Betapa Siapkah Kita?

Oleh Bapak Anand Krishna

 

Limane Aneh Ngisiang Tampul, Ane Anehan Ngisi Pedang. Satu tangan memegang tiang, satu lagi memegang pedang (Kearifan Lokal Bali)

Tangan yang memegang tiang adalah untuk menjaga stabilitas diri. Dan tiang yang dimaksud bukanlah tiang dari beton atau baja.

Tiang yang dimaksud adalah Tiang Dharma. Kebajikan Luhur, Hukum yang Bersifat Sanatana, atau Wiwitan – Langgeng, Abadi, tak pernah usang karena waktu.

Kemudian, Pedang yang dimaksud adalah Pedang Virya, Keberanian, Semangat, dan di atas segalanya Integritas Diri, sekaligus percaya pada Integritas tersebut – Percaya Diri.

Demikian nasihat para leluhur kita: supaya perilaku kita berlandaskan Dharma, dan kita selalu siap untuk menghadapi segala macam tantangan dengan penuh semangat, antusiasme, keberanian, percaya diri.

Gabungan dari Dharma dan Virya inilah keunikan kita. Banyak orang kuat, berotot, bersemangat dan berani pula – tapi tidak mempunyai integritas diri. Sebab, landaan Dharmanya tidak ada. Banyak tangan berpedang sekitar kita, tapi tanpa landasan Dharma, tangan-tangan itu tidak membawa kedamaian, malah menyebabkan kekacauan.

Mereka yang memahami Mahabharata tahu persis bila kehadiran Krishna di tengah medan Kurukshtra bukanlah untuk memenangkan Pendawa, tapi untuk mmenegakkan Dharma. Kebetulan saja di antara pihak-pihak yang berseteru saat itu Pendawa masih agak lumayan berpegang pada Dharma. Ya, agak lumayan, tidak sepenuhnya. Tapi jika dibandingkan dengan pihak lawan, para Kurawa, Pendawa masih lebih memihak Dharma.

Bagaimana menyikapi peribahasa ini dalam keseharian hidup kita? Kita hanya berpedang saja, atau juga berdiri landasan, panggung Dharma? Pedang bukanlah yang terbuat dari baja saja, seperti yang digunakan oleh para satria dan samurai masa lalu.

Lidah kita bisa berperan sebagai pedang. Kata-kata keras yang keluar dari mulut kita bisa lebih ampuh dari pedang tertajam.

Tulian kita bisa membakar, bisa juga melumpuhkan semangat orang. Pertanyaannya: Apakah suara keras itu, apakah tulisan-tulisan itu berlandaskan Dharma atau tidak? Apakah bertujuan menegakkan, mengukuhkan dharma, atau sekedar kepentingan diri saja.

………………..

Bhagavad Gita menjelaskan bahwa dalam hal berdoa, beryajna – menghaturkan persembahan – dan  berupacara apa pun, jika landasannya bukan Dharma, maka hasilanya tidak akan sesuai dengan Dharma.

Dan tanpa Dharma, pedang kata-kata, pedang kepercayaan, pedang upacara semuanya sia-sia.

Silakan baca lampiran terlampir:

Sumber: Majalah Craddha Edisi ke 85 Nopember Desember 2018