Memuja Dewa Agar Segera Memperoleh Apa Yang Diinginkan #BhagavadGita

“Seperti apa pun bentuk kepercayaannya seorang panembah (walau, ia sedang mengejar kenikmatan duniawi dan memuja para dewa atau kekuatan-kekuatan alam) – jika ia teguh dalam keyakinannya, maka Ku-kukuhkan keyakinannya itu.” Bhagavad Gita 7:21 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Berikut penjelasan Bhagavad Gita 4:12 tentang mereka yang menginginkan hasil cepat dari perbuatan mereka. Untuk itu mereka memuja para dewa:

Buku Bhagavad Gita

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Makhluk-makhluk sedunia, yang menginginkan hasil cepat dariperbuatan mereka, umumnya memuja para dewa – kekuatan-kekuatan alam; dengan cara itu, mereka segera memperoleh apa yang mereka inginkan.” Bhagavad Gita 4:12

Banyak jalan yang ditempuh manusia. Salah satu adalah jalan yang ditempuh oleh mayoritas umum. Mereka menginginkan hasil cepat dari perbuatan mereka. Untuk itu…..

 

MEREKA MEMUJA PARA DEWA – Para Dewa adalah kekuatan-kekuatan alam. Para dewa – mereka yang berkilau — juga adalah orang-orang sukses di dunia ini.

Adalah salah bila dewa diterjernahkan sebagai Tuhan — kemudian, menyimpulkan bahwa leluhur kita politeis dan memuja banyak Tuhan. Tuhannya bukan satu……..

Anggapan keliru berdasarkan ketidaktahuan ini, tidak saja terjadi di negeri kita, tapi juga di kampung Parnan Sam. Beberapa waktu yang lalu ketika Congress di sana mengundang seorang Rohaniwan Hindu dan mempersilakan membuka sesi dengan doa dalam bahasa Sanskrit, maka beberapa kelompok fanatik di sana langsung menyerang, “Kampung kita dibangun di atas landasan monoteisme, bahwasanya Tuhan adalah Hyang Tunggal. Untuk apa mengundang seorang pendeta yang menganut Paham Politeisme, bahwa Tuhan itu banyak.”

Mereka patut dikasihani, karena tidak memahami ajaran-ajaran lain di luar ajaran dan kepercayaan mereka sendiri.

Dewa, sekali lagi, bukanlah Tuhan. Dewa adalah julukan bagi kekuatan-kekuatan alam; Energi Listrik, Energi Air, Energi Angin, dan lain sebagainya. Dan, dewa juga adalah……

 

JULUKAN BAGI ORANG—ORANG YANG SUKSES. Hingga hari ini pun, banyak anak diberi nama Dewa atau Dewi. Jika Dewa adalah Tuhan, maka jelas tidak akan digunakan sebagai nama untuk manusia.

Pasangan Dewa adalah Dewi. Jadi, masih berjender. Sayang sekali, mereka yang fanatik terhadap kepercayaannya sendiri dan menganggap seluruh kepercayaan-kepercayaan lain sebagai sampah — selalu berupaya keras untuk menampilkan kepercayaan mereka lebih superior dari kepercayaan-kepercayaan lain.

“Kami percaya sama satu Tuhan. Mereka punya banyak Tuhan. Kami percaya Tuhan tidak berwujud. Mereka percaya Tuhan berwujud dan beranak-pinak pula.” Tudingan-tudingan seperti ini hanyalah membuktikan betapa minimnya pengetahuan para penuding.

Kembali pada pemujaan para Dewa dan Dewi…..

 

JANGANKAN DEWA DAN DEWI DARI ALAM LAIN, umumnya kita semua memuja pula Dewa-Dewi yang sealam dengan kita.

Pernah menyaksikan bagaimana para pejabat menunduk dan mencium tangan seorang pejabat yang lebih tinggi? Pernah menyaksikan bagaimana para pegawai biasa “menghormati pengawasnya secara berlebihan? Itu baru pengawas, jika mereka menghadapi bos, pemilik perusahaan, adegannya sudah beda lagi.

Ini merupakan satu ekstrem.

Ada sisi lain juga, yaitu…….

 

ADAT BERSUNGKEM PADA ORANGTUA ATAU YANG DIPERTUAKAN – Adat macam ini tidak ada di belahan dunia lain. Lalu, apakah kita mesti meninggalkan adat kita untuk menyesuaikan diri dengan adat asing? Barangkali ada yang lebih suka dengan adat asing. Silakan. Tapi, jika ada yang masih mau mempertahankan adatnya sendiri, tradisinya sendiri, budayanya sendiri — ya, kita pun mesti menghormati pilihan mereka.

Apakah salah bersungkem pada orangtua atau yang dipertuakan? Apakah salah menghormati mereka dengan cara itu?

Kembali pada pemujaan Dewa…….

 

INTINYA, PARA DEWA ADA DI MANA-MANA di sekitar kita. Jika kita menginginkan hasil cepat, maka mesti menghormati mereka. Silakan menggunakan istilah menghormati jika tidak suka dengan istilah memuja.

Menghormati dan memuja para Dewa-Dewi membawa hasil cepat. Bos senang, naik pangkat, naik gaji, fasilitas ditambahkan. As simple as that, sederhana. Kiranya kita dapat memahami hal ini.

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s