Keluar dari Lingkaran Lahir Mati Tak Berujung Pangkal #BhagavadGita

Para bijak memahami kematian sebagai bagian dari proses, dari siklus kehidupan. Mati, lahir, mati, lahir – demikian siklus, roda kehidupan berputar terus.

Seperti berlari di dalam stadion berbentuk bulat, bundar. Kita berbulat-bulat, berbundar-bundar, berlari bulat, berlari bundar terus. Berputar-putar terus. Tidak ada ujung. Tidak ada pangkal.

Untuk keluar dari Lingkaran Penciptaan ini — satu-satunya jalan adalah “berhenti dan keluar dari lingkaran”. Jangan berputar terus!

Berikut penjelasan Bhagavad Gita 8:16 tentang kelahiran ulang:

Buku Bhagavad Gita

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Kaunteya (Arjuna, Putra Kunti), dari Alam Penciptaan Sang Pencipta Brahma atau Brahmaloka hingga alam-alam lain di bawahnya – semua mengalami kelahiran ulang. Adalah seseorang yang telah mencapai-Ku saja yang tidak mengalami kelahiran ulang.” Bhagavad Gita 8:16

 

Alam-alam dunia, surga, neraka, dan sekian banyak alam lainnya — ada yang mirip dengan alam kita, sejenis, ada juga yang beda — semuanya adalah bagian dari ciptaan Sang Pencipta, Brahma. Pencipta sendiri, Brahma sendiri, kendati bertugas untuk waktu yang sangat lama, tetaplah tidak abadi. Semuanya rnengalami kelahiran dan kematian berulang-ulang.

 

TUGAS PENCIPTAAN, PEMELIHARAAN, PEMUSNAHAN atau pendauran-ulang — semuanya, tanpa kecuali terjadi atas kehendak-Nya. Kendati, semua itu bukan tugas-Nya. Bukanlah Dia, bukanlah Sang Jiwa Agung yang turun tangan “Sendiri” untuk melaksanakannya. Para dewa, para para malaikat, para petugas yang ditentukan-Nya, melaksanakan tugas-tugas ini sesuai dengan Kehendak-Nya.

Jika tujuan kita berbuat baik, beramal-saleh, berdana-punia, berdoa, dan sebagainya adalah sekadar untuk mencapai surga, mendapatkan jatah kapling di sana, maka itulah yang akan terjadi. Singgah di surga sebentar – dan, sebentar itu bisa beberapa bentar dalam takaran waktu dan ruang yang berbeda — menikmati apa saja yang kita inginkan. Kemudian, ceplokl Digoreng lagi di atas wajan dunia atau alam sejenis untuk melanjutkan perjalanan.

 

HUKUM KEHIDUPAN BER-“BENTUK” BULAT seperti berlari di dalam stadion berbentuk bulat, bundar. Kita berbulat-bulat, berbundar-bundar, berlari bulat, berlari bundar terus. Berputar-putar terus. Tidak ada ujung. Tidak ada pangkal.

Untuk keluar dari Lingkaran Penciptaan ini — satu-satunya jalan adalah “berhenti dan keluar dari lingkaran”. Jangan berputar terus! Pemahaman ini tentunya beda dari pemahaman lain yang melihat kehidupan ini sebagai garis linear — garis horizontal dari titik kelahiran hingga titik kematian; atau vertikal — dari titik dunia hingga titik surga atau neraka.

Pemahaman linear berhenti di surga atau neraka. Jiwa-Jiwa dengan pemahaman seperti itu, terhenti evolusi batinnya. Mereka “hanya” menjadi pajangan di dinding-dinding neraka atau surga selama beberapa saat, sesuai dengan debet-kredit karma mereka, hasil perbuatan mereka selama hidup di dunia. Selama belum muncul kesadaran bahwa surga dan neraka bukanlah tujuan, dan bahwasanya Jiwa mesti berevolusi, selama itu pula Jiwa akan tetap berhalusinasi. Ketika kesadaran akan Evolusi Jiwa muncul, kemudian, ceplok! Digoreng lagi di atas wajan dunia.

Intinya, yang berpaham linear maupun yang berpaham lingkaran — dua-duanya diceplok lagi! Hanya saja, paham linear rnembuat Jiwa berhalusinasi bila ia sudah rnencapai tujuan. Surga dianggapnya sebagai tujuan hidup. Pelayanan dan para pelayan di sana dianggapnya kenikmatan yang luar biasa dan tak terhingga. Padahal, pelayan-pelayan itu pun, para manajer, dan petugas di sana pun adalah sama, Jiwa-Jiwa yang sedang berhalusinasi sudah sampai di tujuan.

Sementara itu berputar-putar terus,

 

AKHIRNYA KITA AKAN CAPAI, pasti capai, berhenti, dan tersadarkan! Aha, temyata saya berputar dalam lingkaran. Saat pernberhentian itu adalah saat meditasi, hidup meditatif. Kemudian, kita bisa langsung memutuskan untuk keluar dari lingkaran, dan bingo!

Keluar dari lingkaran ciptaan, Lingkaran Sang Pencipta — berarti memasuki alam Jiwa Agung, Alam Batin. Alam Jiwa Agung adalah Alam Maha-Luas dan Tak-Terbatas. Inilah Alam Krsna. Inilah alam Anda dan alam saya yang sesungguhnya. Berada di dalam Alam Maha Bebas ini, kita menyatu dengan-Nya. Kita, tidak sekadar meraih, tetapi “menjadi” kebebasan mutlak!

Nirvana atau Moksa — Kebebasan Mutlak — bukanlah sekadar pengalaman. Pengalaman bisa berlalu. Saat ini bebas, saat berikutnya budak lagi. Bukan, Nirvana atau Moksa bukanlah pengalaman sepeni itu. Nirvana atau Moksa adalah Kebebasan Mutlak yang sesungguhnya merupakan sifat hakiki setiap Jiwa, setiap batin. Itulah Dia!

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/