Pengulangan Desis Matahari Om untuk Mencapai Tujuan #YogaSutraPatanjali

Jika kita menggunakan “Desis Matahari” sebagai tolok ukur, Suara Om atau Aum itulah yang “terdekat”. Dalam hal ini, konteks ini, penggunaan “desis matahari” sebagai tolok ukur adalah karena matahari adalah Sumber Energi Kehidupan paling penting bagi kita semua, bagi planet bumi yang kita huni.

Banyak varian om atau aum—Alm (alif lam mim?….. penulis kutipan), Aom, Ang, Aung, Ahung, dan sebagainya. Setiap di antaranya adalah valid. Semua kembali pada pendengaran kita.

Kembali pada Om atau Aum. Setiap getaran yang dikeluarkan oleh Om atau Aum dapat membantu kita dalam hal penyelarasan diri dengan semesta, bahkan dengan Ia Hyang berada di balik semesta, Hyang Mahakuasa.

Kenapa bisa yakin sedemikian rupa? Silakan diuji, dicoba. Ucapkan dengan cara yang betul sebanyak 21 kali setiap pagi antara jam 04.00-07.00 selama 3 bulan saja. Anda pasti merasakan tidak hanya fisik Anda menjadi lebih sehat; pikiran pun Iebih tajam, lebih jernih; dan, perasaan lebih tenang.

Sedikit tambahan, berikut adalah kutipan dari salah satu buku kita terdahulu, yaitu Gayatri Shadana – Cinta  yang Mencerahkan: “Untuk mengakses semesta Anda tidak perlu menggunakan kata atau password yang panjang lebar, sekian digit, dan mesti terdiri dari sekian kata dan sekian angka. Tidak, tidak perlu semua itu. Cukup dengan ‘suara’—sabda singkat. Dan, semesta terbuka lebar dan luas bagi Anda.” Penjelasan Yoga Sutra Patanjali I.27 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Berikut penjelasan Yoga Sutra Patanjali dengan mengulangi Om secara terus-menerus seseorang meraih tujuannya:

Buku Yoga Sutra Patanjali

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

taj -japah tad-artha-bhavanam

“Dengan mengulangi-Nya (Om atau Aum) secara terus-menerus, seseorang meraih atau merealisasi makna atau tujuannya.” Yoga Sutra Patanjali I.28

Kiranya apa yang menjadi tujuan Anda ketika Anda memanggil nama saya? Atau sebaliknya, apa yang menjadi tujuan saya, jika memanggil nama Anda? Sekarang, bagaimana jika kita menggunakan rumusan yang sama pada penyebutan, atau

PENGULANGAN OM ATAU AUM SECARA TERUS-MENERUS? Dan kita tahu bahwa Om atau Aum adalah Ekspresi atau Ungkapan Verbal-Nya. Dalam pengertian, Inilah Nama-Nya!

Patanjali ingin mengingatkan kita bahwa dengan mengulangi Nama-Nya secara terus-menerus, kita tidak hanya menyapa dan menyadari hakikat-Nya, tetapi juga menyapa dan menyadari hakikat diri kita sendiri—hakikat kita sebagai Jiwa, yang sesungguhnya tak terpisahkan dari Sang Jiwa Agung.

Sutra ini bisa dimaknai dengan berbagai cara: Taj Japah berarti “Mengulangi-Nya”. Tad Artha berarti “Makna, Arti, atau Tujuan-Nya”. Terakhir, Bhavanam berarti “Menjadi, Mewujud, atau Merealisasi”.

Secara esoteris, makna yang lebih dalam lagi: Dengan mengulangi-nya (mengulangi Om atau Aum) secara terus-menerus, seseorang tidak sekadar merealisasikan makna-Nya, tetapi “menjadi-Nya”. Bagi mereka yang telah mengenal prinsip kemanunggalan, bagi mereka yang percaya pada prinsip tersebut, tentu tidak menjadi masalah. Namun, bagi mereka yang berprinsip dualitas, di mana matahari, cahaya, dan/atau sinarnya dianggap terpisah, maka makna terakhir ini agak sulit untuk dicerna. Tidak menjadi soal.

 

JIKA KITA MASIH BERPIHAK PADA PAHAM DUALITAS, maka kita dapat pula memaknai sutra ini sebagai berikut.

“Dengan mengulangi Om secara terus-menerus kita meraih tujuan dari pengulangan tersebut.” Nah, sekarang kembali pada diri kita sendiri, apa yang menjadi tujuan kita?

Jika kita tetap bertujuan untuk berpisah dari-Nya, tujuan itu yang tercapai. Jika tujuan kita adalah kemanunggalan, kemanunggalanlah yang kita realisasi.

 

tatah pratyak-cetanadhigamo’pyantaraya bhavas-ca

“Demikian, seseorang meraih Pratyak Cetana atau Kesadaran Jiwa, dan segala rintangan (untuk mencapainya) teratasi.” Yoga Sutra Patanjali I.29

Dengan mencapai Kesadaran Jiwa, maka tiada lagi kebingungan tentang jati diri, tentang kesejatian diri kita sebagai Jiwa yang Tak Terpisahkan dari Jiwa Agung.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/