Membangkitkan Kembali Budaya Spiritual #Temu Hati 2 Master

Makna Salam Om Svastyastu

Pada tanggal 25 dan 26 April 2017 di Anand Ashram Ubud, semua peserta yang hadir mendengarkan dharma talk oleh Yang Mulia Bhikku Sanghasena dari Mahabodhi International Meditation Center India dan Guruji Anand Krishna dari Anand Ashram Indonesia.

Pada saat dhamma talk, Bapak Anand Krishna juga menjelaskan tentang salam Om Svastyastu, ucapan selamat di Bali.

Svastika adalah kebijakan kuno masyarakat di masa lalu yang simbolnya ditemukan pada peninggalan kebudayaan kuno Mohenjodaro dan Harappa di Sindh sekarang wilayah Pakistan, sekitar 4.000 tahun yang lalu (dan dengan penemuan terbaru ternyata sekitar 12.000 tahun yang lalu). Simbol tersebut menjelaskan adanya 4 hal utama yang membahagiakan manusia:

  1. Melakukan Dharma, kebajikan. Bila kita melakukan kebajikan kita akan merasa bahagia. Sebaliknya bila melakukan kebatilan, maka kita akan merasa cemas dan tidak merasa bahagia.
  2. Mempunyai Artha, apa pun yang membuat hidup berati, bermakna, maka itulah Artha, termasuk money, uang. Kalau sekadar uang belaka itu dan kegunaannya tidak bermakna bagi banyak orang, maka itu bukan Artha, itu sekadar fulus.
  3. Terpenuhi Kama, keinginannya. Seseorang bahagia bila keinginannya terpenuhi, dia memperoleh kepuasan, contentment, psychological factor. Sampai suatu saat dia sadar bahwa keinginan duniawi tidak membahagiakan karena segala sesuatu yang bersifat duniawi bersifat sementara, temporer.
  4. Mencapai Moksa, kebebasan. Selama kita terbelenggu maka kita belum bebas, dan kita belum bahagia.

 

Jadi pada saat kita mengucapkan salam Om Svatyastu, kita mendokan orang yang kita temui: “Semoga Bapak, Ibu, Saudara, Saudari makmur dengan memperoleh 4 hal utama: dharma, artha, kama dan moksa.

Demikian disampaikan Bapak Anand Krishna saat menjelaskan tentang simbol svastika yang dipasang di dinding hall Anand Ashram Ubud.

 

Guru membangkitkan sifat keilahian dalam diri

Bhikku Sanghasena dalam salah satu butir dhamma talk menyampaikan tentang potensi kebuddhaan (kita menyebutnya potensi keilahian) dalam diri kita semua. Menurut Bhante, kita semua adalah Buddha hanya buddha yang masih tidur. Wake up! Bangun! Agar kebuddhaan dalam diri bangkit, terjaga dari tidur lelap diperlukan Guru, Master untuk mengetok kepala kita agar bangun, bangkit. Bila tidur kita terlalu lelap, dibutuhkan seorang Master seperti Bodhidharma yang kuat dan perkasa untuk mengetok kepala kita agar bangun, bangkit.

Usia seorang guru terbatas, akan tetapi organisasi spiritual yang telah dibangunnya harus tetap jalan. Dibutuhkan orang-orang yang penuh dedikasi untuk melanjutkan perjalanan organisasi.

 

Kelestarian Lembaga Spiritual untuk melayani masyarakat

Di India banyak organisasi spiritual seperti ashram yang masih berjalan setelah berdiri ratusan tahun lalu.

Bhikku Sanghasena mengakui ada perbedaan kondisi di lingkungan di India dan Indonesia. Akan tetapi telah hubungan cultural dan spiritual antara India dan Indonesia sejak zaman dahulu. Contohnya, saat ini Beliau datang darii Himalaya, Mountains of God datang ke Bali Island of Gods…….. Semua hadirin tertawa keras……..

Nampaknya Bapak Anand Krishna mengharapkan kita semua belajar dari Bhante, terutama dalam hal bagaimana mengelola organisasi Mahabodhi agar tetap lestari.

