Mutiara #Bhagavatam: Menunggu Giliran Kedatangan Utusan Dewa Yama

buku-bhagavatam-menghadap-yama

 

Pandangan jernih seorang Yogi

Seorang pemain film sebaik apa pun, jika persepsi kita tentang dia adalah “jelek”, maka kita hanya melihat kejelekannya. Sebaliknya, jika persepsi kita “baik”, maka seorang penari sejelek apa pun kita anggap baik.

Adalah seorang Yogi saja yang dapat melihat things as they are. Intuisi yang telah bekerja, tidak membuatnya memiliki indra keenam, ketujuh, atau keberapa—istilah-istilah seperti itu sungguh sangat tidak tepat, tiada satu pun yang memiliki indra keenam. Maket tubuh kita sudah ditentukan oleh keberadaan—pancaindra. Titik.

Seorang non-yogi tidak mampu melihat sesuatu tanpa intervensi persepsi yang sudah terbentuk. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Setiap orang lahir dengan genetik tertentu yang merupakan warisan dari orang tuanya. Kemudian dia memperoleh pelajaran dari orangtua, pendidikan dan lingkungan secara repetitif dan intensif.  Sehingga kebenaran yang dipunyainya adalah kebenaran dengan kerangka pengalaman dia. Apabila dia lahir di negeri berbeda, diasuh orang tua berbeda, pendidikan dan lingkungan yang berbeda, maka pandangan kebenaran yang dimilikinya juga berbeda. Persoalannya adalah bagaimana caranya meningkatkan kesadaran agar bisa melihat sesuatu dengan jernih tanpa dibebani persepsi yang telah terpola akibat conditioning masa lalu kita?

 

Belajar dari kisah-kisah Srimad Bhagavatam

Para pelaku kisah di Srimad Bhagavatam adalah para bhakta, panembah Gusti. Sehingga setelah paruh baya (bhaya pada kisah Puranjana dalam Srimad Bhagavatam berarti Cemas, Kecemasan) mereka melakukan vanaprastha, meninggalkan kerajaan dan pergi ke hutan, fokus pada Gusti menjelang datangnya kematian. Awam mulai cemas, setelah usia paruh baya, takut kematian mendekat, sedangkan para bhakta justru mulai fokus pada Gusti Pangeran.

Dalam kisah Ajamila, seorang brahmana yang taat, sebelum meninggal, hidupnya keluar dari rel dharma. Ajamila masih mempunyai anak kecil di usia 80-an. Pada saat para bhakta fokus pada Gusti Pangeran, Ajamila terfokus pada anak kecilnya. Akan tetapi, pada akhirnya Ajamila dengan dramatis kembali menjadi bhakta, panembah Gusti sampai maut datang menjemput.

Kami menulis Note, Catatan ini untuk mengingatkan diri kami sendiri, dan juga para pembaca murni yang tanpa melakoni sadhana, laku olah batin, yang merasa dengan memahami kisah-kisah Ilahi kita sudah lebih paham dan lebih cerah. Kisah Ilahi ini memang penuh hikmah, akan tetapi kadang otak kita bekerja terlalu cepat dan memudahkan permasalahan.

Misalkan kita tahu Korawa pasti kalah melawan Pandawa yang dibantu Krishna. Akan tetapi bila kita mengalami sendiri di zaman itu, belum tentu kita berpihak kepada Pandawa. Pandawa diasingkan selama 13 tahun. Bagaimana rasanya 13 tahun dikuasai Pemerintahan Korawa? Masihkah kita bertahan dalam kebaikan ketika adharma merajalela?

Kita membaca di Srimad Bhagavatam, saat dunia dikuasai Raja Vena keadaan kacau balau dan akhirnya Vena mati dan diganti Maharaja Prithu. Mungkin hanya 2 halaman tulisan dan sekali baca paham. Akan tetapi bagaimana kalau kita menjadi rakyat Vena dan mengalami kondisi adharma selama puluhan tahun? Sejak kita nikah sampai anak besar, mungkin sampai punya cucu, negara dalam keadaan kacau. Mungkinkah kita masih bertahan dalam kebaikan?

