Neo-Cortex: Jembatan dari Insting Hewani menuju Kesadaran Ilahi

Limbic dan Neo-Cortex

Ibarat Super Komputer yang Mahacanggih, ke dua bagian utama otak kita bekerja sesuai dengai fungsinya masing-masing. Bagian Limbic memuat basic programming, yaitu program dasar untuk menjalankan komputer. Inilah insting insting hewani, atau lebih tepat disebut insting-insting dasar kehidupan. Sedangkan bagiai Neo-Cortex memuat program/aplikasi yang dibutuhkan manusia. Muatan pada bagian ini dapat ditambah, dikurangi, dihapus, diperbaiki, atau di-“manipulasi”.

Ketika kita masih kanak-kanak, di bawah usia lima tahun, hal-hal yang diajarkan oleh orang tua atau masyarakat menjadi bagian dari Neo-Cortex. Apa saja yang diamati atau sekadar dilihat oleh seorang anak dalam usia itu akan terekam dengan sendirinya.

Kemudian antara usia 5 hingga 12 tahun terjadi muatan-muatan baru lewat sistem pendidikan. Oleh karena itu, hingga usia 12 tahun disebut Golden Years, Usia Emas, karena banyak sekali muatan ditambahkan pada Neo-Cortex yang kelak digunakan hingga akhir hayat. (Krishna, Anand. (2010). Neospirituality & Neuroscience, Puncak Evolusi Kemanusiaan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Bisakah kita hidup tanpa pengembangan neo-cortex? Bisa!

Dalam Video Youtube Being Human 1/3 : Pleasant vs Good (by Swami Anand Krishna) disampaikan bahwa kita bisa hidup tanpa neo-cortex. Saat lapar langsung makan, ketika ingin seks langsung main seks, waktu mencari uang nggak usah peduli bagaimana caranya. Itu semua bisa dilakukan tanpa pengembangan neo-cortex, hanya menggunakan limbic saja.

Neo-cortex adalah jembatan yang menghubungkan dari kita yang ber-insting hewani menuju kita yang ber-kesadaran ilahi.

Neo-cortex seperti halnya hard-disk tambahan yang ditambahkan kepada otak kita. Setelah lahir, baru berkembang neo-cortex kita. Dalam video tersebut disampaikan bahwa pada saaat lahir kita belum mengenal kasih. Sewaktu bayi, lapar sedikit, nggak lapar banget kita menangis. Kita nggak sadar ibu kita tidur nyenyak karena bekerja keras seharian mengurusi kita. Karena neo-cortex bayi belum berkembang. Kasih harus dikembangkan dengan cara melakukan berulang-ulang sampai menjadi kebiasaan sehingga pada suatu saat terbentuk karakter kasih dalam diri.

Neo-cortex berguna untuk mengembangkan viveka, kemampuan memilah mana yang tepat dan mana yang tidak tepat. Mana yang preya, hanya menyenangkan indra atau shreya yang mulia.

 

Viveka membuat sadar akan Kebutuhan Jiwa yaitu Kebahagiaan Abadi

Viveka membuat kita sadar akan kebutuhan Jiwa, yaitu Kebahagiaan Sejati yang bersumber pada Kesadaran Jiwa itu sendiri. Patanjali tidak menolak kenyamanan tubuh, kenikmatan indra dalam takaran moderat, tidak berlebihan, tidak kekurangan. Silakan mengurusi badan dan indra, tetapi dalam kerangka besar kebutuhan Jiwa; dalam rangka mewujudkan misi Jiwa.

Kenyamanan tubuh dan kenikmatan indra tidak boleh berdiri sendiri. Semua itu mesti demi terwujudnya Kesadaran Jiwa dan tercapainya Kebahagiaan Sejati.

