Renungan di Akhir Tahun 2018, Menghayati Kepergian Para Sahabat

Ucapkan Nama-Nya Ketika Maut Datang Menjemput

Ketika musibah menimpa dirimu, sebut nama-Nya dan katakan, “O Tuhan, kasihku, sayangku!” Ketika maut datang menjemputmu, ucapkan asma-Nya, dan katakan, “O Tuhan, kasihku, sayangku aku merasakan kehadiran-Mu! Aku melihat wujud-Mu. Kau berada di sampingku. Aku milikmu, bukan milik dunia ini….”

Cukup, jangan menambah sesuatu apa pun. Hanya mengucapkan “O Tuhan, kasihku, sayangku” – sudah cukup. Ia Maha Tahu. Ia tahu persis, apa yang kita butuhkan. Renungan Harian untuk 22 Desember, Bersama Vivekananda Sang Swami.

Sumber: (Krishna, Anand. (2002). Renungan Harian Penunjang Meditasi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama)

 

“Kauteya (Arjuna, Putra Kunti), di bawah pengawasan-Ku, roda Samsara semesta berputar terus, menyebabkan munculnya makhluk-makhluk bernyawa, bergerak; maupun benda-benda yang tidak bergerak.”Bhagavad Gita 9:10

Alam ini sepenuhnya berada di bawah pengawasan-Nya. Nah, implikasi dari pemahaman ini jauh melebihi bayangan kita. Jika semuanya berada di bawah pengawasan-Nya, Roda Samsara, Alam Semesta pun berputar karena dan atas kehendak-Nya – maka, tidak ada lagi sesuatu yang bisa disebut kecelakaan…

Tidak ada pula kebetulan – Kebetulan saya berada di tempat yang salah, maka saya terlibat dalam buku tembak antara dua geng – dan ikut kena tembakan. Saya luka. ‘Tidak ada kebetulan seperti itu. Ingat, Dia adaalah Hyang Maha Mengawasi – sang Pengawas Agung.

Pengalaman suka dan duka terjadi karena perbuataan kita sendiri. Karena keterikataan kita sendiri. Ya, kita bertanggung jawab sepenuhnya atas apa yang menimpa diri kita. Dia- Gusti Pangeran – senantiasa mengawasi supaya semuanya berjalan lancar sesuai dengan hukum-hukum alam yang ada atas kehendak-Nya pula!

Sumber: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

 

Meninggalnya 2 Sahabat dan 1 Saudara di Bulan Desember

Pertama,

Pada tanggal 10 Desember 2018, setelah menderita kanker usus selama 1.5 tahun seorang sahabat meninggalkan dunia. Apakah mengirimkan energi divya usada jarak jauh membantunya? Siapakah kita yang merasa dapat membantunya? Keberhasilan hanyalah tindakan yang selaras dengan Kehendak-Nya. Yang penting adalah Kehendak-Nya.

Dalam Bhagavad Gita disampaikan Karma Yoga, berkarma tanpa pamrih pribadi, yang penting bukan hasilnya. Bukan pula kita acuh, karena berpikir itu kan buah karma dia? Bukan begitu, tapi tindakan dharma apakah yang dapat kita lakukan? Perhatikan sewaktu Guruji menengok, itulah yang perlu diteladani.

Karma itu seperti kartu-kartu dari kayu tipis yang diberdirikan melingkar. Karena kita menjatuhkan satu kartu di sebelah kita, kartu yang kita jatuhkan akan menjatuhkan kartu sebelahnya juga sampai akhirnya kartu terakhir akan menjatuhkan kita. Kalau kami sepasang orang tua harus pergi ke Semarang atau Temanggung atau Pati, seseorang di kehidupan masa lalu pernah bertindak yang serupa kepada kami. Lakoni saja.

 

Pada tanggal 11 Desember, saya dan istri datang ke rumah duka di Temanggung, berangkat setelah mengadakan Terapi Divya Usadha bersama beberapa teman di Alun-Alun Kidul Jogja. Pertimbangan efisiensi dan waktu tidak mungkin menunggu teman-teman Jogja yang masih melakukan pelayanan di Taman Pintar, sehingga kami berdua langsung berangkat ke rumah duka. Siang hari selesai memberikan penghormatan terakhir, pulang ke Solo lewat jalan pintas Kopeng Salatiga yang berkelok-kelok melintasi lereng perbukitan dengan naik turun yang membuat kita perlu waspada.

