Melepaskan Kemarahan dengan Aman lewat Latihan #Meditasi #AnandAshram

Emosi jangan dipendam

Dalam keadaan stres berat kita menjadi tegang, kemudian nervous, gugup, kehilangan percaya diri. Apabila kita cari akarnya, kita akan menemukan bahwa pemendaman emosi merupakan masalah utama kita. Pemendaman emosi itulah yang menyebabkan stres dan mengakibatkan berbagai macam penyakit.

Kita ingin marah; kita ingin menjerit, kita ingin teriak, tetapi menahan diri. Kita memaksa untuk menahan diri. Kenapa? Karena tidaklah sopan bagi seseorang untuk marah-marah, berteriak, atau menjerit. Setidaknya demikian yang telah diajarkan kepada kira.

“Memaksa” berarti menutup outlet, menutup saluran untuk membuang sampah berupa emosi yang terpendam. *Sumber: (Krishna, Anand. (2016). Ananda’s Neo Self Empowerment, Seni Memberdaya Diri bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Pengaruh Menahan Marah terhadap Kesehatan:

*Sumber: http://breaktime.co.id/health/healthy-and-happy/5-efek-negatif-menahan-marah-wah-apa-saja-ya.html

 

  1. Ledakan kemarahan dapat menempatkan jantung kita dalam risiko besar. Pada umumnya penderita serangan jantung disebabkan oleh ledakan kemarahan. Serangan jantung terjadi akibat seseorang menekan rasa marah untuk tidak mengungkapkannya dan berusaha keras untuk mengendalikan hal itu.
  2. Kemarahan dapat meningkatkan risiko terserang stroke. Sebuah studi menunjukkan bahwa ada risiko mengalami stroke tiga kali lebih tinggi yang terjadi, akibat pembekuan darah ke otak atau pendarahan di dalam otak setelah selama dua jam menahan marah.
  3. Melemahkan sistem kekebalan tubuh Anda. Apakah Anda pernah merasa lebih sering sakit ketika Anda marah setiap saat? Ya, memang benar. Kemarahan yang berlebihan dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh.
  4. Kemarahan dapat menyebabkan depresi. Terdapat hubungan yang jelas antara depresi, marah, gelisah, stres, dan penyakit jantung, demikian menurut Philip Binkley, professor of medicine di divisi kedokteran jantung Ohio State University. Ternyata, terbukti bahwa menahan amarah dapat menyebabkan depresi.
  5. Marah dapat mempersingkat hidup Anda. Efek ini merupakan kesimpulan dari beberapa efek negatif akibat menahan marah. Jika terlalu sering menahan marah akan menimbulkan tingkat stres yang tinggi. Sehingga dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh dan menyebabkan mudah terserang penyakit.

 

Latihan Voice Culturing & Theraphy for Releasing Tension

“Memaksa” berarti menutup outlet, menutup saluran untuk membuang sampah berupa emosi yang terpendam.

Memaksakan diri untuk tidak marah, tidak berteriak, dan tidak menjerit; memaksa diri untuk selalu tampil mengesankan dengan senyum palsu, walau hati sedang membara, bukanlah solusi yang tepat.

Energi emosi yang terpendam bisa menjadi bom waktu berakibat fatal. Solusinya juga bukan marah-marah, berteriak histeris, atau menjerit-jerit tidak keruan—dengan cara itu kita menambah persoalan, bukan menyelesaikannya.

Kita harus punya outlet atau saluran ke luar yang lain. Kita harus dapat mengeluarkan segala sesuatu yang terpendam lewat jalur lain.

 

Latihan Voice Culturing dalam buku Ananda’s Neo Self Empowerment menawarkan jalur alternatif.

Kita tetap mengeluarkan emosi yang terpendam; tetap mengeluarkan kegelisahan, kekesalan, kekecewaan, dan segala yang membebani kita—tapi, tanpa ditujukan kepada orang tertentu.

Dengan demikian, persoalan selesai. Tidak ada lagi emosi yang terpendam, pun kita tidak menambah persoalan dengan marah-marah pada seseorang, menjerit, dan meneriakinya.

 

Dalam latihan ini, kita akan menembus berbagai sub-lapisan mental/emosional sehingga apa saja yang terpendam akan keluar.

Sub-lapisan yang dimaksud, antara lain terkait dengan memori-mcmori masa lalu dan keinginan-keinginan yang tak tercapai.

Maka, ada kalanya seseorang menjadi histeris. Namun tidak perlu khawatir, seorang pembimbing dapat menenangkannya kembali dengan sangat mudah.

Karena itu, latihan ini harus dilakukan di bawah bimbingan seorang instruktur/pembimbing yang sudah mendapatkan training memadai dari Ashram, training khusus untuk para fasilitator. Jangan melakukannya sendiri. *Sumber: (Krishna, Anand. (2016). Ananda’s Neo Self Empowerment, Seni Memberdaya Diri bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Kebahagiaan yang Tidak Tergantung Sesuatu di Luar Diri #BhagavadGita

Kedamaian sejati dan kebahagiaan abadi tidak bisa diperoleh dari hal-hal duniawi yang bersifat tidak abadi. Pengalaman itu hanya dapat diperoleh jika seseorang berada dalam kesadaran-abadi, dalam keabadian. Ketika Jiwa menyadari hakikatnya sebagai percikan dari Jiwa Agung. Penjelasan Bhagavvad Gita 6:27 dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Dalam keadaan apa pun, kesadarannya tidak merosot lagi. Ia berada dalam keadaan yang membuatnya senantiasa damai, senantiasa bahagia. Sebabnya adalah, karena kedamaiannya, kebahagiaannya sudah tidak bergantung pada sesuatu di luar diri – tapi pada dirinya sendiri. Penjelasan Bhagavvad Gita 6:30 dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Berikut penjelasan Bhagavad Gita 6:31 tentang kesadaran Jiwa, seseorang yang kebahagiaannya sudah tidak bergantung pada sesuatu di luar diri:

