Keluar Siklus #Reinkarnasi Tak Berkesudahan dengan Buddhi Inteligensia

Inteligensia atau Buddhi, fakultas untuk memilah—kehilangan kemampuannya karena kabut dualitas yang bersifat ilusif.

 

PERSIS SEPERTI MATA MANUSIA YANG TERGANGGU PENGLIHATANNYA karena keadaan yang berkabut. Buddhi atau inteligensia tidak pernah hilang. Selalu ada. Dalam keadaan kabut pun tetap ada. Namun, karena kabut, kemampuannya bisa menurun secara drastis. Keadaan ini bukanlah permanen. Jika sudah tidak ada kabut, inteligensia bekerja kembali sesuai dengan fungsinya untuk memilah dan menentukan apa yang tepat bagi indra, badan, maupun gugusan pikiran serta perasaan. Apa yang tidak tepat, tentunya mesti dihindari.

Seorang bijak, seorang Yogi yang berkarya tanpa pamrih sudah keluar dari kabut, inteligensianya sudah berfungsi normal, sudah bisa dimanfaatkan sepenuhnya dan sesuai dengan fungsinya.

Gunakanlah inteligensia untuk mempertahankan kesadaran kita, supaya tidak ada lagi kabut yang mengganggu!

 

TIDAK TERGANGGU OLEH KABUT DUALITAS berarti, tidak “kegirangan” ketika mendapatkan pengalaman-pengalaman menyenangkan. Pun, tidak tenggelam dalam kenistaan, ketika menghadapi tantangan.

Hadapilah suka dan duka, semua pengalaman yang bertentangan dengan kondisi pikiran serta perasaan yang seimbang, tidak menjadi kacau karena pengalaman-pengalaman tersebut.

Sudah pasti suka dan duka menimbulkan sensasi yang beda. Itu tidak bisa dihindari. Asal, kita tidak larut, tidak terbawa oleh arus.

Umumnya, pengalaman suka membuat kita menjadi sombong. Keberhasilan mernbuat otak kita masuk angin. Dan, pengalaman duka mengempiskan hati kita. Kembang-kempis seperti inilah, yang mesti dihindari,

Tidak menjadi ciut dan putus asa karena pengalaman duka, dan tidak kemasukan angin ego karena pengalaman suka. Bhagavad Gita 5:20 dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Berikut penjelasan dalam buku karya leluhur Nusantara, Dvipantara Jnana Sastra tentang bagaimana menggunakan Buddhi atau Intelegensia untuk melepaskan diri dari jerat mind. Mind inilah yang menciptakan keterikatan, keserakahan, keinginan, kemarahan, iri, dan berbagai kualitas serupa — semuanya menyebabkan kita terlahir kembali.

Buku Dvipantara Jnana Sastra

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Pratyahara atau Penarikan Diri berarti menarik indra dari objek-objek indrawi, dengan upaya dan mind yang tenang” Vrhaspati Tattva 54

 

INI BISA DIRAIH dengan menggunakan buddhi atau inteligensia, mind yang telah bertransformasi dan mampu mentransformasi.

Antahkarana kita atau Realitas Batin, Sebab Batin dari segala sesuatu terkait fungsi tubuh kita — dikatakan bekerja dengan empat alat yang sangat efisien, yaitu:

Manah atau Mind; Ahamkara atau Ego, keakuan; Citta atau Inti, Esensi dari Mind, dan Buddhi atau Inteligensia.

Saat ini, dalam kebanyakan kasus, Mind atau Manah dan Ahamkara atau Ego memegang kendali indra-indra kita, kehidupan kita, dan segala fungsi diri kita.

Ini menciptakan keterikatan, keserakahan, keinginan, kemarahan, iri, dan berbagai kualitas serupa — semuanya menyebabkan kita terlahir kembali.