Usia sudah 64 tahun istri 61 tahun, kami berdua berangkat dari Solo pk. 04.30, mengemudi Solo-Jogja yang di Aplikasi Waze tertulis 1.5 jam kami tempuh lebih dari 2 jam, karena di Klaten Jalan Utama ditutup persiapan Car Frre Day. Perjalanan dari Jogja ke Temanggung yang diperkirakan 2.5 jam kita tempuh dalam 3.5 jam karena berhenti di Rumah Makan, sarapan dan ganti baju. Perjalanan dari pulang dari Temanggung ke Solo diperkirakan 3 jam kita tempuh dalam waktu 4 jam.

Sampai Solo istirahat dan rencana esok tidak ke mana-mana. Apakah rencana kita dapat dilaksanakan, bisa asal sesuai dengan Kehendak Gusti. Dan Gusti berkehendak lain.

 

Kedua,

Pagi hari 12 Desember, sehabis keluar rumah sebentar kita mau istirahat, keponakan perempuan menelpon bahwa ayahnya, kakak kandung saya meninggal di Jogja. Dia dan ibunya dalam perjalanan ke Jogja dan tidak tahu nanti cara membawa Jenazah dari Jogja. Kita berdua langsung dalam hujan lebat ke Jogja.

Di Jogja itulah saya mengenal kebaikan kakak dari cerita-cerita para tetangganya. Sebagai gambaran yang tidak bisa dipahami orang awam seperti kami. Kakak kami yang pernah menjabat di imigrasi, bisa menghidupi istrinya dengan layak, deposito keluarga, uang kontrakan rumah di Jakarta, dan sebagian pensiun untuk keluarganya. Dia hidup sederhana di Jogja di kost sederhana bersama para mahasiswa di tempat biasa jauh dari elit. Tetapi semua tetangganya mengatakan dia orang baik. Saya baru sadar itu mungkin caranya dia melepaskan diri dari keterikatan yang telah dlakoninya selama 7 tahun.

Pk. 05.00 pagi kakak masih subuhan bersama, pk. 09.00 merasa pusing dan diantar temannya ke Puskesmas. Pk. 11.00 ditawari makan teman-temannya, menolak dengan kedua tangan ditangkupkan di depan dada, mengucakan terima kasih-terima kasih. Pk 13.00 meninggal dengan tersenyum. Saya masih menyimpan foto kakak saya sedang tersenyum di akhir hayatnya yang dikirim anak ibu kost-nya.

Bisakah kita meninggal dengan tersenyum? Harus dibuktikan lebih dahulu.

Haruskah kita meninggal dengan tersenyum? Tidak juga, bagi para Master yang penting adalah apa yang kita lakukan setiap saat. Cara kematian kita skenario Dia, nggak usah dipikirkan. Banyak Master dan Orang Suci meninggal denga cara mengenaskan.

Guruji juga menyampaikan:

Hidup yang diawali dengan sebuah tangisan, harus diakhiri dengan sebuah senyuman. Ketika engkau masih bayi, orang-orang disekitarmu tetap tersenyum walaupun engkau terus menangis. Ketika engkau mati, orang-orang disekitarmu akan meratapi kehilangan ini, namun engkau semestinya tersenyum dalam damai dan mengundurkan diri dengan tenang.

Sumber: (Das, Sai. (2012). Sai Anand Gita Kidung Mulia Kebahagiaan Sejati. Koperasi Global Anand Krishna Indonesia)

Silakan juga lihat Video Guruji: Bhagavad Gita and Yoga in Modern Times by Anand Krishna, beliau di akhir video bertanya, bisakah kita tersenyum di akhir episode kehidupan ini?

 

Ketiga,

Flash back ke tanggal 2 Desember 2018, teman-teman Joglosemar diundang salah seorang teman yang tinggal di Karanggede Boyolali. Di tempat tersebut kita latihan Emotion Culturing Bersama dan sahabat tersesebut menyampaikan bahwa penyumbatan jantung yang sudah dialaminya sudah berat tinggal 37 %. Pasang Ring sudah tidak membantu, harus Bypass. Rencana tanggal 17 Desember masuk Rumah Sakit dan 19 Desember operasi.

Pada tanggal 19 Desember 2018 pagi karena salah makan, perut rasanya sakit tak tertahankan. Kami ke dokter 24 jam memperoleh obat dan pulang ke rumah dengan masih sakit. Seorang keponakan mengerti pijat syaraf bekerja dan akhirnya saya bisa tidur pulas. Pada waktu dipijat itulah kami mendengar kabar duka sahabat yang selesai dioperasi dibawa ke ICU dalam keadaan tidak stabil dan akhirnya meninggal.

