Sifat Bawaan Ilahi dan Syaitani dalam Diri #Bhagavad Gita

Berdasarkan samskara atau “hikmah bawaan” dari pengalaman-pengalaman di masa lalu, adalah dua Kecenderungan atau Karakter utama yang menjadi “pilihan alami” setiap manusia: SIFAT DAIVI dan  SIFAT ASURI atau DAITYA.

Daiva berarti “Yang Berkilau, Bercahaya”. Karakter Daiva adalah Sura, “Selaras dengan Alam, dengan Kodrat manusia”. Sementara itu Daitya atau Asura adalah Karakter yang “Tidak Selaras dengan Kodrat Manusia, dengan Alam”.

Karakter Daivi atau Sura membantu kita dalam hal peningkatan kesadaran. Karakter Daitya atau Asuri menahan kita ke bawah, membuat kita terikat dengan dunia benda. Dikutip dari Kata Pengantar Percakapan ke Enam Belas dari buku dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Buku Bhagavad Gita

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Sesungguhnya hanya ada dua macam makhluk di dunia ini; mereka yang bersifat dasar mulia, Daivi atau Ilahi, dan yang tidak mulia, Asuri utau syaitani. Tentang mereka yang bersifat dasar mulia, Daivi atau Ilahi sudah Ku-jelaskan secara rinci; sekarang dengarlah tentang mereka yang tidak mulia, Asuri atau syaitani, Wahai Partha (Arjuna, Putra Prtha, sebutan lain bagi Kunti, Ibu Arjuna).” Bhagavad Gita 16:6

 

Asura, Daitya atau Syaitan perlu dikenal – sehingga kita dapat menghindarinya. Negativitas perlu diketahui, sehingga kita dapat meninggalkannya. Sampah dan kotoran adalah fakta, realita – keberadaannya mesti diakui, supaya kita dapat rnembakar, atau mendaur-ulangnya menjadi energi, yang dapat digunakan kembali.

 

ASURA, DAITYA, ATAU SYAITAN BUKANLAH “KATA AKHIR” – Syaitan bisa berkembang menjadi Super Syaitan, atau mengalami proses daur ulang menjadi Energi yang Mulia, menjadi Sura, Deva.

Jika seseorang yang lahir dengan sifat-sifat syaitani dibiarkan tumbuh sendiri, atau tumbuh di tengah lingkungan yang justru menunjang ke-syaitan-an dirinya — maka jadilah dia Super Syaitan!

Umumnya memang demikian.

Mereka, yang dalam masa kehidupan sebelumnya, bersifat syaitani; dan saldo atau balance-carried forward-nya adalah sifat-dasar tersebut ; maka kelahiran berikutnya hampir dapat dipastikan di tengah masyarakat yang bersifat sama, syaitani.

 

MASIH ADAKAH HARAPAN BAGI MEREKA? Ada, masyarakat dengan sifat-sifat syaitani memang mesti punah. Mereka mesti didaur-ulang secara kolektif pula. Sementara itu, individu-individu yang mendapatkan berkah berupa bimbingan dari seorang Pemandu Rohani, bisa saja memperbaiki dirinya, tanpa menunggu proses daur-ulang kolektif bagi masyarakatnya, yang kadang membutuhkan waktu beribu-ribu tahun.

Kembali pada ayat…….

Uraian tentang sifat-sifat syaitani berikut adalah dalam rangka mengenal sifat-sifat syaitani. Supaya,jika kita memilikinya, bisa cepat-cepat mendaur-ulangnya.

 

“Mereka yang bersifat tidak mulia, asuri atau syaitani, tidak dapat memilah antara tindakan mulia dan tepat dengan yang tidak mulia dan tidak tepat. Mereka tidak tahu kapan mesti bertindak, dan kapan tidak bertindak. Tiada kesucian, kemuliaan; perilaku baik, dan kejujuran di dalam diri mereka.” Bhagavad Gita 16:7

 

Ketepatan dalam hal bertindak — itulah yang utama. Bagi seorang ibu yang mencintai, menyayangi anaknya, adalah tepat jika ia membiarkan anaknya tumbuh mandiri. Jika ia memanjakannya secara berlebihan dan selalu melindunginya; maka ia bertindak tidak tepat. Ia berperilaku syaitani.

 

BAGI SEORANG PEMIMPIN melayani rakyat adalah tindakan yang tepat. Jika ia mementingkan partai, kroni, serta keluarganya dan menomorduakan rakyat, maka ia bertindak tidak tepat.

Seorang pengusaha mesti mencari uang dengan cara-cara yang wajar ; itulah tindakan yang tepat. Namun jika ia menghalalkan segala cara untuk menimbun harta di atas timbunan penderitaan dan isak tangis orang lain — maka ia bertindak tidak tepat.

Tindakan yang tidak tepat, tidak pada tempatnya adalah ketika seorang kesatria yang harus membela bangsa dan negaranya meletakkan senjata dan menyerah pada musuh. Sebaliknya, jika ia menggunakan senjata untuk membidik sesama anak bangsa demi kepentingannya sendiri — maka ia bertindak tidak tepat pula.

 

TIDAK ADA SALAHNYA kita menyemproti nyamuk—nyamuk yang mengganggu dan dapat menimbulkan penyakit. Jika kita membiarkan kurir demam berdarah berkeliaran bebas — maka kita bertindak tidak tepat. Namun, jika kita membunuh hewan untuk dikonsumsi demi kesenangan atau kenikmatan cecapan, maka kita bertindak tidak tepat.

Bagi seorang petapa atau biarawan, meditasi selama berjam-jam adalah tepat. Bagi seorang kepala rumah tangga pemerintahan, atau sebagainya — yang secukupnya saja. Tidak perlu meniru petapa.

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s