Wejangan Anand Krishna: Jangan Berdagang, Bernegosiasi Dengan Tuhan

“Bagi mereka yang dungu, wahai Pārtha (Putra Pṛthā – sebutan lain bagi Kuntī, Ibu Arjuna), apa yang tersurat dalam Veda, dalam kitab-kitab suci, adalah segala-galanya.” Bhagavad Gita 2:42

https://bhagavadgita.or.id/

 

Ini suatu sloka yang sangat membingungkan banyak orang. Kita tidak lagi menggunakan viveka, menggunakan kesadaran, menggunakan buddhi, tapi mengikuti segala sesuatu letterlijk, apa yang tersurat, apa yang tertulis. Banyak orang ketika kita bicara sesuatu mereka mengatakan, “tapi di Lontar ada……..”

Lontar-lontar kita, kitab-kitab kita itu segala macam berita juga ada. Lalu apakah kita harus mengikuti semua berita itu? Ada seorang penjahat melakukan kejahatan, koran memberitakan, terus apakah kita harus mengikuti tindakan kriminal itu? Saya berikan contoh di mahabharata, ada cerita tentang Yudistira yang disebut Dharmaraja, Raja Dharma main dadu, judi, kalah. Terus karena seorang Dharmaraja, seorang Yudistira pernah main judi, apakah kita garus membenarkan judi itu?

Kitab-Kitab Suci dalam tradisi Hindu tidak memberikan harus begini harus begitu. Kitab-Kitab Suci kita hanyalah sebagai guide, pemandu. Kalau kamu begini perbuatannya, hasilnya begini. Kalau kamu begitu perbuatannya, hasilnya begitu. Tetap kita harus menggunakan otak kita, tapi banyak di antara kita yang dungu, karena sudah tertulis begitu ikutin terus. Banyak sekali hal-hal yang kita lakukan yang tidak benar, tidak relevan, zaman berubah.

Pernah dengar dari Parisada ada bhisama. Ada bhisama yang mengatakan semua upacara Hindu harus tanpa himsa, tanpa kekerasan. Pernah dengar? Nanti kalau di video bhisama itu harus dimunculkan. Ada bhisama dari Parisada sudah berapa tahun? Masih ingat berapa tahun sudah? Nanti akan kita lihatkan dalam video ini. Sudah berapa tahun sudah dilarang untuk upacara tidak boleh himsa, tidak boleh kekerasan, tidak boleh menyembelih binatang. Tapi kita tetap tidak menghiraukan. Kita tetap memakai cara-cara lama yang sebetulnya sudah tidak sesuai dengan kondisi kita sekarang ini.

Banyak sekali organisasi-organisasi untuk melindungi binatang. Dan, Parisada bukan atas kemauan satu dua orang, para Sulinggih Besar yang duduk di situ. Mereka yang sama-sama, bersama membuat bhisama itu. Tapi kita tidak diberitahu oleh teman-teman yang lain. Dan kita masih mengikuti lontar-lontar kuno yang Krishna sekarang mengatakan kalau kita melakukan itu kita adalah dungu.

Bukan saya yang katakan, kalau keberatan, keberatanlah dengan Bhagavad Gita, dengan Krishna yang mengatakan demikian.

 

“Mereka, para dungu itu – penuh dengan berbagai keinginan duniawi; tujuan mereka hanyalah kenikmatan surga; atau kelahiran kembali di dunia-benda –untuk itulah mereka berkarya. Bermacam-macam ritus, upacara yang mereka lakukan, pun semata untuk meraih kenikmatan indrawi, dan kekuasaan duniawi.” Bhagavad Gita 2:43

https://bhagavadgita.or.id/

 

Coba kalau lagi ada suasana Pemilu, entah Pemilu entah Pilkada, entah Pildes entah Pil apa lagi. Ketika zaman-zaman Pil itu, tiba-tiba semuanya menjadi sangat beragama. Tiba-tiba mereka melakukan hal yang luar biasa.

Kita pun demikian, kita juga tidak lebih bagus. Membuat nazar, janji, sesangi, nanti kalau begini saya akan melakukan begitu. Jadi sama Hyang Widhi, sama Tuhan pun kita melakukan transaksi. Jadi Tuhan itu kita gunakan sebagai pelayan di hotel……. kamu bawain saya makanan nanti saya kasih tip padamu. Seolah-olah Tuhan menunggu dupa kita, menunggu sesajen kita. Kenapa kita melakukan itu, kita anggap, kita lebih tinggi dari Tuhan. Seolah-olah dengan sesajen kita, dengan apa yang kita lakukan kita bisa membohongi Tuhan. Banyak sekali kejadian.

Ada orang lagi naik perahu, perahunya bocor. Ada bocor, ada lubang dan perahu mulai masuk air, dan perahu mulai tenggelam sedikit-sedikit. Masih di tengah sungai dia dia nazar, “Tuhan kalau nanti, perahu ini sudah sampai daratan.  Saya akan menyumbang satu juta ke Pura.”

Perahu jalan sedikit, ternyata lubangnya tidak begitu besar, air ternyata masuk tapi perahu tidak tenggelam. Orang ini berpikir ini sudah setengah jalan. Dalam hati, “Sang Hyang Widhi, kamu kan nggak butuh uang, nanti kalau saya sampai ke daratan, saya akan sumbang lima ratus ribu.”

Jalan lagi perahu belum tenggelam, dan dia membuat janji diperbarui, “Tuhan kamu kan penuh dengan kasih, penuh dengan rasa sayang. Dua ratus lima puluh ribu.”

Sampai ke daratan, sudah aman, “Tuhan, Kau segala-galanya, Kau tahu kemampuan saya seberapa. Masih ada keluarga, masih ada anak, baik saya akan ke Pura saya akan sumbang lima puluh ribu.”

Inilah kondisi kita. Kita melakukan upacara pun bukan dengan sepenuh hati. Bukan sebagai persembahan, tapi karena ada maunya.

Pacaran pun demikian. Dulu karena ada maunya, pacar diajak makan di hotel mewah. Walaupun kantong tidak membenarkan hal itu. Calon istri berpikir wah ini calon suami saya bagus sekali, duwitnya banyak. Setelah kawin baru, tahu seperti apa?

Kita juga demikian, semuanya juga demikian, dari pejabat tinggi juga begitu, kita juga begitu. Semuanya transaksional. Berdagang, tawar-menawar. Negosiasi dengan Tuhan. Jadi kita tidak memuja dengan penuh cinta penuh kasih. Kalau tidak minta sesuatu di sini, mintanya apa? Nanti kalau saya sudah mati biar saya di surga. Padahal kita tahu di surga itu Cuma transit saja. Kalau ada karma baik di surga sebentar, seperti mau ke piknik, menikmati sedikit. Seperti kita lagi piknik Saptu Minggu, Senin kita harus kembali ke kantor, kembali menghadapi kenyataan hidup.

Begitu juga surga dalam tradisi Hindu, cuma sesaat sebentar. Begitu karma baiknya selesai, lahir lagi. Menjalani lagi segala sesuatu yang kita harus jalani. Jadi apa pun yang kita lakukan upacara ini itu semuanya tidak ada artinya kalau kita mengharapkan sesuatu sebagai imbalan. Upacara harus merupakan persembahan.

Sembahyang, mempersembahkan sesuatu kepada Hyang, kepada Hyang Widhi. Jadi bukan untuk minta, mint,a minta melulu. Untung Sang Hyang Widhi belum bosan dengan kita. Coba kalau kita punya pembantu sehari lima kali, “tolong saya minta ini minta itu.” Bosan nggak? Satu hari oke, dua hari oke, tiga hari oke. Terus menerus setiap hari seorang pembantu, pagi mint,a siang minta, sore minta, kita juga seperti itu. Minta terus. Terus hukum karmanya mau diapain? Hukum karma tetap berjalan. Jadi kita sembahyang itu sebagai persembahan. Dan, dengan persembahan itu kita menimbulkan rasa kasih dalam diri kita, mencintai Tuhan.

