Mutiara #Bhagavatam: Belajar dari Leluhur Bagaimana Memilih Pemimpin dengan Bijak

 

buku-bhagavatam-vena-vs-prithu-memilih-pemimpin

Kesalahan memilih pemimpin membuat rakyat terkena bencana

“Kepada para penduduk dan penguasa Negara Lanka, Hanuman muncul dalam wujud raksasanya yang menakutkan. Hal tersebut merupakan peringatan bagi mereka, ‘Kembalikanlah Sita kepada Sri Rama. Rahwana, sadarilah kesalahanmu. Kamu tidak berhak atas Sita.’ Mereka tidak mengindahkan peringatan ini, maka ketika meninggalkan Lanka, Hanuman pun membakar seluruh kota.

“Orang sering bertanya, ‘Mengapa Hanuman melakukan itu? Mengapa menghukum orang-orang yang tidak bersalah, penduduk Lanka, atas kesalahan yang dilakukan oleh penguasa mereka?’

“Hal ini adalah sesuatu yang sangat sulit dihindari. Kita memilih pemimpin kita, kita memilih penguasa kita, kita memilih presiden dan perdana menteri kita, kita memilih anggota parlemen kita, dan kita bahkan memilih para diktator kita. Mereka berada di posisi mereka karena kita juga.Bagaimana kita memilih diktator kita? Mereka tetap berkuasa selama kita terang-terangan takut kepada mereka, atau takut kehilangan sesuatu.” Terjemahan bebas dari kutipan (Krishna, Anand. (2010). The Hanuman Factor, Life Lessons from the Most Successful Spiritual CEO. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Dalam kisah Srimad Bhagavatam disampaikan bahwa para brahmana dan pejabat kerajaan melihat kerajaan kacau, banyak perampok di mana-mana karena menghilangnya Raja Anga. Raja Anga mengasingkan diri ke hutan karena kecewa berat dengan tindakan Vena sang putra mahkota. Akhirnya para pejabat sepakat memilih Vena menjadi raja pengganti.

Ini adalah kesalahan terbesar. Vena menjadi raja lalim dan menggunakan kekuasaannya dengan semena-mena. Seluruh rakyat kerajaan menderita selama bertahun-tahun. Bunda Bumi sangat menderita menanggung kezaliman Penguasa Vena. Keputusan para pejabat yang memilih Vena adalah keputusan kolektif seluruh rakyat, sehingga seluruh rakyat menerima bencana sesuai andil mereka masing-masing.

Akhirnya para pejabat dan para brahmana membunuh Vena dan merekayasa kelahiran Raja Prithu yang bijak. Tindakan yang mengatasnamakan rakyat tersebut berhasil dan Maharaja Prithu menjadi raja yang bijak dan seluruh rakyat menerima berkahnya. Keputusan memilih Maharaja Prithu pun merupakan keputusan kolektif seluruh masyarakat, sehingga semuanya menerima berkahnya. Tidak ada tindakan seorang rakyat pun yang lepas dari penglihatan Sang Pengawas Agung. Gusti Allah ora sare!

 

Jangan jadikan nasib rakyat sebagai taruhan dalam berjudi di saat pemilihan demi  keuntungan pribadi

Rakyat yang memilih seorang pemimpin yang salah, mesti memikul hasil dari kesalahannya sendiri. Ramai-ramai memilih seorang pemimpin hanya karena ‘cakep’, atau ‘imut-imut sih’, membuktikan bila kita ‘belum cukup cakep’ dalam hal memilih. Lebih parah lagi, ketika kita memilih seorang pemimpin karena tergiur oleh nasi bungkus atau t-shirt. Ada nasi bungkus seharga 5 ribu, ada yang harganya 5 triliun – memilih karena janji keuntungan pribadi adalah kesalahan yang sudah pasti mengundang akibat buruk.

Kemudian, di bawah kepemimpinan seorang pemimpin seperti itu, jika kita menderita, gunung meletus, jumlah kecelakaan meningkat, atau tingkat kejahatan makin tinggi – maka, janganlah menyalahkan sang pemimpin saja. Siapa suruh memilihnya? Siapa yang memilihnya? Sekarang, nikmatilah hasil pilihan yang salah.

Sang Pengawas Agung menyaksikan semua, mengawasi semua. Sudah berulang-kali, Ia pun memberi peringatan. “Kalian sudah salah, lihat apa yang terjadi!” Tapi, kita budeg, tidak mendengar peringatannya. Maka, jika terjadi hal-hal yang lebih parah lagi, janganlah meyalahkan Sang Pengawas. Penjelasan Bhagavad Gita 9:10 dikutip buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

cover-buku-bhagavad-gita

Gusti Allah ora sare, semua tindakan kita orang-per orang tidak lepas dari penglihatan-Nya. Semua menerima akibat akibat tindakannya sendiri. Kesalahan memilih pemimpin oleh seseorang akan datang akibat bagi orang tersebut.

