Belajar Untuk Mengalah oleh Guruji Anand Krishna

Apakah yang Perlu Dipersiapkan Saat Anak-Anak Kita Sudah Lulus dan Mulai Bekerja?

Kita akan mengalami hal tersebut, dan inilah Nasihat Guruji Anand Krishna,

 

Eda Nagih Ngungkulin Timpal Dogen.

Apang Bisa Masih Ngalap Kasor

Kearifan Lokal Bali

 

Berarti, “Jangan mengejar kemenangan melulu, belajarlah juga untuk mengalah.“ Tetapi petuah tinggal petuah, kebijakan luhur tinggal kebijakan. Nasihal leluhur tinggal nasihat – siapa yang mau mengalah? Tiada scoraug pun, kecuali ia yang mengenal Dharma, ia yang memahami Dharma. Baginya tiada lagi kekalahan. Urusannya bukan kemenangan atau kekalahan.Urusannya adalah turun dari ketinggian secara sukarela, melengserkan diri secara anggun. Meninggalkan pesta  yang masih ramai, tidak menjadi tamu terakhir.

Guru saya selalu mengingalkan bahwa ketika sudah berusia 48 tahun, dan anak-anak sudah selesai kulih, sudah mulai bekerja – tentunya kalau punya anak – maka sepasang suami isteri yang mengerti Dharma akan mulai mempersiapkan diri untuk vanaprastha ashram.

Setelah melewati masa Brahmacharya, dimana seorang sanatani, seorang yang melakoni Sanatana Hindu Dharma, bukan Hindu Bali atau Hindu India, atau Hindu varian lainnya, tapi Sanatana Hindu Dharma, Hindu yang sesuai dengan nilai-nilai luhur atau Dharma yang bersiaft sanatana, universal, langgeng, dan abadi – memasuki Grihastha Ashram.

Bekerja, kawin dan membina keluarga dengan urutan yang tepat – untuk Grihastha Ashram. Tidak menjalin hubungan yang tidak pantas dijalin sebelum memeliki pekerjaan dan kawin. Tidak hamil atau menghamili sebeum ada ikatan sakral vivaha, dan memiliki pekerjaan. Intinya tidak menyusahkan orang, tidak merepotkan orangtua, pun tidak membebani diri.

Tentunya Grihastha adalah sebuah pilihan, tidak ada yang bisa memaksa seorang Vivekananda untuk kawin. Seorang yang mau mengabdi kepada masyarakat, kepada manusia dan dan kemanusiaan dan tidak memiliki keinginan Iain, bisa saja lompat memasuki sanyas ashram – mengabdi purna waktu – tanpa melewati tahapan-tahapan lainnya.

Bagi mereka yang memilih unluk melewali grihastha ashram pun. anjurannya seperti di atas. Setelah anak-anak sudah bekerja, mempcrsiapkan diri untuk sanyas ashram dengan memasuki vanapratha ashram.

Vanaprastha tidak mesti diartikan scbagai “masuk hutan.“ Berkarya di tengah hutan beton dan baja – di tengah keramaian dunia – tanpa kelerikatan dan pamrih, kepentingan diri – demikianlah semestinya vanaprastha diartikan dalam masa kini.

Untuk itu, seorang tidak lagi membutuhkan kcdudukan,  status, dan sebagainya. Unluk melayani sesama, tiadalah dibutuhkan jabatan.

Jadi, ada saatnya kita naik gunung, ada saatnya kita turun gunung. Ada saatnya kita bekerja untuk keluarga, dan ada saatnya kita bekerja untuk masyarakat. Ada saatnya kita menjadipejabat, dan  digaji. Ada saatnya kita pensiun dan mengabdi tanpa pamerih.

Jika kita mengindahkan anjuran dharma ini – tiadalah kekalahan bagi kila. Bagi seorang dharmika – pelaku dhama – yang sadar akan dharma-nya, tiada yang menyusahkan.

Kesusahan disebabkan oleh kebiasaan kita yang maunya selalu dijunjung, dipuji, dan dikelilingi oleh mereka yang berprofesi sebagai penjilat. Kesusahan disebabkan oleh keengganan kita untuk melepaskan kedudukan, status, dan segalanya yang sedang kita nikmati – dan mengahdi dengan semangat pelayan, betul-betul pelayan.

………………….

Silakan baca pada Tautan berikut

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s