Wejangan Anand Krishna: Jangan Terbawa Emosi! Pelajari Situasi dan Kondisi!

Arjuna yang sudah siap untuk perang, berkata kepada Sri Krishna: “Antarlah aku ke garis terdepan, Krishna. Ingin kulihat dari dekat siapa saja yang berada di pihak Kaurava.”

Sanjaya berkata: “Sesuai keinginan Arjuna, Krishna mengantarnya ke garis terdepan, mengambil posisi di tengah kedua pasukan.”

“Lihatlah, Arjuna, pasukan Kaurava.” Bhagavad Gita 1:20-25

https://bhagavadgita.or.id/

 

Guruji Anand Krishna menyampaikan:

Ini pelajaran yang penting sekali.

Jangan terbawa oleh emosi. Kita harus mempelajari situasi dan kondisi. Dalam rumah tangga, dalam bisnis kalau ada orang yang mengatakan sesuatu kita cepat percaya. Kita harus mengamati seperti Arjuna mengamati. Mau perang mengamati dulu.

Perang juga terjadi dalam diri kita. Antara pikiran kita yang kacau dan hal-hal yang baik dalam diri kita, selalu terjadi perang. Setiap saat terjadi konflik, terjadi perang. Tunggu dulu jangan cepat-cepat mengambil senjata. Jangan cepat-cepat melawan.

Kita pikirkan degan matang apa yang sedang terjadi. Termasuk penyakit penyakit kita. Banyak sekali penyakit karena pikiran. Kita sakit kepala cepat-cepat minum obat. Sekarang diketahui bahwa obat-obat yang kelihatannya tidak masalah, kalau minum obat setiap sakit kepala, ada efek sampingnya.

Banyak orang di Bali menderita penyakit seperti liver. Dalam usia tertentu menderita liver membesar bisa dipahami. Kenapa anak-anak muda di Bali berpenyakit liver? Kemarin ada anak umur 12 tahun tekanan darah tinggi. Masalahnya di mana? Cepat-cepat memberikan obat pada anak itu tidak akan membantu. Seumur hidup obat itu akan ditambah terus. Dikasih obat 2-3 hari menurun, besok-besok dia minta dosis lebih tinggi. Saya tidak yakin dia bisa hidup sampai usia 45 tahun.

Mati di tangan Tuhan, tapi kita tidak mau mati sakit-sakitan. Tekanan darah tinggi itu mengantar ke stroke. Mari kita mengamati musuh kita apa?

Misalnya di Bali banyak orang menderita liver, banyak orang menderita kidney, ginjal. Kurang minum air putih. Banyak orang sepanjang hari minum teh. Teh itu maksimal 1-2 cangkir. Jangan lebih dari itu. Itu pun teh jangan dimasak sampai merah sekali. Di tea bag ada peraturannya tapi kita tidak pernah membaca. Dicelup tidak boleh lebih dari 2 menit. Setelah 2 menit dicelup, kantongnya dibuang. Teh sehat, kalau kebanyakan nggak sehat juga. Begitu juga makanan kita. Kebanyakan makanan di Bali membawa penyakit. Kadang-kadang baru 50 tahun sudah nggak bisa kerja. Duduk-duduk di wantilan, kalau punya wantilan. Kalau tidak ya duduk-duduk di depan pintu.

Kadang-kadang orang belum tua kelihatan tua sekali, buka pintu cuma duduk di pintu. Kenapa terjadi begitu? Karena kita tidak mengamati makanan kita. Makanan kita itu kebanyakan gorengan. Gorengan itu menyerang liver. Dan menyebabkan terlalu banyak toxic. Terlalu banyak racun yang dikelola oleh kidney, ginjal. Kidney bekerja terlalu keras sampai usia 55 tahun sudah jebol.

Seperti sparepart mobil, kalau dipakai tidak teratur, dipaksa cepat rusak. Begitu juga dengan liver kita, kidney kita. Semua organ organ tubuh itu seperti mesin. Kalau nggak dijaga, dirawat akan rusak.

Berhenti makan gorengan. Gorengan ini bahaya sekali. Apalagi gorengan yang dibeli di pinggir jalan. Setiap ada odalan di pura di mana, di luar begitu banyak jual gorengan. Dan kita cepat-cepat beli gorengan. Minyak itu, minyak yang mereka pakai, mereka dapat dengan harga murah. Dari restoran-restoran bsar. Restoran-restoran besar itu kalau pakai minyak sekali dibuang. Daripada dibuang, mereka bisa jual kepada tukang-tukang gorengan. Itu minyak bekas. Minyak itu kalau sudah dipakai 2 kali. Kemungkinan bisa kena kanker bertambah.

Mulai sekarang mau odalan, mau apa berhenti beli gorengan di jalan.

Bhagavad gita ini bukan kisah yang terjadi 5.000 tahun yang lalu. Pelajaran untuk kita semua . kita mengamati, observe.

Mengamati makanan kita itu penyebab utama dari segala macam penyakit. Berhenti makan gorengan dari luar. Kalau ingin makan gorengan goreng sendiri. Kalau punya uang sdikit, jangan pakai minyak goreng biasa. Pakai minyak goreng olive oil, zaitun. Itupun nggak boleh sampai minyaknya berasap. Minyak itu kalau sudah berasap minyak apa saja menjadi beracun. Lebih bagus cuma ditumis jangan digoreng.

Sayur jangan sampai menjadi hitam. Kita mengamati. Mati pasti kita semua mati. Tapi mati dengan kualitas hidup yang bagus. Sampai hari terakhir kita bisa bekerja.  Jangan mati sakit-sakitan. Dulu di tahun 70 an saya melihat di Bali ibu-ibu membuat minyak goreng sendiri dari kelapa. Itu kebiasaan yang bagus. Minyak kelapa itu bagus asal jangan sampai jadi asap. Paling bagus kalau bikin sendiri.

Coba beli santan di supermarket atau buat santan sendiri.  Saya suka pudding dari solo kalau pakai santan dari luar pudding itu nggak jadi. Jadi santan di luar itu sudah pakai macam-macam. Tulisannya tidak ada. Santan di luar kalau ditaruh dua hari di luar tidak ruak berarti ada bahan pengawet. Kalau nggak ada bahan pengawet dia akan rusak.

Yang penting mengamati apa yang cocok bagi kita. Minyak dikurangi.

  1. Mengurangi gorengan.
  2. Gunakan minyak goreng olive oil, zaitun.
  3. Menumis lebih baik daripada menggoreng.
  4. Memasak sayur jangan sampai berwarna hitam.
  5. Membuat minyak goreng sendiri dari kelapa.
  6. Membuat santan sendiri tanpa pengawet.
  7. Mengurangi cabe atau sambel.

Jadi mengamati. “Antarlah aku ke garis terdepan, Krishna. Ingin kulihat dari dekat siapa saja yang berada di pihak Kaurava.”

Makanan, pekerjaan, mau kerjasama dengan orang pelajari dulu. Di keluarga juga begitu, anak mau kawin. Pelajari. Tunggu dulu jangan cepat cepat ambil keputusan.

Sumber: Video Youtube oleh Guruji Anand Krishna, Bhagavad Gita Dalam Kehidupan Sehari-hari Percakapan 01.

Link:

https://www.akcjoglosemar.org/wp/

https://www.anandkrishna.org/

Advertisements