Beranilah Menyampaikan Kebenaran oleh Bapak Anand Krishna

Sumber Majalah Raditya 256, November 2018

 

Tan joari ipun ngaturang sane sampun ring tuktuk layah ipun. Ini adalah petuah, peringatan nasihat bagi mereka yang ingin menyampaikan sesuatu, tapi tidak berani. Sesuatu sudah berada di ujung lidahnya, tapi dia menahan diri untuk menyampaikannya.

Tentunya, tidak segala sesuatu yang sudah ada di ujung lidah mesti disampaikan. Banyak hal yang tidak perlu disampaikan, karena memang bukan urusan kita. Kita tidak selalu harus kepo, seperti kata pepatah orang Chinastana.

Namun kebenaran, apalagi jika kebenaran itu adalah demi kebaikan, maka tidak ada alasan untuk tidak menyampaikannya. Barangkali ada yang menganggap pepatah ini bertentangan dengan petuah lain dalam Manusmriti (4:138):

Satyam bruyat priyam bruyat na bruyat satyam apriyam priyam ca nanrutan bruyat esha dharmah sanatanah.

“Sampaikan apa yang benar, sampaikanlah dengan cara yang menyenangkan; janganlah menyampaikan suatu kebenaran dengan cara yang tidak meyenangkan. Jangan pula menyampaikan hal yang menyenangkan, padahal tidak benar. Demikianlah ajaran yang luhur yang langgeng dan abadi – Sanatana Dharma.

Jika kita membaca ulang kedua petuah tersebut, sesungguhnya tidak ada pertentangan. Petuah pertama adalah nasihat untuk tidak menjadi pengecut. Untuk selalu menyampaikan kebenaran. Petuah kedua menjelaskan cara penyampaian.

Pertanyaan yang muncul: Bagaimana jika suatu kebenaran, tidak bisa disampaikan dengan cara yang menyenangkan. Sebab kata “menyenangkan” sungguh relatif. Kita sudah berusaha sekuat tenaga untuk menyampaikan kebenaran dengan cara yang menyenangkan, tapi jika lawan atau kawan bicara tetap saja tersinggung – apa yang mesti kita lakukan?

Kebenaran tetap juga disampaikan. Guru saya Sang Pemandu Jiwa pernah menyampaikan: “Sepahit apa pun kebenaran itu, kendati semua orang menentangmu, tiada seorang pun yang mendukung kebenaran, tetaplah kau berdiri bersama kebenaran. Sampaikan apa adanya, dengan cara apa yang bisa kaulakukan. Jangan bungkam.”

……………..

……………..

Tulisan kali ini adalah demi kebenaran itu. Kebenaran yang amat sangat pahit. Kita tidak mau mendengarnya. Kita tidak mau menerimanya. Tapi, kebenaran tetaplah kebenaran. Mau diterima atau tidak, kita tidak bisa mengubah kebenaran.

…………….

Silakan ikuti tulisan tentang kejadian di Tanah Karo dan Batak bahwa mereka yang masih melakoni kepercayaan leluhur Pamena dan Permalin tinggal diikuti oleh beberapa orang saja.

Ini bisa terjadi di mana saja………

…………….

Saya berusaha untuk memahami apa yang menyebabkan hal itu? Bagaimana suatu masyarakat bisa  meninggalkan tradisi dan kepercayaan leluhurnya secara kolektif, ramai-ramai? Awalnya memang satu, dua, tapi begitu mencapai puluhan keluarga, selanjutnya terjadi konversi secara masal. Alasannya para tetua tidak bisa lagi mengaitkan ajaran-ajaran luhur dengan perubahan zaman. Para tetua enggan melakukan reformasi, maka para muda mencari sesuatu yang “dianggapnya” lebih relevan, padahal tidak demikian, ya hanya packagingnya- yang berbeda, lebih modern.

……………

Silakan ikuti Tulisan lengkap pada Tautan berikut:

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s