Kita Produk Dualitas! Bagaimana Mencapai Kemanunggalan, Tauhid? #BhagavadGita

Brahma, Sang Pencipta adalah Produk Dualitas – Anda dan saya, kita semua adalah produk dualitas pula. Kita lahir, hidup berkarya, dan mati dalam kesadaran dualitas. Kemanunggalan adalah hakikat kita, ya, tapi, saat ini kita tidak manunggal lagi. Saat ini kita terpisah, atau setidaknya “merasa” berpisah dari Hyang Tunggal. Maka kita mesti mengupayakannya kembali.

Bagaimana caranya? Sang Pencipta telah memberikan clue, isyarat. Yaitu, dengan berkarya dengan semangat pesembahan. Ia mengatakan kepada makhluk-makhluk ciptaannya, kepada manusia, “Aku pun demikian. Aku pun menciptakan semua dengan semangat persembahan, dengan semangat melayani.”

Dengan cara itulah, kita baru bisa mengikis ego kita, tidak membiarkannya meraja. Idam na mama – bukan aku, bukan ego-ku, bukan indra, bukan gugusan pikiran dan perasaan, bukan intelegensia – aku adalah Jiwa, percikan Sang Jiwa Agung. Segala apa yang terjadi lewat badan, indra, dan lainnya adalah persembahan pada-Nya. Penjelasan Bhagavad Gita 3:10 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Berkarya bagi-Nya, berkarya untuk-Nya – berarti berkarya demi kepentingan semua makhluk yang adalah percikan-Nya. Tidak berkarya demi kepentingan diri saja.

Berarti, sebagai pengusaha, politisi, atau profesional dalam bidang apa pun – kita tidak mencari keuntungan dengan merugikan orang lai. Kejujuran dalam hal berusaha, kebijaksanaan dalam hal memimpin organisasi apa saja, termasuk pemerintahan, berempati dalam hal menjalankan profesi kita masing-masing – dengan bekerja seperti ini pun, kita dapat mencapai kesempurnaan diri – demikian janji Krsna. Penjelasan Bhagavad Gita 12:10 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Berikut penjelasan Bhagavad Gita 12:3-4 tentang melayani semua makhluk:

Buku Bhagavad Gita

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Mereka yang telah mengendalikan diri, bersikap sama dengan setiap makhluk; dan senantiasa mengupayakan kesejahteraan bagi mereka semua dengan penuh kesadaran bahwa semuanya adalah percikan-percikan nyata dari Hyang Melampaui Segala Wujud dan Gugusan Pikiran serta Perasaan, Hyang Maha Ada, Tak Pernah Punah, Tak-Terjelaskan, Abadi, Tak-Tergoyahkan, dan Tak-Berubah – akhirnya menyatu dengan-Ku.”

 

“Dua ayat ini mesti digabung, dan ayat keempat diterjemahkan terlebih dahulu, supaya esensi, makna yang tersirat, inti dari kedua ayat ini tidak hilang.

“Intinya: Mereka yang senantiasa berkarya demi kesejahteraan sesama makhluk pun menyatu dengan-Nya. Mereka pun mengalami kemanunggalan yang sama, asal….

“Ya, di sini Krsna memberikan syarat.

“Seorang aktivis sosial bisa mengalami kemanunggalan yang sama, persis seperti yang dialami oleh oleh seorang panembah, asal ia melayani dengan semangat manembah.

“Guru saya selalu mengingatkan, ‘Yang membedakan seorang panembah dengan aktivis sosial adalah semangatnya. Seorang panembah melayani dengan semangat mengabdi kepada Ia Hyang Bersemayam sekaligus meliputi Jagad Raya. Seorang aktivis sosial melayani dengan semangat membantu sesama. Kegiatan mereka sama tapi niat dibaliknya beda. Sebab itu hasilnya pun beda.’

