Layani Tuhan dengan Melayani Sesama dan Kemanusiaan

Mencintai Tuhan atau Dicintai Tuhan

Seorang Master bercerita tentang Abou Ben Adhem, yang pulang ke rumah dan melihat sinar menyilaukan di kamarnya. Dia menemukan seorang malaikat duduk di meja mencatat sesuatu. Abou memberanikan diri bertanya dengan sopan, apa yang sedang dicatat Malaikat dengan tekun.

Malaikat tersebut berkata bahwa dia mencatat nama-nama orang yang mengasihi Tuhan.

Abou adalah orang yang baik hati, selalu membantu orang miskin, berbagi makanan dan tempat tinggal dengan mereka yang lapar dan tunawisma. Tetapi Abou sendiri tidak memiliki kesetiaan khusus pada Tuhan. Abou mencintai semua orang dari berbagai agama, asal mereka baik hati. Apa pun masalah yang dihadapi orang yang datang kepadanya dibantu jalan keluarnya.

Malaikat berkata kepada Abou: “Tidak, namamu tidak ada di catatan ini.”

Keesokan harinya ketika Abou pulang ke rumah, kembali dia melihat malaikat kemilau duduk di mejanya lagi. Abou melihat buku catatan lain yang dipegang malaikat. Untuk memenuhi keinginan tahunya, Abou bertanya sekarang Malaikat sedang mencatat apa?

Malaikat berkata: “Saya sedang mencatat nama-nama mereka yang dicintai Tuhan.”

Dengan ragu-ragu Abou bertanya apakah namanya ada dalam buku catatan tersebut?

Malaikat menunjuk dengan jari telunjuknya pada halaman pertama buku catatan tersebut dan berkata: “Lihat! Namamu tertulis yang pertama.

Cintailah sesama, itu adalah metode terbaik untuk memperoleh Rahmat Tuhan.

Entah dicatat oleh malaikat atau direkam oleh mesin perekam secanggih apa pun, alam mencatat apa yang kita kerjakan. Kadang kita bertanya mana yang lebih baik mencintai Tuhan tetapi tidak peduli sesama atau mencintai sesama dengan penuh ketulusan, tetapi tidak memperhatikan Tuhan senang atau tidak dengan tindakan kita.

Itu semua hanya masalah pemahaman Tuhan yang terpisah dengan sesama atau Tuhan meliputi semuanya termasuk meliputi sesama.

 

Tuhan Meliputi Segalanya

Guruji Anand Krishna menyampaikan:

Hita ialah “Kemakmuran”, dan Karana berarti “Sebab”. Tiga Sebab Kemakmuran, atau lebih tepatnya Sejahtera lahir-batin – itulah arti Tri Hita Karana. Atau, kalau Anda mau, bisa juga diartikan sebagai tiga panduan untuk hidup seimbang dengan keberadaan.

………….

Para pakar sering menjelaskan hubungan kita dengan Tuhan secara vertikal. Sedangkan hubungan kita dengan sesama umat manusia dan lingkungan alam dikatakan sebagai hubungan horisontal. Bagaimana kita bisa membuat garis semacam itu? Saya juga ingin bertanya: Apakah ini mungkin?

Kesalahpahaman yang lebih parah ialah anggapan bahwa ada tingkatan dalam hubungan-hubungan tersebut; bahwa hubungan dengan Tuhan memiliki tingkatan lebih tinggi di atas hubungan dengan alam dan umat manusia.

Sebab utama menjadi ”Sejahtera”, Karana pertama dari Hita – ialah bukan menjaga keseimbangan dan harmoni antara kita dan Tuhan, tapi ”menyadari Tuhan dalam satu dan segalanya”. Ini berarti mengalami kemahahadiran Tuhan – yang merupakan sebab utama keberadaan manusia.

Sebab utama ialah dasarnya, di mana kedua sebab lainnya berdiri. Atau, lebih tepatnya, ketiga sebab tersebut pada hakikatnya Tri Tunggal. Tiga tapi Satu. Trinitas Suci abadi yang tak terpisahkan.