 

Hukum Alam berjalan sangat tepat, setiap tindakan membuahkan akibat

“Kehidupan di dunia ini adalah bagian dari suatu Matriks Kehidupan yang sangat precise – presisinya sungguh luar biasa. Dengan merusak lingkungan, mencemari sumber air, dan sebagainya, kita tidak hanya mencelakakan planet bumi dan penghuninya—termasuk kita sendiri – ,tetapi juga mengganggu Matriks Kehidupan tersebut.

“Meletusnya gunung, terjadinya tsunami, dan sebagainya bukanlah fenomena alam semata. Amukan alam dapat dihindari, atau setidaknya dapat diminimalkan, jika kita bekerja sama dengan alam, jika kita merawat bumi ini dengan penuh kasih. Apalagi mengingat posisi kita yang tinggal di wilayah ring of fire atau cincin api.

“Letupan-letupan emosi kita, awalnya hanya memengaruhi hidup kita, relasi kita, dan orang lain yang berurusan dengan kita. Tetapi lambat laun, ketika letupan-letupan emosi itu berubah menjadi letupan kolektif, terjadilah bencana alam! Setiap tindakan dan perbuatan kita memengaruhi alam sekitar kita. Ketika suatu masyarakat bertindak salah secara kolektif, maka konsekuensinya mesti ditanggung secara kolektif pula.” Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Keputusan seorang pemimpin dan para wakil rakyat yang tidak selaras dengan alam adalah merupakan kesalahan kolektif. Karena kitalah yang telah memilih mereka.

 

Berjuanglah demi penegakan dharma

“Hidup adalah sebuah perjuangan. Berjuanglah terus-menerus demi penegakan dharma, demi hancurnya adharma. Kita tidak di sini untuk saling jarah-menjarah, atau saling rampas-merampas. Kita tidak mewarisi budaya kekerasan dan barbar seperti itu.

“Jangan berjuang untuk tujuan-tujuan kecil yang tidak berguna. Jangan berjuang untuk memperoleh kursi yang dalam beberapa tahun saja menjadi kadaluarsa. Jangan berjuang untuk memperoleh suara yang tidak cerdas.

“Berjuanglah untuk tujuan besar untuk sesuatu yang mulia. Berjuanglah untuk memperoleh tempat di hati manusia, ya manusia, bukan di hati raksasa. Berjuanglah untuk mencerdaskan sesama anak manusia, supaya mereka memahami arti suara mereka, supaya mereka dapat menggunakan hak suara mereka sesuai dengan tuntutan dharma.

“Perjuangan kita adalah perjuangan sepanjang hidup. Perjuangan kita adalah perjuangan abadi untuk melayani manusia, bumi ini dengan seluruh isinya, bahkan alam semesta. Janganlah mengharapkan pujian dari siapa pun jua. Janganlah menjadikan pujian sebagai pemicu untuk berkarya lebih lanjut. Berkaryalah terus menerus walau dicaci, dimaki, ditolak…….. Berkaryalah karena keyakinan pada apa yang mesti kita kerjakan. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2008). Be The Change, Mahatma Gandhi’s Top 10 Fundamentals For Changing The World. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

cover-buku-be-the-change

Berjuanglah sesuai kemampuan dan tidak usah menunggu menjadi pimpinan baru berjuang. Tidak perlu diketahui orang banyak, biarlah Gusti yang tahu kita ikut berjuang menegakkan dharma sesuai kemampuan dan kelebihan kita. Bagaimana pun pilihlah pemimpin yang sesuai dengan hati nurani kita……..

Catatan:

Perjalanan batin adalah hidup berkesadaran, yang tidak mementingkan kepentingan diri, keluarga maupun kelompok tertentu. Tapi, memperhatikan kepentingan tetangga, masyarakat, sesama warga dunia, yang dengan sendirinya kepentingan diri ikut terurusi. Itu saja. Jadi, tidak ada alasan bagi kita untuk menunda peralihan kesadaran seperti itu, tentunya jika kita ingin meraih kebahagiaan sejati, yang disebut tujuan hidup tertinggi oleh Krsna. Penjelasan Bhagavad Gita 9:33

Sudahkah kita mulai melakukan perlananan batin, mulai latihan olah batin, meditasi?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s