Bila Masih Terikat Dunia, Ingatan Past Life Bisa Membingungkan #BhagavadGita

Yang Penting Hikmah dari Past Life

“Kurunandana (Arjuna, Kebanggaan wangsa Kuru), seorang Yogi yang demikian itu diberkati dengan pandangan spiritual yang jernih tentang masa lalunya; sehingga ia dapat melanjutkan perjalanannya menuju kesempurnaan dengan segenap kekuatannya.” Bhagavad Gita 6:43

Tidak semua orang bisa mengenang masa lalu mereka. Jika kita masih sangat terikat dengan dunia benda, maka ingatan tentang masa lalu tidaklah membantu, malah membingungkan!

 

BAYANGKAN, JIKA KITA MENGINGAT KEMBALI bahwa anak kita sekarang, dulu adalah pasangan kita. Pembantu kita dulu meminjam uang dan tidak mengembalikannya, sekarang menjadi bos kita.

Ingatan-ingatan, memori-memori dari satu masa kehidupan saja sudah cukup membebani, apalagi ingatan-ingatan dari beberapa masa kehidupan! Kita bisa bingung sendiri! Sulit bagi kita untuk bertindak. Maka, seluruh memori itu “diperas” — hikmahnya diambil dan dijadikan “potensi diri”. Ampasnya dibuang. Ceritanya dibuang, moralnya diambil.

Lain halnya dengan mereka yang sudah tidak terikat lagi dengan kebendaan. Bagi mereka, ingatan tentang masa lalu bisa menjadi “koleksi cerita” untuk berbagi dengan rnereka yang hendak dilayaninya.

Seorang Buddha bercerita, berkisah tentang masa lalunya sebagai manusia, binatang, apa saja. Ia tidak melakukan hal itu untuk memberi angin pada egonya. Ia melakukan hal itu supaya kita “mengerti”. Supaya kita pun bisa belajar dari pengalaman-pengalamannya. Buddha pernah berkata bahwa seseorang yang mengenang, mengingat masa lalunya dengan jelas — tidak perlu mengalami reinkarnasi lagi. Ia telah mencapai akhir perjalanannya. Ia telah terjaga. Ia adalah Buddha.

Keadaan yang sama disebut sebagai “Kesempurnaan dalam Yoga” oleh Krsna. Inilah yang disebut sebagai Purnama Siddhi — Pencapaian Pencerahan — ibarat bulan purnama dengan sinarnya, rembulannya menyejukkan.

Berikut penjelasan Bhagavad Gita 6:44 bahwa upaya menempuh Yoga, menuju kesempurnaan di kehidupan masa lalu, past life,  lebih dahsyat daripada tindakan para saleh mengikuti petunjuk kitab suci di kehidupan masa kini. Oleh karena itu tempuhlah Yoga saat ini agar di kehidupan mendatang kita memperoleh berkah:

Buku Bhagavad Gita

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Ada pula yang lahir dalam keluarga kaya dan sejahtera; masih terbawa oleh nafsu indranya, namun juga tertarik dengan hal-hal yang bersifat rohani karena pengaruh dari masa lalunya – jika mereka berupaya untuk mencapai kesempurnaan dalam Yoga, maka upaya mereka itu melebihi tindakan para saleh yang senantiasa sibuk melaksanakan ritus-ritus sesuai petunjuk kitab-kitab suci.” Bhagavad Gita 6:44

 

Sabda Brahman” berarti “Suara Tuhan” atau Sruti; atau dalam bahasa kita, “wahyu”. Para saleh mengikuti wahyu sebagaimana dikumpulkan dalam kitab-kitab suci kita, menjalani hidup mereka sesuai dengan apa yang diajarkan—namun, jangan lupa, “wahyu” adalah suara-Nya yang didengarkan oleh “seseorang” – oleh seorang resi. Sruti, berarti, “yang terdengar”; dan pendengarnya disebut Rsi.

 

PARA RSI ATAU RESI TELAH MELIHAT KEBENARAN – Mereka telah mendengarkan suara-Nya, telah merasakan keberadaan-Nya. Namun semua itu adalah pengalaman mereka, pengalamanpribadi mereka.

Krsna mengajakArjuna untuk “menjadi” resi — untuk mencapai “kesempurnaan dalam Yoga”—yang kemudian, ia dapat mendengar sendiri suara-Nya. Ia dapat melihat-Nya, dan merasakan sendiri kehadiran-Nya.

Mendengar suara-Nya, dalam pengertian Yoga, adalah menyatu dengan-Nya — dan, inilah pencapaian tertinggi.

Walau, dalam kehidupan ini kita belum mencapai kesempurnaan dalam Yoga, belum menyatu dengan-Nya dan keburu “mati”, tiada yang perlu dikhawatirkan. Upaya kita sepanjang hidup tidak sia-sia.

 

DALAM MASA KELAHIRAN BERIKUTNYA… Walau lahir dalam keluarga kaya, sejahtera, serba berkecukupan, atau bahkan berlimpah, walau masih sering terbawa oleh hawa nafsu, dan masih pula terkendali oleh indra — kita akan tetap berupaya untuk meraih kesempurnaan dalam Yoga.

Kita tidak bisa mengabaikan dorongan Jiwa, suara hati, untuk melanjutkan perjalanan rohani kita. Kiranya, keadaan ini yang dialami oleh seorang pangeran seperti Siddhartha. Maka, dengan adanya pemicu sedikit saja — dengan melihat kenyataan hidup berupa kelahiran, kematian, penyakit, usia tua, dan sebagainya — ia langsung mengingat kembali “tujuannya” dan meninggalkan istana untuk melanjutkan perjalanannya.

 

ARJUNA BERADA DALAM P0SISI YANG MIRIP, tapi tidak sama. Dalam diri Arjuna, potensi sebagai seorang kesatria masih tetap melengket. Tidak demikian dengan Siddharta. Sebab itu, Arjuna mesti berada di tengah keramaian dunia dan mengupayakan kesempurnaan dalam Yoga sambil tetap menjalankan profesinya.

Sementara itu, Siddhartha tidak memiliki identitas-kesatria yang melengket pada dirinya. Walau lahir sebagai pangeran, Jiwa Siddhartha sudah rnerasa cukup menjalani peran sebagai kesatria dalam beberapa masa kehidupan sebelumnya. Maka, ia ingin memiliki pengalaman yang beda – pengalaman sebagai petapa.

Potensi seorang Siddharta adalah sebagai bhiksu, sebagai petapa. Potensi Arjuna sebagai kesatriia.Namun kedua-duanya sedang menuju pengalaman akhir yang satu dan sama—kesempurnaan!

 

BANYAK ORANG LAHIR DALAM KELUARGA KAYA-RAYA. Namun, mereka tidak tertarik dengan apa saja yang menyangkut pengembangan diri. Berarti, mereka memang belum memiliki keinginan untuk mengalami hal itu. Di masa lalu, mereka tidak pernah berupaya untuk mengalami kesempurnaan dalam Yoga. Maka sekarang, dalam masa kehidupan ini pun, mereka tidak merasakan dorongan batin ke arah tersebut.

Jadi, tidak berarti setiap orang yang lahir dalam keluarga kaya adalah Yogi yang hendak melanjutkan perjalanarmya. Bisa saja, ia sekadar menikmati hasil dari segala amal-saleh yang dibuatnya di masa lalu, dan belum ada keinginan untuk mencapai kesempurnaan diri.

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

Bagi teman-teman yang ingin merasakan past life silakan kontak L’Ayurveda Jakarta atau Bali.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s