Aku Penguasa yang Paling Saleh dan Paling Kaya #BhagavadGita

Seorang petani tidak berambisi, ia menyangkul sawahnya, menanam benih, memupukinya, dan menikmati hasilnya. la pun sadar sesadar-sadarnya bila cuaca dan masih banyak faktor lain berada di luar kendalinya.

Ia berdoa, dalam pengertian ia memberkati sawahnya — dan sawah itu menjadi berkah baginya. Jika tidak ada petani yang rnenyangkul sawahnya setiap pagi, Anda dan saya mesti mengonsumsi makanan sintetis buatan pabrik, dalam bentuk pil berwarna-warni. Pil kuning untuk jagung; hijau untuk kangkung; putih untuk nasi, dan sebagainya, dan seterusnya.

Sementara itu, lihatlah keadaan mereka yang selama ini percaya pada kekuatan ambisi. Kendati sudah menjadi kaya-raya, apakah mereka bahagia? Sudah menduduki posisi tinggi, apakah mereka tenang? Sudah berhasil meraih penghargaan, apakah mereka tentram? Sudah memiliki tabungan di Swiss, apakah mereka damai?

Sehatkah orang nomor satu di belahan dunia mana saja? Seberapa besar tingkat stres yang dideritanya? Penjelasan Bhagavad Gita 16:13 dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Berikut penjelasan Bhagavad Gita 16:15-16 tentang mereka yang membanggakan diri tentang kesalehan mereka:

Buku Bhagavad Gita

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Aku kaya, aku berasal dari keluarga besar. Siapa yang dapat menandingi diriku? Aku rajin sembahyang dan berderma. Aku selalu senang.”

“Terbutakan oleh ketololan-diri; terbawa oleh delusi; teradiksi oleh kenikmatan indrawi; pikiran serta perasaan mereka tidak stabil, berkabut; demikian mereka yang bersifat syaitani akhirnya jatuh ke dalam neraka yang paling menjljikkan.” Bhagavad Gita 16:15-16

 

Memamerkan harta-kekayaan, nama keluarga, bahkan betapa rajinnya kita berdoa — semua itu adalah sifat-sifat syaitani.

 

HOLA MERASA DIRINYA MENDAPATKAN BISIKAN dari Gusti Pangeran untuk mengonversi seantero jagad, “Kalau saya tidak berbuat demikian, kelak Gusti akan menegurku, kenapa aku tidak mengonversimu, padahal kau adalah teman terdekatku!” Upaya untuk rnerayu orang lain supaya ia mengikuti paham kita — ini pun sifat syaitani.

Urusi diri sendiri, biarlah orang lain mengurusi dirinya. Berbagilah kesadaran, bukan berbagi pemahaman kita yang belum tentu benar juga.

 

JIWA SEDANG MENERANGI “BADAN INI”, seperangkat indra ini, gugusan pikiran serta perasaan ini. Mari memperhatikan, dan mengurusi dulu apa saja yang diteranginya, baru mengurusi yang lain. Itu pun jika mereka mau diurusi.

Klaim bahwa kendaraan kita adalah yang terbaik, keluarga tempat kita dilahirkan adalah terbaik, kepercayaan kita adalah terbaik, dan sebagainya dan seterusnya — membuktikan satu hal saja yaitu, Jiwa kita telah menyalahidentifikasikan diri dengan alam benda.

Alam benda adalah jalan raya, Jiwa hanya melewatinya saja.

Alam benda menawarkan berbagai pengalaman. Pengalaman makan di warteg dan di restoran mewah. Kadang Jiwa yang sudah bosan dengan pengalaman makan mewah di restoran, ingin mencicipi masakan sederhana di warteg. Seorang pemilik mobil mewah pun kadang ingin mendapatkan pengalarnan di kereta, di bis, di kendaraan umum. Semuanya ini disediakan oleh alam benda. Jiwa menjalaninya, dan melanjutkan perjalanannya.

Kepercayaan “kita” yang sedang “kita” agung-agungkan itu pun hanyalah salah satu dari sekian banyak pengalaman. Pun demikian dengan suka, duka, dan pengalaman-pengalaman lainnya.

 

TENTANG “ANCAMAN” NERAKA – Pemahaman tentang “Svarga” dan “Naraka” dalam peradaban kita tidaklah sama seperti dalarn peradaban-peradaban lain.

Svarga adalah Keadaan Sejati atau Alami bagi Jiwa. Svarga bukanlah suatu tempat, tetapi State of Being, kesadaran diri, dimana Jiwa sadar akan hakikat dirinya.

Sebaliknya Naraka adalah kebalikan Svarga. Keadaan Jiwa yang tidak mengenali kesejatian dirinya. Keadaan Jiwa yang terikat dengan dunia benda. Menjijikkan, dalam pengertian, keadaan tersebut tidaklah alami bagi Jiwa, dan mesti segera dilampauinya.

 

“Termabukkan aleh harta-kekayaan, mereka selalu menganggap diri mereka saja yang benar; keras kepala dan munafik, ritus-ritus kepercayaan yang mereka lakukan pun, demi kepentingan diri dan ketenaran saja, tanpa mengindahkan kemuliaan (niat) dan nilai-nilai kesucian.” Bhagavad Gita 16:17

 

Kilauan materi bukanlah sekadar kepingan perak dan emas, tetapi juga ketenaran, kedudukan, dan sebagainya. Jika mata kita tersilaukan olehnya, maka kita adalah pewaris sifat syaitani, sifat yang tidak mulia.

 

TERSILAUKAN OLEH KILAUAN PALSU ITU, kita hidup sebagai orang buta. Kita menjalani hidup ini tanpa penglihatan. Bahkan, seorang buta hanyalah tidak memiliki mata-fisik. Barangkali mata-batin dia justru sudah terbuka. Sementara itu, mereka yang termabukkan oleh harta-kekayaan, ketenaran, dan sebagainya adalah buta-batin.

Kemudian, dalam keadaan buta-batin seperti itu, ritus-ritus kepercayaan, doa, derma, apa pun yang kita lakukan, sia-sia saja. Sebab, kita melakukan semua itu demi “sesuatu”. Kita tidak melakukannya sebagai ungkapan panembahan atau devosi.

Seringkali, kita bahkan dapat memutar-balikkan makna ayat-ayat suci untuk membenarkan segala kekurangajaran kita.

 

SEBAGAI CONTOHI Bisa saja kita berjubah putih bersih, tanpa noda — namun, pikiran dan petasaan justru dibiarkan tetap bemoda. Jubah putih yang dipakai hanyalah untuk menutupi noda-noda diri, dan mengelabui orang lain.

Pun demikian dengan puasa, perjalanan suci dan berderma. Semuanya bisa dilakoni hanya untuk mernamerkan kesalehan diri. Panembahan bukan pameran, bukan untuk dipamerkan!

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/