Refleksi: Lahir, Tumbuh, Tua, dan Mati Bag 2 Reinkarnasi dan Memori Evolusi

Dalam Bagian 1 disampaikan bahwa kita itu terkena hukum evolusi dan hukum sebab-akibat (hukum karma). Sedangkan keberadaan kita di dunia ini semata untuk menjalani program yang paling cocok bagi pembersihan dan pengembangan jiwa.

Silakan baca: https://gitakehidupansepasangpejalan.wordpress.com/2018/06/04/refleksi-lahir-tumbuh-tua-dan-mati-bag-1-evolusi-dan-hukum-karma/

 

Kalau dalam 1 kelahiran kita belum mencapai standar capaian pengembangan jiwa tersebut, apa yang akan terjadi?

Reinkarnasi, Lahir Kembali

Yang lahir kembali itu siapa? Bukan badan kita, karena badan kita sudah menjadi bangkai, sudah dikubur atau dibakar. Badan sudah musnah. Badan tidak mengalami kelahiran kembali.

………………

Yang berulang kali mengalami kelahiran dan kematian adalah Ego kita yang begitu kompleks. Keinginan-keinginan yang tidak terpenuhi, obsesi-obsesi terpendam. Semuanya itu yang menyebabkan terjadinya kelahiran kembali.

……………….

Ada tiga unsur utama yang mengaktifkan komputer manusia………  Pertama, badan kasat kita. Ini bagaikan hardware. Kedua, ego kita. Ini bagaikan software dan tentu saja, ketiga, kesadaran yang merupakan aliran listriknya.

Badan kita bisa rusak, berhenti bekerja. Namun software-nya tidak ikut rusak. Ego kita masih utuh, masih dapat berfungsi. Software yang sama dapat digunakan, dengan menggunakan hardware baru. Tidak ada memori yang hilang, tidak ada program yang terhapus.

Ada satu hal yang jangan sampai terlupakan : kesadaran atau “aliran listrik”. Kesadaran ini tidak pernah terganggu. Apakah software-nya yang dipindahkan, atau hardware-nya yang rusak, kesadaran kita tidak pernah mengalami gangguan apapun. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (1998). Reinkarnasi, Hidup Tak Pernah Berakhir. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Kisah Puranjana dalam Srimad Bhagavatam dan Rekaman Sejarah Evolusi Diri Kita

Kalau kita telah lahir berkali-kali, mestinya kita punya catatan sejarah perjalanan hidup kita. Dalam Kitab Srimad Bhagavatam dikisahkan tentang Raja Puranjana yang bermakna penghuni kota, penghuni tempat, penghuni raga. Raja Puranjana mengembara lewat banyak kota sampai akhirnya menetap di Kota Bhogavati. Pada dasarnya setiap orang adalah Puranjana. Raja dari tubuhnya dengan sejarah pengalaman masing-masing. Karena ketidaktahuan maka Puranjana menganggap wujudnya sebagai identitasnya, menuruti indra, melayani indra, mencari kepuasan dari indra.

Raja Puranjana dikisahkan mengembara, mencari kota (tubuh) yang tepat sesuai seleranya. Ia melakukan perjalanan pada seluruh ciptaan, disebut ada 8.400.000 species hidup dan trilyunan planet penciptaan. Puranjana berpindah-pindah tubuh mencari tubuh yang sesuai dengan seleranya. Ini  adalah perjalanan evolusi yang sangat panjang yang dicatat dalam genetika dari mineral, tanaman, hewan sampai manusia.

Raja Puranjana mengembara dalam berbagai jenis tubuh guna memenuhi upaya untuk menikmati indra. Sampailah pengembaraan Puranjana ke kota bernama Bhogavati, “kota kesenangan”. Kota tersebut mempunyai sembilan gerbang untuk memenuhi kebutuhan penduduk kota. Sembilan gerbang adalah 9 lubang tubuh manusia: 2 mata, 2 telinga, 2 lubang hidung, 1 mulut, 1 dubur, dan 1 lubang kemaluan. Puranjana akhirnya menghuni tubuh manusia.