Buku Bhagavad Gita

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Seorang Yogi berkesadaran demikian – senantiasa bersatu dengan-Ku; memuji-Ku sebagai Jiwa Agung yang bersemayam dalam diri setiap makhluk, termasuk di dalam dirinya sendiri; dan melakukan semua kegiatan dengan kesadaran itu.” Bhagavad Gita 6:31

 

Berkegiatan  dengan menyadari kehadiran Sang Jiwa Agung dalam diri setiap makhluk berarti tidak menyakiti siapa pun. Namun, pada saat yang sama kesadaran tersebut juga membuatnya tidak ragu-ragu untuk melakukan bedah terhadap tumor yang bersarang di badannya atau badan siapa saja.

 

SETIAP BADAN ADALAH BADAN-NYA – berkesadaran demikian, seorang Yogi tidak pemah, dan tidak bisa duduk diam jika melihat sesuatu yang “tidak beres”.

Ketidakadilan yang terjadi terhadap siapa pun berarti terjadi juga pada dirinya – pada Diri Semesta. Dan, ia akan bertindak tanpa sedikit pun keraguan.

Dia akan membela pihak yang dizalimi, Walau pihak yang terzalimi membisu seribu bahasa karena merasa dirinya wong-cilik dan tidak berdaya.

 

BEBERAPA AYAT TERAKHIR ADALAH PENEGASAN ATAS “KESADARAN JIWA”. Jika Jiwa menyadari hakikat dirinya sebagai percikan Jiwa Agung, maka ia tidak lagi mengidentifikasikan dirinya dengan indra, badan, gugusan pikiran serta perasaan dan sebagainya.

Selama masih berbadan – kita, Jiwa mudah terjebak dalam identitas-identitas diri yang palsu sebagai badan. Ini yang menyebabkan kita sering larut dalam pengalaman-pengalaman dualitas seperti suka-duka, panas-dingin, dan sebagainya.

Kesadaran yang salah ini mesti ditanggalkan ketika Jiwa masih memiliki badan. Karena jika hal ini tidak terjadi, maka setelah “kematian”, ia akan terjebak dalam identitas palsu yang lain, yaitu identitas diri sebagai badan halus atau “roh” yang tetap saja memiliki gugusan pikiran serta perasaan dengan segala variannya, termasuk obsesi, memori, impian, dan lain sebagainya.

 

SAAT ITU, MENJADI SANGAT SUSAH bagi Jiwa untuk membebaskan diri dari identitas mental dan emosional tersebut. Namun, jika saat masih berbadan, ia sudah dapat mengatasi kesadaran jasmani dan indrawi, maka saat kematian, ia dengan mudah membebaskan diri dari kesadaran mental dan emosional.

Mereka yang susah melepaskan kesadaran badaniah dan indrawi saat masih “hidup” — lebih susah setelah “mati” — karena merasa sudah “kehilangan” badan, dan tidak mau, enggan, kehilangan badan halus atau “roh” dan gugusan pikiran serta perasaannya.

Kemudian, saat itu, tergantung pada kepercayaan kita sewaktu masih hidup…

 

KITA MENCIPTAKAN SURGA ATAU NERAKA BAGI DIR! KJTA, lengkap dengan segala atribut sesuai dengan kepercayaan kita. Surga atau neraka yang tercipta demikian pun sesungguhnya sekadar proyeksi dari keinginan kita. Kekuatannya terbatas, keberadaannya sebatas kekuatan pikiran serta perasaan kita. Dengan melemahnya kekuatan pikiran dan perasaan, surga dan neraka hasil proyeksi itu pun akan sirna.

Sebab itu, janganlah menunda pengoreksian kesadaran-diri. Seorang, yang sudah terkoreksi kesadarannya, tidak lagi menjadi budak badan, pikiran dan perasaan. Ia akan berkarya sesuai dengan…..

 

KEHENDAK JIWA AGUNG! Berada dalam kesadamn inilah, seorang Yogi, Isa atau Isanatha, dari tradisi Natha, mengatakan bila dirinya menjalani perintah Ayahnya. Dalam tradisi Natha, mereka percaya bila Tuhan yang mereka sebut Siva adalah Bapa Ilahi – silakan menyebut Sang Jiwa Agung sebagai apa saja!

Bagi Ramakrishna Paramahamsa, Sang Iiwa Agung adalah Bunda Ilahi, maka ia pun selalu berkata bila dirinya hanyalah menjalankan perintah Bunda Ilahi.

Bagi seorang mistik seperti Surdas si buta, Krsna dalam wujudnya sebagai anak kecil, balita, adalah Gusti Pangeran. Maka, ia pun selalu mengikuti perintah anak kecil yang disebutnya “nakal” — tapi, “aku tak berdaya, mesti mengikuti kemauan-Nya! ”

Bagi Mirabai, Krsna adalah kekasih, “Jika aku tahu cinta begitu menyakitkan, aku tak akan pernah mencintai-Mu, tapi sekarang sudah terlambat—Aku tidak bisa lepas dari-Mu!”