“Seorang Aktivis Sosial meraih penghargaan dari dunia, dari masyarakat, dari pemerintah, dari lembaga-lembaga sosial, institusi-institusi kepercayaan, perusahaan-perusahaan besar, dan lain sebagainya.

“Seorang panembah mendapatkan penghargaan dari Gusti Pangeran, berupa ‘kemanunggalan’ dengan-Nya.

“Krsna juga menjelaskan beberapa sifat Tuhan yang mesti melandasi semangat pelayanan, pengabdian, dan panembahan kita:

“Sesama Makhluk adalah ‘Wujud Nyata’ dari Ia Hyang:

  1. Melampaui Gugusan Pikiran dan Perasaan. Kita tidak dapat menjelaskan-Nya lewat pikiran, lewat logika, intelek dan rasio.
  2. Maha Ada. Ada di mana-mana. Tidak ada satu pun tempat di mana Ia tidak ada. Apa mungkin? Ya, mungkin. Perhatikan space, ruang alam semesta. Ia adalah ‘ibarat’ Ruang Abadi itu, Hyang Ada di mana-mana’
  3. Tidak Pernah Punah. Keluarkan segala isi alam dari Ruang Semesta, seperti mengeluarkan perabot dari ruangan. Tanpa perabot pun, ruang tetap ada.
  4. Tak Terjelaskan. Kita dapat menjelaskan ‘isi’ alam semesta, galaksi, multiverse, apa saja – tapi sebatas itu saja, sebatas isi yang berwujud saja. Hyang Tak Berwujud dan menopang semuanya tidak dapat dijelaskan, karena Ia…
  5. Abadi. Isi atau wujud berubah-ubah – Ruang yang menopangnya tidak berubah. Yang berubah – datang dan pergi adalah awan. Perubahan itu memberi kesan seolah langit sedang berubah, padahal tidak. Langit tidak pernah berubah. Dan Ia adalah Maha Langit di atas langit ada langit… Langit abadi yang Melampaui segala langit.
  6. Tak Tergoyahkan. Pola awan yang berubah-ubah tidak mempengaruhi langit. Ia tak tergoyahkan oleh segala macam guncangan dan perubahan.
  7. Melampaui segala wujud. Sebab, semua wujud terkesan sebagai wujud karena Dia. Awan tidak bisa bereksistensi tanpa langit. Ada langit maka wan pun ada. Awan berubah, tapi langit tetap sama.
  8. Tak Berubah.

Sifat-sifat ini mesti dikembangkan di dalam diri seorang panembah, barulah ia manunggal dengan-Nya. Atau manunggal dulu dan sifat-sifat ini akan mewarnai hidupnya.

Jadilah Panembah dan Anda menjadi Aktivis Spiritual, bukan sekadar Aktivis. Atau jadilah seorang Aktivis Spiritual dan Anda akan manunggal. Demikian kiranya nasihat Krsna.

Dalam satu kalimat: mengembangkan sifat-sifat tersebut di atas berarti: Menghadapi segala keadaan dan tantangan dengan penuh kesadaran bila semuanya ibarat awan yang sedang berlalu.”

 

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Catatan:

Perhatikan bagaimana Anda menghadapi tantangan-tantangan di luar. Apakah Anda masih beraduh-aduh? Jika ya, apakah sebatas beraduh—aduh saja? Apakah Anda selalu berupaya menghindari persoalan, menghindari masalah dengan bersembunyi di balik dalih positive thinking “Oh semua oke, tidak ada persoalan, yang ada hanya tantangan.”

Menemukan Sumber Kasih di dalam diri adalah maksud dan tujuan meditasi, the purpose. Ya, the purpose, maksud dan tujuan tunggal. Penemuan itulah yang kemudian memunculkan rasa bahagia yang langgeng, abadi, tidak terpengaruh oleh pasang-surut, panas-dingin, dan pengalaman-pengalaman lain yang saling bertentangan. Dari buku Soul Awareness

 

 

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s