 

Dalam buku Genom, Kisah Species Manusia oleh Matt Ridley terbitan Gramedia 2005, disebutkan bahwa Genom Manusia – seperangkat lengkap gen manusia – hadir dalam paket berisi dua puluh tiga pasangan kromosom yang terpisah-pisah. Penulis Buku tersebut membayangkan genom manusia sebagai semacam otobiografi yang tertulis dengan sendirinya – berupa sebuah catatan, dalam bahasa genetis, tentang semua nasib yang pernah dialaminya dan temuan-temuan yang telah diraihnya, yang kemudian menjadi simpul-simpul sejarah species  kita serta nenek moyangnya sejak pertama kehidupan di jagad raya. Genom telah menjadi semacam otobiografi untuk species kita yang merekam kejadian-kejadian penting sesuai dengan keadaan sebenarnya. Kalau genom dibayangkan sebagai buku, maka buku ini berisi 23 Bab, tiap Bab berisi beberapa ribu Gen. Buku ini berisi 1 Milyar kata, atau kira-kira 5.000 buku dengan tebal 400-an halaman.

 

Lahir Kembali untuk Mengulangi Mata Pelajaran yang Belum Lulus

Kelahiran dalam dunia ini ibarat belajar di sekolah. Alam Semesta ini ibarat lembaga pendidikan, universitas. Ada fakultas-fakultas lain pula, yang terdapat dalam dimensi lain. Masih ada begitu banyak bentuk kehidupan yang lain. Apabila seseorang mati dalam kesadaran, ia akan tahu persis mata pelajaran apa yang masih harus dipelajari.

………

Kehidupan Anda membuktikan bahwa masih ada sesuatu yang harus Anda pelajari. Masih ada keinginan-keinginan yang harus dipenuhi. Masih ada obsesi-obsesi yang harus dilampaui. Jujurlah dengan diri Anda sendiri. jangan membohongi diri. Anda berada di sini untuk mengurus diri sendiri. Perkawinan Anda, putra-putri Anda, hubungan kerja Anda, segala sesuatu yang sedang Anda lakukan, sedang Anda alami, semuanya demi perkembangan diri sendiri. Jangan lupa hal ini.

Yang penting adalah kebebasan kita. Jangan terikat pada siapa dan apa pun. Begitu kita sadar bahwa dalam hidup ini kita harus belajar sesuatu, kita akan mempelajarinya dengan baik, namun kita tidak akan terikat pada sesuatu apa pun. Kita tidak akan terikat pada bangku yang kita duduki, kita tidak terikat pada bangunan sekolah. Kita tidak terikat pada guru yang mengajar kita. Kita pergi ke sekolah untuk belajar. Selesai belajar, kita pulang. Demikian pula dengan kehidupan ini: Selesai belajar kita pulang. Tetapi apa yang terjadi selama ini? Kita lupa pelajaran, kita malah terikat pada sarana-sarana penunjang yang disediakan oleh alam. Kita terikat pada rumah kita, pekerjaan kita, isteri kita, suami kita, keluarga kita, kepercayaan kita, ideologi-ideologi kita. Semuanya itu hanya sarana penunjang, sarana-sarana pendidikan.

Gunakan, tetapi jangan terikat pada mereka. Keterikatan kita membuat kita gagal mempelajari mata pelajaran yang harus kita pelajari. Itu menyebabkan kelahiran kita kembali. Kita lahir dan mati, dan lahir, dan mati berulang kali, kadang kala hanya untuk mempelajari satu mata pelajaran. Kita sedang lari di tempat. Hampir setiap kali kita mengalami kelahiran dalam lingkungan yang sama dan itu-itu juga. Kita lahir dalam keluarga yang sama. Yang dulu jadi isteri, sekarang jadi ibu. Yang dulu jadi anak, sekarang jadi isteri. Yang dulu jadi sahabat, sekarang jadi ayah. Yang sekarang jadi suami, dulunya kakak. Anda tidak pernah bebas dari lingkungan yang sempit ini. Perannya berbeda, tetapi tema sentralnya masih sama. Sesungguhnya, kita mengulangi cerita yang sama, dengan sedikit variasi di sana-sini.

Manfaatkan kelahiran ini untuk menyadarkan diri bahwa ada mata pelajaran yang harus Anda pelajari. Jangan buang waktu untuk mengagung-agungkan agama Anda, kepercayaan Anda. Semuanya itu hanyalah sarana pendidikan. Gunakan semuanya itu, tetapi jangan lupa yang harus bekerja adalah Anda sendiri. Perjalanan ini harus dimulai, dan langkah pertama harus diambil. Jangan lari di tempat. Lebih baik berjalan, walaupun pelahan, daripada lari di tempat. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (1998). Reinkarnasi, Hidup Tak Pernah Berakhir. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Untuk melepaskan diri dari Siklus Kelahiran dan Kematian, Buku Bhagavad Gita dan Yoga Sutra Patanjali dijadikan acuan.

Advertisements

5 thoughts on “Refleksi: Lahir, Tumbuh, Tua, dan Mati Bag 2 Reinkarnasi dan Memori Evolusi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s