Membangkitkan Kembali Budaya Spiritual #Temu Hati 2 Master

Makna Salam Om Svastyastu

Pada tanggal 25 dan 26 April 2017 di Anand Ashram Ubud, semua peserta yang hadir mendengarkan dharma talk oleh Yang Mulia Bhikku Sanghasena dari Mahabodhi International Meditation Center India dan Guruji Anand Krishna dari Anand Ashram Indonesia.

Pada saat dhamma talk, Bapak Anand Krishna juga menjelaskan tentang salam Om Svastyastu, ucapan selamat di Bali.

Svastika adalah kebijakan kuno masyarakat di masa lalu yang simbolnya ditemukan pada peninggalan kebudayaan kuno Mohenjodaro dan Harappa di Sindh sekarang wilayah Pakistan, sekitar 4.000 tahun yang lalu (dan dengan penemuan terbaru ternyata sekitar 12.000 tahun yang lalu). Simbol tersebut menjelaskan adanya 4 hal utama yang membahagiakan manusia:

  1. Melakukan Dharma, kebajikan. Bila kita melakukan kebajikan kita akan merasa bahagia. Sebaliknya bila melakukan kebatilan, maka kita akan merasa cemas dan tidak merasa bahagia.
  2. Mempunyai Artha, apa pun yang membuat hidup berati, bermakna, maka itulah Artha, termasuk money, uang. Kalau sekadar uang belaka itu dan kegunaannya tidak bermakna bagi banyak orang, maka itu bukan Artha, itu sekadar fulus.
  3. Terpenuhi Kama, keinginannya. Seseorang bahagia bila keinginannya terpenuhi, dia memperoleh kepuasan, contentment, psychological factor. Sampai suatu saat dia sadar bahwa keinginan duniawi tidak membahagiakan karena segala sesuatu yang bersifat duniawi bersifat sementara, temporer.
  4. Mencapai Moksa, kebebasan. Selama kita terbelenggu maka kita belum bebas, dan kita belum bahagia.

 

Jadi pada saat kita mengucapkan salam Om Svatyastu, kita mendokan orang yang kita temui: “Semoga Bapak, Ibu, Saudara, Saudari makmur dengan memperoleh 4 hal utama: dharma, artha, kama dan moksa.

Demikian disampaikan Bapak Anand Krishna saat menjelaskan tentang simbol svastika yang dipasang di dinding hall Anand Ashram Ubud.

 

Guru membangkitkan sifat keilahian dalam diri

Bhikku Sanghasena dalam salah satu butir dhamma talk menyampaikan tentang potensi kebuddhaan (kita menyebutnya potensi keilahian) dalam diri kita semua. Menurut Bhante, kita semua adalah Buddha hanya buddha yang masih tidur. Wake up! Bangun! Agar kebuddhaan dalam diri bangkit, terjaga dari tidur lelap diperlukan Guru, Master untuk mengetok kepala kita agar bangun, bangkit. Bila tidur kita terlalu lelap, dibutuhkan seorang Master seperti Bodhidharma yang kuat dan perkasa untuk mengetok kepala kita agar bangun, bangkit.

Usia seorang guru terbatas, akan tetapi organisasi spiritual yang telah dibangunnya harus tetap jalan. Dibutuhkan orang-orang yang penuh dedikasi untuk melanjutkan perjalanan organisasi.

 

Kelestarian Lembaga Spiritual untuk melayani masyarakat

Di India banyak organisasi spiritual seperti ashram yang masih berjalan setelah berdiri ratusan tahun lalu.

Bhikku Sanghasena mengakui ada perbedaan kondisi di lingkungan di India dan Indonesia. Akan tetapi telah hubungan cultural dan spiritual antara India dan Indonesia sejak zaman dahulu. Contohnya, saat ini Beliau datang darii Himalaya, Mountains of God datang ke Bali Island of Gods…….. Semua hadirin tertawa keras……..

Nampaknya Bapak Anand Krishna mengharapkan kita semua belajar dari Bhante, terutama dalam hal bagaimana mengelola organisasi Mahabodhi agar tetap lestari.

Bapak Anand Krishna bertemu Bhikku Sanghasena pada tahun 1991 di Ladakh, Leh. Pada tahun 1992, Bhante mengumpulkan anak-anak kecil dari tempat-tempat terpencil di Gurun Ladakh untuk dikumpulkan dan dididik di Ladakh.  Dimulai dengan 25 anak-anak yang  belajar, bermain, dan hidup bersama di satu kamar yang besar. Sambil berjalannya waktu tanah tandus yang kalau musim dingin tertutup salju itu dilakukan penghijauan, dan sekarang sudah menjadi kompleks Mahabodhi yang asri, lengkap dengan sekolahan, rumah sakit, panti jompo dan bangunan kelengkapan spiritual lainnya. Bahkan sudah ada cabangnya di beberapa tempat di India.

Salah seorang pendamping Bhante adalah Sister Tsewang Dolma, salah satu dari 25 murid awal tersebut. Selesai sekolah di Ladakh, dia melanjutkan ke Universitas di Bangalore dan setelah lulus kembali ke Ladakh mengabdikan diri di Mahabodhi. Sekarang dia menjadi principal, kepala sekolah di Mahabodhi, Ladakh. Demikian juga di antara 25 anak murid awal tersebut adalah Sister Kunzang Dechen yang juga mendampingi Bhante ke Bali. Dia sekarang mengabdikan diri di Mahabhodi sebagai seorang Instruktur Yoga.

Pada saat ini ada 500 murid dan 350 di antaranya tinggal di asrama di Ladakh. Bhante mengatakan bahwa mereka mempelajari tradisi mana pun yang menunjang peningkatan kesadaran.

 

Bagaimanakah dengan kita?

