Tempat yang Kondusif untuk Hunian dan Laku Spiritual #BhagavadGita

Pengaruh lingkungan jauh lebih kuat daripada kehendak manusia. Demikian kata Parahansa Yogananda. Dan demikianlah adanya. Tidak perlu sombong, tidak perlu arogan. Pernyataan-pernyataan seperti “Aku sudah mencapai titik di mana tidak ada lagi yang menggoyahkan imanku” hanya akan menjatuhkan Anda.

Berjaga-jagalah terhadap lingkungan Anda, terhadap persahabatan Anda. Apakah mereka menunjang kehendakmu? Itulah sebabnya mereka yang telah berkehendak untuk berfokus pada Kasih Allah saja sebaiknya tinggal di dalam suatu komunitas di mana setiap orang memiliki kehendak yang sama. Di mana setiap orang berfokus pada Kasih Allah. Sehingga tidak lagi terjadi tarik-menarik energi antara kekuatan kehendak dan pengaruh lingkungan. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Defisiensi energi karena tinggal di kota besar. Defisiensi atau kekurangan energi juga membuat kita takut dengan tempat-tempat yang sempit. Kita tidak bisa tinggal dalam apartemen yang sempit dan kecil. Dinding-dinding apartemen terasa mencekik. Banyak orang-orang yang tinggal di kota-kota besar mengalami defisiensi energi, dan defisiensi itu sedemikian parahnya sehingga tidak terdeteksi sama sekali. Kemudian mereka mencari penyelesaian lewat tarik-menarik energi…….

Tembok-tembok, dinding-dinding dalam apartemen itu tidak memenjarakan mereka. Adalah emosi mereka sendiri yang memenjarakan mereka – emosi yang mengakibatkan depresi, stres dan merampas keberanian mereka, semangat mereka, rasa percaya diri mereka. Praanayaama atau latihan-latihan pernapasan dari tradisi Yoga adalah solusi yang paling efektif dan cepat. Namun latihan-latihan tersebut perlu dilakukan secara terartur setiap hari, walau untuk 10 menit saja. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2007). Fear Management, Mengelola Ketakutan, Memacu Evolusi Diri. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Berikut penjelasan Bhagavad Gita 18:52 mengapa kita lebih menyukai tempat-tempat yang lebih tenang dan damai………..

Buku Bhagavad Gita

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Ia senantiasa menarik diri ke tempat yang sepi; makan secukupnya; mengupayakan pengendalian badan, indra, ucapan serta pikiran; memusatkan seluruh kesadarannya pada diri yang sejati (melakoni Dhyana Yoga); dan berlindung pada Vairagya, melepaskan segala keterikatan duniawi.” Bhagavad Gita 18:52

Sifat-sifat ini pun “datang dengan sendirinya”. Jika kita sudah berkesadaran Jiwa, kita tidak akan pernah menikmati pergaulan dengan mereka yang masih berkesadaran Jasmani murni, mereka yang hanya memikirkan materi.

 

BUKAN KARENA SOMBONG – Tapi karena urusannya sudah beda. Seorang pilot yang sedang membawa pesawat super canggih tidak berurusan lagi dengan rambu-rambu lalu lintas di darat. Ia mesti menaati rambu-rambu lain.

Seorang mahasiswa tidak lagi berurusan dengan ujian nasional SD. Ia sudah melewatinya. Dalam hal ini, tidak ada rasa sombong atau angkuh, “Aku sudah mahasiswa, kau masih SD? Kasihan!”

Ucapan seperti itu tidak masuk akal. Seorang mahasiswa sudah melewati masa SD. Tidak ada yang perlu disombongkan.

Mencari tempat yang sepi, baik untuk hunian maupun untuk laku spiritual, meditasi dan sebagainya — ini pun bukan karena sombong dan untuk membuktikan, “aku lebih hebat!” Tidak. Ini adalah murni soal pilihan, dan kesukaan – preferensi.

 

JIKA KITA MASIH BEKERJA di sekitar Bundaran HI di Jakarta, maka lebih baik mencari apartemen di sekitar HI. Tidak perlu buang waktu dalam perjalanan.

Sebaliknya, jika kita sudah pensiun — maka tinggal di apartemen yang sumpek dan di tengah keramaian Jakarta adalah pilihan yang tidak tepat. Lebih baik menjual apartemen yang sumpek itu, dan dengan uang yang kita peroleh, mencari tempat di pinggiran kota. Bisa lebih luas, lebih tenang, lebih sehat; dan di atas segalanya, lebih kondusif untuk Sadhana? atau Laku S iritual.

Kemudian, tentang pengendalian diri, makan secukupnya dan lain sebagainya — semua ini adalah urusan self-awareness, kesadaran diri.

 

SEORANG DEWASA TANPA KESADARAN DIRI merusak badannya dengan berbagai jenis makanan yang tidak sehat. Enak di mulut, tidak baik bagi kesehatan. Mau bilang apa? Lagi-lagi ini pun merupakan pilihan — kembali pada kesadaran diri masing-masing.

Tidak mau mengendalikan ucapan, tindakan, dan pikiran – apa bisa? Mau marah-marah, meledak-ledak di tempat kerja? Apakah kita akan tetap dipekerjakan?

Pengendalian diri adalah penting. Tingkat pengendalian beda dari orang ke orang. Itu pun pilihan. Ada yang memilih untuk makan sayur-mayur saja. Ada yang menambah telur dan susu dalam dietnya. Ada yang bangun jam 3 pagi, ada yang bangun jam 5 pagi. Silakan mempraktekkan pengendalian diri sesuai dengan kebutuhan Jiwa, sesuai dengan apa yang dibutuhkan demi pengembangan diri.

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Advertisements