Berkarya Sesuai Potensi Diri #BhagavadGita

“Berkarya sepenuh hati, sesuai dengan kewajiban, dan sifat alami atau potensi dirinya, seseorang mencapai kesempurnaan. Sekarang, dengarlah tentang cara penunaian kewajiban untuk meraih kesempurnaan tertinggi tersebut.” Bhagavad Gita 18:45

Krsna tidak memisahkan spiritualitas dari keseharian hidup. Tidak semua orang mesti menjadi petapa, menggunduli kepala, atau memelihara jenggot. Tidak semua orang mesti berjubah dan menjadi penyiar kepercayaan.

Buku Bhagavad Gita

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Berikut penjelasan berkarya sesuai potensi diri dalam Bhagavad Gita 18:45 dan bagaimana membagi waktu untuk istirahat, usaha, keluarga dan spiritual dalam Bhagavad Gita 18:46:

 

SETIAP ORANG MEMILIKI KEWAJIBAN terhadap dirinya, terhadap keluarga — jika dia berkeluarga — dan terhadap masyarakat.

Jika Anda seorang artis, maka tetaplah berkarya di dunia hiburan. Tidak ada yang salah. Menjadi seorang artis adalah sama terhormatnya seperti menjadi pengusaha atau politisi. Tidak perlu berpindah profesi. Jika seni adalah panggilan diri Anda, maka tetaplah berkarya sebagai seniman.

Pun demikian dengan pengusaha, dengan pendidik. Kita semua masih tetap bisa berkontribusi terhadap kemajuan masyarakat. Tidak perlu menjadi politisi atau pejabat tinggi untuk mengabdi.

Sesungguhnya, ketika kita tetap berkarya sesuai dengan sifat alami dan potensi diri —kontribusi kita akan makin besar, makin berarti.

 

DENGAN BERPINDAH PROFESI, kita butuh waktu untuk penyesuaian – kadang kita malah kehilangan momentum, kehilangan waktu dan energi.

Bintang Bollywood, Amitabh Bachchan pernah masuk dunia politik. Tak lama kemudian, ia sadar bahwa dunia itu bukanlah dunianya. He did not belong there. Maka, ia pun mengakui kesalahannya, dan kembali ke dunianya sebagai artis. Hingga saat ini ia masih jaya — masih bertahan sebagai superstar.

Superstar lain, yang pernah lebih hebat dari Bachchan, yakni Rajesh Khanna — melakukan hal yang sama. Barangkali ia pun menyadari bila dirinya tidak memiliki potensi sebagai politisi. Namun, ia tetap bertahan sebagai politisi. Ia meninggal dengan menyimpan banyak kekecewaan. Sayang sekali, dunia politik tidak memperoleh tambahan yang berarti, sementara dunia perfilman Bollywood kehilangan seorang artis kawakan.

Kedua contoh ini hendaknya menjadi pembuka mata bagi kita, yang sering tergoda untuk mengikuti pemilihan sebagai calon legislatif dan sebagainya. Apakah kita memiliki potensi untuk itu? Jangan-jangan kita menjadi badut di sana, akhirnya lebih banyak absen, merugikan diri, merugikan negara dan terutama merugikan rakyat yang memilih kita.

Sebab itu, “Jadilah dirimu sendiri!” adalah nasihat yang tepat dalam hal ini. Jadilah sesuai dengan sifat alami dan potensi dirimu sendiri.

 

“Kesempurnaan Tertinggi tercapai oleh seseorang yang menunaikan kewajibannya sesuai dengan sifat alami atau potensi dirinya, dengan semangat berbakti pada Dia Hyang adalah Asal-Usul semua makhluk, dan Meliputi alam semesta.” Bhagavad Gita 18:46

 

Krsna tidak memisahkan waktu ibadah dari waktu untuk berkarya. Ibadah dan pekerjaan berjalan bersama. Namun, janganlah menjadikan hal ini sebagai pembenaran atas kemalasan diri………

 

JIKA MASIH BELUM BISA bertindak demikian — belum bisa berkarya dengan semangat manembah — maka berbagi waktu untuk ibadah, kegiatan spiritual lainnya, bakti-sosial, keluarga, dan bisnis mesti dilakukan secara cermat.

Janganlah terlarut dalam urusan bisnis atau keluarga sedemikian rupa hingga tidak punya waktu lagi untuk sesuatu yang lain, kemudian beragumentasi bahwa kita sudah berkarya dengan semangat manembah. Kita tidak bisa menipu diri sendiri.

Berkarya dengan semangat manembah seperti yang dianjurkan oleh Krsna hanyalah memungkinkan ketika bisnis, urusan keluarga, dan urusan pribadi kita sama sekali tidak bertentangan dengan kepentingan masyarakat umum. Tidak ada lagi kepentingan diri dan keluarga yang beda dari kepentingan umum.

Berkarya dengan semangat manembah berarti setiap karya kita selaras dengan kepentingan masyarakat umum. Jika belum bisa demikian, maka seperti yang Guru saya anjurkan…….

BAGILAH WAKTU 24 JAM dalam 4 bagian utama. Enam Jam Pertama adalah untuk istirahat, mandi, makan, dan lain sebagainya. Barangkali Anda bertanya, “Apakah 6 jam untuk semuanya itu cukup?”

Jawabannya adalah “Ya, jika Anda seorang meditator.” Kita tidak butuh waktu lebih dari 4-5 jam untuk tidur. Selebihnya untuk mandi, dan lain-lain.”

Enam Jam Kedua adalah untuk Usaha.

Sekali lagi, cukup, jika kita meditator, karena kita sudah pasti efisien dan tidak membuang waktu. Produktivitas dan Kreativitas — meditasi menjamin kedua-duanya.

Enam Jam Ketiga adalah untuk Keluarga.

Untuk segala urusan keluarga, termasuk setidaknya, makan malarn bersama, dan lain sebagainya. Nah, Bagian Kedua dan Ketiga bisa tumpang tindih, dan saling menunjang jika seorang memiliki usaha keluarga, atau ada aktivitas-aktivitas lain dimana keluarga terlibat.

Keempat adalah untuk Laku Spiritual, Sadhana atau Pengembangan Diri, Yoga, Meditasi, Membaca, Bakti Sosial, dan sebagainya.

Inilah jalan alternatif yang aman untuk menuju Kesempurnaan Diri, jika kita belum bisa mendedikasikan 24 jam dengan semangat panembahan.

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/