Apakah tujuan hidup kita? Kebanyakan tujuan kita adalah keberhasilan duniawi yang bersifat pribadi. Kemudian pengalaman kita membuktikan bahwa kebahagiaan duniawi hanya bersifat sementara, temporer.

Di India, seperti halnya contoh dua orang pendamping Bhante yang datang ke Bali, setiap ashram selalu ada orang-orang yang tahu tujuan hidupnya. Tujuan hidupnya adalah untuk menuju Tuhan dan untuk itulah mereka memerlukan seorang Master, seorang Guru. Setelah bertemu Guru, mereka berhenti memimpikan dunia yang bersifat sementara. Mereka menjadi tangan-tangan Guru dalam melayani masyarakat dan lingkungan.

Bila kita baca Srimad Bhagavatam yang ditulis Bhagavan Vyaasa, kita akan membaca contoh perjalanan hidup para panembah Gusti. Ada tokoh-tokoh seperti Rishi Kapila yang sejak kecil sudah langsung fokus pada Gusti. Ada yang sejak kecil sudah sadar, terjaga seperti Dhruva atau Prahlada, yang kemudian menjadi raja dan berkeluarga dan setelah itu menlakukan Vanaprastha, meninggalkan istana sampai menjadi Sanyasin yang berfokus penuh pada Gusti.

Banyak pula brahmana seperti Rishi Kardama yang menjadi Grihasthya, perumah-tangga untuk mengikuti perintah Brahma berkembang-biak di dunia dan setelah putra-putrinya mandiri, mereka fokus pada Gusti menjalani Vanaprastha untuk kemudian menjadi Sanyasin.

Ada pula seperti Rishi Narada yang tidak berkeluarga dan berbagi pengetahuan ilahi serta selalu memuja Gusti Narayana.

Di India contoh-contoh kehidupan para panembah Gusti masih diteladani. Sejak kecil sudah belajar di ashram, dan setelah mereka menjadi dewasa banyak yang menjadi pemimpin yang bijaksana. Ada budaya untuk melakukan karma yoga, melayani sesama, bukan hanya kepetingan pribadi dan kelompok. Tujuan akhir adalah Gusti Pangeran.

Mencari artha, uang, kedudukan dan apa saja yang kita perbuat di dunia ini adalah untuk dharma, menggunakan kama, semua keinginan, obsesi dan harapan apa pun diarahkan menuju moksa. Mungkin tradisi demikian sudah hilang dari negeri kita. Kenapa tidak mulai dari sekarang?

Para Master usianya terbatas akan tetapi organisasi yang dibentuknya tetap melayani masyarakat sampai ratusan tahun…….. Semoga….

Advertisements

Ketidakpastian dalam Kehidupan, Kisah 2 Master

Kisah Bhikku Sanghasena

Setelah menikmati Bhajan/Kirtan dalam acara Ananda Nada Yoga pada tanggal 26 April 2017 di Anand Ashram Ubud, semua peserta bhajan mendengarkan dharma talk oleh Yang Mulia Bhikku Sanghasena dari Mahabodhi International Meditation Center India dan Guruji Anand Krishna dari Anand Ashram Indonesia.

Bhikku Sanghasena sangat terkesan dengan bhajan penuh devosi di Anand Ashram Ubud. Terlampau banyak meditasi dan bicara akan nampak terlalu serius. Mendengarkan bhajan memicu rasa devosi yang sangat dalam. Bhante mengundang Guruji Anand Krishna dan para sahabat termasuk para penyanyi Bhajan untuk mengajari mereka bhajan di Himalaya. Bhante (demikian Bhikku dipanggil) memulai pembicaraan dengan Good Evening dengan sepenuh hati. Kalau banyak orang bicara good evening dengan basa-basi, Bhante berkata betul-betul evening yang good bukan hanya lip service, tetapi betul-betul malam yang good bahkan excellent. Sangat up-lifting kata Bhante…….

Melihat keindahan Anand Ashram Ubud dengan berbagai warna dan ornamen yang sangat indah dengan pohon-pohon di luar yang hijau Bhante bertanya, apakah ada yang tidak bahagia. Kalau seperti saat ini, dengan kondisi dan suasana demikian masih tidak bahagia maka dia dijamin tidak akan bahagia selamanya. Dan semua peserta bhajan tertawa berderai derai…..

Mereka yang tidak berbahagia tubuhnya di sini akan tetapi pikirannya memikirkan masalah di rumah sebelum saat ini, atau pada masa lalu atau mengkhawatirkan, cemas akan masalah yang akan dihadapi di masa depan.

Bhante mulai cerita tentang seorang profesional muda yang sukses dan ternama. Karena kesuksesan dan kesibukannya jadwal agenda esok hari, minggu depan sudah terorganisasi dengan baik. Bahkan agenda bulan depan pun sudah tertata, jam berapa pergi ke acara apa.

Dengan mengalahkan banyak acara dia dapat menemui Master Krishnamurti di India. Dalam kesempatan yang sangat langka tersebut sang profesional muda ternama bertanya, “Master, Seni Kehidupan itu yang bagaimana?”

Krishnamurti mulai bertanya apakah sang profesional percaya dengan Tuhan? Dia menjawab percaya dengan sepenuh hati. Sang Master kembali bertanya, apa yang akan dilakukan bila enam bulan lagi dia meninggal dunia. Dia menjawab akan banyak agenda dia yang akan di-cancel, dibatalkan. Sang Master kembali bertanya, bila besok jam 5 sore dia meninggal apa yang akan dilakukannya, dia menjawab, dia akan berbagi kemakmuran kepada mereka yang membutuhkan. Kalau waktu tinggal 2 jam lagi untuk hidup apa yang dilakukannya? Dia menjawab saya akan bermeditasi dan hanya mengingat Tuhan.

Sang Master berkata, “Itulah Seni Kehidupan, bagaimana kita tetap berkarya dengan ketidakpastian esok hari dan kematian kita kapan? Semua peserta bertepuk tangan meriah dengan kisah nyata yang menyentuh hati…….