Dalam kesadaran seperti itu, walau masih berbadan, masih memiliki indra, dan gugusan pikiran serta perasaan, kita sudah tidak lagi mengikuti perintah mereka. Kita bertindak sesuai dengan kehendak Jiwa Agung — Sang Bapa, Ibu, Sahabat, Kekasih Agung yang Sejati! Saat itu, kita berkarya di dalam kesadaran-Nya, bersama-Nya.

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Om: Selaras dengan Semesta Hilangkan Segala Rintangan #YogaSutraPatanjali

Entah kita menerimanya atau tidak; entah kita menyadarinya atau tidak; entah kita mengetahui tentang ini atau tidak — sesungguhnya, adalah Om ini yang, dalam alam meditasi, membawa kita ke alam lain dan juga membawa kita kembali ke alam ini. Dan, adalah Om ini pula yang bisa membebaskan kita dari kelahiran dan kematian berulang. Adalah Om ini yang bisa membebaskan kita!

 

“Omkara ini juga dikenal sebagai Agni, Api — api teragung yang bisa membakar habis identitas-jiwa rendah, mind, dan juga kesadaran-badan.

“Demikian setelah menggunakan Api untuk membakar semuanya, seseorang membakar benih kelahiran di masa depan.” Tattva Sang Hyang Mahajnana 65

BERARTI, DEMIKIANLAH SESEORANG MENCAPAI PEMBEBASAN dari samsara, dari penyebab kelahiran kembali.

Nah, ini tidak bisa dipahami secara filosofis. Om haruslah melampaui mind kita, bahkan inteligensia kita, untuk bisa menuntun kita melampaui mereka.

Jadi, mencoba untuk memahami Om adalah upaya yang sia-sia. Seseorang harus “melakoni”-nya untuk terangkat. Seseorang harus mengalarninya sendiri. Ini bukanlah bahan diskusi, walaupun ya, jika kita tertarik untuk mendiskusikannya maka bisa terus mendiskusikannya sampai bermasa-masa kehidupan tanpa beranjak ke mana-mana.

 

“Sesungguhnya Omkara adalah ucapan teragung, tersuci di antara yang suci. Sebagai yang terhalus, Omkara menuntun pada nirvana — padamnya api nafsu.” Tattva Sang Hyang Mahajnana 66

SEDEMIKIAN DAHSYATNYA KEPERKASAAN API OMKARA, sehingga semua api lain – api nafsu, keserakahan, keterikatan, kemarahan, ego, dan lain-lain —terpadamkan olehnya.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Dvipantara Yoga Sastra, Jakarta: Centre for Vedic and Dharmic Studies)

Berikut manfaat pengulangan Om untuk mengatasi segala rintangan dalam buku Yoga Sutra Patanjali:

Buku Yoga Sutra Patanjali

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Rintangan-rintangan yang mengacaukan citta atau benih-pikiran adalah Vyadhi atau Penyakit; Styana atau Ketumpulan (Mental); Samsaya atau Kebimbangan, Keragu-raguan; Pramada atau Sifat Tidak Peduli, Kecerobohan yang muncul dari ego, mementingkan diri sendiri saja; Alasya atau Kemalasan; Avirati atau Keterlibatan dengan segala Kenikmatan Indra; Bhranti-Dharsana atau Pandangan yang Terkondisi/Salah, Kebingungan, Ilusi; Alabdha-Bhumikatva atau Tidak Membumi, tidak Realistis; dan Anavasthitatvani atau Ketidakstabilan.” Yoga Sutra Patanjali I.30

Itulah daftar panjang rintangan yang dihadapi setiap sadhaka, setiap pelaku spiritual. Bahkan, sesungguhnya dalam keseharian hidup pun, rintangan-rintangan seperti itu selalu muncul. Dalam hal ini, adalah sangat penting bahwa kita memahami maksud PatanjaIi.

SETIAP RINTANGAN TERSEBUT ADALAH TERKAIT DENGAN DIRI KITA SENDlRl. Berarti, tiada satu pun rintangan berarti dari luar diri. Tiada satu pun rintangan yang disebabkan oleh keadaan di luar.

Ya, kadang keadaan menguntungkan. Jalan kita mulus. Kadang, keadaan tidak menguntungkan, dan kesadaran-diri pun mesti menghadapi “tantangan” of-road. Bagi Patanjali, tantangan-tantangan eksternal tersebut tidak bisa disebut tantangan. Tantangan eksternal relatif mudah dihadapi. Adalah rintangan-rintangan yang disebabkan oleh diri kita sendiri yang agak sulit diatasi. Unluk itu solusi yang ditawarkan oleh Patanjali, barangkali terdengar terlalu simplistic, sangat sederhana.

“MASA IYA, DENGAN PENGULANGAN OM SAJA SEMUA ITU BISA TERATASI?” Bisa, sangat bisa. Bahkan, tiada solusi lain.

Ingat, Patanjali adalah seorang Saintis Jiwa. Ia tidak Asbun—tidak Asal Bunyi, tidak Asal Bicara. Solusi yang ditawarkan pun sangat ilmiah.

Om atau Resonansi yang tercipta dengan mengulangi Om secara terus-menerus dapat menyelaraskan lapisan-lapisan kesadaran kita dengan semesta. Pun, elemen-elemen di dalam tubuh ikut terselaraskan dengan elemen-elernen alam. Bayangkan, renungkan apa yang terjadi saat itu? Kita mendapatkan tambahan kekuatan dari semesta. Energi kita, kemampuan kita berlipat ganda dalam sekejap!

