Kekalahan Ego adalah Kemenangan Kesadaran Jiwa #BhagavadGita

buku-bhagavad-gita-sujud-shashankasana-pjlsan

 

“Seorang bijak yang tidak lagi terpengaruh, tidak lagi tergoda oleh berbagai keinginan; bebas dari hawa-nafsu dan tidak mengejar, mendambakan, mengharap-harapkan sesuatu; tidak pula terjebak dalam rasa kepemilikan dan permainan ego, ke-‘aku’-an yang ilusif – meraih kedamaian sejati.” Bhagavad Gita 2:71

Tidak lagi mengharap-harapkan, tidak lagi mengejar-ngejar, tidak lagi memburu sesuatu – berarti tidak ada lagi obsesi dalam dirinya. Ia sudah melewati semuanya. Ia sudah mencoba semuanya. Ia sudah merasakan semuanya dan menyadari bahwa kebahagiaan yang diperoleh dari dunia tidak abadi, tidak langgeng. Kesadaran itu sendiri sudah cukup untuk membuatnya menjadi tenang. Penjelasan Bhagavad Gita 2:71 dikutip dari buku Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Berikut penjelasan Bhagavad Gita 18:65 tentang teknik membebaskan diri dari ego…..

Buku Bhagavad Gita

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Pusatkanlah segenap pikiran serta perasaan pada-Ku; Berbaktilah pada-Ku dengan menundukkan kepala-egomu. Demikian, niscayalah engkau mencapai-Ku. Aku berjanji padamu, karena kau sangat Ku-sayangi.” Bhagavad Gita 18:65

cover-buku-bhagavad-gita

“Aku, Aku, Aku,…..” Permainannya memang adalah antara aku-ego dan Sang Aku Sejati, Sang Jiwa Agung.  Nasihat Krsna untuk berserah diri bukanlah berserah diri pada sosok Krsna—tetapi berserah diri pada Aku-Sejati yang kebetulan saat itu sedang mewujud sepenuhnya dalam diri Krsna.

 

BERSERAH DIRI DENGAN MELEPASKAN EGO adalah latihan, upaya, teknik, untuk merealisir Sang Aku Sejati.  Krsna adalah Cermin—dengan berserah diri kepada-Nya, Arjuna menemukan dirinya yang sejati. Arjuna melihat dirinya.

Berserah diri memang merupakan kekalahan ego—namun kekalahan yang memenangkan Kesadaran Jiwa yang Hakiki. Ibarat kali yang kotor, ego penuh daki menyatu dan lenyap dalam laut Kesadaran Jiwa yang luas. Ia kalah dalam pengertian identitasnya sebagai kali, hilang, lenyap. Ia menang karena telah menyatu dengan laut.

Bersujud adalah tehnik, latihan untuk membebaskan diri dari kekuasaan ego, melepaskan diri dari jeratan setan, dari iblis pikiran dan perasaan-perasaan yang liar.

 

“Serahkan segala kewajibanmu pada-Ku (Hyang Bersemayam dalam diri setiap makhluk), berlindunglah pada-Ku; dan akan Ku-bebaskan dirimu dari segala dosa-cela dan rasa takut yang muncul dari kekhawatiran akan perbuutan tercela. Jangan khawatir, janganlah bersusah-hati!” Bhagavad Gita 18:66

 

“Menyerahkan segala kewajiban” dalam pengertian “melepaskan segala dharma” …. .. Ayat ini sering membingungkan. Seorang berjiwa lemah yang melarikan diri dari tantangan hidup untuk menjadi petapa pun menggunakan ayat ini untuk membenarkan tindakannya.

 

“LEPASKAN SEGALA KEWAJIBANMU” – Alasan yang “terasa” kuat sekali bagi mereka yang tidak berani menghadapi kenyataan-kenyataan hidup, dan melarikan diri untuk menyepi di tengah hutan.

Apakah itu maksud Krsna?

Sama sekali tidak. Krsna justru mengajak Arjuna untuk berperang, untuk menghadapi kenyataan hidup. Bukan untuk melarikan diri, dan menjadi petapa.

“Menyerahkan segala kewajiban pada-Ku” berarti “membiarkan Sang Aku Sejati untuk memegang kendali”. Berarti, menyerahkan ego yang membingungkan, melemahkan, dan menyesatkan. Berarti bertindak sesuai dengan tuntutan Jiwa yang hendak mengalami berbagai pengalaman hidup.

Biarlah Jiwa yang adalah percikan dari Sang Jiwa Agung itu, berkuasa. Biarlah Ia menjadi sandaranmu, karena sesungguhnya tiada kekuasaan lain di luar kekuasaan-Nya. Tiada penopang lain kecuali Dia.

TAK SEORANG PUN DAPAT MEMBANTU KITA – hanyalah Dia, Dia, dan Dia saja. Ketika kita “merasa” terbantu, dibantu oleh seseorang — sesungguhnya adalah kekuasaan Dia yang bekerja lewat orang itu. Ketika keadaan “terasa” menguntungkan dan membela – maka keuntungan dan pembelaan itu pun dari Dia.

Sebaliknya, ketika hidup “terasa” penuh tantangan maka tantangan-tantangan itu pun berasal dari Dia. Itulah pengalaman yang sedang dicari oleh Jiwa. Kita tidak dapat menghindarinya.

 

ADA KALANYA DHARMA MEMBINGUNGKAN. .. Apa kewajibanku, apa yang mesti kulakukan, tindakan mana yang tepat — sangat membingungkan. Ada dharma, ada adharma — ada tindakan yang tepat, ada yang tidak tepat.

Jika kita tetap saja menggunakan gugusan pikiran dan perasaan untuk memilah dan menentukan mana yang tepat dan mana yang tidak tepat — maka kita akan selalu was-was, cemas, khawatir, takut, bimbang, ragu. Sebab itu, serahkanlah ego kita, mind kita kepada-Nya — kepada Jiwa yang adalah percikan Jiwa Agung — dan biarlah Ia menentukan mana yang tepat dan mana yang tidak. Biarlah Ia menerangi inteligensia kita dan memandu setiap gerak kita.

Hiduplah sesuai dengan kehendak-Nya. Jadilah selaras dengan kehendak-Nya. Demikian kita terbebaskan dari segala kekhawatiran!

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Catatan:

Apa yang dapat membahagiakan? Bila harta benda, sanak-saudara, tak dapat memberi kebahagiaan, apa yang harus kulakukan? Hanya dua pilihan. Masuk ke dalam alam depresi berat atau memasuki alam meditasi dan menemukan sumber segala kebahagiaan dalam diri. Bhaja Govindam

Sudahkah kita mulai latihan meditasi?

 

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

oec1elearning-banner

16711992_612132385641135_3392780409612035997_n