Sehingga adanya syarat untuk melakukan spiritual, kita harus hidup mandiri, mempunyai penghasilan tetap baru memperdalam spiritual, masuk logika. Mereka yang belum bekerja, masih menggantungkan kehidupan kita pada orangtua, mungkin merasa sudah bisa spiritual dengan mengabaikan dunia. Padahal kerja dan hidup mandiri, memperoleh penghasilan tetap itu sendiri sudah merupakan perjuangan tersendiri, tidak bisa disederhanakan.

Berikut ini catatan untuk introspeksi diri, sudahkah kita spiritual? Sampai tingkat kesadaran yang mana? Agar tidak menyederhanakan permasalahan……

 

Karakter spiritual sejak dini

Karakteristik para pemandu rohani sudah bisa dideteksi sejak usia dini. Baru-baru ini kami melakukan penelitian kecil-kecilan dengan melibatkan lebih dari 300 responden di Jakarta, Yogyakarta, Solo, Semarang, dan Bali.

Walau penelitian itu dilakukan di kota-kota tersebut, mereka yang terlibat sebagai responden mewakili Indonesia selengkapnya. Ada orang Bugis, ada Betawi, ada Batak, ada yang berasal dari Flores, Aceh, Minang, KaIimantan…. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada satu pun orang yang pada usia 5 hingga 10 tahun memikirkan spiritualitas. Tidak seorang pun.

Keadaan itu sudah cukup untuk membuktikan bahwa para Sadguru atau Pemandu Sejati memang bukan run of the millproduct, bukan produk pabrikan.

Seorang Pemandu Sejati, seorang Sadguru sudah menunjukkan sifat-sifat rohani sejak usia dini. Ia sudah memiliki visi yang jelas tentang apa yang hendak dilakukannya selama perlawatannya di dunia ini. Ia sudah mengantongi blueprint yang jelas tentang dunia yang akan dibangunnya. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2016). Soul Awareness, Menyingkap Rahasia Roh dan Reinkarnasi, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Sesuai penjelasan di atas, jelas kita belum memikirkan hal spiritual pada waktu kecil. Penjelasan di bawah memperjelas kondisi kita saat ini.

cover-buku-soul-awareness

Introspeksi Diri

Saya masih ingat pengalaman seorang yogi, seorang Samnyasi, yaitu Svami Ranganathananda dari Ordo Sri Ramakrishna yang berkunjung ke Indonesia sekitar akhir tahun 1950-an—awal 1960-an.

Sebagaimana kita tahu, Bung Karno, Bapak Bangsa kita, Bapak Republik Indonesia Modern, amat sangat mengagumi pandangan-pandangan Svami Vivekananda, murid Sri Ramakrishna. Maka beliau mengundang sang Svami ke istana. Menurut catatan-catatan dan jurnal sang Svami yang masih tersimpan rapi di pusat dokumentasi Ordo Ramakrishna, pertemuan dengan Bung Karno bukanlah sekali saja, tapi beberapa kali.

Saat itu, Bung Kamo menawarkan segala fasilitas dan bantuan supaya Ordo Ramakrishna membuka cabang di Indonesia. Sang Svami tidak langsung menerima tawaran itu dengan alasan beliau masih ingin mengunjungi Surabaya, pulau Bali, dan beberapa kota lain untuk memahami tabiat dan kebutuhan Manusia Indonesia, sebelum memutuskan membuka cabang.

Setelah berkeliling Indonesia selama beberapa bulan, ia memutuskan untuk menangguhkan pembukaan cabang hingga suatu waktu yang tepat. Pandangannya itu pun disampaikannya kepada Bung Karno.

Setelah pulang ke India, para svami lain dari Ordo Ramakrishna  mengkritisi keputusannya, “Seorang kepala negara bersedia memfasilitasi dan membantu, dan Svami, kamu menolak!?! Nggak salah?”

Sang Svami menjawab dengan tenang. By the way, cerita ini saya dengar dari seorang Svami Senior, Svami Tapasyananda sebelum beliau wafat. Kernbali pada jawaban Sang Svami, “Saya sudah berkeliling Indonesia, dan saya belum juga menemukan benih, bibit seorang samnyasi. Jika saya menemukan satu bibit saja, saya akan menerima tawaran Bapak Presiden. Tanpa bibit asli Indonesia, benih yang berasal dari Bumi Indonenesia, sekadar membuka cabang saja tidak berguna.” Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Dari kutipan buku di atas, maka kami pribadi memang jelas masuk dalam kriteria belum mengenal spiritual sejak dini. Walau menurut pandangan umum, karakter kami tidak jelek-jelek amat, tetapi kami sadar bahwa kami belum spiritual.

