Kebahagiaan yang Tidak Tergantung Sesuatu di Luar Diri #BhagavadGita

Kedamaian sejati dan kebahagiaan abadi tidak bisa diperoleh dari hal-hal duniawi yang bersifat tidak abadi. Pengalaman itu hanya dapat diperoleh jika seseorang berada dalam kesadaran-abadi, dalam keabadian. Ketika Jiwa menyadari hakikatnya sebagai percikan dari Jiwa Agung. Penjelasan Bhagavvad Gita 6:27 dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Dalam keadaan apa pun, kesadarannya tidak merosot lagi. Ia berada dalam keadaan yang membuatnya senantiasa damai, senantiasa bahagia. Sebabnya adalah, karena kedamaiannya, kebahagiaannya sudah tidak bergantung pada sesuatu di luar diri – tapi pada dirinya sendiri. Penjelasan Bhagavvad Gita 6:30 dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Berikut penjelasan Bhagavad Gita 6:31 tentang kesadaran Jiwa, seseorang yang kebahagiaannya sudah tidak bergantung pada sesuatu di luar diri:

Buku Bhagavad Gita

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Seorang Yogi berkesadaran demikian – senantiasa bersatu dengan-Ku; memuji-Ku sebagai Jiwa Agung yang bersemayam dalam diri setiap makhluk, termasuk di dalam dirinya sendiri; dan melakukan semua kegiatan dengan kesadaran itu.” Bhagavad Gita 6:31

 

Berkegiatan  dengan menyadari kehadiran Sang Jiwa Agung dalam diri setiap makhluk berarti tidak menyakiti siapa pun. Namun, pada saat yang sama kesadaran tersebut juga membuatnya tidak ragu-ragu untuk melakukan bedah terhadap tumor yang bersarang di badannya atau badan siapa saja.

 

SETIAP BADAN ADALAH BADAN-NYA – berkesadaran demikian, seorang Yogi tidak pemah, dan tidak bisa duduk diam jika melihat sesuatu yang “tidak beres”.

Ketidakadilan yang terjadi terhadap siapa pun berarti terjadi juga pada dirinya – pada Diri Semesta. Dan, ia akan bertindak tanpa sedikit pun keraguan.

Dia akan membela pihak yang dizalimi, Walau pihak yang terzalimi membisu seribu bahasa karena merasa dirinya wong-cilik dan tidak berdaya.

 

BEBERAPA AYAT TERAKHIR ADALAH PENEGASAN ATAS “KESADARAN JIWA”. Jika Jiwa menyadari hakikat dirinya sebagai percikan Jiwa Agung, maka ia tidak lagi mengidentifikasikan dirinya dengan indra, badan, gugusan pikiran serta perasaan dan sebagainya.

Selama masih berbadan – kita, Jiwa mudah terjebak dalam identitas-identitas diri yang palsu sebagai badan. Ini yang menyebabkan kita sering larut dalam pengalaman-pengalaman dualitas seperti suka-duka, panas-dingin, dan sebagainya.

Kesadaran yang salah ini mesti ditanggalkan ketika Jiwa masih memiliki badan. Karena jika hal ini tidak terjadi, maka setelah “kematian”, ia akan terjebak dalam identitas palsu yang lain, yaitu identitas diri sebagai badan halus atau “roh” yang tetap saja memiliki gugusan pikiran serta perasaan dengan segala variannya, termasuk obsesi, memori, impian, dan lain sebagainya.

 

SAAT ITU, MENJADI SANGAT SUSAH bagi Jiwa untuk membebaskan diri dari identitas mental dan emosional tersebut. Namun, jika saat masih berbadan, ia sudah dapat mengatasi kesadaran jasmani dan indrawi, maka saat kematian, ia dengan mudah membebaskan diri dari kesadaran mental dan emosional.

Mereka yang susah melepaskan kesadaran badaniah dan indrawi saat masih “hidup” — lebih susah setelah “mati” — karena merasa sudah “kehilangan” badan, dan tidak mau, enggan, kehilangan badan halus atau “roh” dan gugusan pikiran serta perasaannya.

Kemudian, saat itu, tergantung pada kepercayaan kita sewaktu masih hidup…

 

KITA MENCIPTAKAN SURGA ATAU NERAKA BAGI DIR! KJTA, lengkap dengan segala atribut sesuai dengan kepercayaan kita. Surga atau neraka yang tercipta demikian pun sesungguhnya sekadar proyeksi dari keinginan kita. Kekuatannya terbatas, keberadaannya sebatas kekuatan pikiran serta perasaan kita. Dengan melemahnya kekuatan pikiran dan perasaan, surga dan neraka hasil proyeksi itu pun akan sirna.

Sebab itu, janganlah menunda pengoreksian kesadaran-diri. Seorang, yang sudah terkoreksi kesadarannya, tidak lagi menjadi budak badan, pikiran dan perasaan. Ia akan berkarya sesuai dengan…..

 

KEHENDAK JIWA AGUNG! Berada dalam kesadamn inilah, seorang Yogi, Isa atau Isanatha, dari tradisi Natha, mengatakan bila dirinya menjalani perintah Ayahnya. Dalam tradisi Natha, mereka percaya bila Tuhan yang mereka sebut Siva adalah Bapa Ilahi – silakan menyebut Sang Jiwa Agung sebagai apa saja!

Bagi Ramakrishna Paramahamsa, Sang Iiwa Agung adalah Bunda Ilahi, maka ia pun selalu berkata bila dirinya hanyalah menjalankan perintah Bunda Ilahi.

Bagi seorang mistik seperti Surdas si buta, Krsna dalam wujudnya sebagai anak kecil, balita, adalah Gusti Pangeran. Maka, ia pun selalu mengikuti perintah anak kecil yang disebutnya “nakal” — tapi, “aku tak berdaya, mesti mengikuti kemauan-Nya! ”

Bagi Mirabai, Krsna adalah kekasih, “Jika aku tahu cinta begitu menyakitkan, aku tak akan pernah mencintai-Mu, tapi sekarang sudah terlambat—Aku tidak bisa lepas dari-Mu!”

Dalam kesadaran seperti itu, walau masih berbadan, masih memiliki indra, dan gugusan pikiran serta perasaan, kita sudah tidak lagi mengikuti perintah mereka. Kita bertindak sesuai dengan kehendak Jiwa Agung — Sang Bapa, Ibu, Sahabat, Kekasih Agung yang Sejati! Saat itu, kita berkarya di dalam kesadaran-Nya, bersama-Nya.

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s