 

Giliran Bapak Anand Krishna berkisah…….

Pada suatu hari, seorang pemuka masyarakat mendatangi Raja Yudistira, ”Kedatanganku untuk memohon bantuan Baginda…”

”Dengan senang hati,” Sang Raja yang biasanya sopan, memotong kalimat sang pemuka masyarakat, “tetapi maafkan saya, hari ini saya harus segera meninggalkan istana karena hari sudah malam. Kiranya Bapak bisa kembali besok pagi. Aku berjanji akan melayani Bapak yang kumuliakan sebatas kemampuanku.”

Sang pemuka masyarakat puas dengan janji itu. Ia yakin Raja Yudistira pasti menepati janjinya.

Akan tetapi Bhima, adik Yudistira cepat-cepat pergi ke alun-alun di tengah kota, dan membunyikan genta yang biasanya hanya dibunyikan untuk mengumpulkan massa jika ada pengumuman penting.

Yudistira pun mendengar suara genta dan ingin tahu, ada apa gerangan Bhima mengumpulkan masyarakat malam-malam. Sepenting apakah pengumuman Bhima?

Bhima berkata, “Hari ini aku bertemu dengan seseorang yang telah menguasai waktu. Kebetulan orang itu warga kita. Kita semua patut bangga.”

Beberapa saat kemudian, Yudistira datang menegur Bhima, ”Apa-apaan kamu, Bhima? Janganlah membohongi rakyat. Siapa yang dapat menguasai waktu?”

“Baginda sendiri,” jawab Bhima.

“Maksudmu?” tanya sang raja.

“Tadi Baginda Raja berjanji akan melayani tokoh masyarakat yang membutuhkan bantuan…”

“Ya, ya, dan….”

“Melayaninya besok… berarti Baginda yakin tidak akan terjadi apa-apa antara saat ini dan besok pagi, dan Baginda dapat menepati janji.”

Yudistira menyadari kesalahannya. Saat itu juga ia mendatangi rumah pemuka masyarakat itu, dan memenuhi segala kebutuhannya…………….

Bapak Anand Krishna melanjutkan kisahnya:

Dalam kehidupan itu, ada yang namanya ketidak pastian. Itulah sebabnya Guru Nanak berkata apa yang dapat dikerjakan hari ini, kerjakan sekarang. Apa yang dapat dkerjakan besok kerjakan hari ini……..

Alkisah ada seorang raja yang memanggil seorang Master, seorang bijak. Sang raja bertanya Kebenaran itu Apa? Sang Bijak menjawab aku akan mengatakannya nanti.

Setelah beberapa bulan sang raja sedang merayakan kelahiran putra pertamanya. Seluruh masyarakat berbahagia dan diundanglah sang bijak datang. Sang Raja menagih janjinya apakah sebenarnya Kebenaran itu? Sang Bijak menjawab bahwa jawabannya akan membuat sang raja tidak senang. Sang raja tetap ngotot agar Sang Bijak tetap mengatakannya karena dia sedang berbahagaia dengan kelahiran putranya.

Sang Bijak berkata bahwa kebenaran itu adalah bahwa pada saat kematian tidak ada seorang pun yang menemani kita. Anak dan istri kita juga tidak menemani kita. Dan kita tidak tahu, kapan kita akan mati?

Sang raja termenung lama, kebahagiaan akan kelahiran putranya tersengat oleh lebah kesadaran bahwa dia tidak tahu kapan kematian akan menimpanya. Pada saat dia mati, kebahagiaan akan kelahiran putranya menjadi tidak berarti……….

Guruji Anand Krishna mengingatkan para peserta tentang ketidakpastian kehidupan. Berbuatlah seakan-akan besok jam 5 sore kita akan meninggal………….

Masih ada beberapa catatan dhamma talk dari Bhante Sanghasena dan Guruji Anand Krishna selama 2 hari tanggal 25 dan 26 April 2017 yang sedang kami ingat-ingat kembali…..

Sifat Bawaan Ilahi dan Syaitani dalam Diri #Bhagavad Gita

Berdasarkan samskara atau “hikmah bawaan” dari pengalaman-pengalaman di masa lalu, adalah dua Kecenderungan atau Karakter utama yang menjadi “pilihan alami” setiap manusia: SIFAT DAIVI dan  SIFAT ASURI atau DAITYA.

Daiva berarti “Yang Berkilau, Bercahaya”. Karakter Daiva adalah Sura, “Selaras dengan Alam, dengan Kodrat manusia”. Sementara itu Daitya atau Asura adalah Karakter yang “Tidak Selaras dengan Kodrat Manusia, dengan Alam”.

Karakter Daivi atau Sura membantu kita dalam hal peningkatan kesadaran. Karakter Daitya atau Asuri menahan kita ke bawah, membuat kita terikat dengan dunia benda. Dikutip dari Kata Pengantar Percakapan ke Enam Belas dari buku dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Buku Bhagavad Gita

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Sesungguhnya hanya ada dua macam makhluk di dunia ini; mereka yang bersifat dasar mulia, Daivi atau Ilahi, dan yang tidak mulia, Asuri utau syaitani. Tentang mereka yang bersifat dasar mulia, Daivi atau Ilahi sudah Ku-jelaskan secara rinci; sekarang dengarlah tentang mereka yang tidak mulia, Asuri atau syaitani, Wahai Partha (Arjuna, Putra Prtha, sebutan lain bagi Kunti, Ibu Arjuna).” Bhagavad Gita 16:6

 

Asura, Daitya atau Syaitan perlu dikenal – sehingga kita dapat menghindarinya. Negativitas perlu diketahui, sehingga kita dapat meninggalkannya. Sampah dan kotoran adalah fakta, realita – keberadaannya mesti diakui, supaya kita dapat rnembakar, atau mendaur-ulangnya menjadi energi, yang dapat digunakan kembali.

