Melepaskan Kemarahan dengan Aman lewat Latihan #Meditasi #AnandAshram

Emosi jangan dipendam

Dalam keadaan stres berat kita menjadi tegang, kemudian nervous, gugup, kehilangan percaya diri. Apabila kita cari akarnya, kita akan menemukan bahwa pemendaman emosi merupakan masalah utama kita. Pemendaman emosi itulah yang menyebabkan stres dan mengakibatkan berbagai macam penyakit.

Kita ingin marah; kita ingin menjerit, kita ingin teriak, tetapi menahan diri. Kita memaksa untuk menahan diri. Kenapa? Karena tidaklah sopan bagi seseorang untuk marah-marah, berteriak, atau menjerit. Setidaknya demikian yang telah diajarkan kepada kira.

“Memaksa” berarti menutup outlet, menutup saluran untuk membuang sampah berupa emosi yang terpendam. *Sumber: (Krishna, Anand. (2016). Ananda’s Neo Self Empowerment, Seni Memberdaya Diri bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Pengaruh Menahan Marah terhadap Kesehatan:

*Sumber: http://breaktime.co.id/health/healthy-and-happy/5-efek-negatif-menahan-marah-wah-apa-saja-ya.html

 

  1. Ledakan kemarahan dapat menempatkan jantung kita dalam risiko besar. Pada umumnya penderita serangan jantung disebabkan oleh ledakan kemarahan. Serangan jantung terjadi akibat seseorang menekan rasa marah untuk tidak mengungkapkannya dan berusaha keras untuk mengendalikan hal itu.
  2. Kemarahan dapat meningkatkan risiko terserang stroke. Sebuah studi menunjukkan bahwa ada risiko mengalami stroke tiga kali lebih tinggi yang terjadi, akibat pembekuan darah ke otak atau pendarahan di dalam otak setelah selama dua jam menahan marah.
  3. Melemahkan sistem kekebalan tubuh Anda. Apakah Anda pernah merasa lebih sering sakit ketika Anda marah setiap saat? Ya, memang benar. Kemarahan yang berlebihan dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh.
  4. Kemarahan dapat menyebabkan depresi. Terdapat hubungan yang jelas antara depresi, marah, gelisah, stres, dan penyakit jantung, demikian menurut Philip Binkley, professor of medicine di divisi kedokteran jantung Ohio State University. Ternyata, terbukti bahwa menahan amarah dapat menyebabkan depresi.
  5. Marah dapat mempersingkat hidup Anda. Efek ini merupakan kesimpulan dari beberapa efek negatif akibat menahan marah. Jika terlalu sering menahan marah akan menimbulkan tingkat stres yang tinggi. Sehingga dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh dan menyebabkan mudah terserang penyakit.

 

Latihan Voice Culturing & Theraphy for Releasing Tension

“Memaksa” berarti menutup outlet, menutup saluran untuk membuang sampah berupa emosi yang terpendam.

Memaksakan diri untuk tidak marah, tidak berteriak, dan tidak menjerit; memaksa diri untuk selalu tampil mengesankan dengan senyum palsu, walau hati sedang membara, bukanlah solusi yang tepat.

Energi emosi yang terpendam bisa menjadi bom waktu berakibat fatal. Solusinya juga bukan marah-marah, berteriak histeris, atau menjerit-jerit tidak keruan—dengan cara itu kita menambah persoalan, bukan menyelesaikannya.

Kita harus punya outlet atau saluran ke luar yang lain. Kita harus dapat mengeluarkan segala sesuatu yang terpendam lewat jalur lain.

 

Latihan Voice Culturing dalam buku Ananda’s Neo Self Empowerment menawarkan jalur alternatif.

Kita tetap mengeluarkan emosi yang terpendam; tetap mengeluarkan kegelisahan, kekesalan, kekecewaan, dan segala yang membebani kita—tapi, tanpa ditujukan kepada orang tertentu.

Dengan demikian, persoalan selesai. Tidak ada lagi emosi yang terpendam, pun kita tidak menambah persoalan dengan marah-marah pada seseorang, menjerit, dan meneriakinya.

 

Dalam latihan ini, kita akan menembus berbagai sub-lapisan mental/emosional sehingga apa saja yang terpendam akan keluar.

Sub-lapisan yang dimaksud, antara lain terkait dengan memori-mcmori masa lalu dan keinginan-keinginan yang tak tercapai.

Maka, ada kalanya seseorang menjadi histeris. Namun tidak perlu khawatir, seorang pembimbing dapat menenangkannya kembali dengan sangat mudah.

Karena itu, latihan ini harus dilakukan di bawah bimbingan seorang instruktur/pembimbing yang sudah mendapatkan training memadai dari Ashram, training khusus untuk para fasilitator. Jangan melakukannya sendiri. *Sumber: (Krishna, Anand. (2016). Ananda’s Neo Self Empowerment, Seni Memberdaya Diri bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s