Oleh karena itu dalam Hindu, kita memiliki banyak simbol. Sekarang kalau kita disuruh cintailah Sang Hyang Widhi, nggak ada simbol, bisa nggak? Sulit lho. Kita kan sembahyang, makanya banyak di antara kita itu belum tahu bhakti. Karena kita diajarkan Sang Hyang Widhi itu abstrak betul. Sang Hyang Widhi adalah acinthya.tidak terbayangkan, tidak terlukis, tidak terjelaskan, tidak terpikirkan. Bagaimana mencintai Tuhan seperti itu?

Oleh karena itu para leluhur kita, para resi kita memberikan simbol-simbol. Simbol-simbol ini untuk menciptakan menimbulkan rasa kasih, rasa bhakti dalam diri kita.

Sumber: Video Youtube Bersama Anand Krishna Bhagavad Gita Sehari Hari Percakapan 02:42-49 Kitab Suci Adalah Peta Jalan Menuju Kesucian

https://www.youtube.com/watch?v=_jOkWxoobi8

https://www.akcjoglosemar.org/wp/

https://www.anandkrishna.org/

 

Advertisements

Wejangan Anand Krishna: Peroleh Berkah dengan Persembahkan Semua Tindakan Pada Tuhan

“Demikian, apa yang telah kau dengarkan, adalah kebijaksanaan, ajaran luhur dari sudut pandang Samkhya, yaitu Buddhi Yoga, pandangan berdasarkan pertimbangan dan analisis yang matang. Sekarang dengarkan ajaran dari sudut pandang Karma Yoga. Jika kau berketetapan hati untuk menerima dan menjalaninya, maka kau dapat berkarya secara bebas tanpa kekhawatiran; dan, bebas pula dari rasa takut akan dosa-kekhilafan. Demikian, tiada lagi akibat karma atau perbuatan, yang dapat membelenggumu.” Bhagavad Gita 2:39

https://bhagavadgita.or.id/

 

Ada 2 cara, ini juga dilakukan di psikologi. Apa yang Krishna memberikan selama ini, sudah 39 sloka, itu adalah Samkhya Yoga. Samkhya Yoga adalah pakai otak. Kalau mau melakukan sesuatu pakai otak, pakai akal sehat. Pikirkan, kemudian lakukan. Tapi tidak semua orang bisa pakai otak. Seperti yang cerita tadi, ibu ini yang mau beli baju, mau pakai baju pun, dia perlu otak orang lain. Nah ini kalau mau pinjam otak mau berapa otak dipinjamkan. Kalau pinjam satu otak masih oke. Kalau pinjam otak se banjar? Jadi nggak bisa kalau nggak pakai otak.

Kalau nggak bisa pakai otak, pakai Buddhi Yoga, kalau nggak bisa dengan cara itu maka, pakailah dengan Karma Yoga. Krishna akan menjelaskan Karma Yoga.

 

Berkarya demikian, tiada upaya yang tersia-sia; pun tiada tantangan yang tidak teratasi. Dengan menjalankan dharma, berkarya dengan tujuan luhur; niscayalah seseorang terbebaskan dari rasa takut, khawatir, dan cemas.” Bhagavad Gita 2:40

https://bhagavadgita.or.id/

 

Kalau tidak bisa pakai otak, lakukan dengan meyerahkan semua pada Tuhan, kepada Sang Hyang Widhi. Saya melakukan apa yang saya pikir sudah melakukan terbaik dan sekarang saya serahkan kepada-Mu hasilnya bagaimana.

Di dalam tradisi kita, tradisi budaya kita, dalam budaya Hindu, makanan itu adalah lungsuran. Dalam bahsa sanskrit prasad. Setiap makanan adalah lungsuran. Jadi bukan saja yang kita sajen. Apa yang kita persembahkan kepada-Nya di atas altar. Di sini, di Bali lungsuran kan, kemudian dimakan lagi kan, tapi setiap kali kita makan, bukan cuma sembahyang. Setiap kali kita makan, makanan itu bisa menjadi lungsuran. Makanya kita diajarkan doa:

Brahmapanam brahma havir brhamagnau brahmana hutam, brahmaiva tena gantavyam brahma-karma-samadhina

“Persembahan adalah Brahman – Gusti Pangeran, Sang Jiwa Agung, Tuhan Hyang Maha Esa; tindakan mempersembahkan pun Dia; dan Dia pula yang mempersembahkan kepada Api Hyang Menyucikan, yang adalah Dia juga. Demikian, seseorang yang melihat-Nya dalam setiap perbuatan, niscaya mencapai-Nya.” Bhagavad Gita 4:24

Yang kita lakukan pada hari Rabu, setiap kali sebelum makan di luar, kita akan selalu berdoa seperti itu.

Aku persembahkan masakan makanan ini pada-Mu. Dan setelah kita persembahkan baru kita makan. Makanan itu sudah punya berkah-Nya. Sudah ada grace-Nya, ada blessing-Nya. Bukan cuma setiap sembahyang, tapi setiap kali masak, setiap kali makan. Coba jadikan itu sebagai suatu tradisi di rumah. Sebelum makan ingat satu sloka itu. Kalau belum bisa ingat belajar dari Edi, dari Ray. Banyak yang sudah tahu pasti.

Dengan membaca sloka itu, cuma 4 baris. Dan dengan penuh keyakinan bahwa saya sedang mempersembahkan ini kepada Sang Hyang Widhi. Setelah itu kita makan dan ada blessing, ada berkah-Nya.

Begitu juga setiap pekerjaan, bukan hanya makanan. Kerja juga begitu kita persembahkan. Saya bekerja atas nama-Mu. Saya mempersembahkan seluruh hasil kepada-Mu.

 

“Wahai Kurunandana (Arjuna, Kebanggaan wangsa Kuru), dalam menjalani yoga ini, berkarya dengan Kesadaran Jiwa –mereka yang paham, niscayalah teguh dalam keyakinannya. Sementara itu, mereka yang tidak paham, tidak pula teguh dalam keyakinannya, karena pikiran mereka masih bercabang.” Bhagavad Gita 2:41

https://bhagavadgita.or.id/

 

Apa pun yang kita lakukan jangan sampai pikiran bercabang. Pikiran bercabang ini, yang akan membawa kegagalan, mengakibatkan kegagalan. Selalu kita ragu-ragu. Hidup nggak bisa dengan penuh keragu-raguan. Hidup harus dengan penuh keyakinan.

Jadi kita harus selalu hidup di dunia ini dengan penuh keyakinan. Bahwa apa pun yang terjadi, setidaknya saya sudah berbuat. Kalau tidak berbuat, yang akan tejadi adalah penyesalan. Dan penyesalan ini bisa sepanjang usia. Kadang-kadang, barangkali jangan sampai ada yang mengalami itu.

Saya punya pengalaman, satu-dua pengalaman dalam hidup ini dimana sampai sekarang saya menyesali. Saat itu kalau saya bisa berbuat lebih baik, tidak akan terjadi seperti ini. Jangan sampai terjadi seperti itu. Jangan sampai ada penyesalan. Saya punya pengalaman waktu saya usia 14-15 tahun. Sampai sekarang kadang-kadang masih terbawa lagi, terbawa lagi. Kenapa saya tidak berbuat seperti itu waktu itu. Jadi begitu kita yakin sudah harus melakukan sesuatu yang baik, jangan ditunda, jangan sampai ada penyesalan.

Sumber: Video Youtube Bersama Anand Krishna Bhagavad Gita Dalam Hidup Sehari-Hari Percakapan 02 Ayat 31-41 Jangan Ragu Jalanilah Hidupmu Sesuai Kodratmu Itulah Yoga

https://www.akcjoglosemar.org/wp/

https://www.anandkrishna.org/

Wejangan Anand Krishna: Pikiran Selalu Berubah, Berbuat Baik Jangan Ditunda, Berbuat Buruk Tunda Dulu!

“Para Kesatria Agung akan menyimpulkan bahwa kau tidak bertempur karena takut.  Mereka yang selama ini menghormatimu, akan berbalik mencelamu, meremehkanmu.” Bhagavad Gita 2:35

https://bhagavadgita.or.id/

 

Krishna lagi mengingatkan kita apa yang terjadi kalau kita hidup di tengah masyarakat. Juga tidak berarti segala sesuatu yang kita lakukan harus diblessing, harus diterima oleh masyarakat. Tidak juga. Kalau kita hidup di tengah masyarakat yang tidak mengenal dharma, di situ shastra, kitab-kitab suci kita mengatakan “ekla chalo re”, jalanlah sendirian.