Selain itu, segala sesuatu di dalam alam ini, bahkan alam semesta ini terungkap, terciptakan dari Suara Awal. Jadi, tak terbayangkan betapa dahsyat resonansi Suara Awal tersebut. Tak terbayangkan betapa Kreatif Suara Awal tersebut sehingga dampak dari resonansi awal itu masih tetap terasa, masih tetap menciptakan galaksi-galaksi baru!

Maka, tidaklah keliru jika Patanjali menganjurkan pemanfaatan resonansi dari Om. Cobalah, dan buktikan sendiri!

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Catatan:

Setiap getaran yang dikeluarkan oleh Om atau Aum dapat membantu kita dalam hal penyelarasan diri dengan semesta, bahkan dengan Ia Hyang berada di balik semesta, Hyang Mahakuasa. Kenapa bisa yakin sedemikian rupa? Silakan diuji, dicoba. Ucapkan dengan cara yang betul sebanyak 21 kali setiap pagi antara jam 04.00-07.00 selama 3 bulan saja. Anda pasti merasakan tidak hanya fisik Anda menjadi lebih sehat; pikiran pun Iebih tajam, lebih jernih; dan, perasaan lebih tenang.

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Keluar Siklus #Reinkarnasi Tak Berkesudahan dengan Buddhi Inteligensia

Inteligensia atau Buddhi, fakultas untuk memilah—kehilangan kemampuannya karena kabut dualitas yang bersifat ilusif.

 

PERSIS SEPERTI MATA MANUSIA YANG TERGANGGU PENGLIHATANNYA karena keadaan yang berkabut. Buddhi atau inteligensia tidak pernah hilang. Selalu ada. Dalam keadaan kabut pun tetap ada. Namun, karena kabut, kemampuannya bisa menurun secara drastis. Keadaan ini bukanlah permanen. Jika sudah tidak ada kabut, inteligensia bekerja kembali sesuai dengan fungsinya untuk memilah dan menentukan apa yang tepat bagi indra, badan, maupun gugusan pikiran serta perasaan. Apa yang tidak tepat, tentunya mesti dihindari.

Seorang bijak, seorang Yogi yang berkarya tanpa pamrih sudah keluar dari kabut, inteligensianya sudah berfungsi normal, sudah bisa dimanfaatkan sepenuhnya dan sesuai dengan fungsinya.

Gunakanlah inteligensia untuk mempertahankan kesadaran kita, supaya tidak ada lagi kabut yang mengganggu!

 

TIDAK TERGANGGU OLEH KABUT DUALITAS berarti, tidak “kegirangan” ketika mendapatkan pengalaman-pengalaman menyenangkan. Pun, tidak tenggelam dalam kenistaan, ketika menghadapi tantangan.

Hadapilah suka dan duka, semua pengalaman yang bertentangan dengan kondisi pikiran serta perasaan yang seimbang, tidak menjadi kacau karena pengalaman-pengalaman tersebut.

Sudah pasti suka dan duka menimbulkan sensasi yang beda. Itu tidak bisa dihindari. Asal, kita tidak larut, tidak terbawa oleh arus.

Umumnya, pengalaman suka membuat kita menjadi sombong. Keberhasilan mernbuat otak kita masuk angin. Dan, pengalaman duka mengempiskan hati kita. Kembang-kempis seperti inilah, yang mesti dihindari,

Tidak menjadi ciut dan putus asa karena pengalaman duka, dan tidak kemasukan angin ego karena pengalaman suka. Bhagavad Gita 5:20 dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Berikut penjelasan dalam buku karya leluhur Nusantara, Dvipantara Jnana Sastra tentang bagaimana menggunakan Buddhi atau Intelegensia untuk melepaskan diri dari jerat mind. Mind inilah yang menciptakan keterikatan, keserakahan, keinginan, kemarahan, iri, dan berbagai kualitas serupa — semuanya menyebabkan kita terlahir kembali.

Buku Dvipantara Jnana Sastra

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Pratyahara atau Penarikan Diri berarti menarik indra dari objek-objek indrawi, dengan upaya dan mind yang tenang” Vrhaspati Tattva 54

 

INI BISA DIRAIH dengan menggunakan buddhi atau inteligensia, mind yang telah bertransformasi dan mampu mentransformasi.

Antahkarana kita atau Realitas Batin, Sebab Batin dari segala sesuatu terkait fungsi tubuh kita — dikatakan bekerja dengan empat alat yang sangat efisien, yaitu:

Manah atau Mind; Ahamkara atau Ego, keakuan; Citta atau Inti, Esensi dari Mind, dan Buddhi atau Inteligensia.

Saat ini, dalam kebanyakan kasus, Mind atau Manah dan Ahamkara atau Ego memegang kendali indra-indra kita, kehidupan kita, dan segala fungsi diri kita.

Ini menciptakan keterikatan, keserakahan, keinginan, kemarahan, iri, dan berbagai kualitas serupa — semuanya menyebabkan kita terlahir kembali.

Gagasannya adalah meletakkan Buddhi dan Citta sebagai pemegang kendali. Ini adalah kudeta spiritual yang harus kita lakukan. Semua laku spiritual, termasuk yang disarankan di sini, menyiapkan kita untuk kudeta ini, untuk “peralihan kekuasan” ini.

Berkuasanya Mind dan Ego menjadikan kita sebagai budak indra. Dengan Inteligensia dan Mind halus yang berkuasa, kita terbebaskan dari perbudakan tersebut. Kemudian kita bisa menggunakan indra-indra kita tanpa diperbudak mereka.