Kesadaran mulai muncul saat kami dan istri bergabung dengan Anand Ashram di usia setengah baya di tahun 2004. Selanjutnya, di tahun 2008, saat mempelajari buku Sanyas Dharma, kami baru lebih memahami tujuan hidup. Kami mulai intensif melakukan sadhana, baru sekitar tahun 2015 setelah mengikuti program Yoga sadhana. Tentu saja energi di usia 60-an tahun sudah tinggal sisa. Ditambah berbagai penyakit mulai berdatangan.

cover-buku-yoga-patanjali

Belajarlah Melakoni Spiritual Sebelum Usia 35 tahun

Hingga usia 35-40 tahun, mungkin mereka tidak mengerti arti kebahagiaan, dan menerjemahkan “kenyamanan” sebagai “kebahagiaan”. Setelah usia 35-40 tahun, umumnya mereka  baru tersadarkan bahwa Kenyamanan tidak sama dengan Kebahagiaan. Namun, saat itu pun mereka masih belum tahu cara untuk meraih kebahagiaan sejati. Adalah suatu berkah jika seorang yang sudah berusia 35-40 tahun masih sempat tersadarkan akan kesalahannya, dan mulai mencari kebahagiaan sejati. Biasanya, mereka hidup sebagai layangan yang putus – tanpa arah – bergantung pada arus angin. Demikian satu masa kehidupan tersia-siakan.

Dibutuhkan energi yang luar biasa untuk menarik diri dari pengaruh maya. Dan, energi sedahsyat itu adalah energi seorang pemuda, seorang pemudi di bawah usia 30-35 tahun. Energi semasa itu, energi hingga usia itu adalah energi keberanian, kepahlawanan. Energi yang membuat seorang berani mengambil resiko itu, tidak bertahan lama. Gunakan energi itu sekarang, dan saat ini juga, sebelum ia meredup! Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Seorang sahabat yang ingin teman-teman aktif hadir di kelas Selasa Ananda’s Neo Self Empowerment di Jogja, sampai bilang takut kalau yang datang hari Jumat kalah dengan yang hari Selasa karena pada hari Selasa diputarkan video tentang penjelasan Bapak Anand Krishna yang tidak keluar di youtube.

Kami berdua berupaya, tetapi jujur memang kami mepunyai keterbatasan. Kami berdua yang berusia sekitar 60-an memang harus fit kedua-duanya. Salah satu nggak fit kami nggak bisa pergi. Juga kenyataan bahwa setiap pergi ke Jogja esoknya perlu recovery 1 hari karena pulang sudah malam dan menyetir kendaraan sendiri.

Yang kami syukuri adalah dengan adanya video youtube dan buku-buku Bapak Anand Krishna yang masih banyak yang perlu dipelajari dan dipraktekkan. Itu saja persiapan kami menunggu giliran kedatangan utusan Giam Lo Ong, Dewa Yama.

Istri kami setiap membersihkan rumput/tanaman di sela-sela paving atau menggosok paving dari lumut ataupun pekerjaan rumah lainnya, selalu melakukannya sambil merenung. Dan, kadang kami menghentikan pekerjaan cuci baju atau lainnya untuk mendalami perenungan yang kita peroleh.

Misalnya perenungan tentang seseorang yang menjadi dambaan setiap orang. Menjadi Pemimpin selama 2 periode. Punya 2 anak yang mestinya sukses. Kekayaan materinya sudah berlimpah. Mengapa dari berita di dunia maya masih belum juga tampak bahagia?

Tidak semua perenungan kami tulis. Belum tentu juga disampaikan pada waktu study circle seminggu sekali di Solo yang terbuka bagi para pembaca buku. Akan tetapi study circle tersebut bagi kami pribadi terasa sangat bermanfaat. Membahas Soul Awareness sekitar 2 bab sekali pertemuan memberikan tambahan pencerahan yang tadinya belum diperoleh. Ada hal-hal yang hanya kami berdua pahami yang juga belum tentu benar sebelum mendapat pengetahuan dari Guru.

16507904_607845372736503_4157403851028120712_n

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s