Kesalahan Kolektif Masyarakat Bisa Saja Mengundang Bencana? #YogaSutraPatanjali

Fenomena Alam

Kadang kita merasa begitu putus asa dengan kenyataan yang terjadi. Kebenaran tenggelam dalam konspirasi yang berada di luar kemampuan kita. Kita semua tidak bisa lepas dari tanggung jawab. Kita telah ikut menentukan para pemimpin kita. Kita juga diam dan seakan-akan membiarkan kebiasaan tidak baik merajalela. Yang belum kita sadari adalah bahwa keputusan kolektif masyarakat bisa menimbulkan letupan emosi kolektif. Dan letupan emosi kolektif bisa saja mengundang bencana?

Tulisan ini hanya sekadar renungan, bertujuan agar kita melakukan tindakan yang baik. Segala sesuatu yang kita perbuat harus dirasakan bagaimana seandainya kita sendiri mengalaminya (tepa-slira, rasa empati). Kalau kita tidak mau dianiaya orang ya jangan menganiaya orang. Karena segala sesuatu akan kembali kepada kita dengan adanya hukum sebab-akibat. Kalau masyarakat menganiaya seseorang, bisakah masing-masing anggota masyarakat menyadari bagaimana kalau dirinya dibegitukan?

………………

Sejak beberapa dasawarsa terakhir ini, sains – setidaknya beberapa ahli fisika dan ahli saraf – telah memasuki tahap pembenahan diri. Mereka mulai merasakan bahwa alam ini bukanlah suatu kecelakaan belaka. Ada inteligensia di balik segalanya!

Terjadi gempa bumi, tsunami, dan seorang saintis “orde lama” mengatakan, “semua ini karena lempengan-lempengan, bla bla bla”. Seorang tokoh kepercayaan “orde lama”, sebaliknya menganggap fenomena alam tersebut sebagai “Azab dari Tuhan. Gusti Pangeran marah!”

Manusia “orde baru” – Manusia Baru – yang memahami spiritualitas dan sains, berupaya untuk memahami misteri ini, “Memang ada lempengan-lempengan yang sedang bergerak, dan fenomena alam itu pula yang mengundang tsunami. Namun, sesungguhnya gerakan lempengan-lempengan tersebut tidak mesti, tidak harus, tidak selalu berakibatkan tsunami.”

Dan, ia mulai bertanya, “Ada apa sehingga gerakan lempengan-lempengan itu menyebabkan tsunami dan gempa bumi di wilayah tertentu, padahal ada juga wilayah lain yang memiliki potensi yang sama, tapi tidak terjadi sesuatu di sana. Kenapa, kenapa, kenapa?”

Kemudian segelintir saintis berwawasan lebih luas mulai bisa melihat hubungan yang erat antara nafsu, emosi, pikiran, dan perbuatan manusia yang dapat memengaruhi gerakan lempengan-lempengan tersebut sehingga bertabrakan, dan terjadilah kehancuran di mana-mana!

Kesimpulannya, gerakan lempengan-lempengan adalah fenomena alam – Tapi, tidak mesti terjadi gempa bumi, tidak mesti tsunami, tidak mesti menelan korban. Bencara alam terjadi bukan karena alam mengamuk tanpa dasar, tapi karena ada intervensi dari perbuatan, pikiran, dan perasan manusia sendiri. Mind over matter. Penjelasan Bhagavad Gita 9:1 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Bencana dapat dihindari?

Sekali lagi, renungan ini sekadar bertujuan agar kita melakuka hal yang baik, yang selaras dengan alam.

………………….

Dapatkah kita mempertahankan air pada 100 derajat celcius? Mustahil. Begitu mencapai 100 derajat celcius, air langsung menguap, mulai menguap. Emosi memiliki korelasi dengan air. Emosi dikendalikan oleh elemen air di dalam diri kita. Pun demikian di luar diri kita, di alam sekitar kita. Air laut, air sungai – semuanya adalah pusat-pusat emosi di dunia ini. Jika terjadi tsunami, maka alasannya bukanlah sekadar “fenomena” alam; dalam pengertian, “itu adalah sesuatu yang lumrah.” Tidak, tidak lumrah. Dapat dihindari.

Pasang-surutnya air laut adalah lumrah, namun memasangnya sedemikian rupa hingga menyebabkan musibah, bencana – tidak lumrah. Saat itu laut, air sedang mengamuk. Tentunya kita telah mengundang amukannya karena ulah kita sendiri. Penjelasan Bhagavad Gita 9:14 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Silakan simak penjelasan Yoga Sutra Patanjali mengenai hal-hal tersebut di bawah ini:

Cover buku Yoga Sutra Patanjali

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Berkat Samyama (dharana atau kontemplasi; dhyana atau meditasi; dan menyadari atau memusatkan kesadaran) pada Cahaya Bulan atau Rembulan, seseorang meraih pengetahuan tentang konstelasi perbintangan.” Yoga Sutra Patanjali III.28

 

Terlepas dari ada atau tidaknya kehidupan di planet lain, di galaksi lain, yang jelas planet-planet itu sendiri merupakan organisme yang hidup. Alam semesta adalah sesuatu yang hidup. Dengan adanya kesadaran seperti itu, seorang Yogi menjadi manusia yang bertanggung jawab. Ia akan selalu memperhatikan ucapan, dan tindakannya.

 

SUPAYA KJTA SELALU INGAT, bahwa kehidupan di dunia ini adalah bagian dari suatu Matriks Kehidupan yang sangat precise – presisinya sungguh luar biasa.

Dengan merusak lingkungan, mencemari sumber air, dan sebagainya, kita tidak hanya mencelakakan planet bumi dan penghuninya—termasuk kita sendiri – ,tetapi juga mengganggu Matriks Kehidupan tersebut.

Meletusnya gunung, terjadinya tsunami, dan sebagainya bukanlah fenomena alam semata. Amukan alam dapat dihindari, atau setidaknya dapat diminimalkan, jika kita bekerja sama dengan alam, jika kita merawat bumi ini dengan penuh kasih.

Apalagi mengingat posisi kita yang tinggal di wilayah ring of fire atau cincin api. Letupan-letupan emosi kita, awalnya hanya memengaruhi hidup kita, relasi kita, dan orang lain yang berurusan dengan kita. Tetapi lambat laun, ketika letupan-letupan emosi itu berubah menjadi letupan kolektif, terjadilah bencana alam!

Setiap tindakan dan perbuatan kita memengaruhi alam sekitar kita. Ketika suatu masyarakat bertindak salah secara kolektif, maka konsekuensinya mesti ditanggung secara kolektif pula.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Semoga renungan ini mengingatkan kita untuk berbuat baik selaras dengan alam……

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Advertisements

3 thoughts on “Kesalahan Kolektif Masyarakat Bisa Saja Mengundang Bencana? #YogaSutraPatanjali

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s