 

ASURA, DAITYA, ATAU SYAITAN BUKANLAH “KATA AKHIR” – Syaitan bisa berkembang menjadi Super Syaitan, atau mengalami proses daur ulang menjadi Energi yang Mulia, menjadi Sura, Deva.

Jika seseorang yang lahir dengan sifat-sifat syaitani dibiarkan tumbuh sendiri, atau tumbuh di tengah lingkungan yang justru menunjang ke-syaitan-an dirinya — maka jadilah dia Super Syaitan!

Umumnya memang demikian.

Mereka, yang dalam masa kehidupan sebelumnya, bersifat syaitani; dan saldo atau balance-carried forward-nya adalah sifat-dasar tersebut ; maka kelahiran berikutnya hampir dapat dipastikan di tengah masyarakat yang bersifat sama, syaitani.

 

MASIH ADAKAH HARAPAN BAGI MEREKA? Ada, masyarakat dengan sifat-sifat syaitani memang mesti punah. Mereka mesti didaur-ulang secara kolektif pula. Sementara itu, individu-individu yang mendapatkan berkah berupa bimbingan dari seorang Pemandu Rohani, bisa saja memperbaiki dirinya, tanpa menunggu proses daur-ulang kolektif bagi masyarakatnya, yang kadang membutuhkan waktu beribu-ribu tahun.

Kembali pada ayat…….

Uraian tentang sifat-sifat syaitani berikut adalah dalam rangka mengenal sifat-sifat syaitani. Supaya,jika kita memilikinya, bisa cepat-cepat mendaur-ulangnya.

 

“Mereka yang bersifat tidak mulia, asuri atau syaitani, tidak dapat memilah antara tindakan mulia dan tepat dengan yang tidak mulia dan tidak tepat. Mereka tidak tahu kapan mesti bertindak, dan kapan tidak bertindak. Tiada kesucian, kemuliaan; perilaku baik, dan kejujuran di dalam diri mereka.” Bhagavad Gita 16:7

 

Ketepatan dalam hal bertindak — itulah yang utama. Bagi seorang ibu yang mencintai, menyayangi anaknya, adalah tepat jika ia membiarkan anaknya tumbuh mandiri. Jika ia memanjakannya secara berlebihan dan selalu melindunginya; maka ia bertindak tidak tepat. Ia berperilaku syaitani.

 

BAGI SEORANG PEMIMPIN melayani rakyat adalah tindakan yang tepat. Jika ia mementingkan partai, kroni, serta keluarganya dan menomorduakan rakyat, maka ia bertindak tidak tepat.

Seorang pengusaha mesti mencari uang dengan cara-cara yang wajar ; itulah tindakan yang tepat. Namun jika ia menghalalkan segala cara untuk menimbun harta di atas timbunan penderitaan dan isak tangis orang lain — maka ia bertindak tidak tepat.

Tindakan yang tidak tepat, tidak pada tempatnya adalah ketika seorang kesatria yang harus membela bangsa dan negaranya meletakkan senjata dan menyerah pada musuh. Sebaliknya, jika ia menggunakan senjata untuk membidik sesama anak bangsa demi kepentingannya sendiri — maka ia bertindak tidak tepat pula.

 

TIDAK ADA SALAHNYA kita menyemproti nyamuk—nyamuk yang mengganggu dan dapat menimbulkan penyakit. Jika kita membiarkan kurir demam berdarah berkeliaran bebas — maka kita bertindak tidak tepat. Namun, jika kita membunuh hewan untuk dikonsumsi demi kesenangan atau kenikmatan cecapan, maka kita bertindak tidak tepat.

Bagi seorang petapa atau biarawan, meditasi selama berjam-jam adalah tepat. Bagi seorang kepala rumah tangga pemerintahan, atau sebagainya — yang secukupnya saja. Tidak perlu meniru petapa.

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Merendahkan Maupun Iri adalah Melecehkan Gusti yang Bersemayam dalam Diri Semua Orang

lni punyaku, itu bukan; ini milikku, itu bukan; seperti inilah aku, aku lain dari kamu, inilah pikiranku, seperti inilah perasaanku—kamu lain; ini putraku, takhtaku, mahkotaku, hartaku—sedang yang itu, adalah punyamu, milikmu.

Segala pengalaman saling bertentangan tercipta oleh dualitas aku dan kamu. Itulah benihnya, benih pertentangan. Benih perpecahan. Selama benih perpecahan dualitas masih ada; selama citta atau benih-benih pikiran dan perasaan masih memiliki muatan atau potensi perpecahan, kita akan selalu terombang-ambing di tengah lautan samsara, kita akan selalu mengulangi pengalaman kelahiran dan kematian secara berulang-ulang.

……………

Selama masih berkesadaran jasmani murni, dualitas tidak bisa dilampaui. Dualitas baru bisa dilampaui, baru bisa “mulai” dilampaui pada tataran energi. Energi yang ada di dalam diri saya, yang menghidupi, menggerakkan diri saya adalah sama dengan energi yang ada di dalam dan menggerakkan Anda. Sebatas ini dulu. Landasan energi ini penting. Tidak perlu membahas filsafat yang tinggi. Sederhana dulu.

Dengan memahami hal ini, kita baru bisa mengapresiasi ungkapan Tat Tvam Asi, Itulah Kau; That Thou Art, That You Are! Dan itu pula Aku. That I am. Kemudian, kedua tangan kita, dengan sendirinya, akan mengambil sikap.

…………..

