Wejangan Anand Krishna: Jangan Ngeper Kemudian Ngeles Seperti Arjuna

“Dan Arjuna pun melihat bahwa di antara pasukan Kaurava, begitu banyak wajah yang ia kenal baik, di antara mereka ada para kawan, kerabat, dan para sahabat; juga para sepuh yang sudah lanjut usia. Maka timbul rasa iba di dalam hati Arjuna.”

“Melihat mereka, kakiku melemah, bibirku gemetar, kulit terasa terbakar; senjata pun terlepaskan dari tanganku;”

“Pikiranku kacau, wahai Krsna, Aku tak mampu berdiri tegak;” Bhagavad Gita 1:26-30

https://bhagavadgita.or.id/

Guruji Anand Krishna menyampaikan:

Ini Arjuna lagi ngapain? Dia lagi ngeles, dia memberikan alasan yang bukan-bukan. Kalau timbul rasa iba, rasa kasihan, apakah kita merasakan kaki melemah, bibir gemetar, dan seluruh tubuh menggigil. Merasa kasihan ya merasa kasihan, tidak ada kejadian demikian. Maka Krishna diam, “Licik orang ini. Dia ini sebenarnya takut menghadapi kenyataan. Di sana ada Kaurava yang lebih banyak pasukannya. Di sini pasukan sedikit.”

Arjuna lupa di sini ada Krishna.  Kehadiran Krishna itu akan membantu dia.

Kita pun kadang-kadang begitu saat melihat situasi, kita merasa nggak mampu mengatasi situasi itu. Dalam bahasa Betawi kita ngeper, takut, fearful, terus kita memberikan alasan-alasan kaki melemah, bibir gemetar. Mana ada rasa haru, kasihan bibir gemetar. Anda melihat orang miskin di jalan, kemudian bibir gemetar? Nggak ada!

 

“Munculnya firasat-firasat buruk mengganggu hatiku….”  Bhagavad Gita 1:30

https://bhagavadgita.or.id/

 

Firasat buruk? Kita bisa menciptakan firasat buruk. Kalau mau pergi ke mana, kemudian kita melihat kucing yang hitam ada yang memotong jalan, harus balik ke rumah lagi. Nggak ada rasionya. Kucing lewat ya kucing lewat. Ada firasat buruk, ada energi negatif, ada ini ada itu.

Nah begitu Anda percaya pada hal-hal gituan. Pasti ada orang-orang mengambil kesempatan. Anda pergi ke seorang dukun, “Pak saya ini sakit-sakitan, sepertinya di rumah saya ada energi negatif.” “Baiklah berarti kamu sudah percaya kepada energi negatif?”

“Ya betul!”

Kita percaya pada reinkarnasi kan? Kalau kita mati terus lahir kembali. Tapi nggak demikian, kita kadang-kadang dibohongi, leluhur lagi minta ini minta itu.

Leluhurnya sudah lahir kembali. Sudah jadi cucu kamu. Kasih makan sama cucu sudah beres kan. Tapi kita begitu.

Ada seorang Sultan punya 9 menteri yang berkuasa. Di antaranya ada 2-3 orang Hindu. Mereka selalu ingin menyudutkan orang-orang minoritas ini. Sekali waktu Sultan bersama Menteri Birbal. Para menteri lain berkata, “Birbal itu kan percaya reinkarnasi percaya macam-macam. Suruh dia pakai kekuatan, ketemu dengan Ayahanda Sultan yang baru meninggal.”

Sultan Akbar masih kecil dan para menteri melanjutkan, “Mungkin Ayahanda Sultan butuh sesuatu.”

“Bagaimana ketemu dengan Bapak, Bapak sudah meninggal, dikuburkan?

Akbar masih muda terbawa oleh hasutan, “Birbal kamu kan percaya meditasi, yoga, kamu kan orang hebat. Cari tahu dong Bapak saya butuh sesuatu nggak?

