Wejangan Anand Krishna: Hubungan Dengan Alam Benda Tidak Langgeng, Lewati Dengan Tabah Hati!

“Tidak pernah ada masa di mana Aku, engkau, atau para pemimpin yang sedang kau hadapi saat ini — tidak ada, tidak eksis. Dan tak akan pula ada masa di mana kita semua tidak akan ada, tidak eksis lagi.” Bhagavad Gita 2:12

https://bhagavadgita.or.id/

 

Atma selalu ada, kadang-kadang kita tidak memahami hal itu. Hampir sering tidak memahami. Ada orang tua meninggal, kita menangisi dia, menghormati dia. Fine. Tapi setelah itu what next? Apa yang harus kita lakukan?

Yang harus kita lakukan adalah mengabadikan memori beliau-beliau ini yang sudah meninggal dengan mengambil hikmah dari hidup mereka, dari pelajaran hidup mereka. Kebaikan-kebaikan yang mereka buat, itu yang kita jadikan pelajaran bagi kita. Bukan cuma upacara. Upacara silakan, tetapi leluhur kita yang belum lahir kembali. Yang masih dalam masa transisi, mereka akan lebih senang melihat kita melakukan sesuatu yang baik atas nama mereka.

Dalam tradisi-tradisi yang lain, sebetulnya tradisi-tradisi lain itu banyak mengambil dari tradisi kita. Tapi kita lupa. Dalam tradisi Hindu juga setiap kali ada orang yang meninggal. Mereka akan mencetak buku seperti ini (Bhagavad Gita kecil), buku kecil. Tergantung pada kemampuan kita, mereka akan memesan buku kecil ini Bhagavad Gita, atau Sara Samuccaya. Memesan buku kecil tergantung dari jumlah keluarga yang kita miliki, mau 40 kk, 100 kk, 1.000 kk, setiap orang datang ke rumah, untuk melayat, diberi buku. Ini adalah banten yang paling utama, ini adalah yajna paling utama.

Vedavyassa, Vyassa mengatakan dalam sekian banyak literatur, kita bisa melihat, dana punya yang utama itu adalah vidyadhan. Berdana lewat pengetahuan. Menyebarkan pengetahuan adalah berdana yang paling utama. Coba biasakan dulu, ada suatu seremoni entah kelahiran, kematian, upacara apa pun biasakan diri untuk menyebarkan buku. Menyebarkan pengetahuan.

 

“Masa kecil, dewasa, pun masa tua adalah ‘kejadian-kejadian’ yang terjadi pada badan yang dihuni Jiwa. Kemudian, setelah meninggalkan badan lama, Jiwa memperoleh badan baru. Para bijak tidak pernah meragukan hal ini atau terbingungkan olehnya.” Bhagavad Gita 2:13

https://bhagavadgita.or.id/

 

Kita punya ungkapan, kalau meninggal dunia apa yang kita katakan? Sudah meninggal dunia. Lho badannya kan masih ada di situ, siapa yang meninggalkan? Ada sesuatu, ada energi, ada jiva, yang meninggalkan badan ini, meninggalkan dunia ini, badan tetap ada di sana.

Coba pikirkan sekarang kalau kita nggak kenal baik, cari foto kalian ketika usia masih 5 bulan dan dijejerkan dengan foto sekarang, diacak fotonya, bisa kenal fotonya tidak? Mungkin foto saya, kenal, wajahnya bukan wajah Bali bukan Melayu. Tapi coba orang Bali 50 orang, yang paling muda usia di situ, dan yang paling tua di antara kita, foto ketika beruia 5-6 bulan. Dijejerkan dengan foto sekarang.

Sudah berubah total, badan 5 bulan itu ke mana? Sudah mengatakan tumbuh kan? Tumbuhnya dari mana? Pernah terpikir nggak? Oke kita bisa jawab lah dari ilmu medis bisa dijawab, dari bahasa awam bia dijawab. Kan kita makan makanan. Makan makanan juga, yang tiap pagi keluar banyak juga, dihitung berapa kilo? Tumbuhnya kita itu bagaimana?