Namaste, Namaskara, Salam; Tat Tvam Asi, Itulah Engkau—dan pada-Mu Hyang bersemayam di dalam setiap makhluk, kuucapkan salam-hormatku, salam-kasihku. Penjelasan Yoga Sutra Patanjali I.33 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Berikut penjelasan Bhagavad Gita 16:18 bahwa Merendahkan Orang Lain ataupun Iri sama dengan Melecehkan Tuhan:

Buku Bhagavad Gita

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Terkendali oleh keangkuhan, kekerasan, kesombongan, nafsu, amarah dan sebagainya, mereka sesungguhnya melecehkan Aku yang bersemayam dalam diri mereka dan diri setiap arang.” Bhagavad Gita 16:18

 

Pelecehan terjadi, karena kita menaruh rasa iri terhadap orang lain, cemburu, atau menganggapnya lebih rendah. Semua ini muncul dari delusi bahwasanya “lain”-nya seseorang adalah sebuah realita.

 

PADAHAL YANG “LAIN” ITU TIDAK ADA – Sang Jiwa Agung, lewat percikan-percikan yang tak pernah terpisahkan dari-Nya sedang menerangi setiap makhluk. Sinar suci yang sama menerangi setiap orang.

Di tingkat wahana-badan, memang banyak jenis, beragarn kendaraan. Sepintas, pengemudi setiap kendaraan pun tampak beda. Keturunan Cina jelas beda dari keturunan Afrika. Orang Asia tidak memiliki warna kulit yang sama seperti orang Eropa. Namun, aliran kehidupan, listrik Ilahi yang menghidupi setiap pengemudi adalah satu dan sama.

 

PERLOMBAAN DAN PERTARUNGAN terjadi karena kebodohan diri. Baru-baru saja terungkap suatu berita yang cukup sensasional. Namun, kemudian berita itu “hilang”. Beritanya tentang dua kelompok pemain yang berbeda — tapi, sesungguhnya dibayar oleh sekelompok pengusaha yang sama. Para pemain di dalarn kelompok-kelompok itu dibiarkan berlomba dan bertarung hingga berdarah-darah. Para penonton dihibur – atau, lebih tepatnya dikibuli — dengan tontonan penuh kekerasan.

Para penjudi di luar arena pun bertarung, ada yang menjagokan pemain “A”, ada yang berharap pada pernain “B”. Dualitas di luar tampak sedemikian nyata dan jelas. Namun, di balik itu, sang sutradara adalah satu. Sekelompok pengusaha itulah yang sebenarnya memegang kendali.

Siapa pun yang menang, siapa pun yang kalah — para investor selalu menang, selalu untung, tidak pernah rugi.

 

SEPERTI ITULAH PERMAINAN SEMESTA – Bedanya, bagi Jiwa Agung, untung-rugi bukanlah tujuan-Nya mengadakan pagelaran kehidupan ini. Bukanlah tujuan-Nya untuk mencari keuntungan. Segala-galanya adalah milik-Nya, mau cari untung apa dan dari siapa lagi?

Krsna jelas dan tegas bila perlombaan bukanlah tujuan hidup. Setiap orang unik adanya. Setiap percikan Jiwa adalah unik. Ia sedang mengumpulkan pengalaman tenentu.

Setiap wahana-badan pun unik, tidak ada yang rnenjadi pembandingnya. Jadi, jika kita berlomba-lomba untuk mengejar tahta atau harta saja, maka kita sama sekali tidak memahami Jiwa dan permainan-Nya.

BERMAIN, YA UNTUK BERMAIN – Bukan untuk menang atau kalah. Dalam perrnainan ini, setiap orang sudah pasti sukses, jika ia bermain dengan semangat bermain, bukan untuk mengalahkan orang lain.

Setiap orang ditakdirkan sebagai pemenang.

Setiap kendaraan di Sirkuit Ilahi ini adalah unik dan luar biasa, dahsyat!

Menganggap rendah orang lain, meremehkan perannya, melecehkan dirinya — adalah sama dengan merendahkan, meremehkan, dan melecehkan Sang Jiwa Agung, yang atas kehendak-Nya, Pagelaran Kolosal ini sedang digelar.

Bagi Sang Jiwa Agung, arena permainan ini adalah – bukan saja milik-Nya – tetapi Dia Sendiri. Segala perlengkapan di dalam alam adalah Dia. Pemain adalah Dia. Semuanya Dia, Dia, Dia.

Ketika “kita” — dalam kebodohan kita — “melecehkan” orang lain; maka sesungguhnya kita “seolah” melecehkan Dia. Kenapa “seolah”? Karena sesungguhnya Ia tidak bisa dilecehkan. Tindakan menghina atau meremehkan orang lain adalah persis sama seperti meludahi langit. Ludah itu akan jatuh kembali. Dengan cara itu, kita hanyalah meludahi diri.

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Jangan Menggadaikan Kemuliaan Jiwa demi Kenikmatan Indra #BhagavadGita

AMBISI, HARAPAN, EKSPEKTASI – sebutan apa pun yang kita benkan kepada ‘cara berpikir’ seperti ini, sekalipun dibungkus rapi dengan kertas sampul positive thinking — landasannya adalah lobha, keserakahan. Dan keserakahan membawa bencana. Keserakahan membuat kita menjadi keras, kaku, alot, dan berdarah-dingin. Kita akan menghalalkan segala cara untuk memperkaya diri, untuk mendapatkan kedudukan, pujian, penghargaan, apa saja.

LALU, APAKAH AMBISI ITU TIDAK BOLEH? Perkaranya bukanlah boleh atau tidak. Perkaranya adalah bahwa ambisi adalah cocok bagi mereka yang bersifat syaitani; mereka yang belum mengenal nilai-nilai hidup dan kehidupan yang lcbih tinggi, mereka yang masih bodoh.

