Mutiara Bhagavatam: Anak Sebagai Persembahan Mulia Bagi Umat Manusia

Dalam kisah-kisah Srimad Bhagavatam, kita telah memperoleh pelajaran bahwa kala berhubungan suami istri semata-mata berdasar nafsu dan melanggar etika suci bisa melahirkan asura, raksasa, seperti dalam kisah kelahiran Hiranyaksha dan Hiranyakashipu.

Kemudian kita sudah belajar untuk berdoa sebelum melakukan hubungan suami istri, supaya ruh yang masuk ke dalam benih di rahim istri adalah calon anak saleh. Jangan sampai ruh yang masuk menjadi calon anak, adalah musuh yang menuntut hutang karma karena tindakan masa lalu kita. Orang yang akan membalas kebaikan maupun keburukan akibat tindakan masa lalu kita selalu dekat dengan kita, selalu berinteraksi dengan kita. Tetapi semoga orang yang lahir untuk menuntut balas kepada kita tidak menjadi putra kita.

Kali ini kita memperoleh mutiara Bhagavatam bagaimana memohon kepada Gusti agar anak kita menjadi persembahan mulia bagi umat manusia. Sebenarnya bukan hanya tindakan membuat anak, akan tetapi semua tindakan yang kita lakukan seharusnya bermuara sebagai persembahan kepada umat manusia.

 

Menulis karena profesi

Ada yang menulis karena profesinya. Dia mencari nafkah lewat tulisannya. Kelompok penulis yang satu ini akan selalu mencari sensasi. Ia harus menciptakan sesuatu yang dapat diterima atau ditolak oleh massa. Baik penerimaan, maupun penolakan oleh massa, akan membawakan penghasilan bagi dirinya….. Sama sekali tidak berarti bahwa mereka ini adalah penulis kelas rendah. Tidak. Mereka adalah penulis profesional. Mereka adalah kuli tinta. Dan hampir seluruh masyarakat penulis kita berada dalam kelompok ini. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (1999). Wedhatama Bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Menulis karena senang menulis

Kelompok kedua adalah kelompok para sastrawan. Mereka menulis karena mereka senang menulis. Mereka tidak selalu mementingkan penghasilan yang dapat diraih dari tulisan-tulisan mereka. Mereka lebih mementingkan kepuasan batin. Alhasil, kadang-kadang mereka sangat provokatif. Kadang-kadang bahsa mereka sangat pedas, sangat pahit. Mereka tidak peduli. Anda menolak mereka atau mereka atau menerima mereka, itu urusan Anda. Mereka sudah puas dengan menyampaikan apa yang ingin disampaikan. Selanjutnya, terserah Anda. Mereka bisa dibilang sebagai kelompok pemberani. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (1999). Wedhatama Bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Menulis karena ingin berbagi rasa

Kelompok terakhir adalah kelompok mereka yang menulis karena ingin berbagi rasa. Mereka ingin menyampaikan sesuatu. Tulisan mereka ditujukan kepada sekelompok orang yang cukup reseptif. Tulisan mereka bukan tulisan populer. Tulisan mereka untuk kalangan tertentu. Menurut Sri Mangkunagoro sendiri, tulisannya ini diperuntukkan bagi para siwi – para siswa atau shishya. Kata ini sangat penting. Shishya berarti “ia yang telah menundukkan kepala atau shish-nya.” Menundukkan kepala berarti melepaskan keangkuhan, mengakui ketidaktahuannya dan berkeinginan untuk belajar. Kelompok terakhir ini persis sama seperti  kelompok sebelumnya, kelompok sastrawan. Mereka tidak menulis karena ingin meraih penghasilan ataupun pengakuan, tetapi karena memperoleh kebahagiaan atau kepuasan batin dari upayanya. Bedanya hanya satu: kelompok ketiga ini juga tidak semata-mata menulis semata-mata untuk memperoleh kepuasan batin , tetapi untuk berbagi rasa dengan orang lain. Mereka ingin menyampaikan sesuatu yang berguna bagi masyarakat. Mereka ingin membagi apa yang mereka peroleh dari kehidupan ini. Sri Mangkunagoro berada dalam kelompok ini. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (1999). Wedhatama Bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Buah Karya, Anak

Buah karya bukan hanya berupa tulisan atau lembaga yang berkembang. Bhagavan Vyaasa penulis Mahabharata dan Srimad Bhagavatam bukan hanya tulisannya saja yang bermanfaat bagi umat manusia. Akan tetapi Sang Bhagavan juga menghasilkan buah karya yang lain, yang berwujud putranya. Rishi Suka, Guru Parikshit dan para brahmana adalah buah karya, putra dari Rishi Vyassa yang meningkatkan kesadaran umat manusia. Buah pikiran para bijak adalah anak hasil pikiran dan kesadaran mereka. Demikian juga seorang putra yang bijak adalah hasil buah karya orang tua juga. Demikian juga para murid adalah “anak” para Guru yang membimbingnya.