Ramai-ramai semua orang berkata, “Ya Birbal harus ditanam di bawah. Dikuburkan supaya dia bisa ketemu dengan Ayahanda Sultan.”

Birbal pikir, “Wah ini celaka.”

Tapi dia pinter, menolak juga nggak benar. Boleh, saya butuh persiapan diri, karena Ayah Baginda ini kan seorang besar. Kalau saya ke sana harus ada persiapan. Harus puasa dulu harus apa dulu. Biar saya bertemu Ayah Baginda dalam keadaan suci. Saya butuh waktu seminggu. Nanti saya boleh ditanam. Dia bicara dengan orang-orang di sana yang mendukung dia. Tolong bikin terowongan dari bawah. Setelah dikuburkan dia keluar dari terowongan. Seminggu dia di rumah istirahat total. Tidak ketemu siapa-siapa.

Seminggu kemudian dia datang ke Baginda lapor, orang pada heran sudah mati dikubur kok hidup lagi.

“Lapor Baginda Ayahanda Baginda di sana kurang teman, dia minta minta menteri ini, ini, ini, tolong bisa dikirim ke sana. Untuk menemani Ayahanda Baginda.

Kenapa dia bisa punya otak seperti itu? Karena orangnya vegetarian. Kalau makan daging otaknya nggak berjalan. Coba kurangi makan dsging pelan-pelan. Otak Anda akan berjalan lebih jernih.

Pertama tama kalau punya nazar, sesangi, kalau anak saya kawin saya mau babi guling. Kalau terjadi ambil babi diguling gulingi. Nggak usah dibakar nggak usah disembelih, diguling gulingi aja. Kalian tidak paham leluhur kita inginnya mainin babi diguling gulingin bukan di sembelih. Selesai nazarnya, selesai kaulnya.

Bayangkan Vishnu datang sebagai Matsya Avatar, salah satu Avatar adalah Varaha Avatar itu adalah babi hutan. Masa Vishnu kita penggal. Pikirkan jangan ikuti saya.

Yang menjamin sorga dan neraka adalah karma kalian. Bukan karena ikut saya. Ikut saya nggak ke surga, nggak ikut nggak ke neraka. Akan tetapi perbuatan kalian, karma kalian juga tidak mengantar ke surga atau neraka. Dalam Hindu itu surga atau neraka cuma transit. Deperture mau ke Eropa transit ke Singapura 1 jam. Setelah itu lahir kembali. Lha lahir kembali, kalau pingin lahir lebih bagus cobalah mulai sekarang jangan membunuh.

Karena urusan apa pun, makan enak di lidah itu cuma 1 menit. Setelah itu esoknya jadi apa? Coba Anda makan sayur sayur coba lihat besok toiletnya, bersih lho warnanya. Coba kalau makan binatang warnanya itu coklat item. Dan baunya bukan main. Coba pikirkan nggak usah ikut saya, yang baik seperti apa?

Karena jangan-jangan kita nanti jadi babi dalam kehidupan berikutnya. Disembelih mau nggak? Coba pikirkan jangan ikuti saya.

Jadi firasat firasat buruk itu cuma ngeles, nggak ada firasat buruk. Semuanya itu berjalan sebagaimana adanya. Alam berjalan apa adanya. Kita berjalan, mau sakit ya kita sakit. Mau jadi orang suci, tidak suci, mau flu juga flu. Ada jaminan semua berdasar karma kita.

Kita berbuat baik, kita menanam benih yang baik, hasilnya pasti baik. tidak ada kemungkinan menanam buah asem munculnya buah apel. Benihnya buah asem ya munculnya buah asem.

Sumber: Video Youtube oleh Guruji Anand Krishna, Bhagavad Gita Dalam Kehidupan Sehari-hari Percakapan 01.

https://www.akcjoglosemar.org/wp/

https://www.anandkrishna.org/

 

Advertisements