Merendahkan Maupun Iri adalah Melecehkan Gusti yang Bersemayam dalam Diri Semua Orang

lni punyaku, itu bukan; ini milikku, itu bukan; seperti inilah aku, aku lain dari kamu, inilah pikiranku, seperti inilah perasaanku—kamu lain; ini putraku, takhtaku, mahkotaku, hartaku—sedang yang itu, adalah punyamu, milikmu.

Segala pengalaman saling bertentangan tercipta oleh dualitas aku dan kamu. Itulah benihnya, benih pertentangan. Benih perpecahan. Selama benih perpecahan dualitas masih ada; selama citta atau benih-benih pikiran dan perasaan masih memiliki muatan atau potensi perpecahan, kita akan selalu terombang-ambing di tengah lautan samsara, kita akan selalu mengulangi pengalaman kelahiran dan kematian secara berulang-ulang.

……………

Selama masih berkesadaran jasmani murni, dualitas tidak bisa dilampaui. Dualitas baru bisa dilampaui, baru bisa “mulai” dilampaui pada tataran energi. Energi yang ada di dalam diri saya, yang menghidupi, menggerakkan diri saya adalah sama dengan energi yang ada di dalam dan menggerakkan Anda. Sebatas ini dulu. Landasan energi ini penting. Tidak perlu membahas filsafat yang tinggi. Sederhana dulu.

Dengan memahami hal ini, kita baru bisa mengapresiasi ungkapan Tat Tvam Asi, Itulah Kau; That Thou Art, That You Are! Dan itu pula Aku. That I am. Kemudian, kedua tangan kita, dengan sendirinya, akan mengambil sikap.

…………..

Namaste, Namaskara, Salam; Tat Tvam Asi, Itulah Engkau—dan pada-Mu Hyang bersemayam di dalam setiap makhluk, kuucapkan salam-hormatku, salam-kasihku. Penjelasan Yoga Sutra Patanjali I.33 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Berikut penjelasan Bhagavad Gita 16:18 bahwa Merendahkan Orang Lain ataupun Iri sama dengan Melecehkan Tuhan:

Buku Bhagavad Gita

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Terkendali oleh keangkuhan, kekerasan, kesombongan, nafsu, amarah dan sebagainya, mereka sesungguhnya melecehkan Aku yang bersemayam dalam diri mereka dan diri setiap arang.” Bhagavad Gita 16:18

 

Pelecehan terjadi, karena kita menaruh rasa iri terhadap orang lain, cemburu, atau menganggapnya lebih rendah. Semua ini muncul dari delusi bahwasanya “lain”-nya seseorang adalah sebuah realita.

 

PADAHAL YANG “LAIN” ITU TIDAK ADA – Sang Jiwa Agung, lewat percikan-percikan yang tak pernah terpisahkan dari-Nya sedang menerangi setiap makhluk. Sinar suci yang sama menerangi setiap orang.

Di tingkat wahana-badan, memang banyak jenis, beragarn kendaraan. Sepintas, pengemudi setiap kendaraan pun tampak beda. Keturunan Cina jelas beda dari keturunan Afrika. Orang Asia tidak memiliki warna kulit yang sama seperti orang Eropa. Namun, aliran kehidupan, listrik Ilahi yang menghidupi setiap pengemudi adalah satu dan sama.

 

PERLOMBAAN DAN PERTARUNGAN terjadi karena kebodohan diri. Baru-baru saja terungkap suatu berita yang cukup sensasional. Namun, kemudian berita itu “hilang”. Beritanya tentang dua kelompok pemain yang berbeda — tapi, sesungguhnya dibayar oleh sekelompok pengusaha yang sama. Para pemain di dalarn kelompok-kelompok itu dibiarkan berlomba dan bertarung hingga berdarah-darah. Para penonton dihibur – atau, lebih tepatnya dikibuli — dengan tontonan penuh kekerasan.

Para penjudi di luar arena pun bertarung, ada yang menjagokan pemain “A”, ada yang berharap pada pernain “B”. Dualitas di luar tampak sedemikian nyata dan jelas. Namun, di balik itu, sang sutradara adalah satu. Sekelompok pengusaha itulah yang sebenarnya memegang kendali.

Siapa pun yang menang, siapa pun yang kalah — para investor selalu menang, selalu untung, tidak pernah rugi.

 

SEPERTI ITULAH PERMAINAN SEMESTA – Bedanya, bagi Jiwa Agung, untung-rugi bukanlah tujuan-Nya mengadakan pagelaran kehidupan ini. Bukanlah tujuan-Nya untuk mencari keuntungan. Segala-galanya adalah milik-Nya, mau cari untung apa dan dari siapa lagi?

Krsna jelas dan tegas bila perlombaan bukanlah tujuan hidup. Setiap orang unik adanya. Setiap percikan Jiwa adalah unik. Ia sedang mengumpulkan pengalaman tenentu.

Setiap wahana-badan pun unik, tidak ada yang rnenjadi pembandingnya. Jadi, jika kita berlomba-lomba untuk mengejar tahta atau harta saja, maka kita sama sekali tidak memahami Jiwa dan permainan-Nya.

BERMAIN, YA UNTUK BERMAIN – Bukan untuk menang atau kalah. Dalam perrnainan ini, setiap orang sudah pasti sukses, jika ia bermain dengan semangat bermain, bukan untuk mengalahkan orang lain.

Setiap orang ditakdirkan sebagai pemenang.

Setiap kendaraan di Sirkuit Ilahi ini adalah unik dan luar biasa, dahsyat!

Menganggap rendah orang lain, meremehkan perannya, melecehkan dirinya — adalah sama dengan merendahkan, meremehkan, dan melecehkan Sang Jiwa Agung, yang atas kehendak-Nya, Pagelaran Kolosal ini sedang digelar.

Bagi Sang Jiwa Agung, arena permainan ini adalah – bukan saja milik-Nya – tetapi Dia Sendiri. Segala perlengkapan di dalam alam adalah Dia. Pemain adalah Dia. Semuanya Dia, Dia, Dia.

Ketika “kita” — dalam kebodohan kita — “melecehkan” orang lain; maka sesungguhnya kita “seolah” melecehkan Dia. Kenapa “seolah”? Karena sesungguhnya Ia tidak bisa dilecehkan. Tindakan menghina atau meremehkan orang lain adalah persis sama seperti meludahi langit. Ludah itu akan jatuh kembali. Dengan cara itu, kita hanyalah meludahi diri.

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s