Walaupun seluruh masyarakat mencelamu, kalau kamu berada pada dharma kamu harus mampu berjalan sendiri. Tidak usah mengikuti masyarakat. Tapi kalau kamu sendiri bersalah hati-hati. Kalau kamu tidak bersalah tidak ada noda di bajumu walaupun masyarakat mengatakan apa pun juga, kamu harus tetap jalan sendiri. Nggak usah minta bantuan siapa-siapa. Tidak perlu mengharapkan pengakuan dari masyarakat. Asal kamu tidak ada salahnya. Kalau kamu melakukan kesalahan, ceritanya lain lagi. Jadi setiap saat kita harus hatihati.

 

“Apalagi mereka yang berlawanan denganmu. Mereka akan mencelamu, dengan mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas diucapkan. Mereka akan menertawakan kelemahanmu. Penderitaan apa yang lebih menyakitkan?” Bhagavad Gita 2:36

https://bhagavadgita.or.id/

 

Kita tidak bisa mengharapkan semua di masyarakat baik sama kita. Mau sebaik apa pun kita, tetap saja pasti ada yang tidak setuju. Tidak bisa satu masyarakat semuanya setuju. Di satu pihak kita juga harus berani bersikap, kalau kita benar, kita jangan ikut masyarakat yang salah. Di pihak lain, selalu memperhatikan diri jangan sampai aku melukukan kesalahan. Kalau setelah memperhatikan diri terjadi kesalahan, kita harus berani untuk minta maaf. Harus berani untuk memperbaiki diri. Jangan ditunda untuk minta maaf. Begitu sadar ada kesalahan langsung minta maaf. Jangan tunda. Makin kita tunda otak kita akan makin keras. Tidak perlu minta maaflah, inilah itulah, sudahlah sudah lama.

Ada sesuatu yang baik Anda lakukan, lakukan sekarang. Pernah dengar nama Karna? Juga salah seorang anaknya Kunti lahir sebelum Pandawa, tapi dia berpihak pada Kaurawa. Karna ini dikenal, dikenang, sepanjang masa, walaupun dia berpihak pada Kaurawa. Sampai sekarang anak bisa diberikan nama Karna. Sukarno itu dari Karna juga.

Kenapa dia dikenang sepanjang masa, walaupun dia berpihak pada Kaurawa. Sebetulnya sifat dia sifat yang sangat mulia. Pada suatu ketika dia sedang mandi di tepi sungai dekat Hastinapura. Dia sedang mandi di situ dan kebiasaan mandi zaman dulu, pakai minyak dulu. Badan dikasih minyak. badan digosok minya dulu baru mandi. Dia baru menggosok badannya dengan minyak, pakai tangan kanan menggosoknya. Tangan kiri yang pegang tempat minyak itu.

Dia seorang raja, tempat yang digunakan untuk minyak itu terbuat dari emas. Dia sedang menggosok, bisa bayangkan pakai tangan kanan ambil minyak gosok, ada seorang pengemis yang lewat. Dia sedang mengemis. Orang lagi mandi nggak punya uanag kan. Nggak bawa kredit card kan. Lagi mandi dia cuma pakai baju bawah, lagi menggosok diri, tapi di belakang sana kalau dia perlu bantuan dia langsung tepuk tanagn saja. Akan datang bodyguard-nya. Semua yang menjaga dia. Seorang raja kemana pun ada yang menjaganya. Begitu melihat pengemis ini, dia langsung mengambil tempat dari emas, mangkok itu diberikan kepada pengemis.

Si pengemis bertanya, “Kalau mau memberikan sesuatu pada seseorang harus pakai tangan kanan. Kenapa kau memberikan dengan tangan kiri?”

Karna menjawab, “Maafkan saya. Memang saya melakukan kesalahan. Tetapi kalau saya meindahkan mangkok emas ini ke tangan kanan, pikiran saya bisa berubah. Kenapa memberikan mangkok dari emas? Kenapa nggak tepuk tangan saja pasti.ada prajurat yang datang, dan bisa ambil uang karena mereka membawa uang. Jadi kalau saya memndahkan mangkok itu, dalam sekejap pikiran bisa berubah. Oleh karena itu maafkan saya, saya memberikan dengan tangan kiri.”

Pikiran kita seperti itu. Jadi kalau mau berbuat sesuatu yang baik jangan ditunda. Kalau mau berbuat jelek tunda. Karena pikiran bisa berubah. Sekarang menggebu-gebu saya mau marahi seseorang. Tunda dulu. Mungkin sebentar lagi kita pikir kembali, untuk apa sih marah-marah. Selesai perkara. Tapi kalau mau berbuat baik, dan pikiran berubah lagi, nggak jadi berbuat baik. Jadi kalau mau berbuat baik jangan ditunda. Kalau mau berbuat tidak baik, tunda. Pikiran bisa berubah.

 

“Jika terbunuh dalam perang demi kebajikan ini, kau akan mendapatkan tempat yang layak di surga, di alam setelah kematian. Dan, apabila kau menang, kau akan menikmati kekuasaan dunia. Sebab itu Kaunteya (Arjuna, Putra Kunti) – bangkitlah, tetapkanlah hatimu untuk berperang demi kebenaran.” Bhagavad Gita 2:37

https://bhagavadgita.or.id/

 

Jangan sampai ada penyesalan. Maksudnya apa? Seperti saya tadi mengatakan, untuk berbuat sesuatu yang baik sesuai tugas, kalau kita menunda dan tidak sampai terjadi, ada penyesalan. Dan penyesalan ini membuat kita sangat menderita.

Banyak orang yang mati, dengan kondisi yang mengenaskan sekali. Sampai berhari-hari, kadang bertahun-tahun. Bertahun-tahun dalam keadaan koma atau vegetatif begitu, di atas ranjang saja. Kita nggak tahu misteri kematian. Tapi kebanyakan, orang seperti itu, ada penyesalan. Ingin berbuat sesuatu dalam hidup, tapi nggak sampai. Nggak bisa berbuat, terus kelewatan.

Ada orang yang lagi sakit dari dulu punya keinginan untuk bisa berbakti di sekolah. Dan kemudian jatuh sakit. Selalu berpikir, nanti kalau saya sudah punya uang sedikit, saya kumpulkan, setelah itu saya akan berbakti. Uang mungkin terkumpul, tapi jatuh sakit. Sekarang badan sudah tidak bisa lagi. Nah itu bisa menjadi penyesalan. Kita harus hati-hati sekali. Kalau mau berbuat baik, berbuatlah langsung, jangan sampai terjadi penyesalan. Kalau terjadi penyesalan, saat terjadi kematian itu lah neraka.

Kita tidak percaya pada neraka, api neraka, yang membakar terus-menerus. Saat-saat kematan itu kalau ada penyesalan, ada merasa bersalah dan sebagainya, itulah neraka. Itu bisa berlangsung beberapa jam, beberapa menit, beberapa tahun. Ada penyesalan. Dan, kadang-kadang karena ada penyesalan roh ini akan gentayangan sebentar. Tidak untuk selamanya, begitu dia selesai dengan penyesalan itu, dia akan lahir kembali. Tapi sebaiknya jangan menunda suatu kebaikan dalam hidup. Karena waktu kematian, kita seperti melihat film kita. Saat-saat mau meninggalkan badan itu, kita melihat film kita. Dari sejak kelahiran sampai kematian dan hal-hal yang baik juga kita lihat, hal-hal jelek kita lakukan, juga kita lihat.

Semuanya kita lihat. Ada juga orang sampai melihat ke masa-masa lalunya. Kalau banyak sekali penyesalan itulah neraka. Tetap lahir kembali, cuma ada waktu transisi. Cuma ada waktu sebentar, jedah sebentar antara mati dan lahir kembali, dimana kita dapart mengalami surga atau neraka dalam pengertian, semua itu terjadi di pikiran. Nggak ada suatu tempat surga dan kita masuk ke sana. Pikiran itu sendiri. Roh itu masih punya pikiran. Masih punya perasaan. Dia yang terganggu kalau ada penyesalan. Neraka. Kalau ada kerelaan oke lanjutkan perjalanan.