Ambisi tidak bisa tidak membuat diri kita menjadi serakah. Kenapa? Karena ambisi adalah opsi bagi mereka yang belum cukup percaya diri. Ambisi adalah “pikiran dan khayalan seorang anak kecil”: Aku mau jadi gede, mau jadi besar, mau jadi tinggi seperti papi. Aku mau jadi cantik seperti mami. Aku mau jadi guru, aku mau jadi perawat, aku mau jadi presiden, pilot, preman, pengusaha, pemabuk, penjudi, atau salah satu dari sekian banyak pe-pe- yang lain. Ini adalah ambisi.

Silakan menoleh ke belakang, apakah kita menjadi presiden? Berapa banyak anak di antara jutaan atau ratusan juta anak yang berambisi untuk menjadi presiden, dan akhirnya rnenjadi presiden? Penjelasan Bhagavad Gita 16:13 dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Berikut tanggapan Bhagavad Gita 16:14 tentang afirmasi para motivator masa kini:

Buku Bhagavad Gita

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Lawan yang satu telah kutaklukkan, yang lain pun akan kutaklukkan. Aku menguasai segala-galanya. Aku memiliki kekuasaan tertinggi. Segala-galanya tersedia untuk kunikmati. Aku memiliki segala kekuatan. Aku sakti, aku berhasil, aku bahagia.” Bhagavad Gita 16:14

 

Kurang lebih afirmasi-afirmasi seperti inilah yang diajarkan para motivator sejak awal abad ke-20, dengan sedikit improvisasi dalam tata-bahasa dan gaya penyampaian.

 

BAGI KRSNA, PERNYATAAN-PERNYATAAN SEPERTI INI adalah bersifat syaitani. Semuanya memengaruhi niat kita, sehingga kita menjadi sombong; “Aku sudah mencapai ketinggian langit kesekian, kau baru langit kesekian.” Siapa yang dapat membuktikan klaim-klaim sepertl itu?

Khayalan syaitani adalah imajinasi, khayalan yang tidak dltindaklanjuti dengan karya nyata. Seseorang yang melamun terus bahwa dirinya adalah kaya, kaya, kaya raya — tidak menjadi kaya. Ia hanya menipu dirinya sendiri.

Kesadaran Jiwa adalah kekayaan sejati.

Berada di jalan raya kehidupan, hanyalah seorang pengemudi yang fully alert, jaga, sadar — yang akan mencapai mjuannya dengan selamat. Jagalah kesadaran diri!

Dalam keseharian hidup, dalam pekerjaaan dan usaha kita, kesadaran diri berarti percaya diri. Berkarya dengan penuh percaya diri. Bekerja keras sesuai dengan potensi dan keahlian diri. Itulah yang membawa keberhasilan. Bukan ambisi, bukan afirmasi-afirmasi belaka. Selanjutnya…

 

MENAKLUKKAN ORANG LAIN MUDAH – taklukkan diri sendiri! Memamerkan kesaktian adalah mudah. Jika kita memang sakti, maka gunakanlah kesaktian kita, kekayaan kita, kecerdasan dan kepintaran kita untuk memperbaiki hidup kita sendiri, dan hidup mereka yang berada di sekitar kita. Tidak perlu membual, just do it!

Hola terpengaruh oleh Si Angong, sehingga tidak meditasi lagi. Bahkan ia pun mencak-mencak di Facebook; “Untuk apa meditasi segala? Dulu, gara-gara meditasi dan kegiatan di padepokan, saya tidak bisa keija sepefti sekarang. Penghasilan minim. Setiap sore aku ke padepokan untuk meditasi. Sekarang, lihat aku bekerja siang malam. Dalam waktu kurang dari 1 tahun sudah bisa ganti mobil.”

Tahun depannya, ia diserang berbagai macam penyakit. Ia memang memiliki kecenderungan untuk “jatuh sakit” seperti itu. Penyakitnya – semua — tanpa kecuali adalah terkait dengan stres. Sebab itu, meditasi justru memoderasi kegiatan dan pola hidupnya yang tidak disadari Hola.

Sekarang, ia sudah tidak bisa bekerja lagi. Jangankan mobil baru yang dibanggakamiya, tabungannya pun sudah hampir habis untuk mengobati diri. Sebelumnya, selama meditasi rutin, ia tidak pernah mengalami guncangan kesehatan seperti yang sedang dialaminya saat ini. Dulu, barangkali penghasilan tidak seberapa; tetapi sehat, masih bisa bekeija; masih punya mobil, dan masih juga punya tabungan. Sekarang? Ludes semua.

 

JANGAN IKUT MENJADI ANGONG, BODOH, BERSAMA SI ANGONG – Jangan menggadaikan kemuliaan Jiwa demi kenikmatan indra!

Mereka yang sedang berjualan kekayaan dan kebahagiaan bualan – para Angong — merayu Anda, “He, inilah cara instan untuk menjadi kaya, menjadi bahagia!” Instan? Mereka sendiri sedang banting tulang untuk menjual “komoditas” mereka. Instan? Tidak.

Berhentilah berkhayal — berkaryalah!

Kerja nyata dengan penuh kesadaran — itulah pengalaman yang dibutuhkan oleh Jiwa. Jika hanya berkhayal saja, maka sesungguhnya Jiwa tidak mernbutuhkan kendaraan badan dan indra.

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

4 Ciri Utama Para Bijak #BhagavadGita

Jiwa mesti tetap sadar akan hakikat dirinya sebagai Percikan Jiwa Agung; dan bahwasanya Panggung Kehidupan ini, pergelaran ini, digelar baginya. Silakan menonton, menyaksikan pergelaran, dan menikmati. Tidak perlu lari ke mana-mana karena seluruh alam semesta adalah panggung pergelaran. Tidak bisa ke mana-mana, selama masih berbadan, bahkan kendati sudah meninggalkan badan ini, selama masih berbadan-halus, Jiwa masih tetap berada di tengah pergelaran.

