Penuh Kebencian, Jahat, Kejam akan Lahir Kembali lewat Rahim Syaitani #BhagavadGita

Bisa saja pelaku adharma yang penuh rasa benci, jahat dan kejam berbuat zalim terhadap orang-orang atau rakyat yang tidak bersalah bisa lolos dari penjara, karena kekuasaan dan kelicinan geng-nya. Akan tetapi hukuman oleh Dharma terhadap dirinya atau keluarganya akan membuat dia menderita hingga akhir hayatnya seperti penjelasan Bhagavad Gita 11:34. Dan, bukan hanya hukuman oleh Dharma dalam kehidupan ini, akan tetapi dia juga akan lahir berulang-ulang lewat rahim yang tidak mulia seperti penjelasan Bhagavad Gita 19:20.

……………

Badan dan indra selalu menagih pengulangan atas rangsangan-rangsangan yang dinikmatinya, sehingga Jiwa Individu pun terjebak dalam kejar-mengejar. Ia menjadi budak badan dan indra. Ia menjadi pelayan mereka. Sebab, saat badan dan indra menikmati suatu rangsangan atau sensasi, sesungguhnya rasa nikmat itu sendiri terasa oleh Jiwa. Jiwa me-“rasa”-kan berbagai pengalaman hasil interaksi tersebut.

Demikian, jika tuntutan-tuntutan indra tidak terpenuhi, masih terasa — umumnya selalu demikian — maka setelah meninggalkan badan yang sudah tidak berguna, rusak, mati, Jiwa mencari badan Iain, seperangkat indra lain untuk memenuhi hasratnya untuk mengalami pengalaman-pengalaman yang sama.

Sesuai dengan pengalaman yang dikehendakinya, Jiwa memilih rahim seorang perempuan yang bersifat tenang, agresif, atau malas.

Adakalanya, seorang perempuan yang tampak tenang dan sabar— sesungguhnya tidaklah tenang maupun sabar. Ia terpaksa menenang-nenangkan dan menyabar-nyabarkan diri karena ‘takut’ — maka rahimnya bukanlah lahan tenang dan sabar — rahimnya adalah lahan yang tercemar berat oleh rasa takut.

Sering juga rahim seperti itu tercemar oleh virus-virus dendam, benci dan sebagainya berdasarkan “pengalaman pemilik rahim” yang membuatnya berada dalam keadaan yang mencekam. Inilah rahim-rahim yang disebut tidak mulia.

 

JIWA YANG “LAHIR” lewat rahim seperti itu adalah Jiwa yang memang sudah berada dalam jangkauan frekuensinya. Ia memang sedang mengejar pengalaman-pengalaman seperti itu, maka ia tertarik dengan rahim tersebut.

Jiwa yang tenang ingin meningkatkan ketenangannya akan mencari rahim seorang wanita yang sungguh-sungguh tenang, walau, dalam keseharian hidupnya, wanita tersebut tampak sangat aktif. Pun demikian dengan Jiwa yang sedang mencari, mengejar pengalaman-pengalaman yang dinamis, ia akan mencari rahim seorang ibu yang bersifat dinamis pula. Penjelasan Bhagavad Gita 13:21 dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Berikut penjelasan tentang mereka yang penuh rasa benci; berkecenderungan pada perbuatan yang tidak mulia; kejam, dan telah merendahkan martabatnya sebagai manusia, yang akan lahir berulang-ulang di dunia ini lewat rahim-rahim yang tidak mulia seperti penjelasan Bhagavad Gita 16:19 di bawah ini:

Cover Buku Bhagavad Gita

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Mereka yang penuh rasa benci; berkecenderungan pada perbuatan yang tidak mulia; kejam, dan telah merendahkan martabatnya sebagai manusia, lahir berulang-ulang di dunia ini lewat rahim-rahim yang tidak mulia pula.” Bhagavad Gita 16:19

 

Setiap orang mesti menanggung konsekuensi dari perbuatannya sendiri. Jika kita terlibat dalam perbuatan-perbuatan yang merendahkan martabat kita sebagai manusia, maka dalam kelahiran berikutnya kita Iahir dalam keluarga yang kurang-lebih sama dengan cara pandang kita.

 

SEPANJANG USIA KITA MEMBENCI; kita menyia-nyiakan hidup untuk memperkarakan orang; setiap  orang kita anggap berdosa kecuali diri sendiri dan mereka yang sepaham dengan kita; bergaul dengan mereka yang hanya berjubah manusia; bersahabat dengan mereka yang tidak sadar akan nilai-nilai kemanusiaan – alhasil, dalam kelahiran berikutnya, kita memperoleh lingkungan, keluarga, dan persahabatan yang sama.

Krsna menyebut………

 

“RAHIM-RAHIM” SYAITANI ATAU ASURI YONI – Barangkali kita belum terbiasa mendengar istilah ini. Rahim syaitani adalah rahim milik mereka yang mengandung akibat urusan nafsu belaka. Atau karena “kecelakaan”. Mereka tidak menginginkan keturunan tetapi telanjur hamil. Dorongan “nafsu birahi” saat bersanggama menyebabkan lahan rahim “menarik” roh-roh — gugusan pikiran dan perasaan — yang sejenis, yang sepenuhnya terkendali oleh hawa nafsu.

Saat sepasang anak manusia bersanggama, urusannya mestilah cinta, ya cinta. Bukan nafsu. Dan janganlah menyalahtafsirkan nafsu sebagai cinta untuk membela-diri.

 

CINTA ADALAH SABAR, CINTA BISA MENUNGGU – Cinta tidak “terbawa” oleh nafsu. Ia tidak pernah hanyut dalam nafsu. Terjadinya “kecelakaan” hanyalah membuktikan bila saat itu adalah nafsu birahi yang berkuasa sepenuhnya.

Saat sanggama, pikiran dan perasaan sepasang anak manusia yang saling mencintai —mengundang roh yang selaras dengan mereka. Sebab itu, mereka yang bersifat syaitani mengundang syaitan. Mereka yang bersifat mulia — mengundang kemuliaan.

Ungkapan umum “anak yang baru lahir, kan tidak bersalah” adalah ungkapan keliru yang menunjukkan bila kita belum memahami seluk-beluk kehidupan. Anak yang baru lahir adalah lahir untuk melanjutkan perjalanannya. Jika ia berada di jalur mulia, maka jalur itu pula yang ditempuhnya. Jika ia berada di jalur yang tidak mulia, maka ketidakmuliaan yang akan dikejarnya.

Tentang hubungan intim pra-nikah ataupun kelahiran di luar nikah, aborsi, dan lain sebagainya – persoalannya bukanlah salah atau tidak salah, bukanlah dosa dan pahala. Persoalannya adalah tanggung-jawab. Kita tidak bisa melepaskan diri dari tanggung-jawab, dari konsekuensi perbuatan kita sendiri.

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Advertisements