Tat Tvam Asi: Masih Dualitas tapi Sudah Berlandaskan Kesadaran Sejati #YogaSutraPatanjali

 

cover-buku-yoga-sastra

Kita hidup, selama keberadaan ini ada — Dualitas tetap ada. Prinsip Dualitas adalah Prinsip yang Mengatur seluruh keberadaan. Tanpa dualitas Yang Mengalami dan Yang Dialami — tidak ada keberadaan. Keberadaan memberi “kesan keberadaan” karena persepsi kita. Jadi, dualitas tetap ada.

Namun, para bijak, para insan yang sadar “tidak terpengaruh” olehnya. Mereka senantiasa berada dalam keadaan Samadhi — keseimbangan sempurna. Ini adalah ideal Yoga untuk dicapai, untuk diupayakan. Inilah apa yang menjadi tujuan Yoga. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Dvipantara Yoga Sastra, Jakarta: Centre for Vedic and Dharmic Studies)

Samprajnatah atau Kesadaran (yang masih belum sepenuhnya melampaui dualitas) adalah yang berlandaskan pada Vitarka utau Pertimbangan, Penilaian, dan Penyimpulan yang Tepat; Vicara atau Perenungan yang Tepat; Ananda atau Kebahagiaan Sejati yang bersumber dari diri sendiri, tidak tergantung pada sesuatu apa pun di luar diri; Asmita atau Kesadaran Aku yang Sejati (sebagai Jivatma atau Jiwa Individu atau Percikan Sinar Purusa atau Gugusan Jiwa, Hyang adalah bagian tidak terpisahkan dari Paramatma atau Jiwa Agung).” Yoga Sutra Patanjali I.17

Untuk itu, dualitas yang, sebut saja menjadi keharusan, mesti berlandaskan pada faktor-faktor di atas—setidaknya salah satu dari keempat faktor tersebut. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Berikut penjelasan Dualitas berlandaskan ananda dan asmita…….

 

Buku Yoga Sutra Patanjali

cover-buku-yoga-patanjali

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

KETIGA, ANANDA ATAU KEBAHAGIAAN SEJATI. Kembali pada analogi “kerja sama” dengan seseorang—apakah kerja sama itu membahagiakan semata karena kebersamaan yang terjadi, atau karena hal lain, kepentingan lain, tujuan lain.

Misalnya dalam perkawinan, apakah kita saling membahagiakan tanpa ada ernbel-embel seks, mahar, dan sebagainya?

Hola yang sudah berusia di atas 60 tahun kawin dengan seorang gadis berusia 26 tahun. Begini ceritanya.

Hola menyaksikan gadis itu bergoyang dalam salah satu acara televisi, dan langsung jatuh hati.

Tapi, ia tahu diri, “Usiaku kan sudah 60-an. Dia masih 26.”

Bola, sang sahabat setia memanasi dia, “Usia bukan faktor penentu, Sohib. Yang penting cinta, suka sama suka. Kalau dia mau, why not?”

“Tapi, bagaimana pula dengan istri dan anak-anakku, yang usianya lebih tua daripada gadis itu?”

“Oh, Hola, Hola, mereka kan di Medan. Kau di Jakarta, tentu kau bisa atur. Berterus terang saja kepada gadis itu, aku yakin dia tetap mau.” Bola tetap menyemangati Hola, bahkan menawarkan diri menjadi mak comblang.

 

PENDEK CERITA, akhirnya Hola kawin juga dengan gadis berusia 26 tahun itu, namanya seseksi senyumannya, Stella!

“Jeng Stella, kau benar mencintai aku? Jangan sampai memaksakan diri lho. Kalau Jeng tidak setuju, tidak apa.” Hola tetap memastikan.

“Mas, aku sudah terlanjur jatuh hati, sudah cinta mati.”

Stella terdengar sangat yakin dan meyakinkan. Maka, perkawinan pun diadakan di ruang khusus salah satu hotel mewah, dihadiri puluhan relasi Hola dan teman-teman seprofesi Stella.

Celakanya, baru menikah tiga bulan, Hola yang waktu itu memiliki jabatan cukup tinggi, tertangkap basah menerima suap. Ia langsung ditahan.

