Wejangan Anand Krishna: Bhakti, Tundukkan Ego! Jauhi Arogansi!

“Kekuatan pasukan kita di bawah pimpinan Bhisma, jauh melebihi kekuatan mereka di bawah pimpinan Bhima.” Bhagavad Gita 1:10

https://bhagavadgita.or.id/

 

Guruji Anand Krishna menyampaikan:

Di sini Duryodhana membuat kesalahan fatal. Kita tidak boleh membuat kesalahan fatal. Dia mengatakankekuatan Kaurava lebih kuat dari Pandava. Pasukan Kaurava dipimpin Bhisma yang tersohor kekuatannya. Pasukan Pandava dipimpin Bhima yang masih ingusan, cucu Bhisma.

Dia melupakan apa?

Di sana bukan hanya Bhima yang ada. Di sana ada Krishna.

Kita juga, dalam hidup kita, libatkan Krishna, libatkan Tuhan, libatkan Sang Hyang Widhi. Kekuatan seberapa pun menjadi kekuatan yang tidak terbatas. Duryodana lupa di pihak sana ada Krishna.

Jangan takut, jangan takut menghadapi orang yang kuat, asal Anda memiliki anugerah dari Sang Hyang Widhi. Untuk memperoleh anugerah itu kita berada pada Jalur Dharma. Pada jalur yang benar.

Saya memberikan contoh kadang kita berpikir bhakti itu adalah menyanyi bhajan, kidung-kidung. Bukan! Bukan cuma itu, penyerahan diri pada Tuhan, pada Kehendak Sang Hyang Widhi, seperti yang dilakukan oleh Pandava.

Masih ingat cerita kala Arjuna dan Duryodhana mohon dukungan pada Krishna di Dvarka?

Dvarka, itu memiliki pintu gerbang yang tidak terhitung banyaknya. Dikatakan ada sembilan, tapi sesungguhnya jauh lebih banyak daripada itu. Siapa pun yang  ingin bertemu dengan Krishna bisa masuk dari pintu mana pun. Dan dia bisa masuk ke pekarangan di sana.

Ketika Duryodhana dan Arjuna ke sana minta dukungan. Krishna sedang tidur siang berbaring. Duryodhana datang dan duduk dekat kepalanya. Duryodhana dan Arjuna bermusuhan. Arjuna menganggap lebih muda, biarlah kakakku yang duduk. Arjuna duduk dekat kaki Krishna. Padahal juga ada kursi lain.

Kalau Krishna bangun dia akan lihat siapa dulu? Arjuna.

Cerita ini punya makna yang luar biasa. Kalau kita menundukkan kepala, Sang Hyang Widhi akan melihat kita. Kalau kita arogan, sombong, duduk di atas kepalanya Sang Hyang Widhi, kita nggak terlihat. Inilah Bhakti. Tundukkan ego, meluluhkan ego.

Selama kita punya ego, kita nggak terlihat. Walaupun dekat. Sudah sembahyang, sudah puja-puji macam-macam, tetap saja persoalan begitu banyak dalam hidup kita. Karena kita egois. Kalau kita menundukkan kepala, berada dekat kaki Sang Krishna, begitu Dia bangun dia melihat Arjuna, “Hai Arjuna apa kabar?”

Duryodhana berpikir, Arjuna kurang ajar, sekarang Arjuna akan ditanya akan minta apa? Cepat-cepat dia berkata, “Krishna yang datang duluan saya lho?”

“Oh kamu juga datang ya? Apa kabar?”

“Saya datang ke sini akan minta dukungan saya akan perang lawan Arjuna.”

Krishna mengatakan, “Saya dalam keadaan yang sulit. Kalian dua-duanya masih keluarga saya. Sekarang bagaimana saya akan membelah diri saya. Begini deh kita bagi jadi dua. Balatentara saya lengkap dengan senjata dan saya sendiri tanpa senjata. Mau pilih yang mana?”

Duyodhana licik, “Begini Krishna saya juga tidak mau menyusahkan Anda. Sudah bala tentaranya saja untuk saya.” Dalam hati rasain lu Arjuna dapat Krishna tanpa senjata.

Arjuna senang sekali, “Terima kasih Kakak Duryodhana. Dan terima kasih Krishna saya hanya butuh kamu saya tidak butuh apa-apa.

Begitu juga dalam hidup kita, kalau kita butuh apa-apa malah rugi. Kita butuh Krishna, butuh Sang Hyang Widhi, butuh Tuhan semuanya selesai. Inilah bhakti menundukkan kepala. Tidak menjadi egois. Mementingkan Tuhan daripada yang lain-lain. Semua yang lain-lain akan ada di sini. Tidak akan kebawa ke mana-mana. Mati dengan tangan kosong. Mau di ngaben dikubur tangan kita kosong.

Yang penting adalah bhakti pada Tuhan. Dan coba lihat dalam hidup kita. Makanan seorang Hindu, dia tidak makan, dia menerima lungsuran, prsasad. Persembahkan makanan itu kepada Tuhan. Sambil memasak coba nyanyikan sesuatu seperti bhajan, kidung, atau baca mantra salah satu sloka dari Bhagavad Gita atau dari mana. Mantra yang gampang, jangan pindah-pindah kalau bisa.

Salah satu mantra yang ishtanya cocok dengan Anda. Misalnya lebih dekat dengan Shiva, mantra Om Nama Shivaya. Kalau dekat dengan Ganesha mantra Om Gam Ganapataye Namaha.  Dekat dengan Krishna ada mantranya. Sambil masak sambil makan, maka makanan yang kita makan itu bukan makanan, tapi lungsuran yang sudah diberkati, dianugerahi oleh Tuhan. Biasakan diri demikian.

Ibu saya punya kebiasaan dalam Hindu yang sudah ribuan tahun. Setiap hari, sebelum makan, sebelum masak sisihkan nasi, segenggam nasi, beras, sesuai kemampuan, sesendok pun oke. Masukan dalam suatu tempat dan kalau sudah banyak, dimasak berikan pada orang yang tidak mampu.

Atau yang saya lakukan atau sering ibu saya lakukan setiap hari keluarkan beras untuk burung-burung atau binatang. Taruh di mana ada burung. Jadi ada berkah dalam makanan Anda. Makanan yang kita makan setiap hari bukan hanya makanan, tapi sudah menjadi lungsuran.

Sumber: Video Youtube oleh Guruji Anand Krishna, Bhagavad Gita Dalam Kehidupan Sehari-hari Percakapan 01.

Link:

https://www.akcjoglosemar.org/wp/

https://www.anandkrishna.org/

 

 

Advertisements