Tidak Bersedih Hati terhadap Keluarga yang Mati #BhagavadGita

Jika kita memperhatikan alam, lingkungan sekitar kita, atau jika kita memahami hukum-hukum kebendaan, antara lain sebagaimana terungkap dalam Ilmu Fisika, maka kita sudah pasti memahami pula bila sesungguhnya kematian adalah mitos. Perubahan adalah abadi. Materi berubah bentuk saja….

Jika kita memahami rumusan Einstein tentang relativitas, maka sesungguhnya materi adalah energi dalam bentuk lain. Dan, energi itu sendiri tidak pernah hilang, selalu ada, hanya berubah bentuk.

Inilah sebab para bijak yang memahami kehidupan sebagai siklus, tidak akan berduka atau bersedih hati karena mereka. Sesungguhnya mereka sedang menjalani proses perubahan wujud. Penjelasan Bhagavad Gita 2:12 dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Berikut penjelasan Bhagavad Gita 2:11-13 agar kita tidak bersedih hati terhadap orang mati

Buku Bhagavad Gita

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Kau bergelisah hati dan menangisi mereka yang tidak perlu ditangisi. Kata-katamu seolah penuh kebijaksanaan, padahal para bijak tidak pernah bersedih hati bagi mereka yang masih hidup, maupun yang sudah mati.” Bhagavad Gita 2:11

 

Mereka yang tidak memahami siklus kelahiran dan kematian akan selalu menangisi orang yang mati, apalagi jika orang itu berhubungan keluarga dengannya, orang yang dicintainya.

DALAM BEBERAPA TRADISI……… Dialog tentang kematian pun dianggap tabu. Kematian dikaitkan dengan kemalangan. Dan, kehldupan dengan keberuntungan.

Banyak tradisi yang menganggap kematian sebagai titik akhir dari kehidupan. Ini yang menyebabkan duka.

Tidak demlkian dengan para bijak yang memahami kematian sebagai bagian dari proses, dari siklus kehidupan. Mati, lahir, mati, lahir – demikian siklus, roda kehidupan berputar terus.

 

“T idak pernah ada masa di mana Aku, engkau, atau para pemimpin yang sedang kau hadapi saat ini — tidak ada, tidak eksis. Dan tak akan pula ada masa di mana kita semua tidak akan ada, tidak eksis lagi.” Bhagavad Gita 2:12

Demikian roda-kehidupan berputar terus. Keberadaan nyaris abadi, hanya berubah bentuk saja.

 

DALAM KEADAAN PRALAYA atau apa yang disebut Kiamat Total pun, ada sesuatu Hyang Tak Terjelaskan – yang tetap ada. Krsna akan menjelaskan hal ini dalam percakapan-percakapan selanjutnya.

sementara, tentang……

 

SIKLUS KEHIDUPAN – Siklus atau cycle bersifat circle, bulatan. Jika kita memahami kehidupan sebagai garis datar, entah horizontal atau vertikal, maka kita tidak bisa tidak bersedih hati atas kematian orang yang kita sayangi, karena kehidupan sudah berlalu. Tidak ada kemungkinan bagi kita untuk  bertemu dengannya lagi.

Pertanyaannya: Apa iya demikian?

Jika kita memperhatikan alam, lingkungan sekitar kita, atau jika kita memahami hukum-hukum kebendaan, antara lain sebagaimana terungkap dalam Ilmu Fisika, maka kita sudah pasti memahami pula bila sesungguhnya kematian adalah mitos. Perubahan adalah abadi.

Materi berubah bentuk saja….

Jika kita memahami rumusan Einstein tentang relativitas, maka sesungguhnya materi adalah energi dalam bentuk lain. Dan, energi itu sendiri tidak pernah hilang, selalu ada, hanya berubah bentuk.

Inilah sebab para bijak yang memahami kehidupan sebagai siklus, tidak akan berduka atau bersedih hati karena mereka. Sesungguhnya mereka sedang menjalani proses perubahan wujud.

 

“Masa kecil, dewasa, pun masa tua adalah ‘kejadian-kejadian’ yang terjadi pada badan yang dihuni Jiwa. Kemudian, setelah meninggalkan badan lama, Jiwa memperoleh badan baru. Para bijak tidak pernah meragukan hal ini atau terbingungkan olehnya.” Bhagavad Gita 2:13

Lagi-lagi Krsna berbicara tentang perubahan, tentang Hukum Fisika. Di manakah “badan seorang bayi” yang sekarang telah “menjadi” kita?

 

PENAMBAHAN USIA TERJADI PADA BADAN – Dan, setiap penambahan membawa perubahan pada badan kita. Badan kita waktu kecil lain dari badan kita sekarang. Sel-sel dalam tubuh kita ketika masih kecil, sudah mutasi semuanya. Sudah mati. Setiap 5 hingga 7 tahun, sel-sel tubuh berubah total.

Berarti, sejak kelahiran hingga ketika usia 40 tahun saja, kita sudah mengalami kematian 5 hingga 8 kali. Apakah kita menangisi setiap kematian?

Apakah kita menangisi kematian seorang anak kecil, yang sekarang sudah berubah total “menjadi” diri kita?

Jelas tidak.

PAHAMILAH SETIAP KEMATIAN SEPERTI ITU hanya untuk membawa perubahan. Hanya untuk mengantar Jiwa ke next level. Next level of the Game, permainan berikutnya.

Badan kecil kita mati untuk menjadi remaja. Badan remaja mati setiap hari untuk menjadi dewasa. Dan, badan dewasa pun menjalani kematian dari detik ke detik untuk menjadi tua; kemudian terjadilah proses pendaur-ulangan, dan Jiwa, penghuni badan saat ini, meraih badan baru.

Jelas karena itu, para bijak yang memahami proses ini, tidak pernah berduka.

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Advertisements