Tapi, bagaimana caranya?

Ayat berikutnya menjelaskan……

 

“Senantiasa atentif akan keadaan yang bebas dari dualitas; konstan atau bebas dari perubahan apa pun; senantiasa damai; dan, tidak tergerak, dalam artian tidak terpengaruh oleh segala perubahan di luar diri — inilah yang disebut Dhyana atau Meditasi.” Vrhaspati Tattva 55

 

MEDITASI ADALAH ATENTIVENESS, SIKAP ATENTIF. Seorang ibu yang berasal dari keluarga biasa yang berpegang teguh prinsip-prinsip dan nilai-nilai Peradaban Lembah Sindhu, Shintu, Hindu, Indies, Indo, mengajarkan anaknya untuk senantiasa sadar sejak masa kanak-kanak, “Makanlah dengan atentif, belajarlah dengan atentif……”

Dengan kata lain, meditasi tidak pernah dipisahkan dari kegiatan sehari-hari. Hanyalah ketika kita tidak mendapatkan pendidikan awal semacam itu, pendidikan berbasis nilai sedari awal, barulah kita perlu menyisihkan beberapa jam untuk berlatih meditasi.

 

MEDITASI MEMBUNUH MIND YANG TER-CONDITIONING, inilah tahap paling awal. Selanjutnya, ia membangkitkan Buddhi, Inteligensia.

Ketika kita mulai hidup secara atentif, sesungguhnya kita hidup secara meditatif, hidup secara inteligen. Berbagai metode meditasi adalah baik adanya, selama mereka mampu menuntun kita pada tujuan di atas, yaitu hidup meditatif 24 jam sehari, 7 hari seminggu.

Kita harus memahami bahwa semua metode tersebut bukanlah akhir. Metode-metode meditasi bukanlah tujuan, bukanlah akhir. Entah kita menghabiskan beberapa jam sehari atau beberapa menit setiap hari dalam laku tersebut, tidaklah penting. Yang penting adalah melakoni meditasi. Jika kita bisa mencapai itu dengan sebuah metode tertentu — entah seliar atau tidak konvensional — maka itulah metode yang tepat bagi kita. Jika kita bisa mencapai tujuan hidup meditatif dengan mula-mula menyisihkan setengah jam untuk melakoni metode tertentu, maka mari kita sisihkan setengah jam, atau berapa pun waktu yang dibutuhkan.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2016). Dvipantara Jnana Sastra, Jakarta: Centre for Vedic and Dharmic Studies)

Catatan:

Ada mentega dalam susu, walaupun tidak tampak, belum tampak, tapi ia memang di sana. Dengan mengaduk susu, mentega yang tak tampak “menjadi” tampak. Namun, fenomena munculnya mentega ini tidak membuktikan bahwa mentega tidak eksis sebelum “proses pengadukan”. Upaya Manusia, usaha keras manusia — dalam konteks ini adalah sadhana spiritual, meditasi, dan lain-lain — dapat diibaratkan seperti proses mengaduk. Dengan mengaduk susu manah atau mind — buddhi atau inteligensia bermanifestasi. Dengan menggali jauh ke dalam buddhi atau inteligensia, lapisan-lapisan kesadaran yang lebih tinggi ditemukan, dan akhimya menuntun pada Paramatma atau Hyang Tunggal — mentega dari mentega, esensi pokok. Dari buku Dvipantara Jnana Sastra

Sudahkah kita mulai latihan meditasi atau sadhana spiritual?

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Pengaruh Jiwa dan Materi dalam Diri Kita #BhagavadGita

Dalam diri kita ada benih dari Jiwa Agung yang berada dalam tubuh yang berasal Alam Benda. Tubuh kita adalah medan laga atau ruang kerja bagi Jiwa. Persoalannya adalah ketika benih ini bertunas, berkembang, dan menjadi “sesuatu” — maka, apakah sesuatu itu mengidentifikasikan dirinya dengan Alam Kebendaan, Rahim yang melahirkannya, yakni Materi, atau dengan benih Jiwa Agung atau Spirit, Roh? Peran alam kebendaan dan benih Jiwa — dua-duanya sama pentingnya. Tidak ada keraguan atau dua pendapat dalam hal itu. Persoalannya bukanlah mana yang lebih penting. Dua-duanya penting. Persoalannya adalah identifikasi apa yang dapat membahagiakan kita, dengan alam atau dengan Jiwa?

Berikut penjelasan tentang hal tersebut dalam buku Bhagavad Gita dan Yoga Sutra Patanjali:

Buku Bhagavad Gita

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Dalam buku Yoga Sutra Patanjali I.4 disampaikan penjelasan:

Ketika benih belum membuahi indung telur, ia tetaplah benih. Saat itu Ia tetaplah Purusa, Cahaya Matahari yang Tak Terpisahkan dari Matahari dan menerangi Alam Kebendaan, atau Semesta sebagaimana kita mengenalnya; sebagaimana kita mengartikan istilah “semesta”.

Nah, “di luar saat itu”, ketika benih sudah memasuki indung telur; ketika benih bersama indung telur sudah dalam proses membentuk janin, maka Sang Purusa, Sang Saksi dalam salah satu Wujud-Nya sebagai Jiwa Individu mulai mengidentifikasikan dirinya dengan janin. Kelak, ia pun akan mengidentifikasikan dirinya dengan setiap pembelahan yang terjadi pada janin.

