4 Kondisi Duka Derita dalam Kehidupan Kita #YogaSutraPatanjali

Klesa atau duka-derita bukanlah benda, bukan pula keadaan di luar diri, tapi pengalaman-diri. Klesa atau Duka-Derita adalah “sesuatu yang kita alami”. Jadi, amat sangat subjektif, personal.

Kadang kita “merasa” panas, kegerahan—pengalaman kegerahan ini adalah sangat riil bagi kita. Tapi sebaliknya, di dalam ruangan yang sama, ada juga seseorang yang memakai baju hangat. Ia tidak kegerahan, malah kedinginan. Suhu di luar (suhu di ruang) sama, keadaan sama. Ia kedinginan, kita—Anda dan saya—kepanasan,kegerahan.

Berarti apa? Klesa atau Duka-Derita disebabkan oleh “keadaan-diri kita masing-masing, “pengalaman-diri” kita masing-masing. Bukan karena keadaan di luar diri…………..

Dengan berkembangnya samadhi, berakhirlah klesa secara berangsur, bertahap—mengikuti laju perkembangan samadhi. Jika laju perkembangan samadhi amat sangat pelan, berakhirnya klesa atau duka-derita pun pelan, slow. Jika perkembangan samadhi pesat, berakhirnya duka-derita pun pesat. Yoga Sutra Patanjali II.2 Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Berikut penjelasan Yoga Sutra Patanjali mengenai 4 kondisi klesa atau duka-derita:

Buku Yoga Sutra Patanjali

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Avidya, kebodohan atau ketidaktahuan adalah dasar, landasan, atau sebab utama segala sebab lainnya yang menyebabkan klesa atau duka-derita (Sebab-sebab lain yang dimaksud adalah asmita atau ke-‘aku’-an; raga dan dvesa atau ketertarikan dan ketaktertarikan, suka dan tak suka; dan, abhinivesa atau keinginan untuk mempertahankan sesuatu), terlepas dari apakah duka-derita itu dalam keadaan dormant atau tidak aktif; dalam proses sedang berkurang, Iewat; sudah teratasi tapi bisa datang kembali, bisa terasa Iagi sewaktu-waktu; atau sepenuhnya aktif dan sedang meluas, berkembang, bertambah.” Yoga Sutra Patanjali II.4

Tentang Avidya, Kebodohan atau Ketidaktahuan sebagai Sebab Utama di balik sebab-sebab lain sudah kita bahas sebelumnya. Adalah penggalan kedua, paruh kedua sutra ini yang sangat penting, di mana Patanjali menjelaskan “sifat” klesa, sifat duka-derita.

 

PERTAMA: PRASUPTA ATAU DORMAN. Jika diterjemahkan secara letterlijk, Prasupta berarti “Tertidur”—dalam keadaan tidur. Ini adalah keadaan yang dicapai, dapat dicapai oleh seorang Yogi. Segala duka-derita di dalam dirinya sudah tertidur.

Dalam hal ini, keadaan seorang Yogi adalah sama seperti keadaan seorang Ibu dengan anaknya yang sudah kenyang, sudah Ielah bermain, dan tertidur. Sekarang, sang Ibu boleh melakukan aktivitas yang lain. Ia tidak lagi terganggu oleh urusan anak.

Atau, keadaan seorang raja yang telah berhasil menaklukkan musuh-musuhnya. Sekarang, ia boleh santai. Para musuh sudah dilucuti senjatanya. Mereka dalam keadaan lemah. Mereka tidak dalam posisi untuk menyerang lagi atau menyebabkan gangguan lain.

Kendati demikian, tidak berarti seorang Yogi boleh hidup tanpa kepedulian. Tidak. Sama sekali tidak. Anak yang sedang tidur bisa terjaga sewaktu-waktu. Musuh yang tertaklukkan pun bisa menyusun strategi dan menyerang balik.

Seorang Yogi yang sudah berhasil keluar, berhasil bebas dari lingkaran klesa atau duka-derita masih harus selalu eling selalu waspada.

Seorang Yogi boleh merasa tidak terpengaruh ketika kehilangan suatu benda yang sangat disayanginya. Ia tidak tenggelam—tidak larut dalam klesa atau duka-derita. Tapi, bagaimanajika ia kehilangan mata pencariannya? Bagaimana jika kehilangan seseorang yang sangat disayanginya? Bagaimana jika kehilangan salah satu anggota badannya? Salah satu indranya? Saat itu, klesa atau duka-derita yang sudah tertidur, sudah prasupta, bisa terjaga kembali!

Intinya: Selalu Eling, Selalu Waspada!

 

KEDUA: TANU ATAU DALAM PROSES SEDANG TERATASI. Dengan kata lain, sedang berkurang. Pengaruhnya mulai melemah.

Saat “baru” terjadi sesuatu yang tidak sesuai dengan harapan atau kemauan kita, rasa sakitnya luar biasa. Tetapi setelah beberapa lama, rasa sakit pun mulai berkurang. Kemudian, bisa saja berakhir tanpa meninggalkan bekas.

Keadaan ini adalah keadaan umum. Seperti inilah keadaan kita semua. Suka-cita maupun duka-derita, keduanya tidak permanen.

 

KETIGA: VICCHINNA ATAU SUDAH TERATASI SEPENUHNYA. Jika keadaan kedua sebelumnya masih dalam proses, dalam keadaan ketiga ini proses sudah berhasil. Duka-derita sudah teratasi—sudah teratasi untuk “saat tertentu”. Implikasinya adalah sewaktu-waktu ia masih bisa muncul kembali.

Berikut contoh untuk memudahkan pemahaman kita. Ada kala kita disakiti seseorang. Kemudian—setelah menderita selama berhari-hari, berminggu-minggu, atau berbulan-bulan—duka itu mulai melemah, hingga suatu ketika tidak terasa lagi. Tidak mengganggu lagi. Terlupakan.

Tapi, beberapa lama kemudian, tiba-tiba tanpa sengaja kita berpapasan dengan orang yang menyakiti kita. Apa yang terjadi? Pengalaman klesa dan duka—yang sebelumnya terasa sudah lewat, sudah terlupakan—muncul kembali, terasa kembali. Bahkan, bisa jadi perasaan yang “baru” muncul itu memiliki kekuatan yang lebih dahsyat dibandingkan dengan yang lalu.

Keadaan ini pun umum. Kita semua mengalaminya dari waktu ke waktu.

 

KEEMPAT: UDARANAM ATAU MASIH AKTIF, masih terasa, bahkan sedang bertambah. Ini pun keadaan umum. Sesuatu yang baru terjadi atau pengalaman duka yang amat sangat dahsyat, yang mampu menghanyutkan segala pengalaman lainnya.

Demikianlah sifat klesa atau duka-derita. Sangat penting bagi setiap praktisi Yoga untuk memahami sifat-sifat ini supaya dapat rnenjaga diri, mengawasi diri. Saat baru mengalami salah satu keadaan di antaranya, jangan sampai kita berpikir sudah bisa melampaui segala duka-derita. Jangan cepat-cepat menyimpulkan, “Aku sudah cerah, sudah mencapai samadhi.”

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s