Kepergian Seorang Sahabat dan Misteri Kematian

Hal Yang Paling Menakjubkan tentang Kematian

Pada suatu ketika Brahma bertanya Kepada Resi Narada, hal apa yang paling menakjubkan yang ia lihat di bumi. Narada menjawab, hal yang paling menakjubkan yang aku lihat adalah: orang yang sekarat sedang menangisi yang sudah mati. Mereka yang setiap saat sedang mendekati kematian, sedang menangisi mereka yang sudah mati. Seakan-akan tangisan mereka akan menghidupkan kembali yang sudah mati ataupun mencegah kematian mereka sendiri. Dikutip dari buku (Das, Sai. (2012). Sai Anand Gita Kidung Mulia Kebahagiaan Sejati. Koperasi Global Anand Krishna Indonesia)

Kita sering melihat sahabat kita sedang sakit, bahkan ada yang meninggal dan kita merasa bersedih, akan tetapi, anehnya kita merasa bersyukur bahwa kita tetap sehat dan tidak meninggal, bukankah hal ini terasa sangat aneh, karena sakit dan meninggal adalah proses kehidupan yang harus kita lalui.

Mengapa kita tidak seperti Pangeran Siddharta, yang setelah melihat orang sakit, sekarat, dan meninggal, menjadi sadar bahwa itu adalah sebuah proses yang harus dilalui dan Sang Pangeran meninggalkan istana mencari rahasia bagaimana agar kita bisa meninggal dengan tersenyum tanpa rasa duka.

Kepergian Seorang Sahabat

Siang kemarin, kami melihat seekor kupu-kupu masuk kamar belakang terbang berputar dalam kamar sebentar dan kemudian ke luar, entah ke mana. Kami membangunkan istri menyampaikan hal itu. Agak aneh, walau banyak pohon di pekarangan kami akan tetapi sudah lama kami tidak melihat kupu-kupu. Kami ingat penjelasan tentang kupu-kupu dari Video Youtube Mengungkap Rahasia Candi Cetho dan Sukuh, Seks, Siklus Kelahiran dan Kematian oleh Bapak Anand Krishna.

Adalah sahabat kami di Anand Ashram, Manggala Devi (Lina Pandiangan) istri sahabat David Purba, baru saja pergi melanjutkan perjalanan. Sadgati, semoga Beliau akan memperoleh peningkatan kesadaran di kehidupan mendatang ataupun mencapai moksha.

Perahu badan menjadi penting karena penumpang jiwa yang bersemayam di dalamnya. Perahu adalah sarana, perahu dibuat bagi penumpang, bukan sebaliknya. Ketika badan menjadi hambatan bagi perkembangan jiwa, maka kita mesti me- “let go”nya. Bye-bye badan…itulah kematian. Badan yang sudah rusak, badan yang sudah tidak sesuai dengan kebutuhan adalah badan yang tidak berguna. Sebab itu, keterikatan dengan badan adalah tindakan yang bodoh. Dikutip dari buku (Das, Sai. (2012). Swami Sri Sathya Sai Baba Sebuah Tafsir. Koperasi Global Anand Krishna)

Diantara sekian banyak ketidakpastian dalam hidup ini, mungkin hanya “kematian” yang merupakan satu-satunya kepastian. Aneh, selama ini kita sibuk mengejar ketidakpastian. Dan tidak pernah mempersiapkan diri untuk sesuatu yang sudah “pasti”.

Sesungguhnya, mempersiapkan masyarakat untuk “menerima” kematian adalah tugas agama dan para praktisi keagamaan. Tugas ini sudah lama terlupakan, karena para praktisi keagamaan pun tidak sepenuhnya memahami proses kematian. Lalu, penjelasan apa yang dapat mereka berikan?

Yang dapat mereka lakukan hanyalah menteror manusia, mengintimidasi dan menakut-nakutinya dengan ancaman api neraka atau alam kubur yang sunyi sepi. Ada pula yang memberi harapan akan surga yang serba wah. Kendati, harapan itu pun tidak “gratis”. Ada embel-embelnya: kamu harus berbuat ini dan itu. Dan “berbuat ini itu” biasanya selalu dikaitkan dengan kemajuan masing-masing kelompok agama.

Kebaikan hati dinilai dari berapa seringnya anda mengunjungi tempat ibadah, berapa besar sumbangan yang anda berikan, dan isi berapa banyak buku yang telah anda telan. Tidak ada yang memperhatian “perkembangan diri” manusia. Perkembangan “rasa” dalam diri manusia tidak diperhatikan sama sekali. Itu sebabnya, hidup kita masih kering, keras, dan kaku. Tidak ada kelembutan. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2002). Kematian, Panduan Untuk Menghadapinya Dengan Senyuman. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama)

Mengungkap Rahasia Candi Cetho dan Sukuh, Seks, Siklus Kelahiran dan Kematian

Video Youtube oleh Bapak Anand Krishna

Fungsi Candi Sukuh ini sebenarnya apa?

Melihat dari artefak-artefak yang ada, yang tadinya tidak diketahui posisinya di mana dan kemudian di pajang seperti sekarang, dari bentuk candinya seperti sekarang, ini adalah semacam laboratorium. Jadi bukan suatu candi yang digunakan untuk ritual saja. Mereka mempelajari sesuatu, yang barangkali sekarang ini disebut tabu atau apa, karena seks kematian dan kelahiran ini sangat erat kaitannya. Untuk memahami apa yang terjadi dengan soul. Apa yang terjadi pada roh, setelah dia meninggalkan badan.