 

“Dengan menganggap sama suka dan duka, keberhasilan dan kegagalan, kemenangan dan kekalahan, bertempurlah! Demikian kau akan bebas dari segala dosa-kekhilafan yang dapat terjadi dalam menjalani tugasmu.” Bhagavad Gita 2:38

https://bhagavadgita.or.id/

 

Kalau selalu memikirkan, saya berhasil atau nggak, gagal atau gimana, menang atau kalah, kalau selalu memikirkan itu saja, kita nggak bisa bekerja. Kita harus punya will power. Kehendak yang kuat juga. Kalau sudah tahu ini kebaikan kita lakukan. Jangan pikir terus-menerus, akan begini, gimana? Ada orang yang selalu was-was kalau begini gimana kalau begitu gimana?

Dulu saya punya teman bisa cerai sama istrinya gara-gara satu hal yang kecil sekali. Saya tanya kenapa kamu bisa cerai, dulu waktu pacaran bisa belasan tahun.

Ya saya itu menjadi gila, setengah gila karena gara-gara setiap kali istri mau pakai baju tanya sama saya. Pak baju ini cocok untuk saya? Saya sudah bilang ya cocok. Dia masih ragu-ragu, nggak ini kurang baik! Ya kenapa tanya. Dia bilang saya kawin sama dia 5 tahun. Dan, setiap hari dia mau pakai baju itu harus ganti 3-4 kali. Dia sudah ganti baju, saya sudah bilang oke, dia bilang nggak. Terus dia ganti lagi. terus dia ganti dan tanya lagi.

Soal baju bukan cuma sama saya. Saya juga dimarahi semua orang. Dia punya toko di pasar baru. Saya dimarahi, diketawai oleh semua teman-teman saya yang punya toko. Ke toko manapun juga. Mau beli apa, mau beli panci. Dulu kan belum ada supermarket belum ada departemen store. Ada toko khusus jual panci. Di Pasar Baru Jakarta. Mau beli panci pun dia bilang sama penjaga toko, pemilik tokonya kan mereka kenal, “Nanti kalau saya nggak cocok saya ganti ya!” Dia bilang dia bisa ganti panci 3 kali dalam 3 hari.

Pulang ke rumah pertama-tama dia akan telpon ibunya, “Bu datang ke sini!” Ibunya datang. Ibunya juga dekat-dekat situ tinggalnya. “Ini saya baru beli panci benar nggak?” “Oh nggak, ini handelnya kurang bagus, ini bisa kepanasan.” Tukar. Sudah tukar dia tanya pada sister in-law-nya, pada adik iparnya, “ini gimana?” Adik iparnya bilang ini kurang, apa lagi. Bisa 3 kali tukar panci. Zaman dulu nggak ada tukar-tukar. Masih ingat nggak, dulu kalau beli sesuatu di bon ada tulisan, “Sekali beli tidak boleh tukar.” Tapi karena dia punya toko, suaminya punya toko, ya toko-toko lain ya segan juga sama dia. Si suami bilang dia beli apa pun, sepatu. Kalau sepatu 7 kali dia. Ganti terus setiap hari. Kalau belum ganti belum tukar 5-6 kali, dan dia bukan cuma sama saya. Sama adik ipar, sama kakak ipar, semua dia tanya satu per satu. Sampai dia bilang sama saya, kenapa nggak kumpulin seluruh keluarga. Kamu kumpulin seluruh keluarga atau bawa seluruh keluarga ke toko sepatu. Suruh mereka pilih di situ. Gara-gara begitu, belasan tahun pacaran, saya pacaran nggak terpikir. Zaman dulu itu kalau pacaran kan nggak pakai WA kan. Jadi untungnya sekarang begitu. Karena ada WA ada internet, ada email, kalau tidak cocok sekali dua kali WA sudah putus kan. Dulu enggak. Pacaran itu ketemu cuma seminggu sekali. Dia juga punya toko, kapan tutupnya toko. Toko tutup jam 9 malam. Pacaran sampai jam berapa jam 11-12. Setelah 12 pulang ke rumah.

Ada orang yang begitu ragu-ragu ragu-ragu, jangan jadi peragu-ragu dalam keseharian hidup kita.

Sumber: Video Youtube Bersama Anand Krishna Bhagavad Gita Dalam Hidup Sehari-Hari Percakapan 02 Ayat 31-41 Jangan Ragu Jalanilah Hidupmu Sesuai Kodratmu Itulah Yoga

https://www.akcjoglosemar.org/wp/

https://www.anandkrishna.org/

 

Wejangan Anand Krishna: Waspada, Kebaikan Sepanjang Usia Bisa Rusak Oleh Setitik Noda

“(Dengan menyadari hakikat dirimu sebagai Jiwa) dengan menyadari tugasmu, kewajibanmu sebagai seorang kesatria, janganlah engkau gentar menghadapi pertempuran, tantangan di depan mata. Sungguh, bagi seorang kesatria tiadalah sesuatu yang lebih mulia dari pertempuran demi penegakan kebajikan dan keadilan.” Bhagavad Gita 2:31

https://bhagavadgita.or.id/

 

Pertempuran di medan perang Kuruksetra dihadapi oleh Arjuna. Arjuna menghadapi pertempuran di medan perang, kita menghadapi pertempuran di tengah masyarakat, di dalam keluarga. Di setiap tempat dalam kehidupan kita, kita menghadapi pertempuran. Bagaimana cara menghadapi?

Di sini Krishna mengatakan, seorang kesatria menghadapi pertempuran di medan perang. Tetapi jangan lupa, pertempuran itu demi penegakan kebajikan dan keadilan, demi dharma. Demi kebaikan jadi bukan asal bertempur. Begitu juga dalam usaha kita, dalam keluarga kita. Unsur dharma ini penting sekali. Tanpa unsur dharma, hidup kita akan selalu bergonjang-ganjing, selalu ada badai, ada taufan, dan kita akan tergonjang-ganjing, kita akan terbawa.

Badai taufan akan selalu ada, saya selalu memberikan contoh, seandainya kita mengingat kebijakan leluhur kita, dan tidak membangun, rumah, hotel, di atas 3 lantai, maksimum 3 lantai. Tahun 70-an itu waktu Pak Mantra masih menjadi Gubernur, ada peraturan nggak boleh membangun lebih tinggi daripada pohon kelapa. 2-3 lantai. Itupun yang membangun 2-3 lantai cuma hotel yang bisa dihitung dengan jari. Di Sanur ada 2-3 hotel. Di Kuta ada 1-2 hotel. Pertama kali tahun 70-an saya ke Bali itu Sanur masih hotel-hotel kecil dengan 1 lantai. 2 lantai pun nggak ada. Semacam guest house. Jadi beban pada bumi kita tidak besar, pulau kita kecil sekali. Kita membebani bumi ini tanpa kita berpikir jauh, bahwa kita nggak bisa membebani sebetulnya. Unsur dharma nya terlupakan. Dulu kita membangun kan ada kosala-kosali. Harus ada peraturan

Sekarang tidak, asal bangun. Saya tadi pagi ke Denpasar, ke Tabanan juga. Dalam perjalanan sekian banyak ruko kosong. Berarti apa? Berarti itu milik orang, entah bisnisnya nggak jalan dia tutup atau milik orang cuma mau investasi, terus ruko itu disewakan kepada orang-orang. Bisnis lagi down nggak ada yang mau sewa, tetapi beban di atas bumi kita ini, sudah bertambah. Ada yang mau sewa atau nggak mau sewa, beban di atas bumi kita sudah bertambah.

Apa pun yang kita lakukan, pertempuran ini bukan cuma pertempuran di medan perang, membangun rumah pun pertempuran. Suatu tantangan. Membangun keluarga juga pertempuran. Jangan cuma asal, oh cinta sudah, kawin.

Orang Jawa, orang Bali juga ada, bibit bobot bebet. Dari keluarga apa, penampilannya bagaimana, itu penting. Bukan cuma otak, penampilannya bagaimana? Coba kadang-kadang ketemu dengan orang, pintar sekali, begitu lagi lewat, bau badannya sudah tercium, Anda bisa pingsan. Walaupun dia orang pinter, dia apapun juga, kalau sudah tercium bau badannya…….