Masih ada kisah satu lagi, kakak istri saya sakit, punggung dan tengkuknya seperti menerima beban puluhan kilo. Kami dan istri ke rumahnya pada tinggal 3 Desember sekitar jam 4 pagi dan kemudian mengantar ke Rumah Sakit, ternyata darah tinggi 184/114. Setelah diberi obat kami antar pulang dan selesai?

Belum, esoknya masih pagi-pagi kami diminta mengantar ke rumah sakit dadanya sesak napas. Kami masih berpikir, bahwa obat yang diberikan terlampau keras, akan tetapi keluarganya minta diantar ke dokter kalau perlu rawat inap yang nggak apa-apa.

Dokter jaga mengatakan langsung masuk ICU, jantung. Setahu saya kakak istri tidak pernah sakit jantung, ke rumah sakit juga masih bisa jalan dan kedua tangan juga masih bisa diangkat ke atas. Tapi baca di internet kan tidak sah. Dokter lebih paham.

7 hari di ICU dan pada waktu itu kondisinya justru naik-turun, teman-temannya begitu banyak dan emosinya terpengaruh. Pada waktu Sahabat dan kakak saya meninggal, dia tidak diberi tahu. Pada hal setiap hari kami dan istri menyempatkan menengok. Sekarang kakak kami sudah keluar dari rumah sakit dan recovery, pemulihan di tempat kami.

Pada tanggal 20 Desember saya bangun merasa sehat dan bertanya pada istri apakah mau menemani ke Pati. Pukul 04.00 kami berangkat bersama istri. Selesai pemakaman sahabat pada pk 12.30 kami pulang ke Solo bersama satu sahabat kami yang tinggal di Jogja.

Karena pulang setelah sampai Purwodadi, Aplikasi Waze dimatikan dan ternyata kita salah jalan telah mencapai Masaran jurusan Sragen, Solo sudah lewat. Kembali kita balik masuk tol dan akhirnya sampai rumah pk 17.00. bagi kami seusia 64 tahun terasa sekali capeknya.

Malamnya perut di sebelah kanan terasa sakit. Keponakan datang memijat syaraf dan sakit berkurang. Keesokan harinya kami berpikir haruskah ke rumah sakit bagaimana bila dokter jaga bilang langsung masuk ICU. 3 tahun yang lalu, kami pernah diminta operasi batu ginjal, padahal saya tidak pernah merasa sakit. Bahkan sampai sekarang juga tidak apa-apa tidak dioperasi. Apalagi di tempat sakit itu posisi adalah posisi empedu, jangan-jangan seperti kakak istri datang ke rumah sakit, begitu diperiksa diminta masuk ICU.sepula

Kami melihat sendiri sepulang dari Pati, ketika kakak istri control ke rumah sakit, pulangnya bawa obat banyak sekali, sehari mungkin ada belasan macam? Seperti anak SMP mempunyai banyak Guru yang ahli di masing-masing mata pelajaran dan semuanya  memberikan PR yang banyak yang membuat kita bertanya apakah si murid mampu mencernanya.

Pada waktu sakit tersebut, kami baru menyadari pesan Guruji untuk rajin melakukan sadhana, apakah latihan napas, membaca afirmasi atau mantra. Ternyata pada waktu sakit sulit sekali melakukan hal tersebut dengan penuh penghayatan.

Obat maag dokter 24 jam tetap diminum dan seharian menggeletak di tempat tidur, makan pun tidak enak. Karena makan sangat sedikit, datanglah rasa sakit dari jari-jari tangan kram. Kami ingat pada waktu puasa sering otot-otot kram. Sudah digosok counterpain, tetap kram juga. Sakit sekali. Kami ingat google di hp. Kami cari kejang otot. Salah satu penyebab kejang otot adalah kurang ion, semacam dehidrasi. Jadilah saya minum pocari sweat 350 ml. Malam itu saya tidur nyenyak dan bangun pagi telah hilang rasa kram. Sewaktu muda makan banyak dan banyak mineral atau ion di tubuh. Setelah tua makan lebih sedikit dan sering kurang ion. Tidak baik juga kebanyakan minuman penambah ion karena kandungan gula dalam minuman.

 

Aku Menerima Setiap Keadaan

Merenungkan apa yang terjadi yang begitu banyak di akhir bulan Desember, masih banyak yang tidak bisa ditulis. Tapi saya teringat afirmasi dalam AIM Yoga.

Sekarang afirmasi tersebut bukan hanya diafirmasi tapi harus dilakoni dalam keadaan kehidupan sehari-hari.

  1. Aku tidak memikirkan masa lalu, tidak pula mengkhawatirkan masa depan – aku hidup dalam mmasa kini.
  2. Aku membuka diri terhadap segala kemungkinan.
  3. Aku menerima setiap keadaan.
  4. Dalam keadaan suka dan duka, panas dan dingin, aku tetap seimbang.
  5. Berada di atas atau di bawah aku tetap seimbang.
  6. Seberapa pun tinggi sepak terjangku, kakiku berpijak di atas bumi.

