Badan Hanya Kendaraan, Pikiran Perlengkapan, Jangan Siasiakan Kehidupan #BhagavadGita

Selama masih berbadan – kita, Jiwa mudah terjebak dalam identitas-identitas diri yang palsu sebagai badan. Ini yang menyebabkan kita sering larut dalam pengalaman-pengalaman dualitas seperti suka-duka, panas-dingin, dan sebagainya.

Kesadaran yang salah ini mesti ditanggalkan ketika Jiwa masih memiliki badan. Karena jika hal ini tidak terjadi, maka setelah “kematian”, ia akan terjebak dalam identitas palsu yang lain, yaitu identitas diri sebagai badan halus atau “roh” yang tetap saja memiliki gugusan pikiran serta perasaan dengan segala variannya, termasuk obsesi, memori, impian, dan lain sebagainya. Penjelasan Bhagavad Gita 6:31 dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Berikut penjelasan Bhagavad Gita 9:12 tentang badan, pikiran dan perasaan serta Percikan Gusti Pangeran:

Buku Bhagavad Gita

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

“Mereka yang tidak sadar (tidak menyadari hakikat diri), senantiasa terlibat dalam perbuatan yang sia-sia; harapan dan pengetahuan mereka pun sia-sia semata. Dalam kesia-sianan itu mereka merangkul kebiasaan-kebiasaan asuri atau syaitani yang tambah membingungkan.” Bhagavad Gita 9:12

 

Mereka yang tidak sadar bila badan hanyalah sebuah kendaraan; dan indra, gugusan pikiran serta perasaan dan lainnya hanyalah sekadar perlengkapan kendaraan; dan bahwasanya mereka adalah percikan Jiwa Agung — hidup dalam kesia-siaan.

 

CELAKANYA, HIDUP DALAM KESIA-SIAAN tidak hanya merugikan diri saja; tidak hanya merugikan yang bersangkutan saja; tapi setiap orang yang berhubungan dengannya. Persis seperti kecelakaan kendaraan beruntun di jalan bebas hambatan.

Atau, seperti seseorang yang bergaul dengan pemakai narkoba. Dirinya bukan pemakai. Ia pun tidak tahu-menahu bila teman yang duduk di dalam mobilnya sedang mengantongi beberapa butir ekstasi. Maka, saat tertangkap, dia ikut dijatuhi hukuman yang sama sebagai pengedar narkoba — karena “kendaraannya dipakai untuk berdagang, mengedar narkoba.”

Lagi-lagi, ayat ini kembali mengingatkan kita akan betapa pentingnya pergaulan. Pergaulan yang salah bisa mencelakakan diri kita.

 

KEBIASAAN-KEBIASAAN ASURI ATAU SYAITANI TIDAK BERASAL DARI LUAR – sisa-sisa sampah syaitani masih ada di dalam diri kita, namun sudah mengendap. Adalah pergaulan syaitani di luar yang memunculkan sifat-sifat syaitani kita ke permukaan. Sisa-sisa yang tidak seberapa mendapatkan angin segar, hidup baru, dan berkembang biak kembali.

Pemicu utama bagi sifat syaitani adalah pergaulan yang tidak menunjang perkembangan Jiwa, dan justru mengalihkan perhatian kita sepenuhnya pada badan dan indra.

Kita mesti menjaga penampilan; merawat badan; memberi makan yang cukup, layak dan sehat kepada setiap indra. Semua itu perlu, wajib. Jagalah, rawatlah kendaraan badan, tetapi tidak memikirkan badan melulu setiap saat.

 

PERHATIKAN CARA PARA “SAHABAT”, yang ingin menarik kita ke arah tersebut.

Pertama-tama, mereka akan menunjukkan keberhasilan materi mereka, “Aku sekarang kaya, tabungan sekian, lihat pakaianku, penampilanku, mobilku, usahaku, rumahku!” Dengan cara-cara yang direct, langsung, maupun tidak langsung, mereka berupaya mengalihkan perhatian kita.

Cara-cara tidak langsung adalah dengan mengajak kita makan di restoran yang melebihi standar kita, kantong kita. Atau, mengundang kita ke rumahnya; memperagakan segala perlengkapan; gadgets yang dimilikinya, dan sebagainya.

Jika kita terperangkap, maka membesarlah gugusan kristal-kristal kesia-siaan “sahabat” yang berhasil mempengaruhi kita. Kita menjadi bagian dari sangha-nya – kusanga – perkumpulan, pergaulan yang tidak menunjang perkembangan jiwa.

Berhenti sejenak, renungkan kehidupan para konglomerat—para Rockefeller, Michael Jackson, Whitney Houston, atau bahkan, para selebriti paling populer di negeri kita sendiri.

 

BAHAGIAKAH MEREKA? “Sahabat” yang sedang berupaya untuk mempengaruhi kita pun, sesungguhnya “tidak bahagia”. Ia pun merasa hampa, maka ia mencari kita. Dengan menarik kita ke kubunya, ia berharap akan meraih kebahagiaan.

Jika dia benar-benar bahagia, dia tidak akan mencari kita. Kata-kata manis “Saya cuma ingin membantu kamu” adalah sekedar basa-basi saja, pembungkus. Di baliknya adalah ketidakpuasan dirinya sendiri. Ia sedang menghadiahi kita dengan “ketidakpuasan”. Jika kita terjebak, maka kita tidak hanya mencelakakan diri, tapi juga mencelakakan si pemberi hadiah. Ia merasa “berhasil”– dan mulai lebih yakin bila kebahagiaan adalah kesuksesan materi. Itu saja.

 

LINGKARAN SAMSARA SYAITANI INI disebut demikian karena berupa lingkaran. Jika kita terjebak, maka akan melingkar-lingkar terus tanpa henti. Melingkar dalam kesia-siaan. Mengalami kelahiran dan kematian secara berulang-ulang tanpa henti.

Sementara itu, menyadari hakikat diri berarti kita berhenti berputar. Menghentikan kendaraan pikiran serta perasaan, dan keluar dari lingkaran. Ingat, kita tidak bisa berlama-lama berhenti. Di belakang banyak sekali kendaraan yang sedang melaju dengan kecepatan syaitani, kecepatan tinggi. Mereka bisa menabrak kita.

Berhenti, pause, untuk cepat-cepat keluar dari lingkaran, “Aku bukan badan, aku Jiwa, percikan Jiwa Agungf ” Itu dulu. Dengan beralih pada kesadaran Jiwa, cepat-cepat keluarlah dari lingkaran.

Kemudian, setelah berada di luar lingkaran — baru melayani orang lain. Dengan cara apa? Dengan cara bersyiar dari luar lingkaran, sekali waktu pastilah ada seorang pengendara, seorang pengemudi yang mendengarkan ocehan kita, berhenti, dan keluar dari lingkaran untuk memahami maksud kita.

Sahabat syaitani — kusanga — pergaulan yang tidak menunjang Kesadaran Jiwa ibarat kendaraan yang menabrak kita dari belakang — rnenabrak bumper kita — sehingga kita mempercepat laju kendaraan kita, dan dengan demikian kita tetap berada dalam sirkuit Samsara, tidak pernah keluar dari sirkuit.

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/