Tidak Terpengaruh Keadaan di Luar? Mungkinkah? #BhagavadGita

buku-bhagavad-gita-gandhi-jesus-martin-luther-john-lennon

Kita perhatikan Gandhi dan Jesus, Martin Luther King, Jr. dan, bahkan, John Lennon dari kelompok Beatles, mereka semua adalah pelaku meditasi. Mereka tidak berhasil membuat setiap orang senang, tetapi cukup berhasil membahagiakan banyak orang. Mereka tidak pernah memikirkan kepentingan diri saja.

Itulah ciri khas seorang meditator, seseorang yang telah meraih kesadaran diri, kesadaran rohani, kesadaran jiwa—yang amat sangat mudah terdeteksi.

Ciri lain yang mudah terdeteksi adalah bahwa seorang meditator tidak mudah terpengaruh oleh keadaan-keadaan di luar, dan tidak mudah pula terpengaruh oleh perkataan orang lain. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2016). Soul Awareness, Menyingkap Rahasia Roh dan Reinkarnasi, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

cover-buku-soul-awareness

Silakan simak penjelasan Bhagavad Gita 9:14 tentang Kesadaran Jiwa:

 

Buku Bhagavad Gita

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Demikian mereka senantiasa memuliakan Aku; berupaya untuk menyadari kehadiran-Ku di mana-mana; dan selalu berlindung pada-Ku dengan keyakinan yang teguh. Sesungguhnya, mereka telah bersatu dengan-Ku dalam meditasi, puja-bakti, dan panembahan mereka, yang sepenuhnya terpusatkan pada-Ku.” Bhagavad Gita 9:14

 

“Apa yang kita inginkan dari dan dalam hidup ini? Jika kita menginginkan Ananda atau Kebahagiaan Sejati – maka tidak ada jalan lain, metode lain kecuali satu – yaitu, berkesadaran Jiwa. Jiwa adalah kekal, karena ia tidak pernah berpisah dari Jiwa Agung. Perpisahan adalah ilusif, khayalan, imaginer, yang kemudian merosotkan kesadaran kita dan mengalihkannya ke badan dan indra.

cover-buku-bhagavad-gita

SEBAGIAN DIANTARA KITA MENGAGUNG-AGUNGKAN EMOSI – bahwasanya, jika emosi kita ditingkatkan maka, apa pun yang kita kehendaki akan terjadi. Bisa, tapi jangan lupa, sifat emosi adalah naik-turun, pasang-surut, kadang panas, kadang dingin. Mustahil kita bisa mempertahankan emosi di suatu level, suatu tingkat tertentu untuk selamanya.

Dapatkah kita mempertahankan air pada 100 derajat celcius? Mustahil. Begitu mencapai 100 derajat celcius, air langsung menguap, mulai menguap. Emosi memiliki korelasi dengan air. Emosi dikendalikan oleh elemen air di dalam diri kita. Pun demikian di luar diri kita, di alam sekitar kita. Air laut, air sungai – semuanya adalah pusat-pusat emosi di dunia ini. Jika terjadi tsunami, maka alasannya bukanlah sekadar “fenomena” alam; dalam pengertian, “itu adalah sesuatu yang lumrah.” Tidak, tidak lumrah. Dapat dihindari.

Pasang-surutnya air laut adalah lumrah, namun memasangnya sedemikian rupa hingga menyebabkan musibah, bencana – tidak lumrah. Saat itu laut, air sedang mengamuk. Tentunya kita telah mengundang amukannya karena ulah kita sendiri.

 

DEMIKIAN PULA DENGAN EMOSI MANUSIA – Makin tinggi, jatuhnya pun makin hebat, makin dahsyat – makin menyakitkan!

Level emosi yang tinggi, yang dikaitkan dengan kebahagiaan atau keceriaan, sesungguhnya hanyalah kesenangan sesaat. Emosi tidak pernah dan tidak bisa menghasilkan kebahagiaan sejati. Emosi tidak dapat, tidak mampu menggapainya. Adalah kesadaran Jiwa, yang berasal dari sanubari terdalam atau bhava ‘saja’ yang dapat membahagiakan Jiwa.

“Memuliakan-Nya” berarti senantiasa memuliakan Kesadaran Jiwa, Jiwa Agung; serta menempatkan-Nya di atas kebutuhan-kebutuhan raga, indra dan sebagainya. Kebutuhan-kebutuhan tersebut perlu dipenuhi. Kebutuhan indra, badan – semuanya mesti diladeni dengan moderasi. Tidak berlebihan, tidak kekurangan – berkecukupan. Namun jangan lupa, terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan itu, Jiwa tidak ikut bahagia. Kebahagiaan Jiwa datang dari kesadaran akan hakikat dirinya.

 

JIKA KITA MEMILIKI TABUNGAN, atau, jika penghasilan kita memadai, maka ketika kendaraan kita rusak, kita akan menukarnya dengan kendaraan baru. Tukar-tambah, atau bahkan kendaraan yang sudah lama dan rusak itu dibiarkan di garasi untuk menjadi rongsokan. Tidak menjadi soal.

Tetapi jika penghasilan kita tidak cukup, tabungan kita tidak cukup—maka rusaknya kendaraan bisa membuat senewen. Kita stres berat. Tabungan dan penghasilan yang dimaksud di sini adalah “Kesadaran Jiwa.”

Tanpa Kesadaran Jiwa – badan yang satu ini; indra yang berjumlah lima ditambah indra-indra persepsi yang berjumlah lima pula; gugusan pikiran dan perasaan, keberhasilan akademis dan profesional – semuanya menjadi “segala-gala”nya. Jika ada yang hilang, maka kita kehilangan segala-galanya.

Kesadaran Jiwa membuat kita tidak merasa kehilangan sesuatu apa pun, walau kita menyaksikan tubuh menjadi debu, menjadi abu! Saat itu pun kita masih bisa menyanyi girang dan bersuka cita, “Aku abadi, aku abadi. Sivoham, So ham!” Saat itu, kita baru menyanyikan Bhajan, baru mengagungkan kemuliaan-Nya dalam pengertian yang sesungguhnya.

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Catatan:

Apa yang dapat membahagiakan? Bila harta benda, sanak-saudara, tak dapat memberi kebahagiaan, apa yang harus kulakukan? Hanya dua pilihan. Masuk ke dalam alam depresi berat atau memasuki alam meditasi dan menemukan sumber segala kebahagiaan dalam diri. Bhaja Govindam

Sudahkah kita mulai latihan meditasi?

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

oec1elearning-banner

16711992_612132385641135_3392780409612035997_n

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s