Karena kita, leluhur kita bahkan sampai sekarang pun. Lebih dari 1.5 milyar orang di seluruh dunia percaya bahwa hidup ini bukan linier, tapi cyclic. Kalau kita bicara recycle, apa yang terjadi dengan roh? Apa dia akan digantung dimana saja. Roh kita ini meninggalkan badan dan kemudian roh ini mencari badan baru. Mencari badan yang baru yang masih berada dalam kandungan. Jadi setelah kematian badan ini dan masuk ke badan baru yang masih dalam kandungan. Dalam proses entering a new body, seks memainkan peranan yang penting. Leluhur kita berupaya memahami what happen? Kalau kita percaya pada Tuhan dan Tuhan menciptakan manusia. Kenapa Dia haruis menciptakan seks untuk kelahiran. Kenapa nggak tiba-tiba dari atas turun hujan. Sekali setahun turun 100 ribu orang. Kenapa diciptakan seks. Hal-hal seperti ini yang mereka berupaya untuk memahami.

Dan artefak-artefak ini mengingatkan tentang Garuda Purana. Garuda purana bicara tentang orang yang mati dan setelah mati ke mana? Garuda purana bicara tentang kondisi mental kita, saat kita mau mati badan hampir terlepaskan. Seluruh energi kita, prana kita terpusat pada mind kita. Dan mind ini masih berfungsi. Dan mind ini menjalankan semacam film. Untuk memperlihatkan seluruh hidup kita. Di situ akan terjadi penyesalan. Karena itu orang bicara Garuda Purana seakan membaca surga neraka. Sebetulnya tidak, dia bicara tentang the state of mind.

“Oh saya tidak melakukan ini, seandainya melakukan ini betapa bagusnya. Nanti kalau saya lahir kembali saya akan melakukan ini, ini, ini. Jadi di situ ada orang yang mengalami neraka, ada orang mengalami surga. Dalam bahasa Tibet disebut Bardo, transisi. Dalam masa transisi yang berjalan hanya selama beberapa menit. Soul ini mengalami surga dan neraka.

Dan soul setelah keluar dari badan, ada 2 kemungkinan. Akan tertarik pada suatu kondisi dia akan lahir kembali, atau goes to next level. Di sini kalau kita melihat dari bentuk. Ini menunjukkan seperti piramid, tapi piramid tanpa kerucutnya. Seperti suatu stasiun, suatu keadaan. Soul ini akan menuju ke tempat lain. Leluhur kita tahu bahwa mind itu dikendalikan oleh moon (bulan). Jadi ketika soul itu keluar dari badan, dengan sendirinya dia akan menuju bulan.

Jadi sebelum orang mati, dia sudah diberitahu tentang kondisi kondisi apa yang akan dialami. Dan di sini seperti komik di atas batu. Jadi dia diberitahu inilah yang akan kau alami. Dan di atas sana tadinya ada lingga.

Candi Sukuh dan Candi Cetho saling terkait dan mewakili perjalanan soul dari kematian hingga lahir kembali atau moksha, bebas dari siklus kelahiran dan kematian.

Candi Cetho akan membuat soul naik kelas, mohsha. Soul akan ke bulan oke, tapi kalau dia dibawa ke Candi Cetho, dengan upacara-upacara tertentu. Dari sana soul tidak kembali. Dan moksha itu bebas dari satu sistem, pergi ke next system. Apa yang yang terjadi? Tidak ada seorang pun yang mengetahuinya. Oleh karena itu di Jawa ada kepercayaan bahwa salah satu raja terakhir hilang di Lawu. Raja ini menghilang dan tidak kembali. Tidak secara fisik hilang tapi prinsip-prinsipnya, rasa takut harus diatasi.

Rasa takut ini harus di atasi. Ada 2 kemungkinan, bila kau akan kembali ke bulan terus jalan-jalan sebentar (yang pergi mind kita bukan badan kita) ke Sukuh, Kalau ke Sukuh akan kembali. Kalau sampai ke Cetho nggak kembali. Pengetahuan nenek moyang kita tentang soul sudah begitu advance.

Soul ini dalam tradisi yang kita lihat, Candi Cetho dan Sukuh ini, ada satu hal yang menarik. Bahwa ini adalah salah satu kearifan lokal. Dan setelah meninggalkan badan pun, soul ini masih punya option. Apakah dia akan ke bulan dan kembali. Atau dia tidak kembali, moksha.

Menurut teks-teks kuno, pilihan ini terjadi sebelum soul melepaskan badan. Tapi di sini setelah melepaskan badan. Kita mesti memelajari.

Gunung lawu dikaitkan dengan Sabdapalon, ada yang mengatakan agama asli akan kembali. Tapi kalau kita baca jelas sekali bahwa buddhi yang akan kembali, Inteligensia yang akan kembali, bukan agama tertentu.

Tadi saya melihat begitu banyak kupu-kupu. Kupu-kupu adalah soul yang baru lepas, beberapa jam dari badan dapat menjadi kupu-kupu. Setelah beberapa jam kemudian mereka akan tinggalkan badan sebagai kupu-kupu. Dan melanjutkan perjalanan. Jangan sekali-kali membunuh kupu-kupu. Jangan dipajang, kalau punya pajangan kupu-kupu tolong diperabukan. Dibacakan doa. Kupu-kupu yang dataang ke rumah kita adalah keluarga kita.

Sumber Video Youtube Mengungkap Rahasia Candi Cetho dan Sukuh, Seks, Siklus Kelahiran dan Kematian oleh Bapak Anand Krishna.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s