Jadi semuanya penting, penampilan penting, otak penting. Ini adalah dharma. Dharma bukan hanya di medan perang 5.000 tahun yang lalu. Bukan. Pertempuran sedang terjadi setiap saat, dalam keluarga kita, dalam rumah tangga kita. Kita harus elalu perhatikan, apa yang sedang terjadi ini, demi dharma atau hanya demi kemauan saya. Saya maunya begini. Ada kebaikan nggak di baik itu. Ada kebajikan tidak. Penting sekali.

Kalau mengawinkan anak kita juga jarus hati-hati. Menguliahkan anak juga harus hati-hati. Dalam segala hal, dengan suami hati-hati, dengan istri hati-hati. Bukan was-was, bukan prasangka, tapi hati-hati. Semua punya tugas masing-masing. Dan tugas kita jalankan sesuai dengan dharma.

 

“Betapa beruntungnya para kesatria yang mendapatkan kesempatan untuk bertempur demi menegakkan Kebajikan dan Keadilan, wahai Partha (Putra Prtha — sebutan lain bagi Kunti, Ibu Arjuna), baginya seolah gerbang surga terbuka lebar!” Bhagavad Gita 2:32

https://bhagavadgita.or.id/

 

Surga bukan di atas sana, bukan setelah kematian, kita bisa menikmati surga di dunia ini dan dalam kehidupan ini. Kalau kita sudah menjalankan tugas kita dengan baik, itulah surga. Tidak ada kekhawatiran. Kalau ada orang kerja pekerjaannya sudah bagus, dia tidak khawatir. Dia tidak memikirkan besok kalau saya tidak punya pekerjaan. Tidak ada majikan, tiak ada boss yang melepaskan staff, yang bekerja baik. Sementara itu kalau kita nggak bekerja baik, selalu khawatir.

Kenapa seorang ibu, seorang perempuan bisa khawatir kalau suami lagi main mata atau apa? Karena dia tidak mengerjakab tugas sebagai istri dengan baik. Dan begitu juga dengan suami, kalau dia ragu-ragu, dia tidak percaya pada istri, berarti dia juga tidak melakukan tugas dengan baik. Oleh karena itu kita selalu memproyeksikan diri. Lihat diri dalam orang itu apa yang ada dalam otak kita. Kalau kita tidak baik, kita melihat ketidakbaikan di mana-mana. Melakukan tugas dengan baik itulah surga. Itulah kenikmatan surga.

 

“Apabila kau tidak bertempur demi Kebajikan dan Keadilan; apabila kau menghindari kewajiban yang mulia ini, maka hanyalah  celaan yang akan kau peroleh.” Bhagavad Gita 2:33

https://bhagavadgita.or.id/

 

Tidak melakukan tugas, adalah celaan. Orang-orang yang tadinya begitu simpati dengan kita, menjunjung-junjungi, mereka mulai mengrikik, mereka mulai mencari-cari kesalahan dalam diri kita.

 

“Sepanjang masa semua orang akan mengenang perbuatanmu yang tercela. Dan, bagi seorang yang terhormat, cercaan seperti itu, sungguh lebih berat dari kematian sekalipun.” Bhagavad Gita 2:34

https://bhagavadgita.or.id/

 

Kita berbuat baik sepanjang usia, berbuat tidak baik satu kali saja seperti baju putih kalau kena nila, langsung kelihatan, kalau kena kotoran langsung kelihatan. Makin perbuatan kita baik, ada sedikitpun ketidakbaikan akan terlihat jelas. Jadi harus hati-hati. Harus setiap kali hati-hati, setiap saat hati-hati.

Saya selalu mengingatkan, di India kalau masak susu itu panci harus terpisah, karena di sana setiap hari orang minum susu. Panci untuk susu itu harus terpisah, jangan pakai panci yang dipakai untuk masak sesuatu. Kalau ada sedikit pun tersisa apa pun di situ, bekas makanan sedikit pun, kita makan sendiri, makanan itu baik, begitu kena susu, sunya akan pecah, susunya akan rusak.

Begitu juga, coba kita punya anak, kita namakan Sita, anyak nama Dewi. Ada nggak yang memberi nama Keikayi kepada anaknya. Tahu Kaikeyi? Ibu tirinya Rama, yang karena dia Rama harus diasingkan ke hutan. Ada nama anaknya Duryodhana?

Padahal kalau kita mempelajari sejarah, Kaikayi kesalahannya cuma satu itu. Kaikayi itu nggak punya kesalahan lain. Dia seorang wanita yang baik. Bukan cuma itu, dia mencintai Rama. Kenapa dia bisa demikian? Terpengaruh oleh pembantu. Makanya hati-hati kalau punya pembantu di rumah. Terpengaruh oleh pembantu Manthara yang punya masalah dengan Rama. Dia merasa dirinya sekali waktu diketawain karena dia bungkuk. Dan, dia tersinggung dan mendendam. Rasa dendam itu disimpan. Kemudian dia menggosok-gosok terus sampai Keikayi terpengaruh dan dia minta kepada Dasaratha, suaminya untuk mengasingkan Rama. Tapi karena satu kesalahan itu, tidak ada satu pun orang sudah 12.000 tahun, yang menamakan anaknya Kaikayi.

Duryodhana juga bukan orang-orang yang brengsek banget. Dia juga seorang kesatria. Tapi tidak ada satupun orang yang menamakan anaknya Duryodhana. Jadi satu kesalahan, satu noda, itu bisa sepanjang usia bisa dikenang, kebaikan bisa dilupakan. Anda juga kalau berbuat baik sama orang bisa terlupakan gara-gara satu kejelekan. Krishna mengingatkan kepada Arjuna, itu sifat manusia, masyarakat kita seperti itu. Jadi kalau kita masih mau hidup di tengah masyarakat, hati-hati.

 

Sumber: Video Youtube Bersama Anand Krishna Bhagavad Gita Dalam Hidup Sehari-Hari Percakapan 02 Ayat 31-41 Jangan Ragu Jalanilah Hidupmu Sesuai Kodratmu Itulah Yoga

https://www.akcjoglosemar.org/wp/

https://www.anandkrishna.org/

Wejangan Anand Krishna: Bantu Membaca Sloka-Sloka Ini Menjelang Ajal Seseorang Tiba

“Senjata tidak dapat membunuh Jiwa yang menghidupi badan. Api tidak dapat membakar-Nya; Air tidak dapat membasahi-Nya; dan, Angin tidak dapat mengeringkan-Nya.” Bhagavad Gita 2:23

https://bhagavadgita.or.id/

Jadi Jiwa ini tidak terpengaruh oleh kondisi apa pun. Juga setelah mati Jiwa melanjutkan perjalanannya.

 

“(Jiwa) tidak dapat dilukai, dibakar, dibasahi ataupun dikeringkan.  Ketahuilah bahwa Ia Abadi adanya; meliputi segalanya, tetap; tak-tergoyahkan, dan berada sejak awal mua.” Bhagavad Gita 2:24

 

“Ia (Jiwa), disebut Tidak Berwujud, Tidak Nyata; Melampaui Pikiran dan Tak Berubah. Dengan memahami hal ini, janganlah engkau bersedih hati.” Bhagavad Gita 2:25

https://bhagavadgita.or.id/

 

Setiap kali ada orang yang meninggal, leluhur, orang tua yang meninggal, ya pasti kita sedih. Orang yang kita sayangi meninggal, tapi juga pada saat itu penting sekali untuk memahami bahwa Jiwa itu abadi.

Jadi kalau ada orang yang sudah kelihatan akan meninggal tidak bisa diapa-apakan lagi, dokter sudah menyerah. Biasanya kita duduk bersama, dengan dia di rumah atau di rumah sakit, kita bacakan sloka-sloka ini. Itu akan sangat membantu dia. Karena walaupun badannya tidak bergerak, tapi Jiwa sedang mendengar, dan dia tahu dia harus melanjutkan perjalanannya. Jadi penting sekali. Untuk kita membantu, seseorang yang sedang meninggalkan badan. Bacakan sloka-sloka ini.