Jadi, nikmati pergelaran dengan penuh kesadaran akan hakikat diri sebagai Jiwa, jangan terjebak dalam permainan. Untuk itulah dianjurkan upaya terus-menerus, upaya mengingat-ingat jati diri secara terus-menerus, sembari melakoni Samyama. Penjelasan Yoga Sutra Patanjali III.36 diikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Berikut penjelasan Bhagavad Gita 18:54 tentang ciri-ciri sifat mulia para bijak yang berkesadaran Jiwa:

 

Buku Bhagavad Gita

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Berada dalam Kesadaran Brahman, seseorang senantiasa ceria, tidak lagi berduka dan tidak mengejar sesuatu. Ia bersikap sama terhadap semua makhluk. Demikian, sesungguhnya ia telah ber-bhakti pada-Ku.” Bhagavad Gita 18:54

Tidak berarti seseorang yang telah mencapai kesadaran tertinggi itu meninggalkan pekerjaannya. Tidak. Ia masih tetap berkarya di tengah keramaian pasar dunia, namun terjadi perubahan nyata dalam sikapnya.

 

PERTAMAI IA MENJADI CERIA — Keceriaan bukanlah cengengesan. Keceriaan bukanlah rasa bahagia yang dibuat-buat. Keceriaan adalah hasil dari kesadaran tertinggi, di mana ia mulai mengapresiasi keindahan jagad-raya. Keceriaannya adalah keceriaan polos, tulus, lugu. Keceriaan seorang anak kecil yang sedang mengamati dan menikmati warna-wari dunia.

 

KEDUA: IA TIDAK LAGI BERDUKA – Ini erat kaitannya dengan keceriaan. Jika ia hanya berada dalam keadaan suka, maka ketika keadaan berubah, ia akan berduka.

Keadaan suka, sebab itu, tidaklah sama dengan keceriaan. Keceriaan melampaui suka dan duka. Suka dan duka tergantung pada keadaan di luar diri. Keceriaan adalah sikap hidup yang muncul dari kesadaran diri.

Brahman, sebagaimana telah kita bahas sebelumnya, memiliki tiga sifat utama, yaitu Sad atau Kebenaran Hakiki; Cit atau Kesadaran Murni; dan Ananda atau Kebahagiaan Sejati. Keceriaan bersumber dari ketiganya itu. Namun, secara spesifik, keceriaan adalah ungkapan dari Ananda. Jadi, berasal dari dalam diri, bukan dari sesuatu di luar diri.

 

KETIGA: IA TIDAK MENGEJAR SESUATU – Ia tetap berkarya, dan berkarya secara efisien. Ia tidak malas, namun, ia berkarya sebagai ungkapan keceriaan dirinya. Ia tidak berkarya untuk mengejar kekayaan, kedudukan, ketenaran, dan sebagainya.

Alangkah baiknya, jika para pemimpin, pengusaha, pendidik, pekerja, kita semua bersemangat dernikian! Sehingga tidak ada urusan sikut-menyikut, tidak ada perlombaan, tidak ada praduga dan prasangka. Semua orang berkarya sepenuh hati sesuai peran serta kapasitasnya. Inilah keadaan yang dapat menciptakan masyarakat yang ideal dan sejahtera dalam arti kata sebenarnya, sesungguhnya.

 

KEEMPAT: BERSIKAP SAMA TERHADAP SEMUA – Berarti, tidak pilih kasih. Tidak pandang bulu; tidak tebang pilih. Ia tidak menganggap orang lain rendah karena kepercayaannya beda, rasnya lain, bahasanya beda, dan sebagainya dan seterusnya.

Bersikap sama tidak berarti kita tidak adil. Bersikap sama berarti kita bersikap adil dengan menggunakan tolok ukur dan timbangan yang sama buat semua.

Berarti, kita tidak hanya bersuara lantang ketika seorang pengusaha ditindak karena memperbudak buruhnya, dan membisu seribu bahasa ketika saudara kita sendiri memparbudak staf, atau menipu rekan bisnisnya.

 

DEMIKJAN, DENGAN DIBEKALI KEEMPAT SIFAT MULIA INI – ketika seseorang yang telah mencapai kesadaran tertinggi masih tetap berkarya juga; maka, sesungguhnya ia pun sedang berdoa.

Tidak sama dengan “berdoa sambil bekerja”.

Keadaan ini menjadikan doa sebagai warna dasar setiap pekerjaan. Jadi, pekerjaan itu sendiri berubah menjadi doa.

Inilah semangat panembahan, semangat bhakti.

Bagi seseorang yang berkarya dengan semangat bhakti — tiada lagi dosa, tiada lagi keraguan, kekhawatiran, atau kegelisahan.

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner 4

4 Kondisi Duka Derita dalam Kehidupan Kita #YogaSutraPatanjali

Klesa atau duka-derita bukanlah benda, bukan pula keadaan di luar diri, tapi pengalaman-diri. Klesa atau Duka-Derita adalah “sesuatu yang kita alami”. Jadi, amat sangat subjektif, personal.

Kadang kita “merasa” panas, kegerahan—pengalaman kegerahan ini adalah sangat riil bagi kita. Tapi sebaliknya, di dalam ruangan yang sama, ada juga seseorang yang memakai baju hangat. Ia tidak kegerahan, malah kedinginan. Suhu di luar (suhu di ruang) sama, keadaan sama. Ia kedinginan, kita—Anda dan saya—kepanasan,kegerahan.

Berarti apa? Klesa atau Duka-Derita disebabkan oleh “keadaan-diri kita masing-masing, “pengalaman-diri” kita masing-masing. Bukan karena keadaan di luar diri…………..

