Wejangan Anand Krishna: Waspada, Kebaikan Sepanjang Usia Bisa Rusak Oleh Setitik Noda

“(Dengan menyadari hakikat dirimu sebagai Jiwa) dengan menyadari tugasmu, kewajibanmu sebagai seorang kesatria, janganlah engkau gentar menghadapi pertempuran, tantangan di depan mata. Sungguh, bagi seorang kesatria tiadalah sesuatu yang lebih mulia dari pertempuran demi penegakan kebajikan dan keadilan.” Bhagavad Gita 2:31

https://bhagavadgita.or.id/

 

Pertempuran di medan perang Kuruksetra dihadapi oleh Arjuna. Arjuna menghadapi pertempuran di medan perang, kita menghadapi pertempuran di tengah masyarakat, di dalam keluarga. Di setiap tempat dalam kehidupan kita, kita menghadapi pertempuran. Bagaimana cara menghadapi?

Di sini Krishna mengatakan, seorang kesatria menghadapi pertempuran di medan perang. Tetapi jangan lupa, pertempuran itu demi penegakan kebajikan dan keadilan, demi dharma. Demi kebaikan jadi bukan asal bertempur. Begitu juga dalam usaha kita, dalam keluarga kita. Unsur dharma ini penting sekali. Tanpa unsur dharma, hidup kita akan selalu bergonjang-ganjing, selalu ada badai, ada taufan, dan kita akan tergonjang-ganjing, kita akan terbawa.

Badai taufan akan selalu ada, saya selalu memberikan contoh, seandainya kita mengingat kebijakan leluhur kita, dan tidak membangun, rumah, hotel, di atas 3 lantai, maksimum 3 lantai. Tahun 70-an itu waktu Pak Mantra masih menjadi Gubernur, ada peraturan nggak boleh membangun lebih tinggi daripada pohon kelapa. 2-3 lantai. Itupun yang membangun 2-3 lantai cuma hotel yang bisa dihitung dengan jari. Di Sanur ada 2-3 hotel. Di Kuta ada 1-2 hotel. Pertama kali tahun 70-an saya ke Bali itu Sanur masih hotel-hotel kecil dengan 1 lantai. 2 lantai pun nggak ada. Semacam guest house. Jadi beban pada bumi kita tidak besar, pulau kita kecil sekali. Kita membebani bumi ini tanpa kita berpikir jauh, bahwa kita nggak bisa membebani sebetulnya. Unsur dharma nya terlupakan. Dulu kita membangun kan ada kosala-kosali. Harus ada peraturan

Sekarang tidak, asal bangun. Saya tadi pagi ke Denpasar, ke Tabanan juga. Dalam perjalanan sekian banyak ruko kosong. Berarti apa? Berarti itu milik orang, entah bisnisnya nggak jalan dia tutup atau milik orang cuma mau investasi, terus ruko itu disewakan kepada orang-orang. Bisnis lagi down nggak ada yang mau sewa, tetapi beban di atas bumi kita ini, sudah bertambah. Ada yang mau sewa atau nggak mau sewa, beban di atas bumi kita sudah bertambah.

Apa pun yang kita lakukan, pertempuran ini bukan cuma pertempuran di medan perang, membangun rumah pun pertempuran. Suatu tantangan. Membangun keluarga juga pertempuran. Jangan cuma asal, oh cinta sudah, kawin.

Orang Jawa, orang Bali juga ada, bibit bobot bebet. Dari keluarga apa, penampilannya bagaimana, itu penting. Bukan cuma otak, penampilannya bagaimana? Coba kadang-kadang ketemu dengan orang, pintar sekali, begitu lagi lewat, bau badannya sudah tercium, Anda bisa pingsan. Walaupun dia orang pinter, dia apapun juga, kalau sudah tercium bau badannya…….

Jadi semuanya penting, penampilan penting, otak penting. Ini adalah dharma. Dharma bukan hanya di medan perang 5.000 tahun yang lalu. Bukan. Pertempuran sedang terjadi setiap saat, dalam keluarga kita, dalam rumah tangga kita. Kita harus elalu perhatikan, apa yang sedang terjadi ini, demi dharma atau hanya demi kemauan saya. Saya maunya begini. Ada kebaikan nggak di baik itu. Ada kebajikan tidak. Penting sekali.

Kalau mengawinkan anak kita juga jarus hati-hati. Menguliahkan anak juga harus hati-hati. Dalam segala hal, dengan suami hati-hati, dengan istri hati-hati. Bukan was-was, bukan prasangka, tapi hati-hati. Semua punya tugas masing-masing. Dan tugas kita jalankan sesuai dengan dharma.