 

Seandainya kau anggap Ia (Jiwa) berulang kali lahir dan mati, terus-menerus, tanpa henti, tetap juga, wahai Mahabaho (Arjuna Berlengan Perkasa), layaknya kau tidak menangisi-Nya.” Bhagavad Gita 2:26

“Bagi yang lahir, kematian adalah keniscayaan; bagi yang mati, kelahiran adalah keniscayaan. Sebab itu janganlah bersedih hati, menangisi sesuatu yang sudah pasti terjadi.” Bhagavad Gita 2:27

https://bhagavadgita.or.id/

 

Nggak bisa kita lakukan sesuatu, mau cari dokter terbaik, mau diapakan juga, yang mati harus mati. Saya baru-baru ini baca, nggak tahu, tapi mungkin dokter Suartika dan dokter lain di sini, bisa melakukan penelitian sedikit.

Penelitian-penelitian mutakhir menunjukkan, ada beberapa grup yang mereka lihat kena kanker. Dilakukan chemotherapy, dan macam-macam. Mereka masih bisa bertahan hidup dua setengah sampai tiga tahun maksimum. Dan kondisi hidupnya itu keluar masuk rumah sakit, berulang kali chemotherapy.

Terus ada grup lagi 16 orang, kondisinya sama, tidak dichemotherapy, tidak diapa-apakan, karena pasiennya memang tidak mau. Dia makan herbal ,makan obat-obatan ringan, multivitamin atau apa. Makanan dia perbaiki, tidak makan daging. Makan sayur-sayuran. Mereka masih bisa hidup 7 tahun, 8 tahun, ada yang 10 tahun tanpa chemotherapy. Tentu ini harus kita pelajari lagi.

Jadi yang mati itu badan. Kita kalau bisa mengurusi badan, selama kita masih membutuhkan badan ini, kita mengurusi dengan baik. Dan mengurusi dengan baik berarti bahan bakar yang kita masukkan baik. Kan ada apa itu kalau isi bensin, ada pertamax ada premium. Yang paling baik pertamax kan? Nah kalau mau badannya baik, isikan pertamax sayur-sayuran. Kalau agar badan, mobilnya ada bunyi sedikit, pakai diesel, pakai daging. Kalau diesel itu pasti bunyai kan, sebentar-sebentar sakit batuk apa. Terserah kita. Nggak ada larangan.

Dalam hidup itu nggak ada larangan, kita pintar-pintar, kalau mobilnya mau bunyi-bunyi, makan babi guling. Kalau mobilnya nggak mau bunyi-bunyi seperti yang saya bilang kepada Dian, kalau sudah bikin janji mau babi guling, ya babi diguling-gulingin. Sudah. Nggak usah disembelih. Dia juga enak, juga senang, wah ini pertama kali ketemu orang Bali yang bisa main-main sama saya, biasa saya dikejar-kejar dibunuh, mungkin babinya juga berdoa semoga Dian ini lebih panjang usianya.

Kembali, hari ini pelajaran kita adalah Jiwa itu adalah abadi. Badan sedang punah, badan bisa mati tapi Jiwa adalah abadi, dia tidak pernah mati. Pada saat yang sama, karena Jiwa sekarang lagi menggunakan badan ini, punya mobil di rumah, mobil harus dirawat kan, nggak bisa mobil nggak dirawat, dibiarkan begitu saja. Badan juga harus dirawat, dengan baik, dikasih bahan bakar yang bagus, paling bagus, supaya nggak bersuara mobilnya. Dan kita sampai tujuan dengan selamat.

Sumber: Bhagavad Gita dalam Hidup Sehari-hari, Percakapan 02:01-14, Hadapi Tantangan Jangan Menyerah Bersama Anand Krishna

https://www.akcjoglosemar.org/wp/

https://www.anandkrishna.org/

 

Wejangan Anand Krishna: Shraaddha, Cara Menghormati Roh Leluhur Kita

“Ia Hyang Kekal Abadi, Tak Termusnahkan, dan Tak Terukur (Kemuliaan, Keagungan, dan Kekuasaan-Nya) itulah yang menempati wujud manusia dan wujud makhluk-makhluk lainnya. Maka, wahai Bharata (Arjuna, keturunan Raja Bharat), bertempurlah, hadapi tantangan ini!” Bhagavad Gita 2:18

https://bhagavadgita.or.id/

 

Tuhan itu nggak bisa diukur. Kemuliaaan Tuhan berapa persen atau berapa meter atau berapa dimensinya, nggak bisa terukur.

Kita sedang menghadapi tantangan. Dalam hidup ini, setiap saat, kita menghadapi tantangan. Tantangan Arjuna adalah bertempur di medan perang. Tantangan kita lebih banyak lagi. Di rumah ada berapa macam tantangan? Anak masih kecil masih bisa diatur, kalau sudah besar sedikit, mengatur anak pun menjadi tantangan. Waktu masih kecl masih oke, sekarang, “Ma maunya apa sih?” Nggak enak ekali mendengar. Kadang-kadang anak bisa bicara begitu lho, “Papi maunya apa sih?” “Bapak maunya apa sih?” “Maunya apa? Kita yang ngegedein kamu dari dulu kalau nggak sudah……..”

Coba bayangkan manusia itu makhluk jenis binatang paling lemah. Kenapa saya katakan begitu? Anjing melahirkan anak, langsung anak itu sudah lari-lari kan? Kucing melahirkan, anak langsung lari-lari. Ayam menetas langsung cari makan sendiri.  Burung juga begitu, hanya manusia, anak itu kalau nggak dipelihara, sampai berapa bulan, berapa tahun, mati dia.

Jalanpun harus diajarkan. Burung, tidak ada induknya mengajarkan, “Hai anak, kalau terbang itu begini.” Ikan juga tidak mengajarkan anaknya berenang. Anak-anak kita ini kurang ajar. Sudah diajarin masih kurang ajar. Jadi tantangan kita jauh melebihi tantangan Arjuna, tantangan hewan-hewan. Arjuna tantangannya satu kembali ke rumah selesai. Kita tantangannya setiap saat.

Saya tanya kepada seorang gadis orang Bali. Dia sudah dua kali pacaran dengan orang Jawa. Saya tanya mengapa tidak cari orang Bali? Nggak apa-apa, saya ngak rasis saya bukan orang Jawa Bali. Saya cuma tanya saja kenapa. Tahu nggak jawabnya, “Pak orang Bali, pria Bali tidak pernah memperhatikan wanitanya. Kalau orang Jawa lebih memperhatikan. Tapi begitulah kondisi kita. Orang tidak diperhatikan susah, diperhatikan susah.

Tiba-tiba suami datang ke rumah. Bilang kepada istrinya, “Sayang”, sudah 5 tahun nggak bilang sayang, tiba-tiba dia bilang sayang. Ada sesuatu lho jangan cepat-cepat bahagia. Ada udang di balik batu.

Kena, banyak yang kena, hahaha…..

Jadi tantangan kita berat sekali. Tantangan setiap saat dari anak, dari suami, dari macam-macam. Dari keluarga dari keluarga besar, dari keluarga suami dari keluarga istri. Berbagai macam tantangan.

Untuk menghadapi tantangan itu selalu ingat Hyang Kekal Abadi Tidak Pernah Berubah. Kita berubah-ubah, hari ini mertua lagi begini, besok akan begitu. Jangan diambil dalam hati. Kalau diambil dalam hati kita sendiri yang sakit. Mertua sudah tua ya mau diapakan lagi. Terimalah. Kalau sedikit sedikit diambil dalam hati, nggak bisa.

 

Ia yang menganggap Jiwa ini sebagai pembunuh; dan yang menganggapnya terbunuh—kedua-duanya tidak memahami Hakikat Jiwa yang tidak pernah membunuh, maupun terbunuh.” Bhagavad Gita 2:19

https://bhagavadgita.or.id/

 

Badan kita yang berubah-ubah sedang mati, tapi Jiwa seperti listrik. Ada pembangkit listrik yang mengalirkan listrik ke rumah kita. Kalau rumah kita mati lampu tidak berarti listriknya rusak, cuma 1 phase saja. Pembangkit listriknya tetap membangkitkan listrik, hanya dari rumah ke rumah tidak masuk. Begitu juga Jiwa tetap abadi. Jika sudah meninggalkan badan, badan tidak bisa berfungsi lagi.