Bapak Anand Krishna bertemu Bhikku Sanghasena pada tahun 1991 di Ladakh, Leh. Pada tahun 1992, Bhante mengumpulkan anak-anak kecil dari tempat-tempat terpencil di Gurun Ladakh untuk dikumpulkan dan dididik di Ladakh.  Dimulai dengan 25 anak-anak yang  belajar, bermain, dan hidup bersama di satu kamar yang besar. Sambil berjalannya waktu tanah tandus yang kalau musim dingin tertutup salju itu dilakukan penghijauan, dan sekarang sudah menjadi kompleks Mahabodhi yang asri, lengkap dengan sekolahan, rumah sakit, panti jompo dan bangunan kelengkapan spiritual lainnya. Bahkan sudah ada cabangnya di beberapa tempat di India.

Salah seorang pendamping Bhante adalah Sister Tsewang Dolma, salah satu dari 25 murid awal tersebut. Selesai sekolah di Ladakh, dia melanjutkan ke Universitas di Bangalore dan setelah lulus kembali ke Ladakh mengabdikan diri di Mahabodhi. Sekarang dia menjadi principal, kepala sekolah di Mahabodhi, Ladakh. Demikian juga di antara 25 anak murid awal tersebut adalah Sister Kunzang Dechen yang juga mendampingi Bhante ke Bali. Dia sekarang mengabdikan diri di Mahabhodi sebagai seorang Instruktur Yoga.

Pada saat ini ada 500 murid dan 350 di antaranya tinggal di asrama di Ladakh. Bhante mengatakan bahwa mereka mempelajari tradisi mana pun yang menunjang peningkatan kesadaran.

 

Bagaimanakah dengan kita?

Apakah tujuan hidup kita? Kebanyakan tujuan kita adalah keberhasilan duniawi yang bersifat pribadi. Kemudian pengalaman kita membuktikan bahwa kebahagiaan duniawi hanya bersifat sementara, temporer.

Di India, seperti halnya contoh dua orang pendamping Bhante yang datang ke Bali, setiap ashram selalu ada orang-orang yang tahu tujuan hidupnya. Tujuan hidupnya adalah untuk menuju Tuhan dan untuk itulah mereka memerlukan seorang Master, seorang Guru. Setelah bertemu Guru, mereka berhenti memimpikan dunia yang bersifat sementara. Mereka menjadi tangan-tangan Guru dalam melayani masyarakat dan lingkungan.

Bila kita baca Srimad Bhagavatam yang ditulis Bhagavan Vyaasa, kita akan membaca contoh perjalanan hidup para panembah Gusti. Ada tokoh-tokoh seperti Rishi Kapila yang sejak kecil sudah langsung fokus pada Gusti. Ada yang sejak kecil sudah sadar, terjaga seperti Dhruva atau Prahlada, yang kemudian menjadi raja dan berkeluarga dan setelah itu menlakukan Vanaprastha, meninggalkan istana sampai menjadi Sanyasin yang berfokus penuh pada Gusti.

Banyak pula brahmana seperti Rishi Kardama yang menjadi Grihasthya, perumah-tangga untuk mengikuti perintah Brahma berkembang-biak di dunia dan setelah putra-putrinya mandiri, mereka fokus pada Gusti menjalani Vanaprastha untuk kemudian menjadi Sanyasin.

Ada pula seperti Rishi Narada yang tidak berkeluarga dan berbagi pengetahuan ilahi serta selalu memuja Gusti Narayana.

Di India contoh-contoh kehidupan para panembah Gusti masih diteladani. Sejak kecil sudah belajar di ashram, dan setelah mereka menjadi dewasa banyak yang menjadi pemimpin yang bijaksana. Ada budaya untuk melakukan karma yoga, melayani sesama, bukan hanya kepetingan pribadi dan kelompok. Tujuan akhir adalah Gusti Pangeran.

Mencari artha, uang, kedudukan dan apa saja yang kita perbuat di dunia ini adalah untuk dharma, menggunakan kama, semua keinginan, obsesi dan harapan apa pun diarahkan menuju moksa. Mungkin tradisi demikian sudah hilang dari negeri kita. Kenapa tidak mulai dari sekarang?

Para Master usianya terbatas akan tetapi organisasi yang dibentuknya tetap melayani masyarakat sampai ratusan tahun…….. Semoga….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s