Hanuman Penjaga Gerbang Batas Pikiran, Gerbang Tanpa Pintu, Gateless Gate

Gerbang Batas Alam Pikiran

Identifikasi apa yang dapat membahagiakan kita, dengan alam atau dengan Jiwa? Dan jawabannya jelas adalah identifikasi dengan Jiwa. Karena Jiwa tidak hanya bersifat abadi, tetapi juga tidak pernah berubah. Sehingga dapat menghasilkan kebahagiaan yang langgeng.

Sementara, Alam Benda berubah terus. Jika kita fokus pada perubahan-perubahan yang terjadi, maka emosi kita, pikiran kita — semuanya ikut mengalami perubahan-perubahan yang kadang membuat kita bahagia, kadang larut dalam lautan kesedihan dan kepedihan. Penjelasan Bhagavad Gita 14:3 dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Mengapa takut melompat? Keterikatan pada keluarga, pada dunia dan sebagainya? Pikiran, ego menahan kita agar takut melompat? Berikut penjelasan Hanuman Chalisa 21 tentang gateless gate, gerbang tanpa pintu…..

Buku The Hanuman Factor

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Rama Dwaare Tuma Rakhawaare, Hota na Aaagyaa binu Paisaare. Hanuman Chalisa 21

Sri Rama adalah Gerbang, dan engkau adalah Penjaga Gerbang; tak ada seorang pun yang dapat melaluinya tanpa ijin darimu

Sri Rama adalah Gerbang, dan engkau (Hanuman) adalah Penjaga Gerbang;

 

Tradisi Shinto

Dalam tradisi Shinto dari Jepang, sebuah gerbang yang terbuat dari kayu melambangkan spiritualitas. Itu memang hanya sebuah gerbang, tanpa pintu. Gapura ini disebut gerbang tanpa pintu. Tidak ada pagar, tidak ada batas, tidak ada apa-apa. Namun, setiap pejalan spiritual harus melewatinya. Apa yang dilambangkan dari hal ini?

Di satu sisi dari gerbang tersebut, ada langit luas membentang. Di sisi lain, di seberang gerbang tersebut, juga ada langit luas yang sama. Ada keluasan di sisi sebelah sini, dan ada keluasan pula di sisi yang satunya. Apa yang ada di sini, juga ada di sana. Dan, apa yang ada di sana, juga ada di sini. Lantas apa gunanya pintu?

Gerbang tanpa pintu ini, melambangkan batasan-batasan ciptaan pikiran kita sendiri. Sesungguhnya, gerbang tanpa pintu ini adalah pikiran kita, atau ciptaan pikiran kita sendiri, apa pun itu wujudnya.

 

Ketika kita memahami hal ini, maka kita memahami Tuhan.

Saat di mana kita berhasil dalam memecahkan teka-teki kehidupan ini, maka kita akan berhadap-hadapan langsung dengan Tuhan.

Hanuman berdiri di sana sebagai penjaga gerbang, penjaga dari gerbang tanpa pintu. Penampakan Hanuman—seekor kera yang sangat besar mirip monster—membuat kita takut. Kita gentar untuk mendekati gerbang tanpa pintu tersebut dan berpikir, “saya tidak akan diijinkan masuk.”

Pemikiran semacam itu, rasa takut yang tak berdasar seperti itu adalah refleksi dari pikiran kita yang penuh rasa takut.

 

Pikiran manusia selalu takut akan kekosongan.

Ketika ia menganggur, ia merasa sangat tidak nyaman. Ia akan berusaha mencari sesuatu untuk dilakukan. Berapa lama kita bisa duduk diam tanpa melakukan apa pun? Semua gadget, pertunjukkan dan hiburan, sejatinya diciptakan oleh rasa takut, dalam rasa takut. Kita selalu berupaya mengisi kekosongan kita dengan sesuatu, dengan apa saja.

Semakin penakut mind (pikiran), maka semakin licik, dan semakin intelektual pikiran tersebut. Ia akan selalu mencari alasan untuk menghindari berjalan memasuki gergang tak berpintu menuju  yang tak dikenal, “Untuk apa? Mengapa saya mesti memasuki gerbang itu, toh Tuhan ada di mana-mana? Tuhan ada di sini, di sana, di mana-mana—gerbang itu membatasi gerak-gerik Tuhan. Mengapa Tuhan mesti dibatasi dengan gerbang atau di balik gerbang itu? Mengapa tidak di sini saja, di luar gerbang?”

 

Gerbang tanpa pintu

Gerbang tanpa pintu sejatinya merupakan sebuah sarana untuk membebaskan kita dari rasa takut yang kita rasakan dan untuk mempersiapkan kita untuk terjun ke dalam yang tak dikenal.

Identifikasi yang saya lakukan terhadap tempat tertentu—kitab suci tertentu, agama tertentu, atau Nabi tertentu, Buddha tertentu, Mesias tertentu, Avatar tertentu, dengan Tuhan—lahir dari perasaan takut. Saya mencoba menjelaskan yang tak terjelaskan sebelum melompat. Saya harus melompat ke dalam sesuatu. Saya tidak bisa melompat ke dalam yang tak dikenal.