 

“Ia (Jiwa) tidak pernah lahir, dan tidak pernah mati. Tak-Terlahirkan, Kekal-Abadi, Langgeng, dan Hyang Mengawali segalanya. Asal usul segala sesuatu, Hyang Ada sejak awal, dan tidak ikut punah ketika raga mengalami kepunahan, kemusnahan, kematian, terbunuh.” Bhagavad Gita 2:20

https://bhagavadgita.or.id/

 

Kalaupun badan sudah terbunuh, mati, kecelakaan, Jiwa tetap ada, Jiwa tetap tidak terbunuh, Jiwa abadi. Di sini pun kadang-kadang kita menyalahartikan. Abadi tidak berati gentayangan terus, dia ke mana-mana. Ketika saya mati, apa yang Anda katakan, Anand Krishna, Guruji sudah meninggal dunia. Yang meninggal siapa? Kan badannya masih ada di situ. Berarti ada sesuatu yang meninggakan badan itu. Itulah Jiwa.

 

“Seseorang yang mengetahui hal ini; mengenal dirinya sebagai yang tak termusnahkan, tak-terlahirkan, dan tidak pernah punah, bagaimana pula iadapat terbunuh, wahai Partha (Putra Prtha – sebutan bagi Kunti, ibu Arjuna)? Dan, bagaimana pula ia dapat membunuh?” Bhagavad Gita 2:21

“Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama, seseorang memakai baju baru, demikian pula setelah meninggalkan badan lama, Jiwa yang menghidupinya, menemukan badan baru.” Bhagavad Gita 2:22

https://bhagavadgita.or.id/

 

Di sini kita harus, hati-hati sekali. Jiwa dalam pengertian soul ini, dia keluar. Badan sudah nggak bisa digunakan lagi. Kita ngabenkan, kita perabukan, mau dikubur, mau di apa. Tetapi, ini saya juga pernah cerita sebelumnya, ada sesuatu yang menghubungkan, badan yang sudah mati ini dengan soul, dengan roh, dengan Jiwa. Jiwa adalah kata lain, kata tepatnya adalah roh atau soul. Jiwa lebih tinggi lagi. Roh ini sedang gentayangan. Dia sedang gentayangan di sekitar badan itu. Kalau badan itu belum punah, belum musnah, roh ini akan gentayangan terus. Oleh karena itu dalam tradisi budaya kita, kita langsung mengabenkan, langsung dikremasi diperabukan, supaya hubungan ini terputus. Kalau hubungan ini teputus, soul ini, roh ini tahu, “saya sudah mati”, dan ia akan melanjutkan perjalanannya.

 

Kalau tidak cepat-cepat diabenkan, kalau tidak cepat cepat diperabukan, maka roh ini akan gentayangan. Dan ini yang terjadi di mana-mana di Barat, di sini juga. Roh-roh yang gentayangan ini masih terikat dengan badan yang masih belum busuk, belum musnah ini. Masih terikat dengan keluarga, masih terikat dengan rumah, dengan mobil, dengan apa saja yang pernah dia miliki. Kita bisa panggil, orang-orang bisa panggil. Memanggil roh itu. Tetapi roh yang masih gentayangan, terikat, dipanggil kita justru memperlambat, proses perjalanan dia. Kita membuat dia tetap berada di sekitar sini. Dan itu sangat menyengsarakan roh.

Jadi jangan anggap bagus kalau panggil roh siapa, panggil roh leluhur. Itu membuat mereka lebih terikat dengan dunia. Dan tidak bisa melanjutkan perjalanan. Tetapi kalau sudah diabenkan sudah diperabukan, sudah menjadi abu, dia sudah tahu bahwa dia tidak terikat lagi, badan sudah nggak ada. Jadi kalau setelah badan diabukan, dia ngerti, dia melanjutkan perjalanan. Terus Anda ke seorang dukun dan dukun mengatakan, “Saya bisa komunikasi dengan mitra dengan leluhurmu.” Leluhur mana yang berkomunikasi? Leluhur sudah lahir lagi, nggak bisa lagi komunikasi. Jadi kita juga harus pintar-pintar. Jangan dibodohin terus. “Kamu melakukan ini, kamu sumbang ini, kamu bikin ini, bikin banten!” Jangan cepat-cepat menerima semua itu, karena kita boleh menghormati leluhur, boleh dan wajib.

Dalam Hindu ada istilah shraaddha. Shraaddha itu adalah menghormati leluhur. Dan menghormati leluhur bisa dengan berbagai cara. Dalam Hindu diajarkan cara-caranya. Membuat buku, kasih nama orang tua atau siapa, yang sudah meninggal. Bagikan buku tersebut gratis, atau membuat makanan.

Kemarin saya ke Solo. Ketika saya belum lahir, ibu saya setelah melahirkan kakak saya perempuan, 16 tahun tidak mengandung lagi. Jadi kemana-mana cari, minta doa apa, supaya bisa punya anak. Bapak saya ketemu dengan seorang perempuan dari kraton yang meninggalkan kraton, dia menggundulkan kepalanya. Dia hidup sebagai seorang brahmacari. Namanya ibu Srini. Kemarin saya ke makamnya. Dia seorang yang jiwanya kejawen, theosofi, cara pandangnya sangat luas. Dan beliau mengajarkan apa? Ada orang datang, minta berkah, supaya mendapatkan anak, atau rejeki atau jodoh, cara-caranya itu simple. Orang Jawa kalau bikin banten, persembahan, banyak sekali. Ini nggak demikian. Persembahan dia apa? Pergi ke Bengawan Solo kasih makan ikan. Atau hari Kamis, hari Jumat, masak nasi kuning beri pada fakir miskin. Itu bantennya. Dan itu cara Hindu.

Jadi shraaddha itu apa? Ada satu bulan, sekarang bulan yang dipersembahkan kepada leluhur. Seperti Galungan Kuningan gitu kan, leluhur kita datang terus pulang. Kalau Galungan Kuningan setahun dua kali, kalau di India satu kali. Selama satu bulan itu. Kita kaitkan leluhur kita yang meninggal bapak atau ibu atau siapa, meninggalnya tanggal berapa disesuaikan tanggalnya. Atau kalau tidak pilih tanggal manapun juga setahun sekali bagikan makanan kepada yatim piatu, berikan kain, pakaian apa yang mereka butuhkan. Jadi tidak membuang begitu saja.

Berikan sesuatu. Adopsi anak yatim yang tidak punya keluarga atau keluarganya sudah meninggal. Dia tidak punya uang untuk melanjutkan sekolah. Coba adopsi anak seperti itu atas nama orang tua yang sudah meninggal. Atas nama leluhur. Itu adalah cara yang paling, paling efektif. Untuk mengenang jasa-jasa leluhur. Atas nama leluhur bukan atas nama saya pribadi. Ini atas nama leluhur saya mengadopsi anak ini, saya bayar kuliahnya, saya bayar, sekolahnya atau saya beri makan kepada orang-orang yang butuh makanan. Jadi ada banyak cara yang lebih baik, dalam pengertian lebih mengena, lebih membantu seesama manusia. Coba pikirkan. Jangan cepat-cepat mengikuti saya.

Sumber: Bhagavad Gita dalam Hidup Sehari-hari, percakapan 02: 15-27, Menghadapi Kematian, Memahami Keabadian Jiwa, Bersama Anand Krishna

https://www.akcjoglosemar.org/wp/

https://www.anandkrishna.org/

 

Wejangan Anand Krishna: Karma Berbuah Cepat dan Karma Berbuah Lama

Wahai Purusarsabha (Arjuna, Banteng di antara Manusia), para bijak yang tidak terpengaruh oleh pengalaman-pengalaman yang tercipta oleh hubungan antara indra dan dunia benda; mereka yang menganggap sama suka dan duka; sesungguhnya tengah menuju keabadian.” Bhagavad Gita 2:15

https://bhagavadgita.or.id/

 

Semua pengalaman terjadi karena ada hubungan antara indra kita, panca indra dengan benda-benda di luar. Mulut berhubungan dengan makanan, baru terjadi pengalaman. Kalau ada makanan tidak ada mulut tidak ada pengalaman. Ada sesuatu di luar kalau kita bisa melihat, kita terpengaruh. Kalau kita tidak melihat, kita tidak terpengaruh. Ada orang menjelek-jelekkan kita, kita tidak mendengar, tidak terpengaruh. Tapi begitu mendengar, si dia bicara tentang saya, langsung kita terpengaruh.