Kepercayaan kepada Tuhan tak berarti banyak kecuali diterjemahkan sebagai pelayanan penuh kasih terhadap kemanusiaan. Kasih Tuhan mesti membawa keceriaan di antara anggota masyarakat manusia. Apa gunanya kepercayaan kita pada Tuhan, jika kita tidak dapat hidup secara damai dan harmonis dengan tetangga di sebelah kita?

Ini sebab kedua, Pawongan. Pawongan bukanlah keseimbangan antara sesama umat manusia, tapi prinsip dari ”satu untuk semua, dan semua untuk satu” – di mana ”satu” bukanlah ego kecil kita, suka atau tidak suka, syak-wasangka dan kepentingan diri – tapi ”kebaikan bagi sebanyak mungkin orang”.

Sebab ketiga; Palemahan, mencurahkan perhatian bagi lingkungan: alam – tumbuhan dan binatang.  Palemahan menuntut kesadaran untuk melihat energi yang sama berada di mana-mana, di dalam semua mahkluk hidup, termasuk tumbuh-tumbuhan, sungai, pohon, dan sebagainya.

Sumber: Artikel Tri Hita Karana, oleh Bapak Anand Krishna (Radar Bali, Kamis 12 November 2009)

Layani Tuhan dengan Melayani Sesama dan Kemanusiaan

Serve The Almighty by Serving Society and Humanity. Ini adalah Motto Anand ashram yang diungkapkan pada Press Release Peringatan Hari Jadi ke-29 Yayasan Anand Ashram.

 

Guruji Anand Krishna berharap agar Anand Ashram menjadi lebih dekat dengan masyarakat, dan bertrnasformasi menjadi Pusat Pelayanan Masyarakat dalam arti secara utuh dan keseluruhan. Bukan saja diperuntukkan untuk warga yang kurang mampu dan beruntung, tetapi juga juga semua warga bumi, termasuk yang mampu dan beruntung pun, tetapi membutuhkan perhatian kita seperti yang menderita berbagai penyekit yang disebabkan oleh stress.

……………

Maa Archana selaku Ketua Dewan Pembina menjelaskan, “Mulai tahun ini, Guru kami telah memberikan slogan baru bagi transformasi ini yaitu, “Serve the Almighty by Serving Society and Humanity – Melayani Tuhan dengan melayani sesama dan kemanusiaan.”

“Karena itu, tahun ini dalam rangka memperingati Hari Jadi Anand Ashram ke-29, Masing-masing centre di Ubud-Bali, Jogjakarta dan Jakarta sepakat untuk menyelenggarakan rangkaian kegiatan yang bersifat sosial dan edukatif, “ Ir M. Yudanegara dari Dewan Pembina Anand Ashram menambahkan.

Koordinator Centre Jakarta, Joehanes Budiman meinformasikan bahwa kegiatan derma darah berlangsung di Centre Sunter – Jakarta pada Minggu, 13 Januari 2019 Pkl. 09.00 -12.00 WIB, mengawali rangkaian kegiatan peringatan Hari Jadi Anand Ashram ke-29.

“Minggu Sore, di Desa Guwosari, Bantul – Jogjakarta, kami melayani para lansia agar sehat dan bahagia dengan pelayanan medis, meditasi dan yoga sebagai kegiatan sosial kami bagi masyarakat sekitar,” ujar Wayan Suriastini, Dewan Pengawas Yayasan sekaligus Koordinator Centre daerah Jogjakarta, Solo dan Semarang

Sementara Ibu Harumini Waras selaku Ketua Yayasan Pendidikan Anand Krishna menuturkan, “Para murid One Earth School, Kuta – Bali sejak 12 Januari 2019 lalu telah berkomitmen untuk melakukan kegiatan bersih-bersih sampah plastik di Pantai Legian sampai beberapa minggu ke depan, dan sekarang tengah mempersiapkan diri turut serta dalam Perayaan Budaya Warga Bumi – World Culture Celebration di Ashram Ubud pada Sore Hari, 14 Januari 2019, sebagai penutup rangkaian kegiatan sosial dan edukatif peringatan Hari Jadi Anand Ashram ke-29.”