Jadi, semua penjelasan kita, semua upaya kita, semua percobaan yang kita lakukan untuk mengungkap misteri tentang Tuhan, untuk melakukan demistifikasi terhadap Tuhan, sejatinya lahir dari rasa takut.

Bagaimana jika saya mengidentikkan semua tempat, semua kitab suci, semua agama, semua Nabi, semua Buddha, semua Mesias, semua Avatar dengan Tuhan? Sama saja, saya tetap berupaya menjelaskan yang tak terjelaskan. Saya masih memikir-mikir dan membutuhkan waktu sebelum memutuskan untu melompat. Hal tersebut sama saja seperti upaya untuk menyelamatkan diri. Kita “berpikir” bahwa akan lebih mudah bagi kita jika kita melompat dengan memahami konsep ini. Jika memang Tuhan ada di mana-mana, maka pastilah saya melompat kedalam Tuhan. Saya tidak perlu takut.

 

Kehilangan Tuhan karena rasa takut

Inilah penyebab kita telah kehilangan dan melewatkan Tuhan selama ini dan dalam semua masa kehidupan yang telah kita lalui. Karena bahkan pun setelah menciptakan semua konsep, kita tetap takut untuk “Melompat ke dalam Yang tak dikenal”. Kita hanya berani melompat ke dalam konsep ciptaan kita sendiri.

Kita mungkin menggambarkan surga yang terang benderang ada di balik gerbang tanpa pintu tersebut atau kita menggambar neraka yang penuh penderitaan—intinya kita ingin punya sesuatu untuk dipegang sebelum kita melompat. Di dalam ketidaksadaran kita, kita lupa bahwa gambar-gambar tersebut adalah ciptaan kita sendiri.

Tidak hanya gambaran indah tentang surga, tetapi juga gambaran menakutkan tentang neraka pun juga merupakan ciptaan pikiran kita sendiri untuk membuat yang tidak dikenal menjadi dikenal.

Mereka yang menggambar neraka dengan api serta siksaan abadinya dan mereka yang menggambarnya dengan lebih wajar dengan warna-warna penyucian dan purgatory, sejatinya sama-sama takut. Perbedaannya terletak pada tingkat rasa takut yang mereka rasakan. Kelompok yang kedua mungkin tahu akan hal ini dan merasa lega akan “fakta bahwa semua itu adalah ciptaan mereka sendiri”, dan rasa takut mereka tidaklah seburuk kelompok yang pertama. Ini tidak lain adalah upaya menghibur diri. Ini juga tidak akan membantu.

 

Hanuman berdiri di samping gerbang tanpa pintu tersebut,

yang kiranya akan mengarahkan kita ke tempat tinggal Sri Rama. Ia tidak sedang menghentikan kita juga tidak sedang mengundang kita. Namun, ia tampak sedang mengamati gerak-gerik kita, tidak hanya gerak-gerik fisik, tetapi juga gerak mental dan emosional.

Ketika melihatnya, maka awan hitam keraguan pun terbentuk di langit pikiran kita, “Hanuman? Ah, tidak mungkin. Kalau dia Hanuman, maka pastilah pintu tersebut menuju kediaman Sri Rama. Bagaimana bisa? Rama adalah Sang Penghuni Sejati, tidakkah Ia menghuni dan bersemayam di setiap hati? Mengapa lantas Ia memiliki tempat tinggal seperti ini? Tidak, tidak. Ini pasti ilusi. Rama adalah Tuhan, energi murni, abstrak, tak terjelaskan, dan tak berwujud. Perwujudan-perwujudan ini tidaklah nyata. Mereka semua palsu. Biarkan aku lari dari sini sebelum aku tertipu oleh perwujudan-perwujudan tersebut.

 

Maka, kita pun lari.

Dan sejak itu pun kita terus melarikan diri, tanpa menyadari bahwa apa yang kita lihat di luar sejatinya adalah proyeksi dari apa yang ada di dalam diri kita.

Gerbang tanapa pintu di luar diri adalah proyeksi dari keberadaan kita sendiri. Hanuman yang berdiri di samping gerbang tersebut adalah kesadaran diri kita, yang selalu waspada, senantiasa mengawasi. Rama adalah jati diri kita.

Pikiran, ego adalah yang selalu ragu-ragu, “Masuk, Jangan, Masuk, Jangan.. Lompat, jangan, lompat, jangan, lompat, jangan…”

Jika pikiran memutuskan untuk melarikan diri, maka selesailah sudah. Tetapi jika pikiran tidak lari, tetapi justru memfokuskan diri pada Hanuman, maka keajaiban pun terjadi. Pikiran pun akan lenyap, dan “Kesadaran Hanuman” lah yang tersisa. Tiba-tiba kita mendapati diri kita berperan sebagai Hanuman. Kita menjadi penjaga pintu. Terjadi lompatan kuantum dari mind (pikiran) menjadi kesadaran. Bagaimana itu bisa terjadi?

Dikutip dari terjemahan buku (Krishna, Anand. (2010). The Hanuman Factor, Life Lessons from the Most Successful Spiritual CEO. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s