Segala macam pengalaman yang kita alami dalam hidup ini, karena ada hubungan, dan hubungan ini kadang-kadang, misalnya lagi sakit panas, baru mau sembuh atau apa, biasa mulut akan pahit sekali kan? Diberi makanan yang seenak apa pun juga, biasanya kita suka makanan itu, tapi kalau mulut lagi pahit, kita diberi makanan apa pun, rasa nggak enak. Kalau hati tidak tenang, tidak tentram, diajak bicara pun kita tidak enak. Jadi kita melihat semua pengalaman itu, karena indra kita berhubungan dengan dunia luar. Jelas kan kira-kira, ya?

Kalau orang memahami hal itu maka dia menganggap sama suka dan duka. Ada makanan dia tidak lagi milih-milih, makanan yang sehat kita makan. Ada pengalaman suka, ada pengalaman duka, kadang naik, kadang turun, kadang hati lagi gelisah , galau, kadang hati lagi senang, semuanya itu silih berganti. Karena kondisi-kondisi, keadaan-keadaan yang berganti. Lagi sakit apa pun, di luar terasa tidak enak. Lagi enak kadang-kadang di luar ada hal-hal tidak enak pun, kita tidak apa-apa.

Jadi kalau kita memahami hal itu, bahwa semua pengalaman terjadi karena indra kita. Tangan, mulut mata, kuping, pendengar, semuanya karena indra-indra ini. Kita bisa mengalami berganti-ganti setiap saat. Tidak ada pengalaman yang abadi.

 

“Adalah suatu keniscayaan bahwa apa yang tidak ada tak akan pernah ada; dan apa yang ada, tidak akan pernah tidak ada. Keniscayaan kedua hal ini dipahami oleh mereka yang telah menyaksikan kebenaran.” Bhagavad Gita 2:16

https://bhagavadgita.or.id/

 

Banyak di antara kita meng ada-ada, ada suara sedikit, wah itu ada suara apa? Suara ya suara mungkin kucing lagi lewat atau apa, tapi kita mengada-ada. Seolah-olah terjadi sesuatu, padahal tidak terjadi apa-apa. Kondisi memang begitu.

Gunung Agung lagi meletus. Kenapa lagi meletus, karena ada racun-racun gas-gas dalam perutnya. Kalau kita lagi banyak gas dalam perut apa yang terjadi? Sendawa, kentut. Gunung Agung mau kentut, kita bilang “Nggak, Gunung Agung jangan kentut!” Kita bawa binatang, bawa hewan yang tidak bersalah kita buang ke dalam kawahnya, “Makan hewan ini jangan kentut!” Lagi sendawa coba kalian diberi makanan. Gas sudah sampai ke sini (leher) dikasih makanan apa yang terjadi. Bisa mati lho. Gas yang sudah naik itu bisa mempengaruhi jantung.

Kita bilang Gunung Agung itu Bhatara kan? Dewa kan, masa makan binatang? Kita mengada-ada. Kita anggap bahwa dengan cara begitu kita bisa membuat Gunung Agung senang. Yang senang siapa? Kita mempersembahkan sate, yang makan siapa? Kita mempersembahkan apa, yang makan siapa?

Coba pikirkan, kita mengada-ada. Tidak pernah ada kita anggap ada. Ada kita anggap tidak ada pikirkan.

 

“Ketahuilah bahwa Hyang Meliputi alam semesta adalah Tak Termusnahkan. Tiada seorang pun yang dapat memusnahkan Ia Hyang Tak Termusnahkan.” Bhagavad Gita 2:17

https://bhagavadgita.or.id/

 

Sang Hyang Widhi tidak pernah dimusnahkan. Dia tidak perlu atau dewa-dewa ini tidak perlu, tidak  membutuhkan persembahan berbentuk daging atau apa? Persembahan yang kita berikan, adalah untuk menunjukkan rasa hormat kita. Mau memberikan bunga dibuat sesajen, banten dengan bunga dengan apa, menunjukkankan keindahan hati Anda. Di India, mereka memberikan bunga begitu saja. Di Bali kita rangkai kan? Dibuat banten yang indah, bagus itu nggak ada masalah, itu menunjukkan keindahan diri kita, apa yang indah dalam diri kita.

Kalau kita mempersembahkan binatang, kita mempersembahkan kebinatangan diri kita, tapi binatang-binatang yang tidak bersalah jadi korban. Ada hukum karma yang berlaku, saya ingat:

Pada suatu ketika Raja dari Nepal, bersama seluruh keluarganya, datang ke Guru saya. Minta berkah. Datang daan diterima oleh beliau, kebetulan di situ ada 2-3 murid dari sekolah, dari universitas, beberapa dosen juga, mereka mendengar semua kejadian ini.

Apa yang saya ceritakan ini, saya dengar dari mereka. Raja ini bilang kepada Baba, Swami saya ingin berbuat sesuatu dari Nepal, mau membangun gedung sekolah, atau apa. Guru mengatakan beri saya satu janji saja, jangan membuat sekolah jangan membuat apa, semuanya sudah ada di sini. Berikan saya satu janji saja. Jangan lagi mengadakan penyembelihan hewan, untuk acara keagamaan. Raja mengatakan baik.

Pulang kenegaranya dia lupa, tidak sampai satu tahun, seluruh kerajaan itu beserta seluruh anggota keluarga mati terbunuh dengan kondisi yang mengenaskan.

Ini bukan menakut-nakuti, kadang-kadang kita berbuat apa-apa, oke-oke kok nggak terjadi apa-apa. Ada karma yang berbuah cepat, lagi kurang enak badan makan es langsung tenggorokan gatal langsung kena infeksi, masuk angin atau apa. Tapi ada karma yang berbuahnya lama seperti pohon mangga beberapa tahun. 4-5 tahun kan? Baru bisa berbuah. Pisang beberapa bulan sudah berbuah. Padi berapa bulan? Ada karma-karma yang berbuahnya 30 tahun kemudian. 40 tahun kemudian.

Kadang-kadang orang bertanya, kita makan sekian banyak ayam, masak karma kita-kita akan lahir sebagai ayam sekian kali? Setiap orang Indonesia makan 6.000 dalam seumur hidup. Sekarang lebih, 6.000 ekor itu tahun 80-an. Sekarang kita makan ke junk food itu kadang-kadang satu keluarga makan family pack, itu sudah berapa ekor. Jadi sekarang mungkin lebih dari itu. Kalau kita harus jadi ayam 6.000 kali nggak habis-habis karma kita. Maka daging-daging ini, binatang-binatang yang kita makan ini, menyerang kita, sebagai berbagai macam penyakit, salah satu penyakit adalah kanker. Kanker itu adalah serangan dari roh-roh binatang ini yang menjadi sel-sel kanker. Setiap sel itu hidup lho. Ada berapa trilyun sel dalam tubuh kita. Jangan pikir badan kita hanya satu kehidupan. Ada trilyunan kehidupan dalam kehidupan kita. Tidak ada satu pun karma yang kita buat, kita bebas dari karma, mustahil. Tidak mungkin. Jadi kita harus berhati-hari.

Sesuatu yang tidak temusnahkan adalah Tuhan, tapi sel-sel dalam tubuh kita, badan kita sedang temusnahkan. Tuhan tidak terganggu oleh itu, nanti kita mati pun Tuhan tidak terganggu. Yang terganggu siapa? Kita semua akan mati kita juga tahu, tapi apakah kita mati dengan senyuman? Atau mati dengan aduh aduh aduh. Kesakitan itu di tangan kita. Kita bisa bisa menentukan.

Sumber: Bhagavad Gita dalam Hidup Sehari-hari, percakapan 02: 15-27, Menghadapi Kematian, Memahami Keabadian Jiwa, Bersama Anand Krishna

https://www.akcjoglosemar.org/wp/

https://www.anandkrishna.org/