Dengan berkembangnya samadhi, berakhirlah klesa secara berangsur, bertahap—mengikuti laju perkembangan samadhi. Jika laju perkembangan samadhi amat sangat pelan, berakhirnya klesa atau duka-derita pun pelan, slow. Jika perkembangan samadhi pesat, berakhirnya duka-derita pun pesat. Yoga Sutra Patanjali II.2 Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Berikut penjelasan Yoga Sutra Patanjali mengenai 4 kondisi klesa atau duka-derita:

Buku Yoga Sutra Patanjali

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Avidya, kebodohan atau ketidaktahuan adalah dasar, landasan, atau sebab utama segala sebab lainnya yang menyebabkan klesa atau duka-derita (Sebab-sebab lain yang dimaksud adalah asmita atau ke-‘aku’-an; raga dan dvesa atau ketertarikan dan ketaktertarikan, suka dan tak suka; dan, abhinivesa atau keinginan untuk mempertahankan sesuatu), terlepas dari apakah duka-derita itu dalam keadaan dormant atau tidak aktif; dalam proses sedang berkurang, Iewat; sudah teratasi tapi bisa datang kembali, bisa terasa Iagi sewaktu-waktu; atau sepenuhnya aktif dan sedang meluas, berkembang, bertambah.” Yoga Sutra Patanjali II.4

Tentang Avidya, Kebodohan atau Ketidaktahuan sebagai Sebab Utama di balik sebab-sebab lain sudah kita bahas sebelumnya. Adalah penggalan kedua, paruh kedua sutra ini yang sangat penting, di mana Patanjali menjelaskan “sifat” klesa, sifat duka-derita.

 

PERTAMA: PRASUPTA ATAU DORMAN. Jika diterjemahkan secara letterlijk, Prasupta berarti “Tertidur”—dalam keadaan tidur. Ini adalah keadaan yang dicapai, dapat dicapai oleh seorang Yogi. Segala duka-derita di dalam dirinya sudah tertidur.

Dalam hal ini, keadaan seorang Yogi adalah sama seperti keadaan seorang Ibu dengan anaknya yang sudah kenyang, sudah Ielah bermain, dan tertidur. Sekarang, sang Ibu boleh melakukan aktivitas yang lain. Ia tidak lagi terganggu oleh urusan anak.

Atau, keadaan seorang raja yang telah berhasil menaklukkan musuh-musuhnya. Sekarang, ia boleh santai. Para musuh sudah dilucuti senjatanya. Mereka dalam keadaan lemah. Mereka tidak dalam posisi untuk menyerang lagi atau menyebabkan gangguan lain.

Kendati demikian, tidak berarti seorang Yogi boleh hidup tanpa kepedulian. Tidak. Sama sekali tidak. Anak yang sedang tidur bisa terjaga sewaktu-waktu. Musuh yang tertaklukkan pun bisa menyusun strategi dan menyerang balik.

Seorang Yogi yang sudah berhasil keluar, berhasil bebas dari lingkaran klesa atau duka-derita masih harus selalu eling selalu waspada.

Seorang Yogi boleh merasa tidak terpengaruh ketika kehilangan suatu benda yang sangat disayanginya. Ia tidak tenggelam—tidak larut dalam klesa atau duka-derita. Tapi, bagaimanajika ia kehilangan mata pencariannya? Bagaimana jika kehilangan seseorang yang sangat disayanginya? Bagaimana jika kehilangan salah satu anggota badannya? Salah satu indranya? Saat itu, klesa atau duka-derita yang sudah tertidur, sudah prasupta, bisa terjaga kembali!

Intinya: Selalu Eling, Selalu Waspada!

 

KEDUA: TANU ATAU DALAM PROSES SEDANG TERATASI. Dengan kata lain, sedang berkurang. Pengaruhnya mulai melemah.

Saat “baru” terjadi sesuatu yang tidak sesuai dengan harapan atau kemauan kita, rasa sakitnya luar biasa. Tetapi setelah beberapa lama, rasa sakit pun mulai berkurang. Kemudian, bisa saja berakhir tanpa meninggalkan bekas.

Keadaan ini adalah keadaan umum. Seperti inilah keadaan kita semua. Suka-cita maupun duka-derita, keduanya tidak permanen.

 

KETIGA: VICCHINNA ATAU SUDAH TERATASI SEPENUHNYA. Jika keadaan kedua sebelumnya masih dalam proses, dalam keadaan ketiga ini proses sudah berhasil. Duka-derita sudah teratasi—sudah teratasi untuk “saat tertentu”. Implikasinya adalah sewaktu-waktu ia masih bisa muncul kembali.

Berikut contoh untuk memudahkan pemahaman kita. Ada kala kita disakiti seseorang. Kemudian—setelah menderita selama berhari-hari, berminggu-minggu, atau berbulan-bulan—duka itu mulai melemah, hingga suatu ketika tidak terasa lagi. Tidak mengganggu lagi. Terlupakan.

Tapi, beberapa lama kemudian, tiba-tiba tanpa sengaja kita berpapasan dengan orang yang menyakiti kita. Apa yang terjadi? Pengalaman klesa dan duka—yang sebelumnya terasa sudah lewat, sudah terlupakan—muncul kembali, terasa kembali. Bahkan, bisa jadi perasaan yang “baru” muncul itu memiliki kekuatan yang lebih dahsyat dibandingkan dengan yang lalu.

Keadaan ini pun umum. Kita semua mengalaminya dari waktu ke waktu.

 

KEEMPAT: UDARANAM ATAU MASIH AKTIF, masih terasa, bahkan sedang bertambah. Ini pun keadaan umum. Sesuatu yang baru terjadi atau pengalaman duka yang amat sangat dahsyat, yang mampu menghanyutkan segala pengalaman lainnya.

Demikianlah sifat klesa atau duka-derita. Sangat penting bagi setiap praktisi Yoga untuk memahami sifat-sifat ini supaya dapat rnenjaga diri, mengawasi diri. Saat baru mengalami salah satu keadaan di antaranya, jangan sampai kita berpikir sudah bisa melampaui segala duka-derita. Jangan cepat-cepat menyimpulkan, “Aku sudah cerah, sudah mencapai samadhi.”

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/