Gagasannya adalah meletakkan Buddhi dan Citta sebagai pemegang kendali. Ini adalah kudeta spiritual yang harus kita lakukan. Semua laku spiritual, termasuk yang disarankan di sini, menyiapkan kita untuk kudeta ini, untuk “peralihan kekuasan” ini.

Berkuasanya Mind dan Ego menjadikan kita sebagai budak indra. Dengan Inteligensia dan Mind halus yang berkuasa, kita terbebaskan dari perbudakan tersebut. Kemudian kita bisa menggunakan indra-indra kita tanpa diperbudak mereka.

Tapi, bagaimana caranya?

Ayat berikutnya menjelaskan……

 

“Senantiasa atentif akan keadaan yang bebas dari dualitas; konstan atau bebas dari perubahan apa pun; senantiasa damai; dan, tidak tergerak, dalam artian tidak terpengaruh oleh segala perubahan di luar diri — inilah yang disebut Dhyana atau Meditasi.” Vrhaspati Tattva 55

 

MEDITASI ADALAH ATENTIVENESS, SIKAP ATENTIF. Seorang ibu yang berasal dari keluarga biasa yang berpegang teguh prinsip-prinsip dan nilai-nilai Peradaban Lembah Sindhu, Shintu, Hindu, Indies, Indo, mengajarkan anaknya untuk senantiasa sadar sejak masa kanak-kanak, “Makanlah dengan atentif, belajarlah dengan atentif……”

Dengan kata lain, meditasi tidak pernah dipisahkan dari kegiatan sehari-hari. Hanyalah ketika kita tidak mendapatkan pendidikan awal semacam itu, pendidikan berbasis nilai sedari awal, barulah kita perlu menyisihkan beberapa jam untuk berlatih meditasi.

 

MEDITASI MEMBUNUH MIND YANG TER-CONDITIONING, inilah tahap paling awal. Selanjutnya, ia membangkitkan Buddhi, Inteligensia.

Ketika kita mulai hidup secara atentif, sesungguhnya kita hidup secara meditatif, hidup secara inteligen. Berbagai metode meditasi adalah baik adanya, selama mereka mampu menuntun kita pada tujuan di atas, yaitu hidup meditatif 24 jam sehari, 7 hari seminggu.

Kita harus memahami bahwa semua metode tersebut bukanlah akhir. Metode-metode meditasi bukanlah tujuan, bukanlah akhir. Entah kita menghabiskan beberapa jam sehari atau beberapa menit setiap hari dalam laku tersebut, tidaklah penting. Yang penting adalah melakoni meditasi. Jika kita bisa mencapai itu dengan sebuah metode tertentu — entah seliar atau tidak konvensional — maka itulah metode yang tepat bagi kita. Jika kita bisa mencapai tujuan hidup meditatif dengan mula-mula menyisihkan setengah jam untuk melakoni metode tertentu, maka mari kita sisihkan setengah jam, atau berapa pun waktu yang dibutuhkan.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2016). Dvipantara Jnana Sastra, Jakarta: Centre for Vedic and Dharmic Studies)

Catatan:

Ada mentega dalam susu, walaupun tidak tampak, belum tampak, tapi ia memang di sana. Dengan mengaduk susu, mentega yang tak tampak “menjadi” tampak. Namun, fenomena munculnya mentega ini tidak membuktikan bahwa mentega tidak eksis sebelum “proses pengadukan”. Upaya Manusia, usaha keras manusia — dalam konteks ini adalah sadhana spiritual, meditasi, dan lain-lain — dapat diibaratkan seperti proses mengaduk. Dengan mengaduk susu manah atau mind — buddhi atau inteligensia bermanifestasi. Dengan menggali jauh ke dalam buddhi atau inteligensia, lapisan-lapisan kesadaran yang lebih tinggi ditemukan, dan akhimya menuntun pada Paramatma atau Hyang Tunggal — mentega dari mentega, esensi pokok. Dari buku Dvipantara Jnana Sastra

Sudahkah kita mulai latihan meditasi atau sadhana spiritual?

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s