Dari Sudut Pandang yang Beda, ketika riak atau “benih-ketertarikan” kita pada sesuatu—entah seseorang atau salah satu benda di Alam Benda ini—tidak berlanjut, tidak berbuah, tidak “bertunas”, maka tidak terjadi apa-apa.

Tetapi, ketika “benih-ketertarikan” itu bertunas, maka timbullah keterikatan pada “tunas” dan perubahan-perubahan lain yang terus terjadi pada tunas tersebut. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Dalam penjelasan Bhagavad Gita 14:4 disampaikan:

Sifat utama Sang Jiwa Agung adalah sebagai Saksi, sebagai Hyang sedang menikmati pertunjukan dan tidak terpengaruh oleh adegan mana pun. Inilah potensi Jiwa-Individu, potensi diri kita semua, yang masih mesti dikembangkan, jika kita ingin menikmati pertunjukan dunia.

Adanya Pandava dan Kaurava dl antara kita – sebagaimana telah, dan masih akan dijelaskan secara panjang lebar, adalah karena ketertarikan indra kita dengan sifat-sifat kebendaan tertentu. Benih Jiwa Agung tidak dapat disalahkan untuk itu. Adalah ketertarikan indra dan keterikatannya yang mesti diurusi.

Berikut penjelasan Bhagavad Gita 14:3 tentang pengaruh Jiwa dan Materi dalam diri kita:

 

“Wahai, Bharata (Arjuna, keturunan Raja Bharat), Alam adalah Maha Brahma, Rahim Agung dimana Ku-letakkan Benih Kehidupan. Demikian, pertemuan antara Alam Benda dan Jiwa mewujudkan segala sesuatu.” Bhagavad Gita 14:3

 

Alam Semesta, Medan Laga atau Ksetra adalah ruang kerja bagi Sang Jiwa. Dalam ayat ini, Krsna menyebutnya Rahim Agung, tempat Sang Jiwa Agung meletakkan benih-Nya. Supaya kita tidak salah mengerti — Prakrti, Alam Benda, Alam Raya; Ksetra, Medan-Laga; Maha Yoni atau Maha Brahma, Rahim Agung yang Melahirkan Semesta – adalah sebutan bagi Prinsip Feminin yang satu dan sama. Sementara itu,

 

PRINSIP MASKULIN ADALAH……. Purusa atau Gugusan Jiwa; Paramatma atau Sang Jiwa Agung; Ksetrajna, Yang Mengenal dan Menguasai Medan-laga. Benih, yang dimaksud dalam ayat ini adalah Gugusan Jiwa atau Purusa; yang terdiri dari Jiwa-Jiwa Individu atau Jivatma. Jadi, sesungguhnya Jiviatma atau Jiwa Individu tidak terpisah dari Purusa atau Gugusan Jiwa; dan Purusa atau Gugusan Jiwa pun tidak terpisah dari Paramatma atau Jiwa Agung. Sebagaimana Cahaya Matahari di dalam ruang kerja kita, rumah kita, tidak terpisah dari Sinar Matahari, dan Sinar Matahari tidak terpisah dari Matahari.

Pertemuan antara Prakrti Alam Kebendaan dan benih Jiwa Agung atau Purusa itulah yang “menyebabkan” terjadinya alam sernesta.

 

TANTANGANNYA IALAH ketika benih ini bertunas, berkembang, dan menjadi “sesuatu” — maka, apakah sesuatu itu mengidentifikasikan dirinya dengan Alam Kebendaan, Rahim yang melahirkannya, yakni Materi, atau dengan benih Jiwa Agung atau Spirit, Roh? Peran alam kebendaan dan benih Jiwa — dua-duanya sama pentingnya. Tidak ada keraguan atau dua pendapat dalam hal itu. Persoalannya bukanlah mana yang lebih penting. Dua-duanya penting.

Persoalannya adalah identifikasi apa yang dapat membahagiakan kita, dengan alam atau dengan Jiwa? Dan jawabannya jelas adalah identifikasi dengan Jiwa. Karena Jiwa tidak hanya bersifat abadi, tetapi juga tidak pernah berubah. Sehingga dapat menghasilkan kebahagiaan yang langgeng.

Sementara, Alam Benda berubah terus. Jika kita fokus pada perubahan-perubahan yang terjadi, maka emosi kita, pikiran kita — semuanya ikut mengalami perubahan-perubahan yang kadang mernbuat kita bahagia, kadang larut dalam lautan kesedihan dan kepedihan.

 

Berikut penjelasan Bhagavad Gita 14:5 untuk menghadapi pengaruh Jiwa dan Materi dalam diri:

Bukan saja sifat Agresif (Rajas) dan Malas (Tamas), tetapi sifat Tenang (Sattva) pun mengikat Jiwa dengan badan. Berarti, seluruh sifat, segala sesuatu yang berasal dari alam kebendaan memiliki kemampuan untuk mengikat Jiwa.

Jiwa tidak pernah punah – ia kekal abadi adanya. Namun, karena keterikatannya dengan badan, indra, dan alam kebendaan, ia “merasakan” pengalaman kelahiran, kematian, dan perubahan-perubahan lainnya.

Alam benda tidak bisa mengikat Jiwa, kecuali ia “bersedia” untuk diikat. Berarti, keterikatan Jiwa dengan alam benda tidak bisa terjadi kecuali seizin Jiwa itu sendiri.

………………..