Terima kasih Guruji Anand Krishna.

Advertisements

Belajar Untuk Mengalah oleh Guruji Anand Krishna

Apakah yang Perlu Dipersiapkan Saat Anak-Anak Kita Sudah Lulus dan Mulai Bekerja?

Kita akan mengalami hal tersebut, dan inilah Nasihat Guruji Anand Krishna,

 

Eda Nagih Ngungkulin Timpal Dogen.

Apang Bisa Masih Ngalap Kasor

Kearifan Lokal Bali

 

Berarti, “Jangan mengejar kemenangan melulu, belajarlah juga untuk mengalah.“ Tetapi petuah tinggal petuah, kebijakan luhur tinggal kebijakan. Nasihal leluhur tinggal nasihat – siapa yang mau mengalah? Tiada scoraug pun, kecuali ia yang mengenal Dharma, ia yang memahami Dharma. Baginya tiada lagi kekalahan. Urusannya bukan kemenangan atau kekalahan.Urusannya adalah turun dari ketinggian secara sukarela, melengserkan diri secara anggun. Meninggalkan pesta  yang masih ramai, tidak menjadi tamu terakhir.

Guru saya selalu mengingalkan bahwa ketika sudah berusia 48 tahun, dan anak-anak sudah selesai kulih, sudah mulai bekerja – tentunya kalau punya anak – maka sepasang suami isteri yang mengerti Dharma akan mulai mempersiapkan diri untuk vanaprastha ashram.

Setelah melewati masa Brahmacharya, dimana seorang sanatani, seorang yang melakoni Sanatana Hindu Dharma, bukan Hindu Bali atau Hindu India, atau Hindu varian lainnya, tapi Sanatana Hindu Dharma, Hindu yang sesuai dengan nilai-nilai luhur atau Dharma yang bersiaft sanatana, universal, langgeng, dan abadi – memasuki Grihastha Ashram.

Bekerja, kawin dan membina keluarga dengan urutan yang tepat – untuk Grihastha Ashram. Tidak menjalin hubungan yang tidak pantas dijalin sebelum memeliki pekerjaan dan kawin. Tidak hamil atau menghamili sebeum ada ikatan sakral vivaha, dan memiliki pekerjaan. Intinya tidak menyusahkan orang, tidak merepotkan orangtua, pun tidak membebani diri.

Tentunya Grihastha adalah sebuah pilihan, tidak ada yang bisa memaksa seorang Vivekananda untuk kawin. Seorang yang mau mengabdi kepada masyarakat, kepada manusia dan dan kemanusiaan dan tidak memiliki keinginan Iain, bisa saja lompat memasuki sanyas ashram – mengabdi purna waktu – tanpa melewati tahapan-tahapan lainnya.

Bagi mereka yang memilih unluk melewali grihastha ashram pun. anjurannya seperti di atas. Setelah anak-anak sudah bekerja, mempcrsiapkan diri untuk sanyas ashram dengan memasuki vanapratha ashram.

Vanaprastha tidak mesti diartikan scbagai “masuk hutan.“ Berkarya di tengah hutan beton dan baja – di tengah keramaian dunia – tanpa kelerikatan dan pamrih, kepentingan diri – demikianlah semestinya vanaprastha diartikan dalam masa kini.

Untuk itu, seorang tidak lagi membutuhkan kcdudukan,  status, dan sebagainya. Unluk melayani sesama, tiadalah dibutuhkan jabatan.

Jadi, ada saatnya kita naik gunung, ada saatnya kita turun gunung. Ada saatnya kita bekerja untuk keluarga, dan ada saatnya kita bekerja untuk masyarakat. Ada saatnya kita menjadipejabat, dan  digaji. Ada saatnya kita pensiun dan mengabdi tanpa pamerih.

Jika kita mengindahkan anjuran dharma ini – tiadalah kekalahan bagi kila. Bagi seorang dharmika – pelaku dhama – yang sadar akan dharma-nya, tiada yang menyusahkan.

Kesusahan disebabkan oleh kebiasaan kita yang maunya selalu dijunjung, dipuji, dan dikelilingi oleh mereka yang berprofesi sebagai penjilat. Kesusahan disebabkan oleh keengganan kita untuk melepaskan kedudukan, status, dan segalanya yang sedang kita nikmati – dan mengahdi dengan semangat pelayan, betul-betul pelayan.

………………….

Silakan baca pada Tautan berikut