 

“Betapa beruntungnya para kesatria yang mendapatkan kesempatan untuk bertempur demi menegakkan Kebajikan dan Keadilan, wahai Partha (Putra Prtha — sebutan lain bagi Kunti, Ibu Arjuna), baginya seolah gerbang surga terbuka lebar!” Bhagavad Gita 2:32

https://bhagavadgita.or.id/

 

Surga bukan di atas sana, bukan setelah kematian, kita bisa menikmati surga di dunia ini dan dalam kehidupan ini. Kalau kita sudah menjalankan tugas kita dengan baik, itulah surga. Tidak ada kekhawatiran. Kalau ada orang kerja pekerjaannya sudah bagus, dia tidak khawatir. Dia tidak memikirkan besok kalau saya tidak punya pekerjaan. Tidak ada majikan, tiak ada boss yang melepaskan staff, yang bekerja baik. Sementara itu kalau kita nggak bekerja baik, selalu khawatir.

Kenapa seorang ibu, seorang perempuan bisa khawatir kalau suami lagi main mata atau apa? Karena dia tidak mengerjakab tugas sebagai istri dengan baik. Dan begitu juga dengan suami, kalau dia ragu-ragu, dia tidak percaya pada istri, berarti dia juga tidak melakukan tugas dengan baik. Oleh karena itu kita selalu memproyeksikan diri. Lihat diri dalam orang itu apa yang ada dalam otak kita. Kalau kita tidak baik, kita melihat ketidakbaikan di mana-mana. Melakukan tugas dengan baik itulah surga. Itulah kenikmatan surga.

 

“Apabila kau tidak bertempur demi Kebajikan dan Keadilan; apabila kau menghindari kewajiban yang mulia ini, maka hanyalah  celaan yang akan kau peroleh.” Bhagavad Gita 2:33

https://bhagavadgita.or.id/

 

Tidak melakukan tugas, adalah celaan. Orang-orang yang tadinya begitu simpati dengan kita, menjunjung-junjungi, mereka mulai mengrikik, mereka mulai mencari-cari kesalahan dalam diri kita.

 

“Sepanjang masa semua orang akan mengenang perbuatanmu yang tercela. Dan, bagi seorang yang terhormat, cercaan seperti itu, sungguh lebih berat dari kematian sekalipun.” Bhagavad Gita 2:34

https://bhagavadgita.or.id/

 

Kita berbuat baik sepanjang usia, berbuat tidak baik satu kali saja seperti baju putih kalau kena nila, langsung kelihatan, kalau kena kotoran langsung kelihatan. Makin perbuatan kita baik, ada sedikitpun ketidakbaikan akan terlihat jelas. Jadi harus hati-hati. Harus setiap kali hati-hati, setiap saat hati-hati.

Saya selalu mengingatkan, di India kalau masak susu itu panci harus terpisah, karena di sana setiap hari orang minum susu. Panci untuk susu itu harus terpisah, jangan pakai panci yang dipakai untuk masak sesuatu. Kalau ada sedikit pun tersisa apa pun di situ, bekas makanan sedikit pun, kita makan sendiri, makanan itu baik, begitu kena susu, sunya akan pecah, susunya akan rusak.

Begitu juga, coba kita punya anak, kita namakan Sita, anyak nama Dewi. Ada nggak yang memberi nama Keikayi kepada anaknya. Tahu Kaikeyi? Ibu tirinya Rama, yang karena dia Rama harus diasingkan ke hutan. Ada nama anaknya Duryodhana?

Padahal kalau kita mempelajari sejarah, Kaikayi kesalahannya cuma satu itu. Kaikayi itu nggak punya kesalahan lain. Dia seorang wanita yang baik. Bukan cuma itu, dia mencintai Rama. Kenapa dia bisa demikian? Terpengaruh oleh pembantu. Makanya hati-hati kalau punya pembantu di rumah. Terpengaruh oleh pembantu Manthara yang punya masalah dengan Rama. Dia merasa dirinya sekali waktu diketawain karena dia bungkuk. Dan, dia tersinggung dan mendendam. Rasa dendam itu disimpan. Kemudian dia menggosok-gosok terus sampai Keikayi terpengaruh dan dia minta kepada Dasaratha, suaminya untuk mengasingkan Rama. Tapi karena satu kesalahan itu, tidak ada satu pun orang sudah 12.000 tahun, yang menamakan anaknya Kaikayi.

Duryodhana juga bukan orang-orang yang brengsek banget. Dia juga seorang kesatria. Tapi tidak ada satupun orang yang menamakan anaknya Duryodhana. Jadi satu kesalahan, satu noda, itu bisa sepanjang usia bisa dikenang, kebaikan bisa dilupakan. Anda juga kalau berbuat baik sama orang bisa terlupakan gara-gara satu kejelekan. Krishna mengingatkan kepada Arjuna, itu sifat manusia, masyarakat kita seperti itu. Jadi kalau kita masih mau hidup di tengah masyarakat, hati-hati.

 

Sumber: Video Youtube Bersama Anand Krishna Bhagavad Gita Dalam Hidup Sehari-Hari Percakapan 02 Ayat 31-41 Jangan Ragu Jalanilah Hidupmu Sesuai Kodratmu Itulah Yoga

https://www.akcjoglosemar.org/wp/

https://www.anandkrishna.org/

Advertisements