Ketiga sifat ini kita miliki – kita semua memilikinya. Adalah penting bahwa kita memahami ketiga-tiganya, dan memanfaatkannya dalam keseharian hidup kita. Namun tidak terikat dengan satu sifat di antaranya – dan senantiasa menyadari hakikat kita sebabagi Jiwa yang bebas, merdeka.

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Afirmasi Bersama Makan Sayur dan Buah Lebih Banyak

EDUKASI NUTRISI LEWAT DRAMA INTERAKTIF AFIRMASI BERSAMA “SAYA MAKAN SAYUR DAN BUAH LEBIH BANYAK”

Oleh Tim OEIEF

Taman Pintar sebagai tempat wisata edukatif dari waktu ke waktu diisi dengan kegiatan edukasi yang inovatif dan positif. Misalnya Wahana PAUD Timur dan Barat baru saja selesai diperbaharui oleh Sarihusada untuk menyesuiakan dengan perkembangan zaman dan teknologi.

Oleh karena itu tak heran Taman Pintar dikunjungi oleh lebih dari satu juta wisatawan setiap tahunnya, ujarRahman (AgusBudiRahmanto), pengelola dari Taman Pintar.

Endah Prasetioningtias, Community & Public Relations Manager, PT Sarihusada Generasi Mahardhika mengungkapkan, Sarihusada berkerja sama dengan One Earth Integral Education Foundationdan Anand Ashram Foundation (berafiliasi dengan PBB)memberikan edukasi nutrisi Sarihusada-OneEarth, pada orangtua dan anak, setiap hari Minggu jam 10.00 di PAUD Taman Pintar. Program edukasi yang dilakukan sejak tahun 2011, selain memberikan edukasi nutrisi seimbang dan holistik, mengintegrasikan dengan nilai-nilai budaya Nusantara seperti pengendalian diri, mengembangkan kasih sayang & meningkatkan kemampuan memilah serta latihan pemberdayaan diri guna membentuk anak berkelas dunia.

Sebagai bagian dari keberlanjutan program edukasi Sarihusada One Earth dan mengkampayekan makan buah dan sayur lebih banyak,secara gencar, sebanyak 200 anak PAUD, orangtuanya serta guru PAUDnya baik yang pernah maupun yang belum pernah mengikuti program edukasi Nutrisi Sarihusada OneEarth diundang untuk ikut acara Afirmasi Bersama “Saya Makan Buah dan Sayur Lebih Banyak” di Taman Pintar. Acara yang dilakukan pada tanggal26 Februari 2017 Jam 09.30 11.00 di Ruang Pitagoras, Gedung Oval ini dimotori oleh One EarthIntegral Education Foundation dan Anand Ashram Foundation (berafiliasi dengan PBB) yang didukung oleh Sarihusada, Taman Pintar serta Dinas Kesehatan Kota Yogjakarta.

Pada acara Drama “Kolosal” 300-an peserta yang terdiri Anak PAUD, Orang Tua, Guru PAUD dan fasilitator edukasi nutrisi Sarihusada One Earth terlibat dalam gerak dan lagu, mewarnai dan menempel kertas bergambar buah dan sayur,yang diakhiri dengan melakukan afirmasi bersama “saya makan sayur dan buah lebih banyak”. Sebagai puncak acara semua peserta makan buah dan sayur bersama yang disediakan.

Drama ini adalah upaya bersama, secara menyenangkan untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman yang mendalam bahwa kita semua perlu makan buah dan sayur lebih banyak, ungkap Dr Suriastini selaku Direktur One Earth Integral Education Foundation. Mengingat Hasil Survey Diet Total (SDT) terakhir yang dilakukan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan,Kementerian Kesehatan RI menunjukkan konsumsi buah dan sayur masyarakat Indonesia per hari masih sangat rendah. Rerata asupan buah masyarakat Indonesia hanya 33,5 gram per hari dan sayuran hanya 57,1 gram per hari(Kementrian Kesehatan,2016). Jika dibandingkan dengan ketentuan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), konsumsi buah dan sayur masyarakat Indonesia, hanya seperempat dari ketentuan minimum WHO. Konsumsi Buah dan sayur Indonesia termasuk yangpaling rendah di antara Negara Tetangga Asean.

Lebih jauh, Dr. Suriastini menuturkan, acara dimaksudkan juga untuk memunculkan niat yang kuat dari anak dan orangtua untuk mengubah perilaku, yaitu makan buah dan sayur lebih banyak bagi kesehatan, kemajuan dan perkembangan anak yang holistik di masa depan.Terkait ini, Afirmasi Bersama memegang peranan penting, ungkapSuriastini. Afirmasi adalah sesuatu yang kita yakini akan terjadi, merupakan salah satu cara memberdayakan pikiran untuk mengubah perilaku. Mengucapkan Afirmasi “Saya Makan Buah dan Sayur Lebih Banyak” secara rutin, membantu mewudujkan prilaku makan buah dan sayur lebih banyak dalam kehidupan sehari-hari.

Sementara itu, dr. Riska Novriana dari Dinas Kesehatan Kota Yogjakarta mengapresiasi kegiatan Afirmasi Bersama ini. Menginagat buah dan sayuran merupakan komponen penting dalam menu makanan sehat, sebagai sumber vitamin, mineral, serat dan antioxidant bagi tubuh.

Penurunan konsumsi buah dan sayur berkorelasi dengan keadaan kesehatan yang buruk dan peningkatan resiko terkena penyakit tidak menular tertentu seperti penyakit jantung dan kanker.

