karma-samadhina

“Persembahan adalah Brahman – Gusti Pangeran, Sang Jiwa Agung, Tuhan Hyang Maha Esa; tindakan mempersembahkan pun Dia; dan Dia pula yang mempersembahkan kepada Api Hyang Menyucikan, yang adalah Dia juga. Demikian, seseorang yang melihat-Nya dalam setiap perbuatan, niscaya mencapai-Nya.” Bhagavad Gita 4:24

Yang kita lakukan pada hari Rabu, setiap kali sebelum makan di luar, kita akan selalu berdoa seperti itu.

Aku persembahkan masakan makanan ini pada-Mu. Dan setelah kita persembahkan baru kita makan. Makanan itu sudah punya berkah-Nya. Sudah ada grace-Nya, ada blessing-Nya. Bukan cuma setiap sembahyang, tapi setiap kali masak, setiap kali makan. Coba jadikan itu sebagai suatu tradisi di rumah. Sebelum makan ingat satu sloka itu. Kalau belum bisa ingat belajar dari Edi, dari Ray. Banyak yang sudah tahu pasti.

Dengan membaca sloka itu, cuma 4 baris. Dan dengan penuh keyakinan bahwa saya sedang mempersembahkan ini kepada Sang Hyang Widhi. Setelah itu kita makan dan ada blessing, ada berkah-Nya.

Begitu juga setiap pekerjaan, bukan hanya makanan. Kerja juga begitu kita persembahkan. Saya bekerja atas nama-Mu. Saya mempersembahkan seluruh hasil kepada-Mu.

 

“Wahai Kurunandana (Arjuna, Kebanggaan wangsa Kuru), dalam menjalani yoga ini, berkarya dengan Kesadaran Jiwa –mereka yang paham, niscayalah teguh dalam keyakinannya. Sementara itu, mereka yang tidak paham, tidak pula teguh dalam keyakinannya, karena pikiran mereka masih bercabang.” Bhagavad Gita 2:41

https://bhagavadgita.or.id/

 

Apa pun yang kita lakukan jangan sampai pikiran bercabang. Pikiran bercabang ini, yang akan membawa kegagalan, mengakibatkan kegagalan. Selalu kita ragu-ragu. Hidup nggak bisa dengan penuh keragu-raguan. Hidup harus dengan penuh keyakinan.

Jadi kita harus selalu hidup di dunia ini dengan penuh keyakinan. Bahwa apa pun yang terjadi, setidaknya saya sudah berbuat. Kalau tidak berbuat, yang akan tejadi adalah penyesalan. Dan penyesalan ini bisa sepanjang usia. Kadang-kadang, barangkali jangan sampai ada yang mengalami itu.

Saya punya pengalaman, satu-dua pengalaman dalam hidup ini dimana sampai sekarang saya menyesali. Saat itu kalau saya bisa berbuat lebih baik, tidak akan terjadi seperti ini. Jangan sampai terjadi seperti itu. Jangan sampai ada penyesalan. Saya punya pengalaman waktu saya usia 14-15 tahun. Sampai sekarang kadang-kadang masih terbawa lagi, terbawa lagi. Kenapa saya tidak berbuat seperti itu waktu itu. Jadi begitu kita yakin sudah harus melakukan sesuatu yang baik, jangan ditunda, jangan sampai ada penyesalan.

Sumber: Video Youtube Bersama Anand Krishna Bhagavad Gita Dalam Hidup Sehari-Hari Percakapan 02 Ayat 31-41 Jangan Ragu Jalanilah Hidupmu Sesuai Kodratmu Itulah Yoga

https://www.akcjoglosemar.org/wp/

https://www.anandkrishna.org/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s