Dikisahkan dalam Srimad Bhagavatam Raja Nabhi adalah seorang raja bijaksana. Dia belum berputra dan dia memohon kepada Gusti Pangeran untuk memberinya putra. Dalam acara ritual yang diadakan para brahmana, Gusti Pangeran, Narayana berkenan hadir dan Raja Nabhi mohon agar Narayana sudi berkenan lahir sebagai putranya.

Para brahmana yang menyelenggarakan upacara merasa sangat malu. Bertemu Gusti Pangeran mestinya yang diminta adalah moksa. Mengapa sang raja minta Gusti Pangeran lahir sebagai putranya?

Para brahmana tidak sadar, bahwa memohon dirinya agar moksa adalah benar, akan tetapi masih banyak sekali umat manusia yang belum moksa yang membutuhkan pembimbing dan pemandu agar mencapai moksa. Raja Nabhi bukan raja yang berpikiran sempit agar dia mempunyai putra yang hebat.

Jauh dari hal demikian, sang raja memikirkan umat manusia. Setelah nantinya, dia menobatkan pengganti dia akan melakoni vanaprastha fokus pada Gusti Pangeran. Tetapi bagaimana umat manusia yang ditinggalkannya? Oleh karena itulah dia mohon Narayana lahir sebagai putranya. Agar ada generasi penerus yang bermanfaat bagi umat manusia. Agar Gusti Narayana mewujud untuk membimbing umat manusia yang ditinggalkannya. Para Guru meninggalkan buku karyanya, lembaga ashram, dan para muridnya demi kasihnya kepada umat manusia…..

 

Berkarya dengan semangat persembahan

Penciptaan terjadi ketika Hyang Tunggal berkehendak untuk ‘menjadi banyak’. Selama masih tunggal, tanpa dualitas, penciptaan tidak mungkin.

Berarti, Brahma, Sang Pencipta adalah Produk Dualitas – Anda dan saya, kita semua adalah produk dualitas pula. Kita lahir, hidup berkarya, dan mati dalam kesadaran dualitas.kemanunggalan adalah hakikat kita, ya, tapi, saat ini kita tidak manunggal lagi. Saat ini kita terpisah, atau setidaknya ‘merasa’ berpisah dari Hyang Tunggal. Maka kita mesti mengupayakannya kembali.

Bagaimana caranya? Sang Pencipta telah memberikan clue, isyarat. Yaitu, dengan berkarya dengan semangat pesembahan. Ia mengatakan kepada makhluk-makhluk ciptaannya, kepada manusia, ‘Aku pun demikian. Aku pun menciptakan semua dengan semangat persembahan, dengan semangat melayani.

Dengan cara itulah, kita baru bisa mengikis ego kita, tidak membiarkannya meraja. Idam na mama – bukan aku, bukan ego-ku, bukan indra, bukan gugusan pikiran dan perasaan, bukan intelegensia – aku adalah Jiwa, percikan Sang Jiwa Agung. Segala apa yang terjadi lewat badan, indra, dan lainnya adalah persembahan pada-Nya.

Selain membebaskan kita dari ego, keangkuhan, semangat manembah juga memastikan bahwa apa pun yang kita perbuat adalah yang terbaik. Persembahan yang dihaturkan kepada Sang Kekasih Agung, Gusti Pangeran, mestilah yang terbaik. Penjelasan Bhagavad Gita 3:10 dikutip buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma).

 

Rishi Kardama bersama Devahuti melahirkan putra Rishi Kapila yang membawa ilmu samkhya yang bermanfaat bagi umat manusia. Para Rishi menciptakan Maharaja Prithu untuk memperbaiki dunia yang rusak akibat kelaliman Raja Vena.

Semoga  para orangtua membuat generasi penerus dengan semangat persembahan. Dan semoga melakukan tindakan apa saja dengan semangat persembahan.

Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita semua bertindak mulia sehingga pantas menjadi persembahan orangtua dan leluhur kita kepada alam semesta? Dan, warisan genetik dari mereka tidak sia-sia. Sudahkah kita  bertindak mulia sehingga pantas menjadi persembahan Guru kepada alam semesta? Dan, bimbingan Guru tidak sia-sia…….

 

Catatan:

“Melaksanakan setiap tugas kita, setiap pekerjaan kita dengan semangat panembahan” – itulah Karma-Yoga. Berarti tidak ada perpisahan antara tugas, kewajiban, pekerjaan, usaha, karir, dan latihan-latihan olah-batin. Tidak perlu meninggalkan keluarga untuk bermeditasi di dalam gua. Tidak perlu meinggalkan pekerjaan untuk bertapa-brata di tengah hutan. Kita dapat berkarya secara meditatif – dengan penuh perhatian dan kewaspadaan. Kita dapat mengabdi kepada Gusti Pangeran sambil berkarya, sambil menjalankan tugas kewajiban kita. Dari buku Karma Yoga

Sudahkah kita melakukan setiap pekerjaan dengan semangat panembahan?

Advertisements