Hasil Riset kesehatan dasar yang terakhir menunjukkan,masyarakat Indonesia yang mengkonsumsi sayuran dan buah setiap hari hanya 10,7%.

Contact: Suriastini (0811266309), Mira (081805844014)

Memuja Dewa Agar Segera Memperoleh Apa Yang Diinginkan #BhagavadGita

“Seperti apa pun bentuk kepercayaannya seorang panembah (walau, ia sedang mengejar kenikmatan duniawi dan memuja para dewa atau kekuatan-kekuatan alam) – jika ia teguh dalam keyakinannya, maka Ku-kukuhkan keyakinannya itu.” Bhagavad Gita 7:21 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Berikut penjelasan Bhagavad Gita 4:12 tentang mereka yang menginginkan hasil cepat dari perbuatan mereka. Untuk itu mereka memuja para dewa:

Buku Bhagavad Gita

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Makhluk-makhluk sedunia, yang menginginkan hasil cepat dariperbuatan mereka, umumnya memuja para dewa – kekuatan-kekuatan alam; dengan cara itu, mereka segera memperoleh apa yang mereka inginkan.” Bhagavad Gita 4:12

Banyak jalan yang ditempuh manusia. Salah satu adalah jalan yang ditempuh oleh mayoritas umum. Mereka menginginkan hasil cepat dari perbuatan mereka. Untuk itu…..

 

MEREKA MEMUJA PARA DEWA – Para Dewa adalah kekuatan-kekuatan alam. Para dewa – mereka yang berkilau — juga adalah orang-orang sukses di dunia ini.

Adalah salah bila dewa diterjernahkan sebagai Tuhan — kemudian, menyimpulkan bahwa leluhur kita politeis dan memuja banyak Tuhan. Tuhannya bukan satu……..

Anggapan keliru berdasarkan ketidaktahuan ini, tidak saja terjadi di negeri kita, tapi juga di kampung Parnan Sam. Beberapa waktu yang lalu ketika Congress di sana mengundang seorang Rohaniwan Hindu dan mempersilakan membuka sesi dengan doa dalam bahasa Sanskrit, maka beberapa kelompok fanatik di sana langsung menyerang, “Kampung kita dibangun di atas landasan monoteisme, bahwasanya Tuhan adalah Hyang Tunggal. Untuk apa mengundang seorang pendeta yang menganut Paham Politeisme, bahwa Tuhan itu banyak.”

Mereka patut dikasihani, karena tidak memahami ajaran-ajaran lain di luar ajaran dan kepercayaan mereka sendiri.

Dewa, sekali lagi, bukanlah Tuhan. Dewa adalah julukan bagi kekuatan-kekuatan alam; Energi Listrik, Energi Air, Energi Angin, dan lain sebagainya. Dan, dewa juga adalah……

 

JULUKAN BAGI ORANG—ORANG YANG SUKSES. Hingga hari ini pun, banyak anak diberi nama Dewa atau Dewi. Jika Dewa adalah Tuhan, maka jelas tidak akan digunakan sebagai nama untuk manusia.

Pasangan Dewa adalah Dewi. Jadi, masih berjender. Sayang sekali, mereka yang fanatik terhadap kepercayaannya sendiri dan menganggap seluruh kepercayaan-kepercayaan lain sebagai sampah — selalu berupaya keras untuk menampilkan kepercayaan mereka lebih superior dari kepercayaan-kepercayaan lain.

“Kami percaya sama satu Tuhan. Mereka punya banyak Tuhan. Kami percaya Tuhan tidak berwujud. Mereka percaya Tuhan berwujud dan beranak-pinak pula.” Tudingan-tudingan seperti ini hanyalah membuktikan betapa minimnya pengetahuan para penuding.

Kembali pada pemujaan para Dewa dan Dewi…..

 

JANGANKAN DEWA DAN DEWI DARI ALAM LAIN, umumnya kita semua memuja pula Dewa-Dewi yang sealam dengan kita.

Pernah menyaksikan bagaimana para pejabat menunduk dan mencium tangan seorang pejabat yang lebih tinggi? Pernah menyaksikan bagaimana para pegawai biasa “menghormati pengawasnya secara berlebihan? Itu baru pengawas, jika mereka menghadapi bos, pemilik perusahaan, adegannya sudah beda lagi.

Ini merupakan satu ekstrem.

Ada sisi lain juga, yaitu…….

 

ADAT BERSUNGKEM PADA ORANGTUA ATAU YANG DIPERTUAKAN – Adat macam ini tidak ada di belahan dunia lain. Lalu, apakah kita mesti meninggalkan adat kita untuk menyesuaikan diri dengan adat asing? Barangkali ada yang lebih suka dengan adat asing. Silakan. Tapi, jika ada yang masih mau mempertahankan adatnya sendiri, tradisinya sendiri, budayanya sendiri — ya, kita pun mesti menghormati pilihan mereka.

Apakah salah bersungkem pada orangtua atau yang dipertuakan? Apakah salah menghormati mereka dengan cara itu?

Kembali pada pemujaan Dewa…….

 

INTINYA, PARA DEWA ADA DI MANA-MANA di sekitar kita. Jika kita menginginkan hasil cepat, maka mesti menghormati mereka. Silakan menggunakan istilah menghormati jika tidak suka dengan istilah memuja.

Menghormati dan memuja para Dewa-Dewi membawa hasil cepat. Bos senang, naik pangkat, naik gaji, fasilitas ditambahkan. As simple as that, sederhana. Kiranya kita dapat memahami hal ini.

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/