Dan pertumbuhan yang terjadi sel-sel lama sudah mati, sekarang sel-sel baru. Dan itu berjalan terus. Apa yang kita tangisi? Badan kita berubah, hubungan-hubungan kita berubah. Dulu waktu belum kawin, pacaran dengan orang lain barangkali terpikir, kalau saya tidak jadi dengan pacar saya ini dunia akan menjadi hitam putih. Tetapi tetap saja berwarna dunia ini. Apa yang harus kita tangisi? Untuk sementara, kita menangis tapi akhirnya kan kita menyesuaiakan diri dengan perubahan.

Maka Krishna mengatakan masa kecil dewasa masa tua semuanya silih berganti, dan ketika kita mati Jiva keluar dari badan yang sudah tidak bisa dipakai ini, mengambil badan baru, menempati badan baru.

 

“Sensasi-sensasi fisik – hubungan indra dengan objek-objek kebendaan di alam benda, wahai Kaunteya (Arjuna, Putra Kunti), menyebabkan pengalaman dingin, panas, suka, dan duka. Semua pengalaman itu silih berganti, datang dan pergi. Pengalaman-pengalaman itu tidaklah langgeng, tidak abadi, tidak untuk selamanya. Sebab itu, wahai Bharata (Arjuna, keturunan Raja Bharat), belajarlah untuk melewati semuanya dengan ketabahan hati.” Bhagavad Gita 2:14

https://bhagavadgita.or.id/

 

Sesuatu yang kita senangi, kita senang dengan suatu makanan, misalkan kita suka sekali dengan makanan itu. Begitu jatuh sakit panas, saja, mulut sudah pahit, dikasih makanan apa pun kita sudah nggak selera. Padahal itu makanan yang kita suka sekali. Jadi indra indra kita ini memberikan sensasi. Dalam keadaan senang, makan enak kita bahagia. Dalam keadaan gelisah tidak senang lagi bete, lagi galau dikasih makanan apa pun tidak bisa telan.

Dulu waktu masih pacaran dengan mantan pacar kalian semua, nasing-masing. “Sayang” di Bali apa ya, darling, sweet heart. Pernah nggak bilang sama istri Anda? Waktu pacaran pernah nggak sih? Coba ngaku deh setelah lawin, coba dalam 5 bulan terakhir, berapa kali dibilangin sayang? Nggak pernah kan? Istri masih sama, dengan suami masih sama, badan, mata masih sama. Tapi dulu sayang sekarang tidak sayang.

Dalam bahasa Inggris ada istilah istri itu adalah “better half”, lahanku yang lebih  baik daripada diriku. Jadi istri yang kusayangi itu adalah belahan jivaku yang lebih baik. Setelah kawin setahun menjadi “bitter half”, belahan hati yang pahit. From better to bitter. Cuma beda e dan i dalam bahasa inggris.

Jadi Krishna mengatakan, Arjuna apa yang sedang kau tangisi? Dulu mereka adalah orang tua yang kau hormati, waktu draupadi sedang dipermalukan, kakakmu dikibuli, ditipu dalam judi, kalian kehilangan semuanya, segalanya, harus ke hutan. Apa yang terjadi? Kamu begitu gundah, begitu marah, sekarang takut lagi.

Coba lihat patternnya. Lihat polanya. Dalam keadaan begini menghadapi Kaurava, perasaan yang timbul begini. Dalam keadaan begitu perasaan begitu. Dulu pernah marah sekarang iba. Nanti kalau kamu sudah nggak perang lagi kamu akan menyesal lagi. Coba lihat kondisimu yang berubah-ubah ini.

Ini adalah Percakapan Kedua (Bhagavad Gita), paling panjang dan paling penting. Karena di sini Krishna menjelaskan segala apa yang ingin dia jelaskan. Menjelaskan secara ringkas, tapi Arjuna masih tidak paham juga, maka nanti Krishna akan menjabarkan lagi secara lebih rnci.

Sumber: Bhagavad Gita dalam Hidup Sehari-hari, Percakapan 02:01-14, Hadapi Tantangan Jangan Menyerah Bersama Anand Krishna

https://www.akcjoglosemar.org/wp/

https://www.anandkrishna.org/

Advertisements