SEGALA PERSOALAN YANG KITA HADAPI SAAT INI disebabkan oleh perpisahan badan dan indra dari Jiwa. Sedemikian sibuknya kita melayani badan dan indra sehingga Jiwa terlupakan. Inilah tragedi masa kini. Penjelasan Yoga Sutra Patanjali II.15 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Segala penderitaan yang sedang kita alami saat ini, disebabkan oleh kurangnya viveka, kurangnya akal sehat; dan perkembangan buddhi atau inteligensia yang belum optimal, belum sempurna pada masa lalu. Hasilnya, penderitaan, duka-derita dalam hidup ini. Penjelasan Yoga Sutra Patanjali II.17 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Evaluasi Diri mana yang lebih dominan, Limbic Kita atau Neo-Cortex kita?

Coba perhatikan pikiran kita, apakah lebih banyak berpikir tentang aku dan milikku? Pada waktu kita berdoa apakah doa kita mohon tentang keberhasilanku, milikku, keluargaku? Mengapa kita diajari mendoakan kebahagiaan semua makhluk? Itu semua berkaitan dengan pengaruh Limbic atau pengaruh Neo-Cortex yang lebih dominan.

Pada waktu kita berbicara di muka umum, kita perlu jujur, apakah kita karena ada keangkuhan karena kita ingin dianggap lebih paham daripada yang lain? Atau apakah kita menyampaikan dengan penuh kasih guna menyampaikan kebenaran yang perlu diketahui orang banyak? Kembali Limbic atau Neo-Cortex yang lebih dominan?

 

Viveka adalah Buah dari Meditasi

Jalan menuju kemuliaan dan jalan menuju kepuasan indera yang bersifat sementara, inilah dua jalan yang terbuka bagi manusia. Mereka yang inteligen, berakal budi memilih jalan menuju kemuliaan. Mereka yang bodoh memilih jalan kepuasan indera, kenikmatan, dan kesenangan sesaat. Viveka memberi kita kemampuan untuk memilah. Kemampuan inilah yang kelak mengantar kita pada Bodhichitta. Viveka ibarat Buddha dalam proses.

Adalah sangat penting bahwa dalam perjalanan menuju kesadaran Buddha, atau Bodichitta, kita sadar akan apa yang tepat bagi kita, dan apa yang tidak tepat.

Viveka adalah buah meditasi. Viveka tidak dapat diperoleh dari buku. Buku, tulisan, serta pengalaman orang lain hanyalah sebatas untuk menyemangati kita.

Buku menjelaskan pengalaman para penulis yang memilih shreya atau kemuliaan dan meraih Bodhichitta. Buku juga bercerita tentang mereka yang memilih preya, atau kesenangan sesaat dan meraih penderitaan.

Mengapa preya tidak pernah memuaskan? Karena, jiwa kita abadi. Ia sedang mencari keabadian. Ia hendak meraih kebahagiaan abadi atau aananda. Sementara itu jalan preya hanyalah mengantar dia pada kesenangan, kebahagiaan, dan kenikmatan sesaat.

Adalah viveka yang mengenal aananda. Sebelum viveka berkembang, kita tidak pernah mengenal aananda. Mind atau maanas hanya mengenal kebahagiaan dan kesenangan sesaat. Ia tidak bisa menjangkau sesuatu yang bersifat langgeng dan abadi karena dirinya sendiri tidak abadi. Ia hanyalah merekam dan menikmati pengalaman-pengalaman jiwa yang bersifat luaran, dan senantiasa berubah-ubah.

Untuk menemukan aananda, para Buddha selalu mengajak kita untuk menoleh ke dalam diri sendiri. (Krishna, Anand. (2012). Neo Spiritual HYPNOTHERAPY, Seni Pemusatan Diri Untuk Bebas Dari Pengaruh Hipnosis Massal. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Sumber:

https://www.youtube.com/watch?v=aTOXeusf0I4&t=178s

https://gitakehidupansepasangpejalan.wordpress.com/2014/12/27/renungan-diri-super-computer-otak-manusia-dan-pentingnya-program-pendidikan-anak/