Uang miliaran pun ludes dalam perkara suap-menyuap para pejabat korup yang berjanji “bisa bantu”—padahal semua janji kosong saja.

lstri di Medan yang sudah mendengar kisah asmara Hola dengan Stella, merasa perlu menyelamatkan diri dan anak-anaknya, dan minta cerai!

Singkat cerita, Hola dibui.

Rekening bank nol, tunggakan kartu kredit pun mencapai ratusan juta. Yang lebih sial lagi, lebih menyedihkan lagi, Stella tidak lagi datang menjenguk.

 

TERPAKSA, HOLA MINTA BANTUAN BOLA, yang pernah memakcomblanginya. “Kawanku, tinggal engkau saja yang kumiliki di dunia yang kejam ini. Tolong, sekali saja, bawalah Stella ke sini. Aku ingin mendengar dari dia langsung, apakah dia masih mencintai aku?”

Bola berhasil membujuk Stella. Datanglah Stella ke Bui Cipinang untuk menjenguk Hola.

“Stella, Stella-ku sayang, Stella-ku manis…katakan, kenapa kau pun meninggalkanku? Bukankah kau cinta aku?”

“Ya itu Mas, karena cinta terpaksa aku meninggalkan Mas,” jawab Stella dingin.

“Cinta, Jeng? Cinta macam apa pula ini?”

“Ya cinta, Mas. Sungguh mati cinta sama duitmu, jabatanmu, rumahmu yang seperti istana itu, mobil-mobilmu yang berjejer. Aku betul-betul cinta sama semua itu. Karena itu Mas, demi cintaku itu, aku mesti meninggalkan Mas.”

Stella masih berlanjut dengan kisah cintanya, sementara Hola kena serangan jantung, dan mampus! Kisah tamat.

 

SUKA SAMA SUKA berlanclaskan fulus bukanlah suka-ananda, bukanlah suka-kesadaran. Suka sama suka seperti itu berlandaskan materi belaka. Jadi, tidak masuk dalam kategori kesadaran dualitas berlandaskan ananda, apalagi samadhi!

Kesan ananda yang diperoleh Hola yang sudah tua renta, yang berusia 60-an—by the way, Hola hampir seusia dengan saya, beda tipis—adalah ananda tipuan, kebahagiaan palsu.

 

KEEMPAT, ASMITA atau Dualitas berlandaskan Kesadaran Sejati, kesadaran akan kesejatian diri.

Berarti Tat Tvam Asi—Dualitas berlandaskan kesadaran bila Aku adalah Kamu, dan Kamu adalah Aku. Dualitas berdasarkan kesadaran bila sesungguhnya Jiwa yang menerangimu dan yang menerangiku bersumber dari Hyang Tunggal, Tat atau Hyang Satu Itu! “Itu”-lah hakikat diriku, dan “Itu” pula hakikat dirimu.

Dalam kesadaran Tat—Itu—kita semua satu dan sama adanya.  Jika aku menyakitimu, sesungguhnya aku menyakiti diriku sendiri.

Kerja sama yang dijalin atas kesadaran seperti ini—walau masih dualitas—bisa disebut sustainable, bisa bertahan. Tidak bisa disebut “langgeng nan abadi” karena semua relasi juga adalah berlandaskan fisik, materi, kebendaan, dan terjadi di alam benda. Namun setidaknya, relasi seperti itu dapat menunjang evolusi jiwa. Misalnya, relasi sepertii itu dengan seorang Pemandu Rohani dan mereka yang sama-sama sedang melakoni Yoga sangat membantu. Jadi, janganlah mengejar cinta ala Hola-Stella.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Catatan:

Seseorang yang pikirannya terkendali lewat pola hidup berlandaskan Yoga; meditasi yang teratur; dan kesadarannya senantiasa terpusatkan pada Tuhan, pada Jiwa Agung – maka niscaya ia mencapai kemuliaan-Nya yang tak terhingga.” Bhagavad Gita 8:8

Sudahkah kita latihan meditasi dengan teratur?

Artikel terkait:

https://gitakehidupansepasangpejalan.wordpress.com/2017/02/05/4-macam-dualitas-yang-menunjang-kesadaran-yogasutrapatanjali/

 

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

banner-utk-di-web

oec1elearning-banner

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s